Browsed by
Month: October 2016

Tanda

Tanda

images

Bacaan I: Galatia 4:22-24, 26-27, 31-5:1
Bacaan Injil: Lukas 11: 29-32

Kita adalah pembaca tanda. Tanda-tanda membantu kita mengetahui posisi kita, entah secara fisik, intelektual, emosional, maupun rohani. Perut yang berbunyi mungkin menandakan kosong dan minta diisi, seperti juga mata mengantuk menandai tubuh butuh shut down untuk memulihkan energi. Kepala pusing atau berhenti bekerja bisa jadi menandai sebuah persoalan di depan mata terlalu pelik untuk dipecahkan, lebih keras dari kepala kita yang rasanya mau pecah; seperti juga hati yang hancur berkeping-keping karena kecewa menandai harapan yang jauh dari kenyataan, saat untuk bangun dari impian yang terlalu tinggi. Kekeringan doa, bisa jadi karena kurang sungguh hadir di hadapan yang Ilahi, atau iman tidak mengalir dalam perbuatan nyata sehari-hari, atau justru keterpilihan untuk memasuki malam gelap jiwa yang memurnikan diri, tingkat kerohanian yang lebih tinggi.

Kita adalah pembaca tanda. Tanda-tanda membantu kita mengukur menimbang menaksir lingkungan kita. Kita membaca tanda-tanda dari pasangan hidup, keluarga, teman, lewat sikap tubuh, intonasi kata-kata atau pesan tertulis. Setiap perkataan dan tindakan politisi kita baca sebagai eksternalisasi ruang batin yang tersembunyi, dan tidak sulit menyingkap apakah kesantunan dan janji-janji hanyalah sebuah basa-basi atau ketulusan yang konsisten dengan track record tindakan dalam aneka bidang yang mutunya sama dengan pilihan kata dan sikap laku. Kita dapat jatuh terpesona dengan tanda-tanda luar biasa, hingga janji kemudahan mendapat kekayaan dan pelepasan beban hidup instan yang dilontarkan penasehat spiritual pengganda kekayaan atau penikmat seks bebas dan obat terlarang dibarengi aksi “supra natural” berhasil memikat dan memukat ribuan pengikut setia yang memuja dengan buta.

Kita adalah pembaca tanda. Kehadiran Sang Guru dari Nazaret 2000 tahun lalu ditandai dengan ajaran yang mengajak pada pertobatan, pembaharuan hidup di hadapan Yahwe, serta penafsiran penuh kasih atas hukum ilahi yang telah menjadi penopang penjaga identitas bangsa Yahudi selama beratus tahun sebelumnya. Adanya aneka mukjijat yang menunjukkan kuasa kasih, sayangnya ditanggapi dengan skeptis oleh sekelompok orang yang sudah membatu dalam sikapnya: apa pun yang dilakukan Yesus, tidak akan mengubah mereka, karena hati mereka sudah keras dan membeku. Tidak ada sikap kritis yang sehat yang disertai keterbukaan hati. Tak heran Yesus tidak tertarik untuk berusaha meyakinkan mereka, malahan menanggapi permintaan mereka dengan keras: tak ada tanda akan diberikan kecuali tanda Yunus. Yunus membawa pesan Ilahi yang membebaskan orang-orang Ninive dari hukuman dari Yang Ilahi, karena mereka mau bertobat. Yesus membawa pesan pembebasan yang lebih mendalam dan luas, yang akan menggerakkan hati orang sampai ke penjuru dunia, melampaui batas-batas kota atau bangsa, melampaui batas waktu pula. Sayangnya, justru banyak orang sejaman dan sedaerah denganNya memilih untuk menutup telinga dan hati terhadap pesan pembebasan itu.

Kita adalah pembaca tanda. Sejak kita bangun pagi hingga istirahat menutup mata malam hari, tak henti-hentinya Tuhan memberi tanda dan membisikkan pesan cinta dan pembebasan. Persoalannya, maukah kita berhenti sesaat, waktu demi waktu, untuk mendengarkan dan menanggapi pesan tersebut? Semoga kita tak melewatkan Sabda seperti mereka yang menolak Yesus dalam kisah Injil hari ini. Semoga.

