Tanda

Tanda

images

Bacaan I: Galatia 4:22-24, 26-27, 31-5:1
Bacaan Injil: Lukas 11: 29-32

Kita adalah pembaca tanda. Tanda-tanda membantu kita mengetahui posisi kita, entah secara fisik, intelektual, emosional, maupun rohani. Perut yang berbunyi mungkin menandakan kosong dan minta diisi, seperti juga mata mengantuk menandai tubuh butuh shut down untuk memulihkan energi. Kepala pusing atau berhenti bekerja bisa jadi menandai sebuah persoalan di depan mata terlalu pelik untuk dipecahkan, lebih keras dari kepala kita yang rasanya mau pecah; seperti juga hati yang hancur berkeping-keping karena kecewa menandai harapan yang jauh dari kenyataan, saat untuk bangun dari impian yang terlalu tinggi. Kekeringan doa, bisa jadi karena kurang sungguh hadir di hadapan yang Ilahi, atau iman tidak mengalir dalam perbuatan nyata sehari-hari, atau justru keterpilihan untuk memasuki malam gelap jiwa yang memurnikan diri, tingkat kerohanian yang lebih tinggi.

Kita adalah pembaca tanda. Tanda-tanda membantu kita mengukur menimbang menaksir lingkungan kita. Kita membaca tanda-tanda dari pasangan hidup, keluarga, teman, lewat sikap tubuh, intonasi kata-kata atau pesan tertulis. Setiap perkataan dan tindakan politisi kita baca sebagai eksternalisasi ruang batin yang tersembunyi, dan tidak sulit menyingkap apakah kesantunan dan janji-janji hanyalah sebuah basa-basi atau ketulusan yang konsisten dengan track record tindakan dalam aneka bidang yang mutunya sama dengan pilihan kata dan sikap laku. Kita dapat jatuh terpesona dengan tanda-tanda luar biasa, hingga janji kemudahan mendapat kekayaan dan pelepasan beban hidup instan yang dilontarkan penasehat spiritual pengganda kekayaan atau penikmat seks bebas dan obat terlarang dibarengi aksi “supra natural” berhasil memikat dan memukat ribuan pengikut setia yang memuja dengan buta.

Kita adalah pembaca tanda. Kehadiran Sang Guru dari Nazaret 2000 tahun lalu ditandai dengan ajaran yang mengajak pada pertobatan, pembaharuan hidup di hadapan Yahwe, serta penafsiran penuh kasih atas hukum ilahi yang telah menjadi penopang penjaga identitas bangsa Yahudi selama beratus tahun sebelumnya. Adanya aneka mukjijat yang menunjukkan kuasa kasih, sayangnya ditanggapi dengan skeptis oleh sekelompok orang yang sudah membatu dalam sikapnya: apa pun yang dilakukan Yesus, tidak akan mengubah mereka, karena hati mereka sudah keras dan membeku. Tidak ada sikap kritis yang sehat yang disertai keterbukaan hati. Tak heran Yesus tidak tertarik untuk berusaha meyakinkan mereka, malahan menanggapi permintaan mereka dengan keras: tak ada tanda akan diberikan kecuali tanda Yunus. Yunus membawa pesan Ilahi yang membebaskan orang-orang Ninive dari hukuman dari Yang Ilahi, karena mereka mau bertobat. Yesus membawa pesan pembebasan yang lebih mendalam dan luas, yang akan menggerakkan hati orang sampai ke penjuru dunia, melampaui batas-batas kota atau bangsa, melampaui batas waktu pula. Sayangnya, justru banyak orang sejaman dan sedaerah denganNya memilih untuk menutup telinga dan hati terhadap pesan pembebasan itu.

Kita adalah pembaca tanda. Sejak kita bangun pagi hingga istirahat menutup mata malam hari, tak henti-hentinya Tuhan memberi tanda dan membisikkan pesan cinta dan pembebasan. Persoalannya, maukah kita berhenti sesaat, waktu demi waktu, untuk mendengarkan dan menanggapi pesan tersebut? Semoga kita tak melewatkan Sabda seperti mereka yang menolak Yesus dalam kisah Injil hari ini. Semoga.

Comments are closed.
Translate ยป