Kamis, 22 Oktober 2015
Kamis, 22 Oktober 2015
Api cinta Allah itu memurnikan dan Sabda-Nya membersihkan. Gambaran api dalam Alkitab sering dikaitkan dengan Allah dan tindakan-Nya di dunia dan di dalam kehidupan umat-Nya. Tuhan dapat memanifestasikan diri lewat api. Kita ingat ketika Allah mewahyukan diri-Nya dalam semak berapi di padang gurun (Keluaran 3: 2). Allah meyakinkan orang-orang Ibrani akan kehadiran-Nya yang setia dan berkanjang. Ia tetap bersama mereka, membimbing dan melindungi mereka melalui padang gurun selama empat puluh tahun dengan tiang api pada malam hari dan tiang awan pada siang hari. (Keluaran 13: 21-22). Nabi Elia memanggil api dari langit untuk mengungkapkan kehadiran dan kuasa Allah dan untuk memurnikan orang Israel dari berhala palsu (1 Raja-raja 18: 36-39). Gambar api juga digunakan sebagai tanda kemuliaan Allah (Yehezkiel 1: 4, 13) dan kesucian (Ulangan 04:24), kehadiran pelindung nya (2 Raja-raja 06:17), dan penghakiman sejati-Nya (Zakharia 13: 9 ) dan murka suci melawan dosa (Yesaya 66: 15-16).
Api juga merupakan tanda dan simbol kehadiran dan kuasa Roh Kudus. Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api. Ketika Roh Kudus dicurahkan atas para murid pada hari Pentakosta “lidah api” muncul di atas kepala mereka (Kisah Para Rasul 2: 3). Kita bisa melihat baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru bahwa sesungguhnya Api Allah itu membersihkan dan memurnikan.
Mengapa Yesus menghubungkan api dari langit pemisahan di bumi? Apakah dia berharap para pengikutnya menafsir secara lurus-lurus (denotatif) pernyataan-Nya “ayah melawan anak dan anak melawan ayah” dan “ibu melawan anak perempuan dan anak perempuan melawan? Atau ia sengaja menggunakan kiasan untuk menekankan pilihan dan konsekuensi dari mengikuti teladan-Nya? Yesus menggunakan hiperbola Ibrani khas (kiasan dengan ekspresi bahasa yang kuat dan berlebihan ) untuk menarik sebuah pelajaran hidup penting dan berharga. Kita sering melakukan hal yang sama ketika kita ingin menekankan sesuatu yang sangat kuat. Hiperbola Yesus peringatan nyata bahwa pesan Injil itu seringkali tajam dan menyengat.
Yesus menantang para murid-Nya untuk memeriksa siapa yang mereka cintai pertama dan terutama. Seorang murid sejati mengasihi Allah di atas segalanya dan bersedia untuk meninggalkan semua untuk Yesus Kristus. Yesus menegaskan bahwa para murid-Nya supaya memiliki sikap loyal pada Allah dan kehendak-Nya, kerabat. Ada kemungkinan bahwa keluarga dan teman-teman bisa menjadi musuh kita jika pengaruh mereka membuat kita jauh daru Tuhan dan kehendak-Nya. Apakah saya mengutamakan kehendak Allah dalam semua hal yang saya lakukan?
