Browsed by
Month: November 2016

Renungan Jumat, 18 Nopember 2016

Renungan Jumat, 18 Nopember 2016

Renungan Jumat, 18 Nopember 2016

Bacaan-bacaan: Why 10:8-11; Mzm 119: 14.24.72.103.111.131; Luk 19:45-48

Pesan yang manis-pahit. Manis karena pesan surgawi tentang kemenangan Umat Allah; pahit karena pesan itu mengandung penderitaan yang harus dialami oleh pengikut Kristus. Kemanisan dan kepahitan hidup bisa menjadi sarana untuk menikmati kebahagiaan surgawi namun juga bisa menjadi sarana untuk menjauh dari kerajaan surgawi.

Pesan pembersihan bait Allah menjadi relevan untuk membantu kita refleksi diri. Bagaimana kita memperlakukan manisnya Sabda Tuhan dan bagaimana kita mengalami kemanisan hidup; bagaimana kita mencerna pesan Kitab Suci yang menantang dan bagaimana kita menangani hidup ketika mengalami penderitaan.

Seringkali kita membiarkan diri dibuai oleh manisnya Sabda Tuhan sehingga lupa akan kewajiban kita membantu orang miskin. Seringkali kita sangat bersemangat untuk membela kaum tertindas namun melupakan hidup doa. Tidak jarang kita rajin berdoa pribadi, rajin mengunjungi orang sakit, rajin ke gereja namun perasaan kita tidak pernah merasakan kegembiraan sebagai orang beriman; dengan kata lain kita hanya merasakan kepahitan hidup.

Spiritualitas Kristiani mengundang kita untuk mengalami semua kemanisan dan kepahitan yang berasal dari Sabda Tuhan: doa pribadi dan Ekatisti bersama; berbela rasa dengan mereka yang malang dan miskin; membangun komunitas kristiani yang sehat; memiliki kegembiraan hati orang beriman meskipun harus mengalami penderitaan hidup.

Renungan Kamis, 17 Nopember 2016

Renungan Kamis, 17 Nopember 2016

Renungan Kamis, 17 Nopember 2016

Bacaan-bacaan: Why 5:1-10; Mzm 149:1-9; Luk 19:41-44

Seperti kita ketahui, kitab Wahyu ditulis untuk membantu umat Katolik yang menghadapi penganiayaan. Mereka adalah sekelompok kecil umat Katolik di Asia Kecil yang berhadapan dengan kekuatan besar kekaisaran Romawi. Situasi tersebut tentu mereka rasakan sangat menekan. Kitab Wahyu menggambarkan bahwa umat menerima kenyataan bahwa mereka akan sangat menderita. Namun kitab Wahyu dengan sangat yakin menjanjikan umat bahwa jika umat tetap bertahan dengan setia iman mereka kepada Kristus, umat akan ikut ambil bagian dalam kemenangan sebagaimana Yesus Kristus menang atas kematian dengan kebangkitanNya, akan tetapi memang mereka harus melalui penderitaan dan kematian.

Umat mengalami situasi penganiayaan yang tidak tertahankan. Umat mengalami pertentangan antara kebenaran iman mereka dengan pengalaman hidup sehari-hari. Mereka merasakan ketidakhadiran Kristus. Yohanes ingin menunjukkan bahwa kendati mereka merasakan ketidakhadiran Kristus, Yesus tetap hadir mendampingi umat juga dalam situasi penganiayaan yang sangat berat. Umat diyakinkan bahwa kejahatan pada akhirnya tidak akan bertahan dan umat yang setia pada Kristus akan memetik kebahagiaan kekal. Demikianlah, Yohanes meyakinkan umat agar jangan menangis, karena Tunas Daud telah menang. Hal ini menunjuk kepada wafat dan kebangkitan Kristus. Anak Domba yang telah disembelih namun dibangkitkan.

Dalam kehidupan sehari-hari selain kita bergulat dengan penderitaan, kita juga sering mengalami ketegangan di dalam hati kita antara menghidupi iman dan perasaan ketidakhadiran Tuhan dalam hidup kita sehari-hari. Perayaan Ekaristi yang kita rayakan tiap hari Minggu atau tiap hari bagi sebagian kecil dari kita, adalah ritual yang memberikan kehadiran Kristus secara nyata. Ketika kita merayakan Ekaristi kita mengalami kehadiran penderitaan dan kebangkitan Kristus. Kenyataan kehadiran penderitaan dan kebangkitan Kristus itu diberikan kepada kita sedemikian rupa sehingga kita ikut terlibat di dalamnya.

Bagaimana hal ini terjadi? Kita ikut ambil bagian di dalam pengorbanan Kristus kepada kita, seperti Kristus, kita merelakan diri kita untuk dibagi-bagi, ketika kita seperti Kristus rela untuk menjadi “selfless” -pengonsongan diri. Ekaristi mengundang kita untuk menjadi seperti biji gandum yang digiling untuk menjadi roti dan buah-buah anggur yang diinjak-injak dan dihancurkan sedemikian rupa sehingga bisa dibuat menjadi minuman anggur yang enak dan berguna.

