Peringatan Santo Dominikus de Guzman
Kesuaman Rohani
Inilah Anak-Ku yang Kukasihi-Dengarkanlah Dia
Sabtu, 6 Agustus 2016
Injil: Lukas 9:28-36
Tuhan tidak pernah kikir dan pelit akan rahmat. Dia mau berbagi. Petrus, Yakobus dan Yohanes yang Yesus ajak untuk mendaki gunung, menyaksikan sendiri betapa Tuhan menunjukkan rahmat kemuliaan-Nya kepada mereka. Tuhan Yesus sering pergi ke tempat-tempat sepi untuk menyendiri, menemukan keheningan, jauh dari keramaian dan keriuhan. Atas alasan yang sama, Dia mengajak murid-murid-Nya untuk mencari keheningan dan ketenangan.
Pengalaman transfigurasi Yesus ini mengingatkan kita akan pengalaman iman Musa ketika ia bertemu Yahweh di atas Gunung Sinai. Sesudah dia bertemu Allah, wajah Moses bercahaya dan terang-benderang. Santo Paulus sendiri mencatat bahwa Orang Israel pun bahkan tidak dapat menatap langsung pada wajah Musa saking bercahayanya wajah Musa tersebut.
Bukan sebuah kebetulan bahwa Injil Lukas mengisahkan transfigurasi Yesus Ketika Yesus menampakkan diri dalam kemuliaan bersama Musa, pencetus hukum tertinggi bagi Israel dan Elisah, nabi terbesar perjanjian lama.
Penampakan yang ajaib dan penuh misteri ini menandakan suatu peristiwa penting dalam sejarah keselamatan manusia dan semesta. Tuhan Yesus mendaki gunung dengan sungguh menyadari bahwa kelak Dia akan dihukum mati denan cara disalibkan di atas gunung. Kota Yerusalem sudah menanti sang penyelamat dunia yang akan dikhianati, ditolak dan disalibkan.
Tampaknya, Yesus berbicara dengan dua orang penting dalam sejarah keselamatan Israel, Musa dan Elisah. Bahkan Allah Bapa pun hadir di tempat tersebut dan menyatakan persetujuan-Nya bahwa Yesus akan disalibkan dan menyelamatkan dunia. “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi. Dengarkanlah Dia.”
Allah Bapa memuliakan Yesus karena Dia sungguh taat. Tuhan mengangkat Dia sebagai Putera yang dikasihi sebab Yesus mendengarkan dan melaksanakan apa yang Bapa titahkan kepada-Nya tanpa berpaling dan membantah satu katapun.
Tuhan Yesus tidak ingin bahwa kemuliaan tersebut hanya menjadi bagian kemuliaan-Nya. Dengan ketaatan total-Nya, dia mau berbagi kemuliaan itu dengam murid-murid-Nya termasuk kita. Yesus menunjukkan kepada kita jalan untuk menggapai kemuliaan dan kesempurnaan Bapa: Ikuti Aku, taati titahKu, Ambillah jalan yang Kupilih bagimu dan kamu akan memperoleh berkat Kerajaan Surga yang Bapa janjikan dan nama-Mu akan tertulis dalam surga.
Kehidupan kita tidak selalu dipenuhi dengan kemuliaan. Sering terjadi bahwa tantangan senantiasa datang menghampiri kita tanpa diundang. Kadang-kadang salib kehidupan membuat kita berjalan tertatih-tatih dan terhuyung-huyung. Kita mesti senantiasa ingat bahwa Yesus memperoleh kemuliaan-Nya bukan tanpa penderitaan. Penderitaan senantiasa datang mendera namun Dia tak menyerah. Dia tetap bilang “Ya” kepada Bapa. Semoga kita pun dapat senantiasa mengatakan “Ya” kepada Bapa dan berziarah sampai akhir. AMIN.
Siapapun yang kehilangan nyawanya demi Aku, akan memperolehnya kembali.
Jumat, 5 Agustus 2016
Injil: Matius 16:24-28
Mengikuti Kristus itu buahnya manis. Namun, Tuhan tidak pernah menyatakan bahwa mengikuti Dia bukan tanpa tantangan. Tantangan mengikuti Kristus itu bisa sangat banyak dan kadang-kadang tidak mudah. Beberapa contoh: Kristus meminta kita untuk mendoakan, memaafkan dan mengampuni musuh-musuh kita. Kita tahu bahwa itu adalah sebuah ajaran paling sulit yang bisa kita lakukan bahkan sebagai pengikut-Nya. Kita diminta untuk tetap mengasihi dan menyayangi sekalipun kita dikelilingi oleh orang-orang yang membenci kita, yang menjelek-jelekkan nama kita, yang tidak pernah menjadikan kita sebagai prioritas. Itulah beberapa ongkos dari mengikuti Kristus.
Hampir semua-semua murid-murid Kristus mengalami langsung bagaimana mereka dikejar-kejar dan dihajar, baik selama mereka dengan Yesus maupun setelah Yesus naik ke surga. Banyak pengalaman duka dan pedihnya. Biarpun begitu, murid-murid ini tidak kehilangan harapan. Mereka tidak putus asa. Mereka tetap teguh dan tegak berdiri. Lebih baik bagi mereka menyangkal dunia, daripada menyangkal Yesus.
Injil hari ini membuktikan tantangan tersebut. Yesus menantang para murid murid-Nya untuk melihat kembali, apa kira-kira hal sungguh berguna dan bernilai bagi mereka? Apa keputusan paling eksistensial, paling mendasar yang menggerakkan mereka dalam mengikuti Yesus?
Yesus mau menegaskan kepada murid-murid-Nya dan kepada kita pengikut-Nya bahwa dalam setiap keputusan yang kita buat dalam kehidupan ini, kita sedang membentuk diri kita menjadi seorang dengan tipe kepribadian tertentu. Pilihan-pilihan kita, keputusan kita, karakter dan perilaku kita akan menentukan akan menjadi orang seperti apa kita nanti.
Yesus mengajak kita untuk memikirkan kembali apa yang terbaik dalam kehidupan kita dan hidup berdasarkan hal tersebut. Kita tidak boleh hidup dalam kesia-siaan. Yesus tidak ingin bahwa kita kelak menyadari bahwa apa yang sudah kita perjuangkan selama ini tho ternyata hanyalah hal-hal sepele yang tidak menghantar kita kepada kesempurnaan hidup kita.
Untuk kita orang Katolik, hidup kita mestilah mencerminkan hidup Kristus itu sendiri. Apa yang kita terima adalah semata rahmat Kristus, rahmat Allah. Kita berhutang kepada-Nya segala sesuatu, termasuk hidup kita. Ketika tiba waktunya bagi kita untuk bergaul erat dengan Yesus, kita tidak boleh hanya memberikan uang kita, tetapi lebih-lebih totalitas diri kita, bukan hanya kata-kata yang manis tetapi lebih-lebih hati kita yang tulus dan jujur. Yesus menanti kita dalam proses pendewasaan menjadi murid-murid yang secara gembira berserah diri sepenuhnya kepada-Nya untuk memperoleh kehidupan yang indah dan abadi. Amin.
