Browsed by
Month: October 2015

MAUKAH SEPERTI NABI YUNUS DAN ORANG SAMARIA JAMAN INI?

MAUKAH SEPERTI NABI YUNUS DAN ORANG SAMARIA JAMAN INI?

5 Oktober 2015

Yunus 1:1 — 2:1-2,11; Lukas 10:25-37

 

MAUKAH SEPERTI NABI YUNUS DAN ORANG SAMARIA JAMAN INI?

 

Kedua bacaan hari ini memperlihatkan kepada kita bagaimana tidak enaknya jadi pewarta kabar gembira (evangelists). Dalam bacaan pertama diceritakan bagaimana Tuhan meminta nabi Yunus untuk mengingatkan orang-orang Niniweh akan tetapi Nabi Yuns menolaknya. Yunus menolak permintaan Tuhan untuk pergi ke Niniweh. Selain Nabi Yunus takut akan keselamatan dirinya, Nabi Yunus sendiri mau membiarkan mereka dihukum Tuhan dari pada membantu mereka untuk bertobat pada saat-saat terakhir.

Bagaimana sikap kita, ketika kita diajak untuk mengingatkan atau mengajak orang-orang yang selalu menjengkelkan kita, menyakitkan hati kita? Bagaimana kita sikap kita ketika kitaberhadapan dengan dengan orang-orang yang membuuh orang lain mengataskan nama Tuhan, teroris? Bagaimana sikap kita mengahdapi orang-orang yang tidak mau belajar dari kesalahan mereka dan tidak mau bertobat? Tidak kah kita lebih memilih meminta Tuhan untuk menghukum mereka daripada membantu mereka untuk bertobat?

Tuhan menerima penolakan Yunus and menggantikan strategi membiarkan Yunus masuk dalam perut ikan selama tiga hari. Pernahkah kita menolak rencana Tuhan karena meminta kita untuk membantu atau mengajak orang yang selalu menyebalkan kita atau orang yang paling idak kita sukai? Jika ya, bagaimana Tuhan mengarahkan hidupmu? Ikan besar apa yang kamu punyai?

Dalam bacaan Injil, Yesus juga menunjukan kepada kita, menjadi pewarta kabar gembira selalu tidak mengenakan. Pernahkah kita berpikir bahwa orang samaria yang baik hati juga adalah seorang pewarta kabar gembira? Kita tahu orang Samaria dan orang Yahudi saling bermusuhan satu sama lain. Orang Yahudi mempersalahkan orang Samaria karena menganggap mereka mencampuradukan agama Yahudi dan kepercayaan orang-orang yang tidak beragama. Sebenarnya Orang yahudilah yang mengajarkan, mengingatkan orang-orang Samaria, akan tetapi Yeus menunjukan sebaliknya, justu orang-orang Samaria malah menjadi pewarta kabar gembira bagi orang-orang Yahudi.

Dalam injil, orang Samaria menunjukan cinta yang tulus keluar dari hatinya. Dia mengorbankan dirinya untuk orang yang sangat membutuhkan. Dia melampaui sebuah situasi yang nyaman. Dia berani untuk tidak nyaman. Dia membiarkan dirinya keluar dari apa yang telah direncanakan hanya demi membantu orang yang berada dalam kesakitan, berani mengambil resiko waktu, tenaga dan uang demi kesembuahan orang yang tidak dikenalnya. Inilah: Warta kabar gembira. Pesannya sangat jelas: Kamu dicintai!! Kamu berharga!! Hal ini menggambarkan Tuhan yang sejati. Inilah jawaban mengapa Yesus mau disalibkan.

Dalam dunia modern kita, kita dapat melihat banyak contoh seperti setiap kali kita melihat seseorang yang membantu orang tuanya yang kesehatanya sudah tidak baik, yang kadang tidak mudah untuk dipahami dan memahaminya. contoh lain, seorang istri yang sudah pisah dengan suamiya tetapi masih mau merawat suaminya yang menderita sakit kanker.

Orang tidak mendengar pesan Tuhan akan cinta kasih melalui kita kalau kita selalu mengahkimi orang lain, hidup penuh denagn kecurigaan atau tidak ada sikap hati yang mau membantu dan memperhatikan mereka yang sungguh membutuhkan. Jika kita hanya memilih untuk melakukan hal yang nyaman dan tidak mau melakukan sesuatu yang baik terhadap orang yang tidak kita sukai, hati dan jiwa kita akan lelap tertidur dalam bangkai perut ikan kehidupan.

Cinta yang diberikan dalan situasi yang tidak nyaman dan tidak mengenakan adalah cinta sejati—inilah cinta Kristus.

Jika kita mau bertobat seperti nabi Yunus atau orang samaria yang baik hati, Yesus akan sangat bangga dengan kita sebagai pengikut-NYA.

