Browsed by
Month: August 2016

Selasa dalam Pekan Biasa ke-19

Selasa dalam Pekan Biasa ke-19

 
9 Agustus 2016
Matius 18:1-5, 10, 12-14
 
Dalam Injil hari ini, murid-murid bertanya kepada Yesus, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga ?” Mungkin, orang yang memiliki kekayaan sangat berlimpah atau posisi penting, atau orang yang memiliki koleksi mobil mewah, atau orang yang memperoleh gelar pendidikan dari Universitas terkenal. Tapi, Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya sebagai model. Yesus menantang konsep keberhasilan dan kebesaran manusia yang sebenarnya bermasalah. Sungguh bermasalah karena ini adalah prestasi yang diperoleh dengan mengorbankan orang lain. Kita perlu menginjak kepala orang lain hanya untuk berada di atas dan mereka yang di bawah tidak melihat apa-apa kecuali pantat kita! Sebuah gambaran yang menyedihkan, tapi dunia modern mempromosikan hal ini!
 
Ada sesuatu yang mendalam dan indah pada Injil hari ini. Anak kecil yang didipanggil Yesus tidak lain merupakan citra-Nya sendiri. Karya penyelamatan Allah sebenarnya terjadi melalui dua momen di mana Yesus adalah sungguh lemah. Raja segala raja lahir sebagai bayi yang lemah lembut di tempat yang sangat miskin, dan Juruselamat kita menyelesaikan misi-Nya sebagai korban ketidakadilan di salib yang paling keji. Namun, mengapa Tuhan menggunakan realitas ini untuk menunjukkan kuasa-Nya yang menakjubkan? Kita percaya karena Allah seorang pembebas, tetapi bukan sebagai komandan militer yang membebaskan dari penjajah atau politikus lihat yang membawa perubahan politik, tetapi bahwa Ia membebaskan kita dari konsep manusia sangat terbatas mengenai dirinya sendiri, secara harfiah Ia membebaskan kita dari diri kita sendiri!
 
Mengapa kita harus naik ke puncak dan akhirnya tidak menemukan apa-apa selain diri kita sendiri? Tuhan memang datang tidak sebagai jendral-penakluk atau seorang politikus cerdas, tetapi Dia adalah seorang bayi kecil yang lemah. Yesus ada di sini untuk menghancurkan dosa, dan salah satu dosa terbesar adalah bahwa kita begitu penuh dengan diri kita sendiri. Dan, ketika Tuhan telah membebaskan kita dari diri kita sendiri, penebusan dan kepenuhan hidup dapat mengalir di dalam hidup kita dan komunitas kita.
 
Peringatan Santo Dominikus de Guzman

Peringatan Santo Dominikus de Guzman

 
8 Agustus 2016
Matius 17:22-27
 
Hari ini Gereja, dan secara khusus, kelurga besar Dominikan di seluruh dunia merayakan pesta St. Dominikus de Guzman, pendiri Ordo Pengkhotbah. Perayaan kali ini sangat istimewa karena bertepatan dengan perayaan berdirinya Ordo Pengkhotbah 800 tahun lalu.
 
Santo Dominikus de Guzman dikenal sebagai “Vir Evangelicus”, atau manusia Injili. Gelar ini dia terima karena semangatnya yang membara untuk memberitakan Kabar Baik ke seluruh penjuru bumi. Saat dia memberitakan Injil di Perancis Selatan dan mencoba membawa kembali jiwa-jiwa yang tersesat karena ajaran Albigensian, dia selalu membawa buku Injil Matius. Misinya sangat melelahkan, sering kali ia menerima penolakan dan tidak sedikit musuh yang mencoba menghabisinya. Namun, ia tidak gentar untuk meninggalkan semua hal dan menghadapi berbagai bahaya dalam misi kerasulannya.
 
Kenapa Dominikus tidak pernah takut dan berhenti memberitakan Injil? Mungkin Injil hari ini bisa memberikan sedikit jawaban. Yesus bersabda kepada para murid-Nya, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia (Mat 17:22).” Diserahkan ke tangan manusia berarti Yesus akan dikhianati, ditangkap, diadili, dan akhirnya dihukum mati. Yesus akan menderita sengsara dan wafat secara mengenaskan. Semua karena Yesus memberitakan Kabar Baik. Mengikuti Yesus berarti Dominikus ikut memwartakan Injil-Nya. Dan seperti Yesus, mewartakan Kabar Baik membawa konsequensi yang tidak menguntungkan dan terkadang mematikan. Seperti Yesus, Dominikus juga akan ‘diserahkan ke tangan manusia’. 
 
