Browsed by
Month: July 2016

Gandum atau Ilalang?

Gandum atau Ilalang?

Sabtu, 23 Juli 2016

Yeremia 7:1-11
Mazmur 84
Matius 13:24-30

Dalam Injil hari ini kembali Yesus menggunakan perumpamaan yang memakai istilah-istilah pertanian. Ketika benih gandum bercampur dengan benih ilalang, keduanya tumbuh bersamaan. Para pekerja bertanya pada tuannya kalau mereka sebaiknya langsung mencabut ilalang itu. Tapi dengan bijaknya si pemilik tanah menunggu sampai panen karena tidak mau gandum yang baik tercabut bersamaan dengan ilalang sebelum panen.

Kadang kita seperti para pekerja itu. Kita begitu mudahnya melihat kejelekan orang lain dan mau langsung menjadi hakim atas mereka. Kita lupa bahwa hakim yang paling adil adalah Tuhan sendiri yang akan memutuskan semuanya di akhir jaman.

Atau kadang kita lah ilalang itu sendiri, terpengaruh dengan hal-hal keduniaan yang membuat kita lupa akan hakekat kita sebagai gandum yang baik dan menghasilkan buah. Nabi Yeremia menggambarkan beberapa hal yang membuat bangsa Israel lebih bertingkah sebagai ilalang: menindas mereka yang lemah seperti orang pendatang, wanita dan anak yatim, menganiaya orang yang tidak bersalah, mengikuti allah yang lain, mencuri, membunuh, berzinah, bersaksi palsu. Dan yang paling parah adalah setelah melakukan semua itu mereka tidak malu datang berdoa ke bait Allah.

Sekali lagi Tuhan memperingatkan kita bahwa kesetiaan kita tidak diukur dengan berapa sering kita berdoa atau pergi ke gereja semata. Tanda murid Tuhan yang setia bukanlah mereka yang berseru, “Tuhan, Tuhan!” tetapi mereka yang melakukan kehendak Bapa (Matius 7:21). Apakah kita gandum atau ilalang? Apakah kita berguna bagi sesama dan rela menjadi “makanan” bagi orang lain seperti gandum, atau apakah kita hanya menjadi pengganggu yang membuat susah hidup orang lain seperti ilalang?

Kisah Ima Matul

Kisah Ima Matul

imamatul

Dalam rangka peringatan Hari Raya Pesta Santa Maria Magdalena, seorang perempuan yang cukup lama dalam sejarah Gereja dianggap seorang pelacur dan baru belakangan ini lebih ditonjolkan perannya dalam memberitakan kebangkitan Yesus, saya ingin mengajak anda menyimak kisah Ima Matul.

Saya bertemu Ima beberapa tahun lalu melalui seorang suster kenalan saya di Los Angeles yang banyak berkarya untuk memberantas perdagangan manusia (human-trafficking). Perjuangan Ima membuat saya sangat tersentuh dan terinspirasi. Ia sendiri adalah korban perdagangan manusia, dianiaya oleh majikannya, dan akhirnya bisa melarikan diri dan sekarang bekerja untuk sebuah organisasi yang membela dan menolong korban-korban perdagangan manusia di Amerika.

Kisah Ima hanya satu dari ribuan kisah perempuan lainnya di dunia yang menjadi korban kejahatan yang tidak manusiawi ini. Semoga kita selalu sadar dan ikut berdoa, mawas diri, dan membantu mereka para korban perdagangan manusia, terutama para perempuan dan anak-anak.

Simak kisahnya dalam artikel dan video di bawah ini:

http://www.voaindonesia.com/a/dua-wni-jadi-anggota-gugus-tugas-pemberantasan-perdagangan-manusia-/3134670.html

https://youtu.be/jJziciLEpYI

Pelacur atau Rasul?

Pelacur atau Rasul?

