Browsed by
Month: March 2016

The Seven Last Words of Christ . Theodore Dubois . Introduction

The Seven Last Words of Christ . Theodore Dubois . Introduction

Tahun lalu, Keluarga Katolik Indonesia Melbourne – Australia mengadakan peziarahan rohani persiapan Paskah lewat konser Tujuh Sabda Terakhir Kristus, karya pemusik Perancis Theodore Dubois (1837-1924).Meditasi lewat musik instrumen dan vokal dipersembahkan di Gereja Our Lady of Mount Carmel, Melbourne, Jumat 27 Maret 2015, seminggu sebelum Jumat Agung.

Bagian pengantar ini menyajikan renungan kepedihan Naomi yang mewakili jeritan umat Israel dan bangsa manusia dalam penderitaannya, mencari perhatian dari orang-orang yang melewati jalan kehidupan: Lihatlah aku, serunya. Dan protes pedih perih disuarakan: “Is there sorrow like unto my sorrow?” Adakah penderitaan seperti penderitaanku? Ah… Sang Anak Manusia pun memasuki ruang gelap pengalaman manusia yang acap kali ingin kita hindari ini. Tujuh sabda wasiatNya memberi penghiburan pada siapa pun yang sedang menempuh situasi ini: kita tak pernah sendirian. Immanuel namaNya, Tuhan beserta kita, dalam suka cita, juga dalam duka derita. Sediakah kita juga berjalan bersamaNya, menemaniNya memanggul SalibNya hingga ke Golgota, di sini, saat ini?

Yesus Cahaya Dunia

Yesus Cahaya Dunia

John 8:12-20
Yohanes dalam Injil hari ini berbicara tentang kontroversi yang sudah berlangsung antara Yesus dan orang-orang Yahudi yang tidak percaya pada ajaran-Nya, khususnya para farisi dan ahli kitab.
Bagian kisah ini masih bertalian dengan pasal 7 sebelumnya, yakni tentang Yesus yang datang menghadiri pesta Pondok Daun atau Sukkot, yakni perayaan syukur tahunan orang Yahudi atas hasil panen pertanian di mana ditampilkan juga upacara cahaya/api (four torches).
Yohanes juga menampilkan sebelumnya bahwa Yesus datang ke pesta ini tapi tanpa diketahui. Karena orang-orang Yahudi sudah berencana untuk membunuh-Nya. Meski demikian Yesus tidak takut. Ia bahkan berani mengajar di depan umum.
Ketika petang Yesus datang dan berdiri menghadap pertunjukkan api (four torches) yang menerangi malam korban dan persembahan yang amat meriah itu. Nyala api itu begitu besar sebagai simbol yang menerangi seluruh kota Yerusalem (Navarre Bible). Dan saat itu Yesus memperkenalkan diri-Nya dengan berkata: Akulah Terang Dunia!
Ungkapan Yesus ini mengejutkan orang-orang Yahudi karena dengan menyebut diri-Nya sebagai Terang Dunia berarti Yesus mengambil alih, menggantikan  tempat Yahweh.  “The Lord is my Light” (Mz 27:1). Untuk orang Yahudi haram hukumnya. Karena tidak ada lagi yang lebih tinggi bagi mereka selain Yahweh. Reaksi orang-orang Farisi saat itu adalah bahwa klaim Yesus tanpa dasar, tidak bisa dibuktikan. Yesus lalu menjawab orang-orang yang tidak percaya itu bahwa Bapa yang mengutus-Nya adalah saksi. Jadi cukup valid karena memenuhi syarat minimal dalam memberi kesaksian. Tapi orang-orang Farisi itu bertanya lagi: Di mana bapa-Mu? Yesus jawab singkat: kamu tahu apa? Anak saja tidak dikenal apalagi Bapa!
Orang-orang Yahudi makin panas, tapi Yesus belum juga ditangkap.
Untuk kita tanya diri: Reaksi apa yang bakal muncul dari dalam diri saat kita mendengarkan kesaksian-kesaksian Yesus tentang diri-Nya seperti dalam Injil hari ini: “Akulah terang dunia!”
Setiap kita menerima pancaran kasih Yesus melalui sikap tobat dan iman.
Semoga masa prapaskah ini membawa sikap tobat dan ampun dari Tuhan agar kita boleh dan pantas merayakan sukacita dan cahaya Paskah kebangkitan-Nya.
Amen.
Iman yang suam-suam kuku

Iman yang suam-suam kuku

Yoh 7:40-53

Bacaan injil minggu ini mengajak kita untuk merenungkan pribadi Yesus yang menghadirkan Pribadi Allah. Yesus melakukan misi Allah yang menghendaki semua orang diselamatkan, “…Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan.” (Yoh5:34). Hal itu sejalan dengan tujuan penulisan injil Yohanes yaitu, supaya orang yang belum percaya kepada Kristus menjadi percaya dan supaya orang yang sudah percaya kepada Kristus, memperoleh hidup kekal (Yoh 20:30-31). Allah menyerahkan PuteraNya untuk membebaskan manusia dari tawanan dosa dan memperoleh hidup kekal. Allah menghendaki kita untuk mengambil suatu sikap, yaitu sikap percaya kepadaNya dan melakukan apa yang dikehendakiNya. Kehadiran Yesus ditanggapi oleh dua kelompok yang berbeda, sekelompok orang mengenal Yesus sebagai nabi yang diwartakan oleh Musa, sebagai Kristus (yang diurapi) sebagai Raja seperti Daud. Di lain pihak ada sekelompok yang mengenal Yesus dari daerah Galilea, kota Nasaret dan Yesus sebagai anak Yusuf. Mesias datang dari keturunan Daud (2 Sam 7:12-14) dan lahir di Betlehem (Mikha 5:1). Bagaimana dengan diri kita, sudahkah kita mengenal Yesus Kristus sungguh sebagai Pribadi Allah yang mencintai kita dan menuntun hidup kita? Apakah iman kita bersikap suam-suam kuku yang kadang ragu dan menyerah ketika menghadapi kesulitan dan penderitaan? Marilah mohon rahmat kesetiaan dalam mengikuti Yesus dalam jalan salibNya. Amin.