Tetapi, Dominikus tidak gentar karena ia tahu bahwa penderitaan bahkan kematian bukanlah kata akhir dari pemberitaan Injil. Yesus telah bangkit dan mengalahkan maut dan semua usaha yang mencoba menghentikan pemwartaan Injil. Maka, ada kebangkitan yang menanti Dominikus dan semua orang yang dengan setia memberitakan Kabar Baik.
 
Kita semua dipanggil untuk mengikuti Yesus dan ini berarti kita ikut dalam misi-Nya mewartakan Kabar Baik. Mungkin kita tidak bisa menjadi seperti santo Dominikus saat dia mewartakan Injil, tetapi mewartakan Injil dapat kita lakukan setiap saat dengan cara-cara sederhana. Apakah kita ulet dalam mendidik anak-anak kita dalam iman katolik? Apakah kita berani untuk terus setia kepada pasangan hidup kita walaupun harus menghadapi banyak kesulitan? Apakah kita memberikan waktu kita untuk aktif di lingkungan atau paroki ditengah-tengah kesibukan kita?
 
Santo Dominikus de Guzman, doakanlah kami!
Inilah Anak-Ku yang Kukasihi-Dengarkanlah Dia

Inilah Anak-Ku yang Kukasihi-Dengarkanlah Dia

Sabtu, 6 Agustus 2016

 

 

Injil: Lukas 9:28-36  

 

Tuhan tidak pernah kikir dan pelit akan rahmat. Dia mau berbagi. Petrus, Yakobus dan Yohanes yang Yesus ajak untuk mendaki gunung, menyaksikan sendiri betapa Tuhan menunjukkan rahmat kemuliaan-Nya kepada mereka. Tuhan Yesus sering pergi ke tempat-tempat sepi untuk menyendiri, menemukan keheningan, jauh dari keramaian dan keriuhan. Atas alasan yang sama, Dia mengajak murid-murid-Nya untuk mencari keheningan dan ketenangan.

Pengalaman transfigurasi Yesus ini mengingatkan kita akan pengalaman iman Musa ketika ia bertemu Yahweh di atas Gunung Sinai. Sesudah dia bertemu Allah, wajah Moses bercahaya dan terang-benderang. Santo Paulus sendiri mencatat bahwa Orang Israel pun bahkan tidak dapat menatap langsung pada wajah Musa saking bercahayanya wajah Musa tersebut.

Bukan sebuah kebetulan bahwa Injil Lukas mengisahkan transfigurasi Yesus Ketika Yesus menampakkan diri dalam kemuliaan bersama Musa, pencetus hukum tertinggi bagi Israel dan Elisah, nabi terbesar perjanjian lama.

Penampakan yang ajaib dan penuh misteri ini menandakan suatu peristiwa penting dalam sejarah keselamatan manusia dan semesta. Tuhan Yesus mendaki gunung dengan sungguh menyadari bahwa kelak Dia akan dihukum mati denan cara disalibkan di atas gunung. Kota Yerusalem sudah menanti sang penyelamat dunia yang akan dikhianati, ditolak dan disalibkan.

Tampaknya, Yesus berbicara dengan dua orang penting dalam sejarah keselamatan Israel, Musa dan Elisah. Bahkan Allah Bapa pun hadir di tempat tersebut dan menyatakan persetujuan-Nya bahwa Yesus akan disalibkan dan menyelamatkan dunia. “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi. Dengarkanlah Dia.”

Allah Bapa memuliakan Yesus karena Dia sungguh taat. Tuhan mengangkat Dia sebagai Putera yang dikasihi sebab Yesus mendengarkan dan melaksanakan apa yang Bapa titahkan kepada-Nya tanpa berpaling dan membantah satu katapun.

Tuhan Yesus tidak ingin bahwa kemuliaan tersebut hanya menjadi bagian kemuliaan-Nya. Dengan ketaatan total-Nya, dia mau berbagi kemuliaan itu dengam murid-murid-Nya termasuk kita. Yesus menunjukkan kepada kita jalan untuk menggapai kemuliaan dan kesempurnaan Bapa: Ikuti Aku, taati titahKu, Ambillah jalan yang Kupilih bagimu dan kamu akan memperoleh berkat Kerajaan Surga yang Bapa janjikan dan nama-Mu akan tertulis dalam surga.