The Rosary and Us

The Rosary and Us

 14f63ba634bd5213dc0c3025c96b08a8
October is the month of the rosary. Allow me to reflect on this ancient yet ever new form of prayer. Why October? It all started when Pope Pius V, a Dominican, dedicated October 7 as the feast of Mary Our Lady of the Rosary after the battle of Lepanto. In this naval battle of October 7, 1571, the smaller Christian army fought the much larger and powerful Ottoman Turks’ forces that planned to invade Europe at the Gulf of Lepanto in Greece. While the battle was being waged, the Holy Pontiff and all Christians prayed the rosary asking the intercession of Our Lady. After hours of confrontation, the enemy’s fleet was roundly defeated.
However, the devotion to the rosary itself began even much earlier. In fact, the prayer was a product of a long evolution. The devotion actually began as a lay spiritual movement. In the early middle ages, the monks and nuns in the monasteries recited 150 Psalms of the Old Testament as part of their daily prayer. The practice was ideal to sanctify the entire day as the recitation of the Psalms was distributed during the important hours of the day (thus, Liturgy of the Hours). Yet, this was not for the lay people. They had no copy of the Bible, least the ability to read it. Thus, the lay people who desired to make their day holy, started to recite 150 ‘Our Father’. To keep track of the prayer, they also made use of a long cord with knots on it. After some time, they prayed 50 Our Father at three different times of the day.
In the 12th century, the Angelic salutation formula “Hail Mary, full of grace, the Lord is with you. Blessed you among women and blessed is the fruit of your womb” became part of this 150 ‘Our Father’ prayer. Shortly after this, the meditation on mysteries of the life of Jesus and Mary began to be incorporated into this devotion. Gradually, it evolved into 150 ‘Hail Mary’. St. Dominic de Guzman and his Order of Preachers received special mandate from the Virgin herself to promote this ‘Psalter of Mary’. In the 15th century, that devotion acquired the name Rosarium (rose garden). In 1569, the same Pope Pius V issued the papal decree ‘Consueverunt Romani Pontifices’ that regulated and standardized the praying of the Rosary, taking into account its long history and its Dominican tradition. He also affirmed the efficaciousness of the rosary as one of the many means to obtain graces and indulgence. The praying of the rosary continues to evolve even to this day. The latest major innovation was from Saint John Paul II who added five mysteries of Light.
October then turns to be a fitting time to intensify our praying of the rosary and to remember the role of Mary and her rosary in the life of the Church and our lives. I guess more importantly we remember that rosary was born from the desire of lay people to be holy. The rosary came from the simple hands of ordinary people who recited the Our Father and Hail Mary and meditated on the mysteries of salvation. We pray the rosary because it is a devotion that comes from the hearts of the laity. When we pray the rosary, we pray together with Mary who is a lay woman. When we pray the rosary, because we, just like countless people, desire to be closer to God in a simplest and humblest way.
“Kita” vs “Mereka”

“Kita” vs “Mereka”

Sabtu, 8 Oktober 2016

Galasia 3:22-29
Mazmur 105
Lukas 11:27-28

Kalau kita pikir lebih dalam, sebenarnya adalah suatu fenomena yang menakjubkan bahwa agama Kristen dari awal mulanya bisa menyatukan orang-orang dari segala macam golongan. Dengan pembaptisan mereka diberi identitas baru, bersatu dalam Kristus dan tidak ada lagi pemisah antara budak dan orang bebas, Yahudi dan non-Yahudi, laki-laki dan perempuan (Galasia 3:28). Ini jelas-jelas berlawanan dengan strata sosial pada zaman itu di mana orang yang berbeda status sosial tidak bisa bergaul secara sederajat.