 

 

Disneyland

Disneyland

Barukh 4:5-12, 27-29
Mazmur 69
Lukas 10:17-24

Saya masih ingat pertama kali saya pergi ke Disneyland di California. Waktu itu kira-kira saya masih umur duabelas tahun. Dari sejak Disneyland buka pagi hari sampai tutup lewat tengah malam, saya tidak berhenti berjalan mengitari taman hiburan itu dan mencoba naik semua atraksi. Kaki saya tidak kenal lelah dan semangat tidak pernah padam. Mata saya terbelalak menikmati semua keajaiban dunia impian ini. Semuanya sangat menggugah hati. Tidak salah jika tempat ini disebut “The Happiest Place on Earth.”

Hari ini Yesus mengingatkan para muridNya bahwa mereka pantas untuk berbahagia. Banyak nabi dan raja akan merasa iri jika bisa melihat dan mendengar apa yang mereka lihat dan dengar. Tuhan sendirilah yang membuka diri terhadap mereka yang seperti kanak-kanak.

Sikap seperti kanak-kanak inilah yang mungkin tidak jauh berbeda dari pengalaman saya ke Disneyland pertama kali. Seorang anak melihat semuanya dengan rasa kagum. Dia bersemangat untuk mencari tahu lebih lagi dan ingin mengerti semua detil sekecil apapun. Seperti saya di Disneyland, tidak ada yang lepas dari perhatian seorang anak.

Jika Yesus ingin kita bersikap seperti kanak-kanak, maka dunia ini adalah semacam Disneyland kita. Dunia ini penuh tanda kebesaran Tuhan. Paus Fransiskus menulis dalam surat ensiklikalnya Laudato Si’ bahwa semua ciptaan mengungkapkan keagungan Tuhan. Tapi karena kesibukan kita, karena hal-hal lain yang menyita pikiran kita, kita tidak lagi bersikap seperti anak yang terkesima akan segala hal yang sudah diciptakan Tuhan. Lebih parah lagi, kita bisa-bisa malah menganggap dunia ini dan segala isinya semata-mata sesuatu yang bisa dieksploitasi habis-habisan untuk memenuhi keserakahan kita. Jika alam ciptaan sudah rusak dan kita terkena dampaknya, barulah kita berusaha memperbaiki, tapi kadang terlambat. Saat ini, misalnya, beberapa daerah di Indonesia dan negara-negara tetangga kewalahan menghadapi kabut asap akibat pembakaran hutan yang semena-mena.

Allah masih berkarya, masih senantiasa menampakkan diriNya pada kita. Tapi tidak lagi dalam bentuk Inkarnasi seperti Yesus, melainkan melalui segala ciptaanNya. Apakah kita bisa seperti anak kecil yang melihat semuanya itu dengan rasa penuh kagum? Ataukah kita hanya sibuk mementingkan diri sendiri dan melewatkan semua tanda-tanda dari Tuhan?

Siapa “Malaikat Pelindung” Anda?

Siapa “Malaikat Pelindung” Anda?

Hari Raya Peringatan Malaikat Pelindung

Barukh 1:15-22
Mazmur 79
Matius 18:1-5, 10

Ketika saya google “malaikat pelindung,” salah satu hasil yang paling mencolok (karena website ini adalah iklan yang membayar Google untuk menampilkannya secara lebih istimewa) adalah suatu website yang menawarkan jasa “Padre” yang mengklaim dirinya bisa berkomunikasi dengan malaikat dan memberitahu anda nama malaikat pelindung anda. Tentunya jasa ini tidak gratis, tapi dijanjikan jika anda sudah tahu nama malaikat pelindung anda, anda akan bisa mulai berkomunikasi dengannya untuk mendapat bantuan mengatasi masalah-masalah hidup.

Sebagai orang Kristen kita percaya bahwa malaikat adalah pelayan Tuhan yang ditugaskan untuk membantu manusia mencapai keselamatan (Ibrani 1:14). Persyaratan untuk harus tahu nama malaikat pelindung kita lebih dahulu sebelum kita bisa dibantu menjadi seperti mengambil alih peran Tuhan sebagai “boss” malaikat. Dan lebih jauh lagi, bisa-bisa malahan kita bisa lebih sering berdoa memanggil “nama” si malaikat itu daripada kepada Tuhan.

Kalau benar tugas utama malaikat pelindung adalah untuk membantu kita mencapai keselamatan dan mendekat pada Tuhan, maka mungkin lebih baik kita mencoba melihat “malaikat-malaikat” di sekitar kita. Inilah orang-orang yang mampu mendukung perbuatan-perbuatan baik kita, memberi bantuan dan semangat saat kita lemah, dan mendorong kita untuk menjadi diri kita yang terbaik sesuai rencana penciptaan oleh Allah.

Pada hari raya Malaikat Pelindung ini, ada baiknya kita sejenak mengenang mereka para “malaikat pelindung” dalam hidup kita. Berterima kasihlah kepada mereka, dan berterima kasihlah pada Tuhan karena sudah mengirimkan mereka. Kita tidak akan hidup seperti sekarang ini tanpa campur tangan bantuan mereka.

