Browsed by
Month: August 2015

Kasih Ibu

Kasih Ibu

Bilangan 13:1-2, 25-14:1, 26-29, 34-25
Mazmur 106
Matius 15:21-28

Ada sebuah detail menarik dari dua bacaan hari ini. Dalam Kitab Bilangan, Kaleb berupaya meyakinkan bangsa Israel untuk menyerang Kanaan saat itu juga, tetapi mereka merasa takut dan tidak percaya diri sehingga dihukum Allah sampai harus menunggu 40 tahun sebelum masuk Tanah Terjanji. Nama Kaleb mempunyai akar kata yang sama dengan “anjing”. Jadi seperti pepatah, “Anjing menggonggong, kafilah berlalu,” kata-katanya tidak diindahkan orang-orang sebangsanya. Dalam Injil Matius, sang perempuan Kanaan pun diumpamakan Yesus seperti “anjing” yang tidak pantas menyantap makanan yang diberikan kepada anak-anak. Memang orang-orang Yahudi masa itu sering menyebut orang bukan Yahudi dengan istilah “anjing”. Bedanya dengan Kaleb, sang perempuan Kanaan tidak menyerah dan terus mendesak Yesus untuk menyembuhkan anaknya. Tidak hanya kasih seorang ibu yang memberinya semangat luar biasa, tapi juga imannya bahwa Yesus bisa menyembuhkan.

Naluri kasih ibu yang memberi seseorang energi yang luar biasa untuk berjuang dan mengusahakan sesuatu pantas menjadi teladan bagi kita, baik laki-laki maupun perempuan. Jika kita benar-benar percaya akan suatu hal dengan seluruh hati kita, dan percaya bahwa Tuhan akan membantu usaha kita, maka tidak akan ada rasa takut yang mampu menghentikan kita. Beberapa contoh di bawah mungkin bisa menambah inspirasi untuk kita semua.

Demo Damas de Blanco, Cuba
Demo Damas de Blanco, Cuba

Damas de Blanco adalah perkumpulan ibu-ibu dari para tahanan politik di Kuba. Mereka berdemo setiap hari minggu setelah misa untuk menuntut pembebasan anak-anak mereka.
Sebagian dari para ibu ini pun pernah merasakan dipenjara karena demo ini. Terakhir kali pada bulan Februari tahun 2015, 53 orang anggotanya ditangkap saat berdemo sesudah misa.

Madres de Plaza de Mayo, Argentina
Madres de Plaza de Mayo, Argentina
Madres de Plaza de Mayo adalah para ibu yang berdemonstrasi menuntut pencarian fakta akan anak-anak mereka yang hilang di masa pemerintahan diktator di Argentina tahun 1976-1983.

Suster Thea Bowman, di masa akhir hidupnya melawan kanker, memberi ceramah pada para uskup di Amerika Serikat. Ia menantang para uskup untuk memberi kesempatan pada umat Katolik berkulit hitam untuk menghidupi iman mereka dengan cara mereka yang unik. Pada akhir ceramah, dia mampu membuat semua uskup berdiri, bergandeng tangan, dan bernyanyi.

Baru baru ini di Sulawesi Barat, sekelompok ibu-ibu menggelar sepak bola dengan menggunakan tabung gas sebagai bentuk protes akan mahalnya harga gas yang merupakan bahan utama untuk rumah tangga mereka. http://regional.kompas.com/read/2015/07/31/10132401/Ibu-ibu.Gelar.Sepak.Bola.Tabung.Gas.Anggota.TNI.Tiba-tiba.Mengamuk

Hitam dan Putih

Hitam dan Putih

Bilangan 12:1-14
Mazmur 51
Matius 14:22-36

Hari Raya Peringatan St. Jean-Marie Vianney

Kalau anda tinggal di Amerika Serikat, anda pasti tahu bahwa akhir-akhir ini salah satu topik yang panas adalah perlakuan polisi terhadap orang berkulit hitam. Mereka diperlakukan dengan relatif lebih kasar dibandingkan dengan orang kulit putih, bahkan yang kasusnya sepele atau malahan sama sekali belum terbukti melakukan pelanggaran. Beberapa dari mereka sampai harus tewas karena kekerasan yang berlebihan dari polisi. Tapi tidak hanya polisi saja yang bisa disalahkan. Perkara rasial di Amerika begitu kentalnya, banyak orang yang mempunyai prasangka kalau orang hitam itu bodoh, malas, atau pelaku kriminal. Stereotype ini pun menyebar ke negara lain melalui film atau media, baik kita sadari atau tidak. Di kalangan orang Indonesia, saya sering mendengar kata-kata: “Kalau ke kota itu jangan pergi ke daerah tertentu, soalnya banyak orang itemnya.” Di Indonesia pun banyak beredar produk-produk untuk memutihkan kulit. Orang yang kulitnya lebih gelap biasanya main sebagai pembantu atau orang miskin di sinetron dan film, sementara bintang utama atau model TV dan majalah biasanya mereka yang kulitnya lebih putih.