Dunia kita saat ini sangat rentan dengan perpecahan. Untuk orang-orang yang haus kekuasaan, cara inilah yang dipakai supaya mereka mendapat dukungan. “Kita” melawan “mereka”. “Mereka” adalah orang-orang yang “lain” dari kita, lain budaya, lain agama, lain negara, lain status sosial, dan macam-macam lainnya. Pejabat di Hungaria, misalnya, bersikeras menentang para pengungsi dari Syria masuk ke negeri mereka. Dengan cara itu mereka memobilisasi warganya untuk bersatu melawan “orang asing”, tapi akibatnya para pengungsi tidak dipandang sebagai saudara sesama ciptaan Tuhan yang membutuhkan. Di Inggris, salah satu alasan orang memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa adalah karena mereka tidak mau Inggris harus menerima pengungsi imigran dari negara lain. Lagi-lagi, “kita” lawan “mereka”.

Di saat di mana dunia seperti penuh konflik dan kekerasan, naluri kita adalah mempertahankan diri seperti membangun tembok benteng di sekitar kita. Orang yang asing, orang yang tidak segolongan, yang tidak kita kenal, kita buang jauh-jauh. Kita tidak lagi melihat “mereka” sebagai saudara dalam Kristus.

Semoga hari ini kita bisa mengingat kembali Yesus yang sudah kita “kenakan”. Semoga kita bisa melihat seperti Yesus yang melihat semua orang sebagai saudaranya, bahkan atau terutama mereka yang dianggap “lain” seperti perempuan Samaria, pemungut cukai, penzinah, bahkan orang Romawi yang menyalibkannya. Tapi yang paling besar dan menakjubkan adalah Kristus tidak lagi menjaga jarak antara Allah dan manusia, tapi rela turun ke dunia menjadi “kita” karena kasihnya.

Bareng

Bareng

7 Oktober 2016

Hari Raya Peringatan Maria Ratu Rosario

Galasia 3:7-14
Mazmur 111
Lukas 11:15-26

“Rek ayo rek, mlaku mlaku nang Tunjungan.
Rek ayo rek, rame rame bebarengan.”

Dua baris di atas pasti sebagian besar dari anda langsung ingat, lagu rakyat Surabaya yang terkenal. Apakah anda orang Surabaya ataupun dari mana pun juga, pasti menikmati suasana jalan-jalan dengan keluarga atau teman ke mall, tempat wisata, taman, atau sekedar menikmati lingkungan sekitar rumah. Tujuan tidak terlalu penting, yang utama adalah melewatkan waktu dalam kebersamaan dengan orang-orang yang anda cintai.

Dalam Injil hari ini Yesus memakai simbol-simbol yang menunjukkan pentingnya kebersamaan atau persekutuan. “Kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa,dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah pasti runtuh,” dan “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” Bahkan tentang roh jahat pun ia mengatakan bagaimana roh itu akan kembali mengajak tujuh roh lainnya untuk bersama-sama menyerang orang yang merasa dirinya sudah bersih dari dosa.

Kebersamaan atau communion kita dengan Kristus adalah sumber kekuatan kita. Hanya dengan jalan itulah kita bisa terlindungi dari serangan yang jahat. Usaha kita sendiri tidaklah cukup, sama seperti kisah orang yang sudah bersih dari roh jahat tapi kemudian didatangi kembali oleh roh itu dan tujuh roh lainnya. Santo Paulus berkata, “Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” (Roma 13:14) Hanya dengan “mengenakan” Yesus kita bisa menghadapi segala roh jahat dalam hidup kita.

Hari ini kita juga memperingati Bunda Maria sebagai Ratu Rosario. Doa Rosario bisa dikatakan salah satu doa yang paling populer bagi umat Katolik. Fokus dalam doa Rosario adalah perenungan akan misteri-misteri hidup, wafat, dan kebangkitan Yesus. Dengan setiap Salam Maria, kita berjalan bebarengan dengan Bunda Maria untuk menghayati misteri-misteri itu. Siapakah yang lebih pantas dari Ibu Yesus sendiri saat kita sama-sama merasakan kegembiraan, kesedihan, dan kemuliaan atas peristiwa-peristiwa dalam hidup Yesus?

Translate »