Perwira Romawi, Teladan dalam Kemajemukan

Perwira Romawi, Teladan dalam Kemajemukan

Perwira Romawi, Teladan dalam Kemajemukan
 
Senin pada Pekan Adven Pertama
28 November 2016
Matius 8:5-11
 
Di dalam budaya Yahudi pada jaman Yesus, orang-orang Yahudi tidak akan membuat kontak dengan orang-orang asing apalagi bangsa Romawi yang menjajah mereka. Jika ingin tidak menjadi najis sebaiknya menjauhi orang-orang asing ini dan tidak memasuki tempat kediaman mereka. Saat orang Yahudi menjadi najis, mereka tidak bisa mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan baik di Bait Allah maupun di tempat-tempat ibadat yang lain. Mereka harus melakukan ritual pentahiran yang cukup rumit dan panjang.
Namun, ada yang menarik dari Injil hari ini. Seorang permira Romawi datang kepada Yesus dan memohon Yesus untuk menyembuhkan hambanya. Saat Yesus mencoba mengunjungi hambanya, sang perwira tiba-tiba mencegah Yesus, dan berkata, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Kata-kata sang permira ini akhirnya menjadi bagian dari Ekaristi kudus dan dikenang untuk sepanjang masa.
Kenapa sang perwira pencegah Yesus? Karena ia mengerti kebudayaan dan agama Yahudi. Dia tahu bahwa Yesus sebagai guru orang Yahudi akan menjadi najis jika Ia masuk ke dalam rumahnya. Hal ini sangat mengesankan karena ia adalah seorang Romawi dan juga perwira. Ia seorang penjajah dan tentunya memiliki perasaan superioritas dengan bangsa jajahannya. Ia pun seorang perwira, sebuah jabatan yang cukup tinggi di kemiliteran Romawi. Tetapi, dengan semua keunggulannya ini, dia tidak menjadi angkuh. Bahkan dia mencoba menyelami kebudayaan dan kepercayaan bangsa Yahudi, yang adalah orang-orang yang ada dalam kuasanya. Tidak hanya mengenal kebudayaan dan peraturan keagamaan Yahudi, dia juga menghormati tradisi ini.
Sikap sang perwira Romawi ini menjadi teladan yang baik bagi kita yang hidup dalam masyarakat yang majemuk. Seringkali kita tidak peduli dengan anggota masyarakat yang berbeda agama dan budaya dengan kita. Terkadang, kitapun menaruh perasaan curiga terhadap mereka. Hal-hal seperti ini tidak banyak membantu dan bahkan menghancurkan kita sebagai komunitas manusia. Kita diajak untuk berani keluar dari sekat-sekat pembatas hidup ini dan mencoba untuk mengenal keindahan kebudayaan dan kepercayaan orang-orang yang hidup di sekitar kita. Hanya dari pemahaman, kita bisa menghargai dan mengasihi sesama kita lebih dalam dan bermakna.
Setiap kali kita merayakan Ekaristi kudus, sang perwira selalu mengingatkan bahwa kemajemukan adalah keindahan yang memperkaya iman kita. Rasa hormat dan usaha untuk mengenal lebih baik perbedaan yang ada menjadi syarat bagi kita untuk mengasihi lebih besar.
 
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Comments are closed.
Translate »