Browsed by
Month: January 2016

Menjadi Pribadi yang Lebih Mencintai Orang Lain

Menjadi Pribadi yang Lebih Mencintai Orang Lain

Rabu, 6 Januari 2016
1 John 4:11-18; Mrk. 6:45-52.

Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya. Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.

Apa resolusimu di tahun yang baru ini? Tentu setiap orang berbeda-beda membuat resolusi sesuai kebutuhannya masing-masing. Apakah “menjadi pribadi yang lebih mencintai orang lain” adalah salah satu dari resolusi kita? Bacaan pertama hari ini mengingatkan dan sekaligus mengajak kita kembali: …jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Allah adalah sumber cinta sejati dan Dia tidak pernah menuntut kita untuk membalas cintaNya. Kita tidak dapat memberikan kepada Allah apa yang Allah miliki yang mengatasi kita. Bacaan pertama selanjutnya juga menjelaskan bahwa “Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah”. Oleh karena itu sangat sulit untuk mengukur cinta kita kepada Allah. Kita bisa saja mengatakan kita mencintai Allah dan untuk membuktikan pernyataan tersebut kita harus menunjukannya lewat bagaimana kita mencintai sesama kita sebagaimana Allah mencintai kita. Oleh karena itu, jika kita mencintai setiap orang yang kita jumpai dengan tulus maka Allah hidup secara nyata dalam kita. Kita sangat sadar akan orang-orang yang kita jumpai dalam hidup kita sehari-hari adalah orang-orang yang tidak semuanya mudah untuk kita berelasi. Walaupun tidak semua orang mudah berelasi dengan kita, kita tetap dipanggil untuk membagikan cinta Allah kepada mereka. Kita dipanggil untuk menjadi sarana dimana cinta Allah bisa dialami oleh orang lain.

Ciri khas kita sebagai pengikut Kristus sejati adalah mencintai sesama kita. Kita dipanggil untuk mencintai. Dasar dari cinta itu adalah Allah sendiri, bukan dari diri kita. Praktek cinta yang kita lakukan adalah ungkapan kasih Allah yang nyata melalui kita. Kita dapat melihat wujud cinta sejati Allah dalam diri Yesus Kristus. Yesus mempersembahkan dirinya demi dosa-dosa kita. Kematian Yesus di kayu salib adalah wujud dan tanda sejati cinta Allah bagi kita. Sebuah cinta yang diberikan secara gratis dan cuma-cuma kepada kita. Kita tidak harus bersusah payah atau kerja extra untuk mendapatkanya.

Mari kita berlomba untuk berbuat baik, mencintai setiap orang tanpa memandang siapa dia, latar belakangnya, status sosialnya, dan sebagainya. Dengan mempraktekan cinta ini, kita mampu menghadirkan Allah dalam hari-hari hidup kita.

Lho, kenapa kita yang repot?

Lho, kenapa kita yang repot?

Selasa, 5 Januari, 2016
Bacaan I: 1Yoh. 4:7-10/Mrk. 6:34-44

“Kamu harus memberi mereka makan”. Perintah Yesus kepada para murid untuk memberi makan kepada banyak orang membuat para murid kelabakan. Para murid merasa terpaksa untuk melakukan perintah Yesus ini. Hal ini dapat dilihat dari respon para murid, “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” Sikap mengeluh para murid Yesus ini sering kali kita jumpai dalam hidup kita sehari-hari terutama dalam kaitan dengan membantu orang yang sungguh membutuhkan. Lho, kenapa kita yang repot? Kan dia atau mereka bisa lakukan sendiri? kan itu bukan urusan gue? Kecenderungan manusia pada umumnya adalah mencari kenyamanan sendiri ketimbang mengulurkan tangannya untuk membantu mereka yang sedang membutuhkan pertolongan.

