Browsed by
Month: August 2015

Hati yang membatu

Hati yang membatu

Awan-670x270

Bacaaan Matius 19:3-13

Kasus perceraian yang sering terjadi pada jaman Yesus, membuat orang Farisi bertanya padaNya. Bolehkan mencerikan istri? Yesus menjawab bahwa pada awalnya kesatuan suami-istri bersifat permanen, tak terceraikan. Namun “Karena ketegaran hatimulah, Musa mengijinkan kamu menceraikan istri!” Yesus menekankan kata “ketegaran hati” manusia yang membuat aturan sendiri berbeda dengan maksuda awal ikatan suami-istri dalam Kitab Suci.

Hati yang tegar sama dengan hati yang membatu. Penyakit sklerosis: daging yang mengeras menjadi batu! Hati yang lunak bisa mengeras karena kejahatan dan dosa yang terus dilakukan, pengalaman penolakan terus menerus, sakit hati berkepanjangan, kesedihan yang kejam, serta pengkianatan tak terperikan. Semua itu menjadikan hati manusia tertutup dan tak lagi bisa lunak.

Siapakah yang bisa melunakkan hati yang membatu? Kita sendiri tak bisa membuat hati yang membatu menjadi lunak kembali. Nabi Yezekiel berkata, “Tuhan Allah yang mengubah hati keras membatu menjadi lembut laksana salju.” Mengubah hati yang membatu harus dijalankan bersama rahmat Roh Kudus yang punya daya perubah. Mintalah pada Roh Kudus agar dimampukan mengubah hati yang mengeras menjadi lembut, mendengar lagi suara kebaikan bukan kejahatan, kegembirana bukan kesedihan, dan pengampunan bukan balas dendam.

Saint Damien dari Molokai, Hawaii

Saint Damien dari Molokai, Hawaii

molokai

Lubukhati akan menghadirkan video kisah hidup Santo Damian dari Molokai Hawaii bersama Rm Lusius Nimu SSCC dan Rm. Patrick Killelea SSCC

Tahun 1860 penyakit lepra (Hensen’s decease) mulai menyerang penduduk di kepulauan Hawaii. Banyak orang meninggal karena tak ada obat yang bisa menyembuhkan mereka. Raja Hawaii Kamehameha V menjadikan Molokai, sebuah pulau di Hawaii sebagai tempat pengasingan bagi orang kusta. Pemerintah Hawaii membiarkan orang-orang kusta itu hidup di Kalaupapa dan Kalawao.

10 Mei 1873 Romo Damien SSCC tiba di Kalaupapa dan dia mulai bekerja mengumpulkan orang-orang Lepra, membangun rumah dan mendirikan paroki. Dia tidak hanya romo yang melayani misa, tapi dia membangun masyarakat orang Lepra: mendirikan komunitas sekolah anak-anak, membuat peti mati, mendirikan gereja dengan tangannya sendiri. Dia tinggal dan hidup bersama orang-orang kusta yang dibuang oleh keluarganya.

Dalam suratnya kepada Pamphile, kakaknya, Damien menulis, “Aku membuat diriku sendiri seorang kusta bersama dengan para Kusta agar aku bisa mendapatkan mereka semua pada Kristus.”

Desember 1884, Damien mulai terjangkit kusta. Meskipun dia sempat mendapat pengobatan di Honolulu dari Dr. Goto tahun 1886, penyakitnya tak sembuh juga. Akhirnya pada tanggal 5 April 1889, pkl. 08.00 am, Damien meninggal dunia di usia 49 th. Orang-orang Kalaupapa menangisinya karena dia telah memberikan seluruh hidupnya selama 16 tahun pada mereka, kaum terbuang. Dia dimakankan di Kawalao, di tempat dia berkarya bagi kaum kusta.

Februari 21, 2009 Paus Benediktus XVI menjadikan Romo Damien menjadi santo, dia menjadi santo pelindung orang sakit. Hingga hari ini, Kalaupapa masih menjadi tempat berkarya para romo SSCC (Hati Kudus Maria dan  Yesus) yang meneruskan karya St. Damien. Mereka menerima para peziarah yang ingin mendalami hidup santo Damien dan St. Marriane yang meninggal diantara orang Kusta di Molokai, Hawaii.

Translate »