Dalam bacaan dari Kitab Bilangan hari ini, disebutkan bahwa Musa dijahati oleh adik-adiknya, Harun dan Miryam, karena menikahi seorang perempuan Kush. Jika ditelusuri sejarahnya, orang Kush ini berasal dari tempat yang sekarang bernama Ethiopia, yang berarti mereka adalah orang berkulit hitam. Warna kulit mereka yang sangat kontras berbeda dengan orang Israel mungkin membuat mereka merasa tidak layak untuk saling menikah.

Akan tetapi Tuhan membela Musa. Dia mengingatkan bahwa hanya Musalah satu-satunya orang yang pernah bertatapan muka denganNya. Pertemuan muka dengan muka menggambarkan sebuah hubungan yang sangat dekat dan intim. Musa tidak perlu takut dijahati oleh orang lain, Tuhan siap melindunginya. Sebagai akibatnya, Miryam terkena penyakit kusta selama tujuh hari. Sangat menarik bahwa karena kusta, kulitnya jadi putih seperti salju. Seseorang yang membenci orang lain yang kulitnya hitam, akhirnya diberikan kulit yang sangat putih, tapi menjadi akibat dari penyakit. Untuk Harun dan Miryam, ini pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan.

Allah menciptakan dunia dan seluruh isinya. Dengan demikian semua umat manusia pun adalah saudara kita juga. Kapankah kita akan berhenti menjadikan warna kulit dan ras sebagai jurang pemisah dalam hubungan kita dan memecah belah sesuatu yang seharusnya bersatu dalam tubuh mistik Kristus? Hari ini Yesus menguatkan kita, “Jangan takut!”

Berbagi

Berbagi

Bilangan 11:4-15
Mazmur 81
Matius 14:13-21

Suster Simone Campbell, SSS, seorang suster yang aktif dalam organisasi NETWORK yang melobi pemerintah Amerika Serikat untuk membuat aturan-aturan yang menjamin keadilan sosial, mempunyai kisah lucu tentang bacaan Injil hari ini. Pada kalimat terakhir dikatakan, “Yang makan kira-kira lima ribu orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak.” Seolah-olah perempuan dan anak-anak tidak terlalu penting kalau dibanding laki-laki. Tapi suatu hari Suster Simone mendapat pencerahan. Para pria terkagum-kagum karena mujizat di mana mereka semua kebagian makanan. Tapi para perempuan lebih tahu bahwa seringkali mereka yang menyiapkan makanan untuk semua orang tetapi tidak pernah diperhatikan. Para lelaki tinggal terima beresnya saja.

Sangat mudah untuk melihat bahwa mujizat yang dilakukan Yesus dalam bacaan hari ini adalah memperbanyak makanan yang sedikit untuk begitu banyak orang dan tidak ada yang kekurangan. Di sisi yang lain, bisa jadi mujizat itu adalah bagaimana Yesus bisa menggerakkan begitu banyak orang untuk berbagi satu sama lain. Para murid pertama-tama sudah kuatir bahwa makanan yang mereka miliki tidak cukup sehingga mereka minta Yesus untuk mengirim orang-orang pulang ke desa mereka masing-masing untuk makan. Tapi Yesus berkata, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.”

Border Mexico-USA
Border Mexico-USA
Belum lama ini kami para frater Fransiskan pergi melihat dinding pembatas yang dibangun pemerintah Amerika Serikat untuk memisahkan wilayah AS dengan Mexico. Dinding ini begitu tinggi dan dilengakpi dengan alat-alat pengintai yang canggih, belum lagi ditambah dengan patroli petugas penjaga perbatasan yang lalu-lalang. Banyak alasan mengapa dinding ini dibangun, terutama yang sering kita dengar adalah untuk keamanan warga Amerika Serikat. Tapi mungkinkan ada alasan yang implisit? Bahwa AS yang begitu makmur negaranya sebenarnya takut kalau harus berbagi dengan Mexico yang miskin dan dilanda banyak masalah?

Pagar dan dinding apakah yang kita bangun di sekeliling kita, baik yang nyata maupun yang kita ciptakan dalam pikiran, yang membatasi hubungan kita dengan para sesama kita? Mudah kita merasa bahwa kita sudah diberkati Tuhan dengan segala yang kita dapat, tapi sukar untuk membagi anugerah itu kepada saudara-saudari kita yang masih kekurangan. Kita merasa bahwa itu tugas orang lain, lembaga sosial, atau kaum rohaniwan. Tapi hari ini kita diingatkan bahwa Yesus berbicara kepada setiap dari kita para muridnya di dunia saat ini: “KAMU harus memberi mereka makan.”

Translate ยป