Ekaristi, sebagai korban, mengajak kita untuk rela menjadi roti yang dibagikan dan piala lambang penderitaan.

Renungan Hari Rabu, 16 Nopember 2016

Renungan Hari Rabu, 16 Nopember 2016

Renungan Hari Rabu, 16 Nopember 2016

Bacaan-bacaan: Why 4:1-4; Mzm 150:1-6; Luk 19:11-28

Waktu saya menghadiri Perayaan Ekaristi waktu saya masih duduk di bangku sekolah SD, saya seringkali terkesan ketika lagu “Kudus-Kudus-Kudus” dari misa Lauda Sion” dilagukan oleh koor dan segenap umat. Waktu saya mengungkapkan perasaan gembira saya melagukan “Kudus-kuduslah Tuhan…” ibu saya mengatakan bahwa lagu itu dinyanyikan oleh para malaikat di surga.

Merayakan Perayaan Ekaristi sedapat mungkin setiap hari bagi saya merupakan pengalaman “In Heaven Right Now.” Dengan kata lain saya menemukan surga di dalam perayaan Ekaristi. Dalam Kitab Wahyu digambarkan bagaimana para malaikat dan santo-santa menyembah Allah di surga dengan menyanyikan “Kudus, Kudus, Kudus.” Dengan menyanyikan Kudus, Kudus, Kudus dalam perayaan Ekaristi, kita dipersatukan sebagai satu keluarga surgawi, keluarga Allah.

Misa, Kitab Wahyu dan Surga adalah satu. Di dalamnya kita mengalami penghiburan yakni janji akan keselamatan; janji bahwa Kerajaan Surga akhirnya akan merajai walaupun pada awalnya mengalami banyak kesusahan dan tantangan yang seakan-akan semua kesulitan itu akan menggagalkan berdirinya Kerajaan Allah.

Kitab Wahyu berbicara tentang “Seseorang” yang akan datang. Dia adalah Yesus Kristus dan kedatanganNya yang kedua kalinya. Dalam Perayaan Ekaristi pada waktu Hosti dan piala diangkat oleh imam, ibu saya mengajak kami anak-anak membisikan kata-kata “ya Tuhanku dan Allahku.” Ya, Yesus Kristus benar-benar datang dalam Misa. KerajaanNya benar-benar hadir dalam umatNya dalam Perayaan Ekaristi.

Marilah kita sebagai orang Katolik tekun menghadiri Perayaan Ekaristi, apa pun perasaan kita. Entah kita sedang senang atau sedih; semangat atau “nglokro” (low energy); sukses atau gagal. Apa pun, kita tetap menghadiri Perayaan Ekaristi.

It is good to be there, no matter what!

Selasa, 15 Nopember 2016

Selasa, 15 Nopember 2016

Selasa, 15 Nopember 2016

Bacaan-bacaan: Wahyu 3:1-6, 14-22; Mzm 15:2-5; Luk 19:1-10.

Umat Katolik akhir-akhir ini menerima tekanan-tekanan dan penghinaan-penghinaan. Hal-hal ini bukanlah sesuatu yang baru. Sejak jaman ketika kitab Wahyu ditulis, umat Katolik sudah mengalami penderitaan karena kemiskinan, penjajahan, dan penganiayaan secara fisik dan moral. Bahkan sampai pada pembunuhan baik secara sistematis maupun sporadis.

Kitab Wahyu ditulis untuk menghibur dan menguatkan umat beriman yang mengalami penganiayaan oleh kekaisaran Romawi. Penderitaan yang dialami umat Katolik dewasa ini bisa berwujud diskriminasi di tempat pekerjaan, posisi dalam pemerintahan, dan dalam masyarakat yang sangat diwarnai oleh sekularisme.

Dari dalam diri gereja sebagai umat Allah, kita orang Katolik juga mengalami tekanan karena rasa bersalah akibat dosa-dosa yang kita lakukan. Meskipun Gereja katolik telah memberikan anugrah sakramen pengampunan dosa seringkali entah kita tidak memanfaatkannya atau terlalu terpusat pada rasa bersalah. Sakramen pengampunan dosa sungguh-sungguh mengampuni dosa dan menghilangkan rasa bersalah. Namun kita sering masih menyimpan rasa bersalah atas perbuatan dosa kita.

Hari ini kita dihibur oleh bacaan Injil yang mengetengahkan kisah tentang Zakeus. Kita belajar bagaimana hati Yesus tergerak untuk menyapa berdosa; bagaimana Zakeus mengalami dicintai dan diampuni dosanya; bagaimana ia merasa sangat bersalah; dan bagaimana ia berjanji untuk berbuat silih atas dosa-dosanya dan bagaimana ia mencoba menangani rasa bersalahnya dengan tindakan nyata.