Proses menuju kematian seringkali menakutkan kita

Proses menuju kematian seringkali menakutkan kita

Yoh 7:1-2.10.14.25-30

Dalam melaksanakan kehendak Bapa, Yesus menghadapi tantangan dan kesulitan. Seperti yang diceritakan dalam injil hari ini, Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea? Karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuhNya (Yoh 7:1). Yesus sungguh mengetahui bahwa misiNya adalah untuk menyelamatkan manusia dan menebus dosa-dosa manusia. Hal itu juga akan membawa konsekuensi pengorbanan dan penderitaan yang mencapai puncaknya dalam kematian di kayu salib. Namun itu semua tidak menjadi akhir, salibNya akan mengalahkan dosa, hukuman salib menjadi tanda pengampunan dan pembebasan, dan kematian berubah menjadi kemuliaan dan hidup kekal. Yesus berani menghadapi penderitaan salib bahkan kematian. Kemuliaan salib menjadi nyata dalam peristiwa kebangkitanNya untuk membebaskan kita dari hukuman dosa.
Bacaan injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan perjalanan hidup kita sebagai orang yang mengimani Yesus Kristus. Apa yang menjadi tantangan bagi kita untuk melakukan kehendak Allah? Salah satu tantangannya adalah ketakutan, terutama TAKUT akan kematian, TAKUT akan kehilangan. Seringkali memang bukanlah kematian yang kita takuti tetapi poses yang membawa pada kematian, itulah yang kita takuti, misalnya pengalaman sakit yang berkepanjangan atau peristiwa kematian yang secara tiba-tiba. Proses menuju kematian juga bisa terjadi dalam konteks hidup rohani. Oeh karena itu dalam hidup rohani, kita juga membutuhkan keberanian menghadapi kematian. Keberanian menghadapi kematian berarti berani menyangkal diri. Proses kematian diri sendiri seringkali terjadi dalam hidup batin kita, misalnya ketika kita berani mengampuni seseorang, berani untuk setia dalam perkawinan dan panggilan hidup religius, berani untuk berkorban dalam pelayanan.  Dalam masa prapaskah ini kita diundang untuk merenungkan hidup Yesus yang memberikan teladan keberanian untuk menghadapi kematian demi melaksanakan kehendak Bapa dan untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Dia berani menderita demi mencintai umat manusia. Dia merangkul salib untuk menebus kita dari dosa dan memberikan kepada kita hidup yang baru. Marilah kita memohon rahmat keberanian untuk menghadapi kematian diri sendiri, dengan berani mengampuni sesama dan melayani sesama dengan cinta dan belas kasih. Amin.

Masa Prapaskah adalah saat untuk menyegarkan kembali iman kita

Masa Prapaskah adalah saat untuk menyegarkan kembali iman kita

Yoh 5:31-47

Bacaan injil hari ini menegaskan kepada kita bahwa Yesus adalah sungguh menghadirkan pribadi Bapa. Tujuan hidup Yesus adalah melakukan kehendak Bapa. “…sebab Aku tidak menuruti kehendakKu sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.” Yesus menegaskan kembali kehadiranNya adalah untuk menyelamatkan umat manusia. “…tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan.” Dapat dikatakan bahwa injil hari ini mengajak kita untuk memperbarui dan menyegarkan hidup iman kita.
Konteks injil hari ini adalah ketidakpercayaan sekelompok bangsa Yahudi terhadap Yesus sebagai Mesias. Namun Yesus tidak mencari kesaksian dari mereka. “…tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia.” Beriman kepada Yesus bukanlah hanya memahami ajaranNya tetapi percaya dan melaksanakan ajaranNya dalam kehidupan kita sehari-hari. Orang farisi dan ahli-ahli taurat tidak menerima Yesus karena mereka hanya memahami hukum-hukum taurat tetapi tidak percaya bahwa Yesus menghadirkan Pribadi Bapa. Sekarang bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah memahami dan juga mengimani Yesus sebagai Allah yang hidup. Masa prapaskah ini adalah masa untuk memperbarui hidup iman kita. Kita memberi perhatian khusus terhadap hidup rohani kita dengan sikap tobat dan pembaruan diri. Marilah kita sesering mungkin datang di hadiratNya untuk memohon rahmat iman. Allah yang maha kasih, buatlah mata kami selalu melihat wajahMu dalam setiap peristiwa hidup kami. Buatlah hati kami semakin mencintai dan mengimaniMu. Gerakkanlah tangan dan kaki kami untuk melakukan kehendakMu. Amin

Translate »