Kehidupan kita tidak selalu dipenuhi dengan kemuliaan. Sering terjadi bahwa tantangan senantiasa datang menghampiri kita tanpa diundang. Kadang-kadang salib kehidupan membuat kita berjalan tertatih-tatih dan terhuyung-huyung. Kita mesti senantiasa ingat bahwa Yesus memperoleh kemuliaan-Nya bukan tanpa penderitaan. Penderitaan senantiasa datang mendera namun Dia tak menyerah. Dia tetap bilang “Ya” kepada Bapa. Semoga kita pun dapat senantiasa mengatakan “Ya” kepada Bapa dan berziarah sampai akhir. AMIN.

Siapapun yang kehilangan nyawanya demi Aku, akan memperolehnya kembali.

Siapapun yang kehilangan nyawanya demi Aku, akan memperolehnya kembali.

Jumat, 5 Agustus 2016

 

 

Injil: Matius 16:24-28  

 

Mengikuti Kristus itu buahnya manis. Namun, Tuhan tidak pernah menyatakan bahwa mengikuti Dia bukan tanpa tantangan. Tantangan mengikuti Kristus itu bisa sangat banyak dan kadang-kadang tidak mudah. Beberapa contoh:  Kristus meminta kita untuk mendoakan, memaafkan dan mengampuni musuh-musuh kita.  Kita tahu bahwa itu adalah sebuah ajaran paling sulit yang bisa kita lakukan bahkan sebagai pengikut-Nya. Kita diminta untuk tetap mengasihi dan menyayangi sekalipun kita dikelilingi oleh orang-orang yang membenci kita, yang menjelek-jelekkan nama kita, yang tidak pernah menjadikan kita sebagai prioritas. Itulah beberapa ongkos dari mengikuti Kristus.

Hampir semua-semua murid-murid Kristus mengalami langsung bagaimana mereka dikejar-kejar dan dihajar, baik selama mereka dengan Yesus maupun setelah Yesus naik ke surga. Banyak pengalaman duka dan pedihnya. Biarpun begitu, murid-murid ini tidak kehilangan harapan. Mereka tidak putus asa. Mereka tetap teguh dan tegak berdiri. Lebih baik bagi mereka menyangkal dunia, daripada menyangkal Yesus.

Injil hari ini membuktikan tantangan tersebut. Yesus menantang para murid murid-Nya untuk melihat kembali, apa kira-kira hal sungguh berguna dan bernilai bagi mereka? Apa keputusan paling eksistensial, paling mendasar yang menggerakkan mereka dalam mengikuti Yesus?

Yesus mau menegaskan kepada murid-murid-Nya dan kepada kita pengikut-Nya bahwa dalam setiap keputusan yang kita buat dalam kehidupan ini, kita sedang membentuk diri kita menjadi seorang dengan tipe kepribadian tertentu. Pilihan-pilihan kita, keputusan kita, karakter dan perilaku kita akan menentukan akan menjadi orang seperti apa kita nanti.

Yesus mengajak kita untuk memikirkan kembali apa yang terbaik dalam kehidupan kita dan hidup berdasarkan hal tersebut. Kita tidak boleh hidup dalam kesia-siaan. Yesus tidak ingin bahwa kita kelak menyadari bahwa apa yang sudah kita perjuangkan selama ini tho ternyata hanyalah hal-hal sepele yang tidak menghantar kita kepada kesempurnaan hidup kita.

Untuk kita orang Katolik, hidup kita mestilah mencerminkan hidup Kristus itu sendiri. Apa yang kita terima adalah semata rahmat Kristus, rahmat Allah. Kita berhutang kepada-Nya segala sesuatu, termasuk hidup kita. Ketika tiba waktunya bagi kita untuk bergaul erat dengan Yesus, kita tidak boleh hanya memberikan uang kita, tetapi lebih-lebih totalitas diri kita, bukan hanya kata-kata yang manis tetapi lebih-lebih hati kita yang tulus dan jujur. Yesus menanti kita dalam proses pendewasaan menjadi murid-murid yang secara gembira berserah diri sepenuhnya kepada-Nya untuk memperoleh kehidupan yang indah dan abadi. Amin.

Translate »