Melihat reaksi para murid terhadap perintahNya, Yesus justru menggunakan momen ini untuk mengajarkan mereka bagaimana seharusnya menggunakan apa yang mereka miliki untuk membantu orang lain. Jika orang dengan sukacita mau berbagi apa yang dimilikinya maka banyak orang akan diselamatkan.
Lewat penggandaan lima roti dan dua ikan, Yesus mau menunjukan kepada kita akan sukacita yang besar apabila setiap orang mempunyai sikap hati yang mau berbagi, peduli dan solider.
Yesus mengajak para muridNya termasuk kita saat ini untuk memberi mereka (orang yang membutuhkan) makan, tidak hanya makanan jasmani tetapi juga makanan rohani.

Yesus menunjukan para murid bagaimana memberi makan banyak orang secara rohani, akan tetapi mereka kelihatan tidak memahaminya. Yang mereka tangkap hanyalah makanan jasmani sehingga mereka meminta Yesus supaya orang banyak pergi mencari makanan masing-masing sebelum matahari terbenam.

Dalam dunia kita, kita menemukan banyak orang di sekitar kita yang sungguh kelaparan dan butuh makanan. Ada yang secara fisik membutuhkan makanan tetapi juga tidak sedikit yang membutuhkan makan spiritual. Hari ini Yesus meminta kita untuk memberi makan kepada mereka yang sungguh membutuhkan makanan baik secara fisik maupun spritual. Di sekitar kita banyak orang butuh didengarkan, butuh perhatian, butuh teman untuk berbagi, mereka inilah yang perlu kita bantu. Mereka inilah butuh kehadiran kita. Semoga semakin hari kita semakin peka akan kebutuhan orang disekitar kita. Mudah-mudahan kehadiran kita selalu membawa berkat bagi orang yang membutuhkan. Semoga berkat yang kita terima, kita bagikan kepada setiap orang yang kita jumpai sehingga semakin banyak orang hidup dalam sukacita.
Amin

Komitment sebagai Anak-anak Allah

Komitment sebagai Anak-anak Allah

Senin, 4 Januari 2016
Mat. 4:12-17,23-25

Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.

“Bertobatlah, Kerajaan Sorga sudah dekat”
Sungguh menarik bahwa injil hari ini mengingatkan kita kembali untuk memulai tahun yang baru dengan berfokus pada Kerajaan Surga. Kerajaan dimana setiap orang yang percaya akan Yesus Kristus mempunyai sukacita sejati. Agar fokus kita tetap pada Kerajaan Surga, kita pertama-tama harus kembali kepada diri kita making-masing, melihat siapakah diri kita sesunggunya dihadapan Tuhan. Kalau kita benar-benar jujur dengan diri kita sendiri maka kita akan menemukan banyak hal yang perlu kita perbaiki. Kita dapat menemukan bahwa hidup kita tidak layak dihadapan Tuhan karena kelemahan dan dosa-dosa kita.
Setiap tahun baru, kita selalu membuat komitment untuk hidup lebih baik dari tahun sebelumnya. Yang lama dan kurang baik ditinggalkan, yang baik dan berguna bagi diri kita dan orang lain mulai diperhatikan dan mulai dijalani. Hal ini sebenarnya adalah salah satu wujud pertobatan yang nyata. Menyadari kelemahan dan kekurangan yang selalu mendominasi hidup kita dan berkaca dari pengalaman tersebut membuat sebuah komitment untuk berfokus kembali pada hal-hal yang positif, berguna bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain.
Yesus dalam injil mengajak kita untuk memfokuskan diri kita pada hal-hal surgawi. Dia mengingatkan kita jika kita mau mempunyai hidup kekal bersama Dia maka sekarang saatnya kita memulai kembali mengaplikasikan nilai-nilai injil dalam hidup kita sehari-hari. Nilai-nilai kasih, pengampunan dan belaskasih harus diaplikasikan dalam hidup harian kita.
Saint John dalam suratnya juga mengingatkan kita bahwa kita adalah anak-anak yang dikasihi Allah. Kalau kita adalah anak anak yang dikasihi Allah maka hidup kita juga selayaknya seperti anak-anak terang. Sebagai anak-anak terang, tugas kita adalah membawa pembebasan bagi orang yang berada dalam kegelapan dosa.
Mari kita mengawali tahun Baru ini dengan sebuah komitment yang kuat untuk hidup sebagai anak-anak Allah yang berani menawarkan nilai-nilai surgawi bagi setiap orang yang kita jumpai.

