Browsed by
Month: March 2016

Sabtu sunyi

Sabtu sunyi

Luk 24: 1-12

Malam ini, kita menanti dan sekaligus merayakan titik balik dalam sejarah kemanusiaan: kebangkitan Tuhan Yesus Kristus dari kematian.

Mengapa Yesus? Orang lain pernah menganggap diri sebagai mesias pada waktu itu. Kenyataannya, menurut Yosephus, seorang penulis sejarah, hanya dalam beberapa puluh tahun sesudah Yesus, melaporkan bahwa ada sekitar empat belas orang yang mengklaim diri mereka sebagai mesias. Beberapa dari mesias- mesias palsu itu menjadi sangat populer dan mempunyai banyak pengikut.

Lalu apa yang membuat Yesus, seorang tukang kayu dari desa Nazareth memenangkan “jabatan” itu?

Yesus tidak memamerkan tanda-tanda spektakuler yang menurut ukuran jaman kontemporer ini sebagai tanda-tanda yang dapat diandalkan untuk mencapai kesuksesan, seperti menjadi terkenal, bernasib baik, dan diikuti oleh banyak pengikut yang setia. Ia hanyalah seorang pembuat dan penjual meja kursi dan tukang yang miskin dari sebuah desa kecil di Galilea yang menghabiskan tiga tahun berkeliling di daerah Palestina dan mengalami konflik dengan otoritas keagamaan. Ia menarik perhatian banyak orang namun hanya sedikit saja yang setia mengikutiNya dan banyak dari yang mengikutiNya dan berseru “Hosana Putra Daud” pada hari Minggu Palma yang lalu akhirnya berpaling dariNya dan kemarin meneriakkan “salibkan Dia”.

Yesus dari Nazareth memiliki sekurang-kuranya dua karakter yang tidak dimiliki oleh orang lain. Pertama dan yang paling nampak jelas, Ia dibangkitkan dari kematian; dan kedua, sebuah kelompok yang telah Ia bentuk tetap setia padaNya dan meneruskan misiNya bahkan ketika ada penganiayaan dan kematian menghadang di jalan.

Inilah bukti-bukti yang paling kuat, namun yang paling meyakinkan sebagai bukti bahwa Yesus adalah sang Mesias terletak di tangan kita. Kita adalah bukti nyata bahwa Yesus telah bangkit. Seperti para murid pertama, kita juga, telah meninggalkan persembunyian kita dan mewartakan pesan ilahi kerahiman Allah Bapa dan belas kasihNya nyata bagi seluruh dunia bahkan ketika kita menghadapi pertentangan dan kesalahpahaman. Eksistensi kita sebagai individu dan sebagai sebuah Gereja, menegaskan bahwa Yesus sungguh Putra Allah dan Tuhan sang pencipta alam semesta.

Besok adalah Hari Raya Paskah, kebangkitan Tuhan. Sebelum kita bangun, marilah kita mengingatkan kita sendiri bahwa kita memiliki peran yang penting bagi masa depan Kerajaan Yesus. Marilah kita bergembira dalam kemenangan kebangkitan Yesus dan biarlah kegembiraan kabar gembira kebangkitanNya memberi kita masing-masing energi yang kita perlukan untuk mewujudkan panggilan kita.

Jumat Agung

Jumat Agung

Yes 52:13-53:12; Ibr 4:14-16; 5:7-9; Yoh 18:1-19;42

“Lihatlah manusia itu” (Yoh 19:5).

Ketika Ponsius Pilatus mengatakan kata-kata ini pada hari Jumat Agung, ia sedang mencoba untuk membuktikan bahwa Yesus tidak bersalah. Ia telah mengadili Yesus dan mendapatiNya tidak ada alasan untuk dihukum mati. Seakan-akan Pilatus berseru kepada Sanhedrin, lihat, saya sudah mengadili orang itu. Bahkan saya telah menghukumNya dengan aniaya atas tindakan kriminal yang kalian tuduhkan kepadaNya. Saya sudah melakukan apa yang harus saya lakukan. Sekarang, biarkan Dia pergi. Biarkan saya juga pergi. Jangan libatkan saya.