Jumat, 22 Juli 2016
Hari Raya Pesta Santa Maria Magdalena

The Appearance of Christ to Mary Magdalene by Alexander Ivanov
The Appearance of Christ to Mary Magdalene by Alexander Ivanov

Kidung Agung 3:1-4
Mazmur 63
Yohanes 20:1-2, 11-18

Ini tahun pertama kita merayakan Santa Maria Magdalena dengan status “Pesta” (feast), bukan hanya “Peringatan” (memorial). Paus Fransiskus memutuskan untuk meningkatkan derajat perayaan ini dalam penanggalan liturgi Gereja Katolik Roma, suatu tanda bahwa Maria Magdalena dianggap mempunyai peranan sangat penting dalam hidup Gereja.

Siapakah Maria Magdalena? Sayangnya dalam sejarah Gereja seringkali ia dicampuradukkan dengan wanita-wanita yang lain dalam Injil. Ada yang menyamakan dia dengan Maria saudara Lazarus dan Martha. Ada juga yang menyamakan dengan wanita pelacur yang mengurapi kaki Yesus dengan rambutnya dan minyak wangi (Lukas 7:36-50). Predikat pelacur ini terus melekat pada identitas Maria Magdalena sampai para ahli Alkitab mempelajari kembali semua fakta tentang Magdalena. Walaupun demikian, masih banyak umat Kristiani yang masih berpikir bahwa Maria Magdalena adalah pelacur.

Maria Magdalena sebenarnya merupakan seorang yang cukup berada dan ikut membantu membiayai misi Yesus dan murid-muridnya (lihat Lukas 8:3). Ia dikatakan “dibebaskan dari tujuh roh jahat” (Lukas 8:2), yang bisa berarti disembuhkan dari penyakit yang parah. Tapi peran yang paling penting adalah pada saat kebangkitan Yesus. Menurut Injil Yohanes yang kita baca hari ini, Maria Magdalena lah orang yang pertama melihat Yesus setelah bangkit. Ialah orang yang pertama kali datang sendirian, di pagi-pagi buta, mengunjungi makam Yesus dan menemukannya sudah kosong. Ia mengira jenazah Yesus sudah dicuri dan akibatnya menangis tersedu di makam itu.

Mungkin inilah salah satu alasan kenapa Yesus memilih Magdalena sebagai orang pertama yang diberi penampakan olehnya. Kerahiman Ilahi Yesus ditampakkan padanya sehingga tangisnya berubah menjadi sukacita Paskah. Yesus juga memberinya mandat untuk memberitakan kepada murid-muridnya bahwa ia telah bangkit, bahwa ia akan kembali kepada Bapa di surga. St. Thomas Aquinas memberinya julukan “Apostolorum Apostola” atau “Rasul atas para Rasul”. Apostle atau rasul berarti seorang yang dikirim untuk membawa pesan. Duabelas murid Yesus yang kita sebut Duabelas Rasul dinamakan demikian karena mereka diutus Yesus sendiri untuk memberitakan kabar baik ke semua orang. Dan kini kita melihat Maria Magdalena dikirim Yesus untuk memberitakan kabar baik kepada para Rasul sendiri. Semua duabelas Rasul dirayakan sebagai “Pesta” dalam liturgi Gereja kita. Maka sudah sepantasnyalah Maria Magdalena dirayakan juga dengan derajat perayaan yang sama.

Inilah perjalanan panjang dan berliku Maria Magdalena dalam sejarah Gereja. Mungkin tidak jauh berbeda dengan perjalanan wanita dalam sejarah Gereja dan dunia, di mana mereka sering ditindas, dilupakan, dan dianggap lebih rendah statusnya daripada lelaki. Seperti Maria Magdalena mereka dituduh sebagai pelacur, penggoda, pengacau rumah tangga orang, sementara si laki-laki bebas dari tuduhan. Hari ini dengan Santa Maria Magdalena, kita mengingat kembali para wanita korban kekerasan, baik di dalam atau luar rumah tangga, baik secara fisik maupun mental, dan bersama-sama berdoa dan bekerja untuk mengakhiri segala macam kekerasan dan ketidakadilan pada mereka.

Misteri…. auk ah gelap?

Misteri…. auk ah gelap?