Suara di Padang

Suara di Padang

Sabtu, 2 Januari 2016
1John 2:22-28/John 1:19-28

Dalam setiap perbincangan harian suatu pertanyaan selalu memiliki fungsi ganda yakni menegaskan atau menyangkal kebenaran. Penyangkalan yang negatif dan buruk adalah penipuan.

Ketika para imam dan kaum Levi dikirim untuk menanyakan identitas Yohanes yang sesungguhnya, ia menjawab mereka singkat: bukan!

Yohanes menjawab bahwa dirinya bukan Kristus, bukan Elias, bukan Moses tapi “suara yang berseru-seru di padang gurun” merujuk Yes 40:3, artinya dia yang menyiapkan jalan bagi Kristus.

Yohanes memanifestasikan diri sebagai hamba yang membuka jalan agar hati dan pikiran bangsanya lapang dan berkenan bagi Tuhan yang datang.

Ada yang lebih penting dan lebih besar dan bernilai dari Yohanes sendiri, karena itu ia tidak menyangkal melainkan menegaskannya sebagai kebenaran, yakni Kristus yang telah datang.

Surat pertama Yohanes dalam bacaan hari ini berbicara tentang Pembaptisan sebagai jalan untuk hidup dalam kebenaran Kristus. Dalam permandian ada pelepasan dari dosa dan maut. Hidup seperti ini adalah hidup sebagai anak-anak terang, hidup abadi yang dianugerahkan oleh Kristus sendiri.

Hidup dalam tekanan, tidak merdeka, sering memasukkan orang dalam kemunafikan. Dalam percakapan biasa dan sederhana sekalipun, godaan untuk menyangkal sering tak terelakkan. Penderitaan berlebihan dan kemiskinan dan perang sering menimbulkan penolakan, iri hati dan kebencian masif. Ini semua adalah lawan, musuh, yakni kegelapan dunia.
Semua negativitas ekstrim dan absolut, adalah musuh Kristus. Kristus telah mentransformasinya dengan kematian dan kebangkitan-Nya, terutama yang urgent, jiwa-jiwa yang belum dan tidak tenang-tenang hingga saat ini.

Yohanes, baptislah kami dengan air pembersihan dan pengampunan atas dosa-dosa yang mendera jiwa kami.

Kristus baptislah kami dengan api dan roh cinta kasihmu agar kami hidup dan beroleh jiwa yang damai dan tenang bersama Bapa dan Roh Kudus, Amen!

Bunda Yesus, Bunda Allah

Bunda Yesus, Bunda Allah

bundayesus

Jumat, 1 Januari 2016
Bil 6:22-27/Gal 4:4-27/Luk 2:16-21

Sebelum peristiwa Inkarnasi berdirilah seorang wanita yang tidak mengerti apa arti sebuah salam baginya. Salam yang dibawa padanya berbeda sama sekali dari yang biasa diterima oleh seorang perempuan muda. Salam ini tidak biasa bukan karena disampaikan oleh seorang putra mahkota yang tertarik dan ingin menikahinya, tetapi salam itu disampaikan oleh malaikat. Maria berhadapan langsung dengan utusan Allah. Peristiwa ini menggetarkan hatinya karena ia sendiri sudah bertunangan dengan kekasihnya, Jusuf. Karena itu Maria sebagai manusia pastinya merasa bingung. Sebagai manusia muncul keraguan atau semacam konflik dalam diri untuk menerima tawaran Allah atau menerima tawaran Jusuf, yakni menyiapkan dirinya untuk menjadi seorang isteri dari tunangannya itu. “Bagaimana mungkin itu terjadi, karena aku ini belum bersuami.”

