Browsed by
Month: October 2016

Ndablek

Ndablek

Galasia 3:1-5
Mazmur 1
Lukas 11:5-13

Mungkin judul renungan hari terdengar agak kasar. Tapi memang begitu jugalah nada Santo Paulus di bagian dalam suratnya kepada umat di Galasia hari ini. Terjemahan dalam Alkitab anda mungkin memakai kata “bodoh”, tapi arti bahasa Yunani aslinya lebih seperti sifat seseorang yang sudah diperingatkan berkali-kali tapi tetap melakukan kesalahan yang sama. Paulus jengkel karena umat di Galasia, walaupun sudah diajari olehnya berkali-kali, tapi tetap saja lebih mementingkan hal-hal yang diatur dalam hukum Taurat ketimbang beriman percaya pada Kristus. Pendek kata, Paulus menganggap orang Galasia ndablek.

Dalam Injil hari ini ada perumpamaan tentang seorang teman yang tidak mau diganggu waktu tengah malam oleh temannya yang sedang sangat membutuhkan. Yesus berkata, bahwa pada akhirnya dia pasti akan menolong juga karena temannya akan terus menerus memohon. Jadi, si teman yang ndablek itu akhirnya akan sadar setelah diminta, diminta, dan diminta.

Tapi Allah kita bukanlah Allah yang ndablek. Ia Allah yang murah hati, yang siap memberikan apa yang kita minta. Tapi bukan sembarang permintaan. Pada akhir bacaan Injil hari ini, Yesus secara khusus menyebutkan bahwa yang diberikan Bapa adalah Roh Kudus. Kita semua diberi anugerah itu secara cuma-cuma, tidak dengan syarat harus melakukan sesuatu terlebih dahulu seperti yang dipercayai orang-orang Galasia.

Kelemahan iman mereka, sama dengan yang sering kita sendiri alami, adalah kita tidak percaya bahwa Roh Allah sudah bekerja dalam diri kita. Kita masih merasa ada yang kurang. Atau kita merasa tidak pantas. Atau kita berpikir harus melakukan sesuatu dulu sebelum Tuhan sudi mengkaruniai kita dengan Roh Kudus.

Allah telah memberikan anugerah yang terbesar untuk kita, dengan mengirimkan PutraNya sendiri yang rela hidup di tengah kita, wafat dan bangkit dan mengirimkan Roh Kudus untuk menyertai kita sampai akhir jaman. Pesan ini kita dengar setiap minggu dalam misa, atau bahkan setiap hari melalui sabda Tuhan. Apakah kita akan tetap ndablek?

Muka Dua

Muka Dua

Galasia 2:1-2, 7-14
Mazmur 117
Lukas 11:1-4

Ternyata konflik dalam kehidupan umat Gereja tidak hanya kita alami di masa kini, tapi sejak jaman berdirinya dulu. Dalam suratnya kepada umat di Galasia, Santo Paulus seperti sedang curhat tentang kejengkelannya akan ulah Santo Petrus atau yang sering dipanggil dengan nama Kefas. Paulus sedang bersemangat menggebu-gebu untuk menyebarkan Injil kepada mereka yang bukan orang Yahudi. Tapi pada saat yang sama, banyak penginjil Kristen yang mencoba “me-Yahudikan” mereka yang bukan Yahudi, terutama dengan cara disunat. Mereka beranggapan bahwa orang yang mau menjadi pengikut Yesus juga harus melalui tata cara Yahudi dan disunat.

Karena itu kita bisa merasakan kekesalan Paulus dalam suratnya. Ia sampai-sampai harus menggunakan contoh yang ekstrim, di mana ia menceritakan pengalamannya dengan Petrus, murid Yesus yang sangat dihormati para orang Kristen yang berlatar belakang Yahudi. Paulus menuduh Petrus yang berlaku munafik, yang diam-diam makan dan bergaul dengan orang non-Yahudi tapi ketika ada Yakobus dan orang Yahudi-Kristen lainnya datang, ia pura-pura tidak kenal dengan orang-orang non-Yahudi itu. Inilah dasarnya dia bertanya pada Petrus: “Kalau kamu yang orang Yahudi hidupnya seperti non-Yahudi, bagaimana kamu mengharap orang non-Yahudi untuk hidup secara Yahudi, misalnya dengan disunat?”