Kamis, 21 Juli 2016

Yeremia 2:1-3, 7-8, 12-13
Mazmur 36
Matius 13:10-17

Waktu saya kecil dulu, saya banyak mendengar cerita-cerita rakyat dari ibu saya atau dari sekolah. Sebutlah kisah Si Kancil mencuri timun, Malin Kundang yand durhaka pada ibunya, Bawang Merah yang iri pada adiknya Bawang Putih, dan masih banyak cerita lainnya. Cerita-cerita itu menarik, sering tidak masuk akal, tapi di balik semuanya mempunyai pesan moral dan cara hidup yang baik.

Kita hidup di dunia di mana cerita-cerita tidak terlalu mempunyai daya tarik bagi kebanyakan orang. Kita ingin tahu pesan intinya tanpa bertele-tele. Kita ingin berita yang cukup dimuat di status Facebook atau di bawah 140 karakter di Twitter. Pekerjaan, tugas di rumah, dan hiburan atau rekreasi sehari-hari sudah menghabiskan waktu begitu banyak sehingga kita seperti tidak ada waktu lagi untuk membaca, mendengar, atau merenungkan sesuatu secara serius dan tidak terburu-buru.

Dalam bacaan Injil hari ini, murid-murid Yesus bertanya pada Yesus mengapa ia selalu menggunakan perumpamaan kalau berbicara pada orang banyak. Kenapa tidak langsung saja “to the point”? Yesus menjawab, karena mereka belum mengetahui misteri Kerajaan Allah. Apakah misteri itu kalau bukan Yesus sendiri, yang adalah anak Allah, Allah yang menjelma menjadi manusia, gambar dari Allah yang tidak kelihatan. Para murid sudah hidup bersama Yesus dan mengenal dia, maka Yesus bisa berbicara langsung dengan mereka. Tapi orang kebanyakan belum mengenalnya dan karena itu Yesus menggunakan perumpamaan.

Saya sering heran dengan para pewarta dari beberapa denominasi Kristen yang langsung berkunjung dari rumah ke rumah dan menanyakan apakah anda sudah mengenal Yesus. Saya tidak yakin cara demikian akan membuat seseorang tertarik pada Injil. Untuk mengenal Yesus membutuhkan waktu, melalui jalan yang panjang dan berliku-liku. Kita pun yang sudah menjadi Kristen masih berjalan untuk mengenal Tuhan lebih dalam.

Misteri adalah kata yang sulit dijelaskan. Kadang kita menganggap sesuatu adalah misteri kalau kita sudah merasa tidak mungkin mengetahuinya. Ada kesan bahwa sesuatu yang misterius sebaiknya dikesampingkan saja daripada menghabiskan waktu dan tenaga dengan sia-sia. Tapi Gereja kita mempunyai pengertian lain. Misteri adalah sesuatu yang tidak bisa kita ketahui langsung, dan mungkin tidak akan pernah kita ketahui secara penuh. Tapi kita diundang untuk masuk ke dalam misteri Kerajaan Allah, untuk berjalan semakin dalam setiap hari. Mendalami misteri akan membuat kita merasa semakin mengenal Tuhan, dan pada saat yang sama menyadari bahwa masih banyak yang kita tidak tahu tentang Tuhan.

Kisah keselamatan Allah yang kita baca dan dengar dari Alkitab dan Gereja terus menerus membuka pengertian baru dalam hidup kita. Karena itulah sesuatu seperti Lubukhati ini, walaupun berkisar pada bacaan yang sama, akan terus memberi renungan baru dan pengertian baru bagi kita. Tidak mungkin untuk menghasilkan satu kesimpulan pendek yang akan berlaku sepanjang segala masa. Sabda Allah adalah sabda yang hidup, yang senantiasa berkarya dan menginspirasi hidup kita di waktu-waktu yang berbeda. Jika kita mengharapkan jawaban pendek yang cespleng, mungkin kita akan kecewa. Tapi kalau kita siap dan bersedia untuk masuk ke misteri Kerajaan Allah, niscaya kita akan mendapat sukacita yang tak terbayangkan.

Translate ยป