Peristiwa inkarnasi, Allah menjadi daging, adalah sebuah misteri di luar jangkauan pemahaman manusia. Di dalam inkarnasi, bukan manusia, melainkan Allah yang pertama berinisiatif dan melibatkan diri dalam hidup manusia. Dan Maria berdiri sebagai wanita yang berkenan atas peristiwa agung, mulia dan suci ini. Maria nampak tidak mampu memahami semuanya ini. Namun oleh iman, Ia menjawab “Ya” agar rencana Allah terlaksana di dalam dunia. “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu.”

Allah mempunyai pendekatan dan cara yang tidak sejalan dengan yang cara dan pendekatan manusia. Dan terhadap misteri Allah, manusia dituntut untuk beriman. Dengan iman ia menaruh harapan-Nya pada penyelenggaraan Allah. Dengan iman manusia membuka hati kepada kasih dan tuntunan Allah. Beriman berarti hidup di dalam Roh di mana kita boleh berdoa dan menyebut Allah sebagai “Bapa” serta melaksanakan kehendak-Nya.

Bunda Maria memberi kita contoh bagaimana seharusnya kita beriman.

Pertama-tama, ia terbuka pada kehendak Allah. Allah selalu memberi tawaran keselamatan kepada kita namun hati kita sering tertutup. Pendengaran dan perhatian kita lebih sering dibebani dengan tawaran-tawaran duniawi. Keraguan dan sikap skeptis adalah akibat dari perhatian yang berlebihan terhadap kenikmatan dan urusan dunia. Urusan Allah diabaikan dan bahkan dilupakan sama sekali. Meski dalam keraguan, Maria tetap membuka hati bagi Allah agar Roh Tuhan bekerja di dalam dirinya. Keterpilihan dan iman Maria menarik kita dekat kepada Allah.

Kedua, melalui inkarnasi martabat manusia diangkat dan dibarui oleh Allah kepada hakikatnya yang benar dan rohani sebagai putra-putri Allah sendiri. Inkarnasi memberi definisi baru tentang hidup dan panggilan manusia bukan hanya di dalam kosmos melainkan di hadapan Pencipta kosmos itu sendiri. Dengan inkarnasi segala ciptaan dan tatanannya dilihat bukan menurut sorotan mata manusia melulu melainkan menurut tata cara dan pandangan mata Allah sendiri dalam diri Kristus. Bukan lagi raja-raja dan penguasa-penguasa yang menata dan mengatur hidup manusia dan alam semesta menurut keinginan dan warisan manusia, melainkan dalam terang kesederhanaan dan kelembutan kasih dalam diri Sang Bayi yang lahir di kandang hina. Ketika para gembala menemukan Yesus dibaringkan di dalam tempat minum, palungan binatang, hati dan pikiran mereka berbalik haluan: bukan apa dan siapa-siapa lagi tapi Yesus, Bintang yang sesungguhnya, yang diwartakan.

Ketiga, kisah tentang pertobatan hati dan keselamatan manusia selalu diawali melalui perjumpaan dengan Yang Kudus. Kesederhanaan para gembala dan ketulusan mereka untuk menjumpai Allah yang datang dan tinggal di antara mereka, membawa sukacita dan damai untuk hidup mereka seterusnya.

Semoga di tahun yang baru ini kita semakin meneladani Bunda Allah: teladan kesetiaan dan kerendahan hati. Semoga tahun yang baru ini selalu dijalani bersama dan dengan Yesus. Yesus yang lahir di dalam batin dan tindakan-tindakan kita seperti Bunda Maria. Yesus yang direnungkan selalu dan disimpan di hati kita. Yesus yang membawa damai diwartakan bukan dengan pedang melainkan kasih, agar kehendak Bapa yang terjadi di dalam hati, budi dan jiwa setiap orang yang mendengar dan mentaatinya.

Bunda Allah, doakanlah kami selalu agar di tahun yang baru ini kami terus bertumbuh dalam iman dan kasih, dalam permenungan dan ketaatan akan rencana dan kehendak Allah sendiri.

Happy New Year 2016.

Translate »