Mungkin inilah yang Yesus maksudkan dalam bacaan Injil hari ini. Menjadi seperti anak kecil berarti menyadari bahwa kita tidak mampu hidup sendirian. Kita butuh kerendahan hati untuk mendapatkan bantuan orang lain, para “malaikat” yang membawa kita lebih dekat kepada kasih Allah.

Sukacita

Sukacita

Hari Raya Peringatan Santa Theresia Kanak-kanak Yesus (dari Lisieux)

Thérèse-with-the-Cross

Nehemia 8:1-12
Mazmur 19
Lukas 10:1-12

Kesepian. Dijauhi orang lain. Menderita karena sakit. Disingkirkan. Semua hal ini pasti membuat seorang manusia merasa kecewa dan putus asa. Manusia adalah makhluk sosial. Salah satu kebutuhan dasar kita adalah menjadi bagian dari suatu kelompok, berhubungan akrab dengan satu sama lain. Kita patut bertanya apakah di zaman modern ini dengan segala teknologinya, apakah kita menjadi semakin kesepian dan jauh dari orang lain? Akibat yang bisa dilihat adalah stress meningkat, orang mudah marah dan tidak sabaran. Tidak ada lagi sukacita di dalam hati kita.

Bangsa Israel pantas merasa putus asa ketika mereka dibuang ke Babilonia. Bait Allah hancur, Yerusalem menjadi bagian dari negara asing, penduduknya tercerai-berai dan sebagian dibuang ke tempat lain. Keyakinan mereka bahwa Allah akan memulihkan semuanya adalah semangat yang selalu menguatkan mereka dalam tujuh puluh tahun masa pembuangan. Maka ketika mereka akhirnya bisa kembali ke tanah mereka, membangun kembali Bait Allah dan kota Yerusalem, dan Ezra kembali membacakan hukum Taurat dari Musa, tidak pelak lagi mereka semua menangis terharu. Tapi Ezra, Nehemia, dan para imam mengingatkan mereka untuk menghentikan tangis mereka karena ini sebenarnya waktu untuk bersuka cita.

Liku-liku kehidupan setiap manusia pastilah penuh tantangan dan cobaan. Sukacita seperti suatu hal yang mustahil. Sukacita hanya mungkin terjadi jika pegangan kita adalah kasih dan kemurahan hati yang senantiasa datang dari Tuhan. Santa Theresia adalah teladan yang paling tepat dalam hal ini. Sejak muda dia ingin menjadi biarawati tapi selalu terhalang oleh kesehatannya yang buruk. Ketika akhirnya dia diterima menjadi suster Karmel, dia menyadari bahwa kemampuannya sangat terbatas. Tapi dia bersukacita jika bisa memberikan sedikit saja untuk Yesus, sekecil apapun itu. Dia selalu menulis tentang “jalan kecil”: melakukan hal-hal yang kecil dengan kasih yang besar pada Yesus. Dalam salah satu puisinya ia menulis:

“Hidup dalam kasih, kebodohan apa yang dinyanyikannya!”
Begitu kata dunia. “Tinggalkan sukacita kosong itu!
Jangan sia-siakan keharumanmu untuk hal sepele.
Gunakan bakatmu untuk seni yang berguna bagi manusia!”
MencintaiMu, Yesus! Ah, kerugian ini sebenarnya adalah keuntungan;
Aku tidak mencari bayaran dari keharumanku.
Meninggalkan dunia, aku bernyanyi dalam derita manis maut:
Aku mati dalam kasih!

Inilah sumber sukacitanya. Theresia meninggal muda, tetapi kisah hidupnya memberikan inspirasi kepada banyak orang untuk mengikuti “jalan kecil” Theresia, melakukan perbuatan baik yang sederhana dalam hidup mereka masing-masing. Karena itulah Gereja mengangkat Theresia tidak hanya sebagai Santa tapi sebagai Pujangga Gereja. Tulisan-tulisannya, walaupun tidak berisi teologi tingkat tinggi, mempunyai kesederhanaan yang dapat diikuti oleh orang awam pada umumnya.

Dengan sukacitanya yang mendalam, Theresia memberi contoh bagaimana kita berhubungan erat dengan Tuhan. Inilah tantangan kita dalam hidup di dunia ini yang penuh keputusasaan, kecemasan, kebencian, dan ketakutan. Sebagai pengikut Kristus kita sudah seharusnya mengenal sumber sukacita kita dan inilah yang kita tunjukkan pada dunia. Dalam surat apostoliknya, Evangelii Gaudium (Sukacita Injil), Paus Fransiskus menulis:

“Orang Kristiani masa kini mempunyai kewajiban mewartakan Injil kepada semuanya tanpa terkecuali. Tapi bukannya dengan seperti memaksakan aturan-aturan baru, mereka harus menunjukkan bahwa mereka mau membagikan sukacita mereka, yang berujung pada cakrawala keelokan dan mengundang semua orang ke perjamuan yang nikmat. Gereja tidak akan berkembang dengan cara mengajak-ajak orang, tetapi dengan membuat orang menjadi tertarik.”

Translate »