Katedral St Vitus
https://youtu.be/tNnHK7_YOcw
https://youtu.be/tNnHK7_YOcw

Matius 11: 21-22
Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.
Sesudah meninggalkan masa kecilnya, Yesus tinggal di wilayah Kapernaum, wilayah tepi Danau Galilea. Tak jauh dari situ, Dia bertemu dengan para muridnya di sekitar Tiberias dan Genesaret. Kalau anda melihat peta di atas, kita menjadi tahu kalau Corazim, Betsaida, Capernaum, dan Genesaret menjadi tempat yang paling sering disinggahi Yesus selama mewartakan Injilnya.
Corazim hanya beberapa kilometer dari Kapernaum. Sekarang ini tak ada orang yang tinggal di sana. Hanya reruntuhan bangunan dan sinagoga yang tersisa. Namun kita akan terkejut ketika melihat sebuah relief di reruntuhan Bait Allah Corazim. Ada gambar Medusa di salah satu batu tembok sinagoga. Seorang wanita berkepala ular dalam kisah mitos Yunani. Orang-orang Corazim kemungkinan percaya juga dewa-dewi Yunani selain percaya pada Yahwe.
Yesus mengecam Corazim karena mereka tidak hanya mendengar mukjijat Yesus, bahkan sering mereka melihat sendiri selama beberapa tahun apa yang telah dikerjakan Yesus di sekitar Galilea. Namun, mukjijat itu tak mengubah hati mereka yang bebal dan keras. Mereka mungkin percaya Yesus bisa membuat mukjijat, tapi mereka tak percaya atas pewartaan Yesus. Mereka tak berubah!
Betsaida berarti “rumah pemancingan.” Wilayah di tepi danau Galilea, tempat tinggal Yohanes, Yakobus, dan Philipus, murid-murid Yesus yang pertama. Yesus juga menyembuhkan seorang buta di Betsaida, dan mengadakan mukjijat penggandaan Roti. Namun tetap saja, tak banyak orang terpengaruh oleh mukjijat Yesus. Kota ini lebih condong hidup berasimilasi dengan orang Roma.
Dua kota ini lebih besar dosanya dari Tirus dan Sidon karena warga kotanya tidak hanya mendengar, tapi melihat dengan mata sendiri apa yang telah dilakukan Yesus. Mereka tidak menolak, tapi tak percaya. Ketidakpercayaan membuat orang tidak berubah.
Semoga kita tidak seperti penduduk dua kota itu, Betsaida dan Corazim yang sudah tak mau lagi berubah hidupnya untuk lebih baik lagi.
https://youtu.be/CDSv2atlILI
Bacaan-Bacaan Misa Hari ini: Yes. 6: 1-8; Mat. 10:24-33.
Gereja yakni umat Allah dipanggil untuk diutus mewartakan kabar gembira. Dalam tugas perutusan itu kita sebagai Gereja juga diinsipirasikan untuk semakin menyerupai Tuhan Yesus. Dengan kata lain kita bukanlah penerima kabar gembira melainkan pewarta kabar gembira; bukan sebagai pegawai melainkan co-owner warta suka cita. Oleh karena itu kualitas pewartaan kita sangat tergantung pada dalamnya kita menyerupai Tuhan Yesus Kristus.
Ketakutan senantiasa melanda umat Allah. Ada banyak orang yang merasa tidak pantas menjadi utusan atau pewarta Kerajaan Allah. Tidak sedikit orang menyadari tugasnya sebagai Gereja namun godaan duniawi membuat pewartaan dan usaha untuk menyerupai Tuhan semakin melemah. Kita diajak untuk semakin teguh dan tidak takut karena janji akan kerajaan Allah kepada kita.
Misi kita mewartakan kabar suka cita kepada dunia dan di dalam dunia sekuler membutuhkan kesaksian khususnya kesetiaan dan stabilitas di dalam dunia yang budaya ketidaksetiaan dan ketidakstabilan melanda. Stabilitas dan kesetiaan bukanlah kekuatan dunia sekuler. Kita melihat sendiri bagaimana pemerintah tidak memenuhi janji-janji mereka untuk kesejahteraan rakyat. Hubungan suami-isteri yang telah mengucapkan janji perkawinan semakin menjauh dari janji yang pernah mereka ucapkan di depan altar.
Di atas semua itu, pada akhirnya hampir setiap orang masih menginginkan kata-kata yang bisa dipercaya, hubungan yang permanen, dan kesetiaan di dalam memegang komitmen.
Bacaan-Bacaan Misa Hari ini: Hos. 14: 2-10; Mat. 10: 16-23.
Kembali kita mendengarkan bagaimana Injil Mateus berkonsentrasi pada perpecahan yang terjadi setelah orang-orang mendengarkan warta gembira Yesus Kristus yang disebarkan oleh para utusan. Bahkan perpecahan terjadi di dalam keluarga, suatu unit sosial yang paling kecil. Perpecahan yang terjadi di dalam keluarga adalah tanda perpecahan dan pengadilan yang akan terjadi pada akhir jaman.
Tugas para utusan yakni umat Allah sebagai gereja saat ini memiliki konsekuensi penganiayaan. Gereja akan senantiasa mengalami ketegangan di dalam mewartakan kabar gembira ndi dalam dunia sekuler. Pewartaan Gereja kepada dunia akan menjadi “minoritas”. Sekularisme akan menekan dan menimbulkan penderitaan yang tidak mudah bagi Gereja.
Berkurangnya jumlah umat Katolik yang hadir dalam Misa setiap hari Minggu, kiranya menjadi indikasi hal tersebut. Konservatif akan menyalahkan racun sekularisme adalah yang menyebabkan umat kehilangan iman. Sedangkan progresif akan menyalahkan Gereja yang terlalu strict dalam ajaran dan Gereja terlalu sibuk dengan agendanya sendiri. Ada kebenaran dalam pendapat kedua pihak tersebut. Ketegangan dan penderitaan melanda Gereja bukan hanya dari luar tetapi juga di dalam tubuh Kristus sendiri.
Kendati demikian kita tidak boleh kehilangan fokus pewartaan Gereja. Misi kita kepada dan di dalam dunia sekuler haruslah berdiri dalam solidaritas dengan kaum lemah, miskin, dan terlantar. Pelayanan dan cinta kita kepada mereka yang lemah, miskin dan terlantar adalah criteria untuk pengadilan terakhir, seperti yang disabdakan Tuhan Yesus, “Ketika aku lapar, kamu member aku makan, dst …”