Tetapi itu tidak cukup. Sanhedrin berhasil menghasut masa yang berkumpul untuk melakukan tindakan anarkhis. Masa menuntut agar Yesus dihukum mati. Dan Pilatus memang terkenal sebagai gubernur yang lemah dan penakut mengabulkan permintaan masa.

Dua ribu tahun kemudian. Ucapan Pilatus terus masih bergema, namun memiliki makna baru yang lebih mendalam. Pada hari ini, Allah Bapa bertanya kepada kita “Lihatlah manusia itu!” Allah Bapa bertanya pada kita untuk melihat pada Yesus yang terluka, memar dan dimahkotai duri dan melihatNy sebagai Sang Penyelamat, Tuhan dan Raja kita.

Lihatlah manusia itu hari ini. Lihatlah manusia yang menderita itu, meratap dan yang menanggung dosa-dosa kita manusia. Lihatlah manusia yang tidak bersalah itu menjadi korban bagi penebusan umat manusia. Lihatlah rencana Allah Bapa untuk menyelamatkan kita melalui kematian PuteraNya yang terkasih. Lihatlah Cinta Yesus, dalamnya cintaNya membuat Ia rela mati dengan keji di kayu salib. Lihatlah manusia itu yang memeluk nasibnya karena Ia mencintai kita.

Akan tetapi masih ada lagi yang perlu kita renungkan. Ketika kita melihat manusia itu, kita juga memegang kemanusiaan kita sendiri. Kita melihat kedosaan kita sendiri, iri hati kita dan egoisme kita. Kita melihat bagaimana dosa kita membuat kita menderita. Seperti sosok manusia yang dirampok dan dipukuli di tengah jalan dan diselamatkan oleh orang Samaria yang baik hati itu. Tuhan Yesus mendampingi kita untuk menunjukan kepada kita betapa kita akan menderita jika tanpa pendampinganNya. Ia menunjukkan kepada kita apa jadinya jika dunia ini tanpa Dia. Lihatlah bagaimana Manusia itu telah menyelamatkan dunia.

Marilah kita menyembah salibNya. Berterima kasih atas pengorbananNya. Marilah kita berikan hidup kita pada Manusia itu yang telah memberikan hidupNya kepada kita.

7 sabda terakhir Yesus

7 sabda terakhir Yesus

1. Bapa, Ampunilah mereka karena mereka tak tahu apa yang telah mereka perbuat – Lukas 23:34,  (Fr. Sam Nasada OFM)
2. Sungguh, hari ini engkau akan bersama aku di firdaus – Lukas 23:43 (Rm Alex Sila)
3. Allahku ya Allahku mengapa engkau meninggalkan daku – Markus 15:34 (rm Didik)
4. Ibu, itulah anakmu…itulah ibumu – Yohanes 19: 23-46 (Daughter of Carmel)
5. Bapa, kedalam tanganmu kuserahkan nyawaku – Lukas 23: 46 (Rm Gigih)
6. Aku Haus – Yoh 19:28 (RM Galih)
7. Sudah selesai – Yoh 19:30 (Rm Sulis)
Renungan Kamis Putih

Renungan Kamis Putih

Kel 12:1-8, 11-14; 1 kor 11: 23-26; Yoh 13:1-5

Sungguh indah perayaan Hari Kamis Putih ini. Barangkali hari ini merupakan hari yang sangat berarti bagi Yesus dan murid-muridNya. Marilah kita amati hal-hal yang dilakukan Yesus pada hari ini.

Ia membasuh kaki para Rasul dan memerintahkan mereka untuk saling membasuh kaki satu sama lain.
Ia menginstitusikan Perayaan Ekaristi.
Ia menginstitusikan sakramen imamat.
Ia mengindetifikasikan pengkhianatNya.
Ia mengidentifikasikan peran khusus daripada Petrus sebagai yang akan menguatkan saudara-saudarinya (Luk 22:32).
Ia bertahan dalam sakrat maut di Getsemani.
Ia ditangkap, dianiaya, dihina, ditahan, diadili.
Ia juga mengajarkan ajaran baru bagi para muridNya:
Ia memberikan perintah baru untuk saling mengasihi.
Ia memanggil kita sahabat-sahabatNya.
Ia berjanji untuk mengutus Roh Kudus untuk membantu kita menghidupi perintahNya.
Ia berdoa bagi kita sehingga kita mampu bersatu sebagai umat beriman.

