Browsed by
Month: April 2016

International Pilgrim Virgin Statue visitation to Indonesia on June 2016

International Pilgrim Virgin Statue visitation to Indonesia on June 2016

CCI04012016The world-famous International Pilgrim Virgin Statue of Our Lady of Fatima was sculpted in 1947 by Jose Thedim, based on the description of Sr. Lucia, one of the three young seers who saw Our Lady each month from May to October 1917 in Fatima, Portugal. On October 13, 1947, in the presence of some 150,000 pilgrims, the statue was blessed by the Bishop of Leiria at Fatima to be the pilgrim, the traveler. Sent out to bring the Message of Fatima to the world, the International Pilgrim Virgin Statue has traveled the world many times, visiting more than 100 countries.

On June 2016 will be visiting Indonesia sponsored by lubukhati join with Puspita (local Catholic Organization in Indonesia)

The schedule please see this and will be updated frequently.

 

Kepada siapa aku akan pergi?

Kepada siapa aku akan pergi?

scales-of-justice

John 6:66-69

Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.  Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”  Jawab Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;  dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.”

Ada berbagai alasan praktis dan teologis mengapa orang berpindah agama atau tidak percaya lagi pada imannya. Mulai dari alasan praktis, misalnya karena mengikuti kepercayaan pasangannya. Menikah dengan orang yang satu iman lebih memudahkan bagaimana mendidik anak. Orang tak lagi datang ke Gereja Katolik karena tak ada yang menjemput, Gereja yang jauh, atau tak memiliki teman dalam komunitas Gereja. Pindah Agama juga bisa terjadi karena orang merasa disakiti oleh sesama di komunitas, atau tak lagi cocok dengan pemimpinnya.

Alasan orang tidak lagi percaya pada imannya biasanya lebih mendalam, tidak hanya soal praktis. Mereka mempertanyakan ajaran iman yang ada dalam agamanya. Misalnya, “Kalau Tuhan maha pengasih, mengapa Dia membiarkan orang sengsara?” “Kalau Allah sungguh mengasihi manusia, mengapa Ia membiarkan ada neraka abadi untuk menghukum orang?” Atau orang merasa bahwa nilai-nilai Gereja bertentangan dengan nilai masyarakat yang diyakini benar seperti soal LGBT (Gay, Bisex, and trangender) atau yang lainnya.

Kala banyak murid meninggalkanNya, Yesus bertanya pada Petrus, “Mengapa kamu tidak pergi juga?” Petrus memberi jawaban yang sangat mendasar bahwa iman pada Yesus Kristus membawa pada keselamatan dan hidup kekal. Gereja Katolik meyakin bahwa ajaran dan iman pada Kristus  membawa anggota Gereja menerima jaminan hidup abadi dan keselamatan.

Persoalannya bagaimana orang tetap bisa percaya pada Allah dalam Gereja Katolik saat mereka juga hidup dalam dunia modern yang nilai-nilainya berseberangan dengan ajaran Gereja. Dalam kotbahnya Bapa Suci Fransiskus berkata kalau orang Katolik hendaknya tidak hanya taat pada hukum saja, tapi memakai hati nuraninya untuk mengambil putusan dan dalam bertindak. Tidak hanya melihat dan menghakimi memakai kacamata hitam dan putih saja, tapi memilih dan menilai berdasar nilai kasih, pengampunan, dan kerahiman Allah yang ditawarkan pada kita selama tahun  ini.

Hidup yang berubah

Hidup yang berubah

Bacaan: Kisah Para Rasul 9:1-5

Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem. Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.

Sekeras apapun hati orang, ia akan luluh saat disentuh oleh Tuhan. Kalimat pertama dari bacaan di atas dengan tegas berkata, “hatinya berkobar-kobar” untuk membunuh pengikut Yesus. Betapa besar rasa bencinya pada orang Kristen! Bahkan dia punya surat kuasa untuk menangkapi orang Kristen dan memasukkan mereka dalam penjara.