Kapankah kita mengalami seperti yang dialami oleh Zakeus? Bukankah dalam Ekaristi kita mengalami betapa dalamnya, tingginya, dan lebarnya cinta Tuhan Yesus kepada kita yang berdosa ini? Kita memang datang mengunjungi gereja untuk merayakan Ekaristi, namun kenyaataannya Tuhan Yesuslah yang pertama-tama berinisiatif untuk mendatangi hati kita sedemikian rupa sehingga kita menjadi sadar akan dosa-dosa kita dan bersedia bertobat dengan sungguh-sungguh: dengan kata dan perbuatan.

Zakeus telah mengalami penghinaan dari masyarakat karena dianggap pengkhianat bangsa dan bekerjasama dengan penjajah. Orang semacam itu tidak pantas hidup menurut pendapat banyak orang. Seorang pemungut cukai adalah penipu yang dilindungi oleh undang-undang penguasa asing. Hal ini tidak bisa dipahami dan diterima masyarakat kebanyakan. Dan apa yang terjadi ketika Tuhan Yesus melihat Zakeus?

Kita pun perlu belajar dari pribadi Tuhan Yesus yang mendahulukan pengampunan dan belas kasih daripada pembalasan dan hukuman; yang melihat jauh ke depan dalam kacamata penyelamatan semakin banyak orang; yang tidak menjadi egois, mementingkan diri sendiri atau golongan sendiri; yang mementingkan persatuan, perdamaian antara langit dan bumi, antara surga dan dunia.

Perpecahan yang terjadi dalam masyarakat karena perbedaan politik, agama, tingkat sosial-ekonomi. Juga ketegangan yang ada di dalam tubuh gereja sebagai umat Allah, hanya mungkin dihapuskan melalui saling mengampuni. Pengampunan adalah anugerah dari Surga untuk kebaikan bersama: untuk kebaikan yang memberi pengampunan sehingga tidak terus menerus diganggu oleh perasaan ingin balas dendam. Kebaikan baginyang diampuni untuk membuka masa depan baru menuju kesejahteraan rohani dan jasmani. Termasuk di dalamnya pengampunan atas hutang negara-negara miskin.

Senin, 14 Nopember 2016

Senin, 14 Nopember 2016

 

Bacaan-Bacaan Misa: Wahyu 1:1-4; 2:1-5; Mzm 1:1-6; Lukas 18:35-43

Bacaan-bacaan hari ini mengingatkan kita akan pentingnya mencari penghiburan bukan dari dan di dalam dunia melainkan dari Kitab suci dan dalam pribadi Yesus Kristus Tuhan kita. Kita juga diajak untuk menjadi seperti Kristus Tuhan kita, membuka kebutaan yang ada di dalam masyarakat kita.

Kehidupan kita sehari-hari sarat akan pergulatan antara kebaikan dan keburukan. Seringkali kita tidak bisa berbuat apa-apa ketika keburukan dan ketidakadilan dalam masyarakat kita yang pada gilirannya rakyat kecillah yang dirugikan. Bahkan banyak di antara kita mengalami tekanan dan penghinaan karena memperjuangkan kebaikan dan memberantas keburukan dalam masyarakat karena kita pengikut Kristus.

Di samping itu kita melihat dan mengalami bahwa masyarakat merindukan kesetiaan dan kestabilan dalam keluarga-keluarga. Kita mengalami pemetintah mengingkari janji-janjinya; ketidaksetiaan pasangan suami-isteri sudah dianggap sesuatu yang lumrah; tidak memegang erat komitment merupakan hal yang sudah dianggap normal.

Sebagai orang Katolik kita dipanggil untuk membuka kebutaan di dalam masyarakat kita. Untuk itu sangat dibutuhkan keberanian untuk berkorban waktu, tenaga, pikiran dan perasaan, tanpa mengorbankan keluarga dan pekerjaan kita secara sia-sia. Melalui kesaksian hidup kita sebagai pengikut Kristus kita diutus untuk menjadi terang bagi masyarakat yang dibutakan oleh konsumerisme yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.

Kebutaan dalam masyarakat bisa kita deteksi dalam tindakan sebagian masyarakat yang terlibat korupsi dan etos kerja yang buruk yang pada gilirannya masyarakat kecillah yang dirugikan. Kebutaan tercermin dalam masyarakat yang demi uang mereka menghacurkan demokrasi dan supremasi hukum. Kebenaran diputarbalikkan.

Dalam keadaan seperti itu kita sebagai orang Katolik, menyerah bukanlah sikap kita. Kita tetap tekun brdoa dan membaca Kitab Suci yang di dalamnya kita menerima penghiburan sejati karena janji keselamatan pada akhir jaman kepada mereka yang setia pada Tuhan dan melaksanakan Sabdanya. Di dalam doa, Ekaristi, dan pembacaan Kitab Suci kita mendapatkan inspirasi untuk berani menjadi saksi kebenaran, kesetiaan, stabilitas, dan keadilan.

Translate »