Segala sesuatu yang Yesus perbuat pada hari ini adalah berkaitan dengan rencanaNya akan Gereja yakni umatNya. Ia menginginkan umatNya agar berkumpul dan bersatu berlandaskan Perayaan Ekaristi, dalam pelayanan imamat, dan kesatuan cinta kasih. Dan Ia berjanji akan mengutus Roh Kudus untuk membantu kita melaksanakan semua yang Ia inginkan itu.

Tentunya hari ini adalah hari yang campur aduk antara kepahitan dan kemanisan hidup Yesus. Namun kendati pahit Kamis Putih juga merupakan hari yang penuh dengan cinta. Yesus melakukan semua ini karena Ia mencintai kita bahkan cinta sampai kematianNya (Yoh 13:1). Marilah kita mengingat dan mengenang apa yang telah terjadi pada Kamis Putih dan menginternalisir segala yang Yesus telah katakan dan perbuat. Marilah kita jadikan itu semua harta yang sangat berharga. Marilah kita rayakan Kamis Putih dengan kesadaran bahwa kita dicintai oleh Tuhan Yesus.

Yes 50:4-9a dan Mat 26:14-25

Yes 50:4-9a dan Mat 26:14-25

Hari Rabu pada Pekan Suci ini juga pernah dikenal sebagai “Rabu Tenang”. Sebutan ini muncul dari kenyataan bahwa Injil tidak menceriterakan kepada kita apa yang dilakukan Yesus pada hari Rabu di dalam Pekan Suci ini. Yesus “menenangkan diri” pada hari itu. Beberapa orang berspekulasi bahwa sesudah perjalananNya ke Yerusalem dan menjalani dua hari yang menegangkan dan melelahkan dalam perdebatan dengan para pemimpin Yahudi, Yesus memilih untuk istirahat dengan murid-muridNya di Bethany. Mereka melakukan rekoleksi sehari, penenangan diri dalam doa yang intensif dan efisien sebelum memasuki dan menghadapi hari-hari yang berat.

Kita akan mudah menjadikan hari penuh dengan kegiatan; kita merasa takut untuk tidak memiliki aktivitas. Tidak jarang orang menjadi tertekan apa bila harus tinggal diam dalam doa satu jam saja. Kalau toh bisa datang ikut Perayaan Ekaristi sering kita menggerutu: “Misanya terlalu lama”. Kita harus mencapai target; ini belum selesai, itu belum tersentuh. Bila kita melihat kalendar kita, ternyata sudah sangat penuh dan masih ada kegiatan yang tidak mendapatkan tempat. Kita masuk dalam dunia komoditi; kerja; kesibukan yang tidak semuanya buruk.

Akan tetapi, menyisihkan waktu untuk penenangan diri adalah esensial karena penenangan diri bersifat restoratif. Istirahat adalah suci ketika di dalamnya kita membuka hati menyambut Tuhan Yesus yang berkenan istirahat dalam “rumah” kita. Memiliki waktu tenang bersama Tuhan Yesus sangat diperlukan terutama ketika kita akan mengambil suatu keputusan yang sangat penting dalam hidup kita. Apalagi apabila masa depan yang akan kita jalani adalah tidak menentu atau tidak menjanjikan datangnya keberhasilan melainkan penderitaan.

Selama masa Prapaskah ini kita telah menjalaninya bersama Tuhan Yesus yang berjalan menuju ke bukit Kalvari. Kita hampir mencapai puncaknya. Besok kita akan mengenangkan kembali kisah penangkapan Yesus di taman Getsemani. Pada hari Jumat kita akan menyaksikan kisah penyalibanNya. Dan pada hari Minggu kita akan melihat kebangkitanNya yang mulia melalui perarakan Lilin Paskah. Namun hari ini, “Rabu Tenang” kita lalui sebelum hari-hari dalam badai.

Barangkali schedule kita tidaklah tenang hari ini, namun kita masih bisa menyisihkan diri dan menyiapkan diri kita untuk menerima Tubuh Kristus pada Perayaan Tri Hari Suci yang sangat berarti bagi kita orang Katolik.

Translate »