Browsed by
Month: November 2015

“Numb” : kehilangan kemampuan untuk merasa

“Numb” : kehilangan kemampuan untuk merasa

 

OrangUtanLuke 17:22

“Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya.”

Foto-foto kebakaran hutan sejak 20 th lalu di Indonesia: http://qz.com/544499/photos-palm-oil-production-has-been-smoking-out-southeast-asia-for-20-years/

Kalau anda meng-klik tautan di atas, kita akan melihat kalau negara kita telah mendiamkan kebakaran hutan sejak puluhan tahun lalu. Tapi setiap orang di negara kita, terutama pemerintah, kehilangan rasa dan kehilangan kemampuan untuk melihat bahwa hal itu adalah masalah yang urgen untuk diselesaikan. Baru ketika negara tetangga mulai merasakan dampak yang hebat dari asap, kita baru kalang kabut, dan mulai memikirkan bagaimana memadamkan api.

‘Namb’ adalah kosa kata English yang berarti orang tak lagi punya sensitivitas, tak punya kemampuan untuk merasakan, dan membuat orang menjadi diam pasif. Itu kiranya yang telah terjadi dalam kehidupan kita orang Indonesia. Mentri Susi omong, “DI negeri ini, kalau ndak diributkan, ndak dipermasalahkan!”

Orang-orang tak mau meributkan soal asap sejak dahulu. Pemerintah juga enggan omong masalah ini, karena mereka ingin meningkatkan produksi hasil kelapa sawit dengan membuka lahan baru dengan cara dibakar. Seolah asap kebakaran hanya dianggap angin lalu. Toh nanti hilang sendiri seiring hujan dan angin datang!

Yesus berkata, “Akan datang waktunya, saat Anak Manusia datang, tapi kamu tak melihatnya!” Jangan sampai kita semua menjadi “Numb”, tak punya perasaan, tak bisa melihat lagi dan tak punya sensitivitas. Amatlah menakutkan kalau kita hanya diam dan pasif. Lebih menyedihkan lagi kalau kita membiarkan diri kita menjadi ‘numb’.

Semoga kita setiap hari bisa mengasah perasaan dan kemampuan untuk mengerti bahwa ada persoalan yang harus kita selesaikan, jangan ditunda dan dibiarkan, seolah tak ada, atau membiarkan hingga orang lain yang menyelesiakannya.

Mgr. Puja yang saya kenal

Mgr. Puja yang saya kenal

The souls of the just are in the hand of God,
and no torment shall touch them (Wisdom 22: 24)

Saya kenal Alm. Bapak Uskup Puja tanggal 12 Juli 1995, ketika orang tua mengantar saya masuk Seminari Jangli, Semarang. Saat itu, Romo Pujo menjadi Rektor kami, dan beliau menerima kami, 24 calon imam untuk keuskupan agung Semarang, dan keuskupan Purwokerto. Bersama Almarhum kami tinggal bersama 1 tahun sebelum kami berpindah ke Seminari Tinggi di Yogyakarta.

Romo Puja mendirikan sebuah kelompok GARAM singkatan dari Garam dan Ragi Masyarakat. Kelompok ini membantu keluarga dan anak-anak yang  kurang berada, dan tinggal di sekitar pinggiran Semarang, dekat pelabuhan Tanjung Mas. Setiap Kamis, sesudah makan siang, kami berdua-dua naik bus Menoreh menuju pelabuhan. Sesudahnya kami menyusuri rel kereta api sekitar 3 Km.

Bau tumpukan sampah dan air tak mengalir hijau kehitaman menusuk hidung saat menyusuri rel kereta api. Romo Puja menugasi saya dan seorang teman membantu sebuah kelompok anak-anak untuk mengajar mereka setelah sekolah, dan membantu menyelesaikan PR mereka. Setiap minggu beliau meminta kami membuat program dan rencana mengajar, serta evaluasi seusai karya GARAM.

Tempat kami mengajar ada di sebuah rumah, dekat dengan pembuangan sampah akhir. Saya tak tahu mengapa anak-anak itu tak terganggu dengan bau sampah. Padahal baunya minta ampun menusuk hidung dan perut. Mungkin mereka sudah terbisa, dan tak peduli dengan bau itu lagi.

Suatu kali hujan amat deras di hari Kamis. Saya bertanya pada Romo Puja, “Apakah saya harus datang, ini hujan deras sekali?” Saya berharap Romo Puja mengijinkan kami libur, sehingga tak perlu datang dan berjalan sepanjang rel di saat hujan lebat. Namun dia berkata, “Malah di saat seperti ini, mereka membutuhkan bantuanmu. Ayo berangkat!”

Dengan agak enggan saya menyiapkan jas hujan, bersandal jepit, dan memakai celana pendek, lalu mencari bus jurusan pelabuhan. Kami berjalan basah kuyup, seolah jas hujan ini tak ada gunanya kami pakai. Sesampai di rumah belajar, saya tak menyangka kalau rumah itu kebanjiran. Seluruh lantai penuh air seperti sungai. Namun anak-anak ada di sana semua. Mereka duduk di atas meja makan dan meja tamu.

