Sukacita
Hari Raya Peringatan Santa Theresia Kanak-kanak Yesus (dari Lisieux)
Nehemia 8:1-12
Mazmur 19
Lukas 10:1-12
Kesepian. Dijauhi orang lain. Menderita karena sakit. Disingkirkan. Semua hal ini pasti membuat seorang manusia merasa kecewa dan putus asa. Manusia adalah makhluk sosial. Salah satu kebutuhan dasar kita adalah menjadi bagian dari suatu kelompok, berhubungan akrab dengan satu sama lain. Kita patut bertanya apakah di zaman modern ini dengan segala teknologinya, apakah kita menjadi semakin kesepian dan jauh dari orang lain? Akibat yang bisa dilihat adalah stress meningkat, orang mudah marah dan tidak sabaran. Tidak ada lagi sukacita di dalam hati kita.
Bangsa Israel pantas merasa putus asa ketika mereka dibuang ke Babilonia. Bait Allah hancur, Yerusalem menjadi bagian dari negara asing, penduduknya tercerai-berai dan sebagian dibuang ke tempat lain. Keyakinan mereka bahwa Allah akan memulihkan semuanya adalah semangat yang selalu menguatkan mereka dalam tujuh puluh tahun masa pembuangan. Maka ketika mereka akhirnya bisa kembali ke tanah mereka, membangun kembali Bait Allah dan kota Yerusalem, dan Ezra kembali membacakan hukum Taurat dari Musa, tidak pelak lagi mereka semua menangis terharu. Tapi Ezra, Nehemia, dan para imam mengingatkan mereka untuk menghentikan tangis mereka karena ini sebenarnya waktu untuk bersuka cita.
Liku-liku kehidupan setiap manusia pastilah penuh tantangan dan cobaan. Sukacita seperti suatu hal yang mustahil. Sukacita hanya mungkin terjadi jika pegangan kita adalah kasih dan kemurahan hati yang senantiasa datang dari Tuhan. Santa Theresia adalah teladan yang paling tepat dalam hal ini. Sejak muda dia ingin menjadi biarawati tapi selalu terhalang oleh kesehatannya yang buruk. Ketika akhirnya dia diterima menjadi suster Karmel, dia menyadari bahwa kemampuannya sangat terbatas. Tapi dia bersukacita jika bisa memberikan sedikit saja untuk Yesus, sekecil apapun itu. Dia selalu menulis tentang “jalan kecil”: melakukan hal-hal yang kecil dengan kasih yang besar pada Yesus. Dalam salah satu puisinya ia menulis:
“Hidup dalam kasih, kebodohan apa yang dinyanyikannya!”
Begitu kata dunia. “Tinggalkan sukacita kosong itu!
Jangan sia-siakan keharumanmu untuk hal sepele.
Gunakan bakatmu untuk seni yang berguna bagi manusia!”
MencintaiMu, Yesus! Ah, kerugian ini sebenarnya adalah keuntungan;
Aku tidak mencari bayaran dari keharumanku.
Meninggalkan dunia, aku bernyanyi dalam derita manis maut:
Aku mati dalam kasih!
Inilah sumber sukacitanya. Theresia meninggal muda, tetapi kisah hidupnya memberikan inspirasi kepada banyak orang untuk mengikuti “jalan kecil” Theresia, melakukan perbuatan baik yang sederhana dalam hidup mereka masing-masing. Karena itulah Gereja mengangkat Theresia tidak hanya sebagai Santa tapi sebagai Pujangga Gereja. Tulisan-tulisannya, walaupun tidak berisi teologi tingkat tinggi, mempunyai kesederhanaan yang dapat diikuti oleh orang awam pada umumnya.
Dengan sukacitanya yang mendalam, Theresia memberi contoh bagaimana kita berhubungan erat dengan Tuhan. Inilah tantangan kita dalam hidup di dunia ini yang penuh keputusasaan, kecemasan, kebencian, dan ketakutan. Sebagai pengikut Kristus kita sudah seharusnya mengenal sumber sukacita kita dan inilah yang kita tunjukkan pada dunia. Dalam surat apostoliknya, Evangelii Gaudium (Sukacita Injil), Paus Fransiskus menulis:
“Orang Kristiani masa kini mempunyai kewajiban mewartakan Injil kepada semuanya tanpa terkecuali. Tapi bukannya dengan seperti memaksakan aturan-aturan baru, mereka harus menunjukkan bahwa mereka mau membagikan sukacita mereka, yang berujung pada cakrawala keelokan dan mengundang semua orang ke perjamuan yang nikmat. Gereja tidak akan berkembang dengan cara mengajak-ajak orang, tetapi dengan membuat orang menjadi tertarik.”

One thought on “Sukacita”
Thanks Fr. Sam. Theresia did small things in big heart and great faith. She makes the ordinary becomes extraordinary.
Comments are closed.