Namun dia berubah tiba-tiba, saat Yesus menemui Saulus di tengah jalan. Dia menjadi buta karena melihat cahaya terang. Ia berubah dramatis, tanpa proses lama karena mengalami peristiwa hebat yang mencekam dan luar biasa. Beberapa orang kadang mengalami peristiwa transformasi demikian yang membuat berubah total, menjadi orang baru. Misalnya mati suri, hidup lagi, terbebas dari maut dan kecelakaan, atau pengalaman lain yang sungguh-sungguh dalam

Perubahan hidup orang dari kurang baik menjadi baik bisa terjadi tiba-tiba, atau juga butuh proses panjang. Tiba-tiba karena pengalaman yang dialami sangan esensial, dalam, serta membuat orang tersadar untuk mengubah. Perubahan bisa panjang karena hati dan jiwa yang belum tersentuh sungguh oleh Rahmat Allah. Mungkin tersentuh, tapi tidak lama dan bertahan kuat dalam hidup, sehingga orang tak berubah banyak.

Paulus bertransformasi dari seorang pembenci orang Kristen, menjadi pencinta Kristus yang sejati. Ia hidup hanya untuk Dia. “Hidup dan mati” hanya untuk Tuhan. Dua juga berkata, “setelah bertemu Kristus, semua yang lain adalah sampah bagiku.”

Kita berdoa agar pengalaman iman kita dalam Kristus juga mengubah,  mencerahkan, dan membuat hati kita makin berkobar ikut Dia. Let God flame our heart with love and grace!

Roti Hidup

Roti Hidup

 

sakramen-ekaristiYohanes 6: 50-51

I am the living bread that came down from heaven; whoever eats this bread will live forever; and the bread that I will give
is my Flesh for the life of the world.”

Tiga minggu lalu, sebuah restoran Ramen (mie) dari Jepang  memilih San Fransisco sebagai tempat pembukaan  cabang di luar Jepang untuk  pertama kalinya. Meski hujan deras mengguyur, antrian sekitar 100 orang memadati Mensho Ramen. Orang penasaran ingin mencicipi betapa dasyatnya rasa Ramen Jepang yang sudah tersohor itu. Mereka merogoh kantong untuk membayar 1 mangkok mie seharga $14. Seorang teman berkata, “jangan datang ke sini di hari Sabtu atau Minggu. KIta butuh sekitar 1,5 jam untuk antri!”

Spontan saya bereaksi. Orang mau menunggu 1 sampai 2 jam hanya untuk mencicipi semangkuk mie dan masih membayar pula! Namun saat kita mengikuti Ekaristi lebih lama sedikit dari 1 jam, orang sudah mengeluh dan bersungut-sungut. Apalagi ketika mendenger kotbah imam yang lama, orang ingin segera pergi dari tempat duduknya di Gereja.

Bacaan hari ini menegaskan kalau Yesus adalah Roti Hidup, sang Ekaristi suci yang diberikan pada orang yang datang kepadaNya. Ekaristi adalah roti bekal perjalanan setiap hari agar orang berani terus berjalan sebagai murid Yesus.

Ibu Teresa dari Calcuta mengatakan hal indah tentang Roti Hidup itu, “Ekaristi terhubungkan dengan Sengsara. Jika Yesus tidak memberikan Ekaristi, kita akan lupa penyaliban Kristus. Itu akan memudar ke masa lalu dan kita akan lupa bahwa Yesus mengasihi kita. Untuk memastikan bahwa kita tidak lupa, Yesus memberikan Ekaristi sebagai peringatan dari kasih-Nya. . . Ketika Anda melihat Salib, Anda mengerti betapa Yesus mencintai Anda, ketika Anda melihat Hosti Kudus Anda memahami betapa Yesus mengasihi Anda sekarang. “

Translate »