Mata mereka berbinar melihat kami datang, karena mereka sudah siap mengerjakan PR. Saya duduk di atas meja makan sembari melihat air mengalir di bawah saya coklat kehitaman. Tiba-tiba ada perasaan bersalah dan rasa kosong yang menyengat dalam batin saya. “Syukurlah saya datang ke sini, hadir bersama mereka mengerjakan PR.”

Beberapa orang tua anak-anak itu membersihkan lantai, membuang air, dan membiarkan kami terus membantu anak mereka belajar. Sebelum saya pulang, seorang anak memberi saya secangkir teh hangat, dan dia berkata, “terima kasih Mas Galih sudah datang walau hujan dan banjir.” “Saya yang harusnya berterima kasih pada kamu, karena engkau  mengajari saya mengerti hidup!” kata saya dalam batin.

Itulah teh hangat yang paling nikmat, yang pernah saya rasakan di saat banjir di dekat pelabuhan Semarang.

Terima kasih Mgr Puja, engkau telah mengajari saya untuk mengerti dan merasakan orang-orang yang tak beruntung seperti kita. Allah menyambutmu di surga karena, “disaat Dia lapar, engkau memberi makan, disaat banjir, engkau mengunjungi, dan di saat kesulitan, engkau mengajak saya membantu mengerjakan PR!”

Berita Duka

Berita Duka

Telah berpulang ke rumah Bapa di Surga

200px-Johannes_Pujasumarta

Mgr Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumatra

Selasa, 10 November 2015 , 23:30 WIB di RS St. Elisabeth Semarang

Teriring doa kami semua mengiringi kepergian Beliau

 

 

Hamba yang tak berguna

Hamba yang tak berguna

Bacaan dari  Lukas 17: 10: “Apabila kamu sudah melakukan semua yang diperintahkan kepadamu, hendaklah kamu berkata, ‘Kami adalah hamba yang tidak berharga. Kami hanya melakukan apa yang menjadi tugas kami.”

Judul diatas menjadi tema kotbah Bapak uskup Emeritus Cardinal Mahony di Los Angeles, 1 Nov 2015 yang lalu. Saya akan mengutipkan kotbah beliau yang amat menarik untuk menjadi bahan permenungan kita.

“Bacaan di atas adalah favorit saya karena kata-kata itu sangat mengena di hati saat saya akan segera pensiun dari seluruh tugas Gereja ini.  Bayangkanlah seorang hamba yang baru pulang dari bekerja, lelah dan berpeluh. Sesampai di rumah tuannya, sang majikan malah menyuruhnya membuatkan makanan dan minuman untuk dihidangkan. Ia tidak dibiarkan beristirahat sejenak. Baru seusai sang majika makan, barulah si hamba makan dan beristirahat. Lalu si hamba berkata, áku adalah hamba yang tak berguna, dan hanya melalukan apa yang menjadi tugasku saja.’

Saat saya melihat ulang tugas menjadi gembala, kata-kata di atas sangat bergema untuk saya, ‘saya hamba yang tak berguna.’ kekurangan saya, dosa, dan kesalahan yang banyak bertahun-tahun, dan kadang perasaan kalau saya tak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya.

Ingatan kelam kembali di tahun 1960, saat saya tak bisa berbuat banyak bagi para petani yang menuntut perbaikan upah. Di san Joaquin Valley, saya berusaha menjadi negosiator antara petani dan pemilik lahan, tapi usaha itu tak berhasil.

Saat saya ada di keuskupan Los Angeles, saya menemui 3 kasus imam yang melalukan sexual abuse. Saya terkejut bahwa ada imam yang berkehendak merusak masa depan anak-anak dibawah umur. Baru di tahun 1990, ada aturan bahwa semua imam yang kena kasus sexual abuse akan dicopot dari seluruh tugas Gereja.

Saya kadang berharap kembali ke masa itu dengan membawa pengetahuan yang ada sekarang untuk memperbaiki kesalahan dan kegagalan.

Saya diingatkan bahwa disiplin diri adalah satu cara yang dipakai sang majikan untuk mengajari hamba yang tak berguna. Dengan disiplin kita belajar menjadi rendah hati, sebuah keutamaan yang mengakar kuat bagi mereka yang dipanggill Yesus menjadi sahabat-sahabatnya.

Kita adalah hamba-hamba yang tak berguna. Saya sungguh mengharapkan doa terus-menerus bagi saya dan seluruh orang yang berkumpul di sini. Setiap dari kita berbagi perjalanan iman bersama di ladang Tuhan ini.

Pada akhirnya, saya akan berkata, “kami adalah hamba yang tak berguna.”dan Yesus akan berkata pada para muridnya, “Kamu tak lagi kusebut hamba, tapi sahabat dan rekan seperjalanan.”

Los Angeles, 1 Nov 2015

Translate »