Pertanyaan Paulus bukanlah pertanyaan yang mengharapkan jawaban, tapi lebih sebuah retorika yang membuat pendengarnya untuk merenung, terutama tentang kemunafikan mereka, dan kemunafikan kita yang membaca suratnya hari ini. Saya berani bertaruh, tidak ada dari kita yang murni lepas dari tingkah munafik, paling tidak sekali dalam hidup kita. Kita adalah makhluk sosial yang bergaul dengan segala macam orang. Terkadang kita tidak mau menyakiti perasaan orang atau ingin dihargai oleh orang lain. Maka mulailah kita bermuka dua. Perkataan dan perlakuan kita pada si A berbeda terbalik dengan perkataan dan perbuatan kita pada si B.

Sebagai manusia, sangat wajar jika kita tergoda untuk bermuka dua, apapun alasannya. Paulus mengingatkan kita untuk berhati-hati sebelum kita bertindak atau berucap, terutama dalam hal mengkritik atau menyalahkan orang lain. Apakah kita sendiri pernah berbuat salah seperti apa yang kita tuduhkan kepada mereka?

Karena itu sangat tepatlah doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus dalam Injil hari ini. Walaupun versi Lukas agak berbeda dengan versi Matius yang kita kenal, tapi dua-duanya mencantumkan permohonan pada Allah untuk mengampuni kesalahan kita seperti kita mengampuni orang lain. Kata-kata ini, yang mungkin kita ucapkan setiap hari dalam doa Bapa Kami, adalah doa anti kemunafikan. Jika kita benar-benar tulus minta pengampunan Tuhan, maka kita pun harus bersedia mengampuni mereka yang berbuat salah pada kita. Semoga seiring dengan doa ini kita semakin dikuatkan dalam memperbaiki hidup kita dan menyadarkan kita jika kita jatuh ke dalam kemunafikan.

Spiritualitas Fransiskan

Spiritualitas Fransiskan

Hari Raya Pesta Santo Fransiskus dari Assisi

Galasia 1:13-24
Mazmur 139
Lukas 10:38-42

Seorang teman pernah bertanya pada saya, “Sebagai seorang Fransiskan, bisakah kamu memberika satu kata saja untuk menggambarkan spiritualitas Fransiskan?” Pertanyaan seperti ini selalu bermasalah. Bagaimana mungkin bisa merangkum tradisi spiritualitas yang begitu kaya dan berabad-abad umurnya hanya dengan satu kata. Setelah semalam saya renungkan, akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan. Satu kata itu adalah “kasih”. Fransiscans are great lovers!

Santo Fransiskus tidak meninggalkan suatu struktur cara berdoa. Tulisan-tulisannya tidak terlalu banyak dan lebih seperti kotbah. Aturan-aturan yang ditulisnya untuk para saudara pengikutnya bukanlah suatu aturan yang mendetail seperti aturan Santo Benediktus misalnya. Yang kita namakan “spiritualitas Fransiskan” adalah pertama-tama berakar pada hidup Santo Fransiskus sendiri.

Sejak awal hidupnya, Fransiskus adalah orang yang perasa. Ia mencintai hidupnya. Ia suka berteman dan berpesta. Ia sering menyanyi lagu-lagu populer jaman itu, tentang hidup ksatria dan kisah romantisnya yang jatuh cinta pada seorang putri. Cita-citanya adalah menjadi ksatria itu sendiri yang pergi ke medan perang, menang, dan meminang gadis cantik yang dikasihinya. Tapi hidup berkata lain. Melalui perenungan, mimpi-mimpi yang dianggapnya tanda dari Tuhan, perjumpaan dengan orang miskin dan penderita kusta, ia mengalami sebuah konversi, sebuah transformasi hidup. Ia jatuh cinta kepada seorang yang melebih segala cita-citanya: Yesus Kristus sendiri. Hidupnya berubah total setelah itu. Setiap perbuatannya didasari atas kasihnya itu. Ia ingin hidup sama seperti Yesus sampai Ia pun mengalami stigmata, luka-luka yang dimiliki Yesus pada saat penyalibannya.

Dalam kisah Injil hari ini, kita melihat perbedaan antara Marta dan Maria. Marta sibuk melakukan berbagai macam pekerjaan sedangkan Maria duduk mendengarkan Yesus. Terkadang hidup kita sebagai umat Katolik lebih berfokus pada pemikiran bagaimana kita harus berbuat. Pikiran kita lebih kepada apa perbuatan yang benar dan apa perbuatan yang salah. Kita sering lupa, bahwa yang seharusnya memberi kita akar dan dasar dari semua tindakan kita adalah hubungan kita dengan Kristus, hubungan cinta kasih yang membuat kita ingin duduk dekat dengannya. Cinta kita pada Yesus dan pengalaman dicintai Yesus lah yang kemudian mengarahkan kita untuk berbuat yang benar dan menjauhi yang salah.

Bagaimana kita menghidupi spiritualitas Fransiskan di masa kini, di tengah dunia yang terkesan penuh dengan ketidakpastian dan kekerasan? Jika kita benar-benar bisa menghayati bagaimana Tuhan mengasihi kita, kita pun selanjutnya bisa membagikan kasih itu kepada semua orang, menjadi tanda cinta dan damai di sekitar kita. Tidak salah Paus Fransiskus sendiri berpegang pada prinsip ini. Ia merasa bahwa dirinya yang sangat berdosa telah dikasihi dan diangkat oleh Tuhan dengan kerahimanNya. Pengalaman itulah yang membuatnya bisa memancarkan kasih Tuhan kepada setiap orang yang ditemuinya. Itu juga yang membuat Santo Paulus dalam bacaan hari ini mengalami pertobatan dan perubahan hidup. Pengalamannya bertemu Kristus merubahnya dari penganiaya orang Kristen menjadi pewarta Injil.

Sebelum kita berkata-kata atau berbuat sesuatu, marilah kita menyisihkan waktu untuk seperti Maria duduk tenang dalam kehadiran sang Kekasih abadi. Semoga kita yang sudah merasakan bagaimana dikasihi bisa juga membagikan kasih itu kepada semua orang.

Siapakah Sesamaku?

Siapakah Sesamaku?

Galasia 1:6-12
Mazmur 111
Lukas 10:25-37

Ketika si Ahli Taurat bertanya kepada Yesus, “Siapakah sesamaku yang harus kukasihi?” dia merujuk pada salah satu kitab dalam Taurat, tepatnya Imamat 19:34-35:
Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.

Karena itulah terkadang kita membaca terjemahan dari cerita Yesus ini sebagai “tetangga” atau “neighbor”. Maksud aslinya memang ditujukan pada orang asing yang tinggal di tengah-tengah bangsa Yahudi. Perintah dalam Kitab Imamat ini ditujukan kepada orang Israel yang menempati tanah terjanji mereka setelah mereka keluar dari Mesir dan mengembara di padang gurun. Allah mengingatkan bahwa mereka dulu juga pernah menjadi orang asing di Mesir dan diperlakukan seperti budak. Karena itu mereka harus belajar dari pengalaman itu dan tidak memperlakukan orang asing di negeri mereka semena-mena.

Pada waktu itu rasa nasionalis dan kebangsaan sangat penting sekali. Orang dari negeri atau bangsa lain seringkali dianggap tidak sederajat dan tidak pantas untuk dihormati, apalagi dikasihi. Karena itulah ketika Yesus menggunakan orang Samaria dalam ceritanya, orang Israel takjub mendengarnya. Orang Samaria tidak hanya asing, tapi sudah seperti saudara sendiri yang berkhianat dan memisahkan diri. Para pendengar cerita Yesus diingatkan lagi bahwa tidak cukup mereka hanya mengasihi sesama bangsa Israel, tapi juga mereka orang-orang dari bangsa lainnya.

Di jaman kita sekarang, tetangga kita pun tidak terkira ragamnya. Kalau di Indonesia, apalagi di Jakarta, orang dari berbagai suku tinggal bersama. Di Amerika orang dari berbagai negara hidup berdampingan. Secara alamaiah, orang dari latar belakang yang sama pasti lebih ingin berbaur dengan kelompoknya sendiri. Terkadang perasaan itu sangat kuatnya sampai memandang sebelah mata mereka yang bukan dari kelompok kita.

Siapakah sesama kita? Atau lebih tepatnya, siapakah orang asing bagi kita saat ini? Siapkah orang yang kita anggap tidak sederajat dengan kita atau sedemikian asingnya sehingga tidak kita anggap? Pembantu atau karyawan rendahan yang gunanya hanya bisa disuruh-suruh? Orang dari partai politik lain atau pendukung kandidat yang berbeda dengan pilihan kita? Para pengungsi atau imigran yang mencoba masuk ke negeri kita yang kita pikir akan mengambil pekerjaan kita atau membuat negara kita kacau? Orang-orang dari agama tertentu yang kita langsung cap sebagai fanatik atau radikal?

Hari ini Yesus mengajak kita semua untuk mengasihi “sesama” kita itu. Semoga dengan rahmat Tuhan kita dikuatkan untuk melakukannya.

Translate ยป