Selasa, 15 Nopember 2016
Selasa, 15 Nopember 2016
Bacaan-bacaan: Wahyu 3:1-6, 14-22; Mzm 15:2-5; Luk 19:1-10.
Umat Katolik akhir-akhir ini menerima tekanan-tekanan dan penghinaan-penghinaan. Hal-hal ini bukanlah sesuatu yang baru. Sejak jaman ketika kitab Wahyu ditulis, umat Katolik sudah mengalami penderitaan karena kemiskinan, penjajahan, dan penganiayaan secara fisik dan moral. Bahkan sampai pada pembunuhan baik secara sistematis maupun sporadis.
Kitab Wahyu ditulis untuk menghibur dan menguatkan umat beriman yang mengalami penganiayaan oleh kekaisaran Romawi. Penderitaan yang dialami umat Katolik dewasa ini bisa berwujud diskriminasi di tempat pekerjaan, posisi dalam pemerintahan, dan dalam masyarakat yang sangat diwarnai oleh sekularisme.
Dari dalam diri gereja sebagai umat Allah, kita orang Katolik juga mengalami tekanan karena rasa bersalah akibat dosa-dosa yang kita lakukan. Meskipun Gereja katolik telah memberikan anugrah sakramen pengampunan dosa seringkali entah kita tidak memanfaatkannya atau terlalu terpusat pada rasa bersalah. Sakramen pengampunan dosa sungguh-sungguh mengampuni dosa dan menghilangkan rasa bersalah. Namun kita sering masih menyimpan rasa bersalah atas perbuatan dosa kita.
Hari ini kita dihibur oleh bacaan Injil yang mengetengahkan kisah tentang Zakeus. Kita belajar bagaimana hati Yesus tergerak untuk menyapa berdosa; bagaimana Zakeus mengalami dicintai dan diampuni dosanya; bagaimana ia merasa sangat bersalah; dan bagaimana ia berjanji untuk berbuat silih atas dosa-dosanya dan bagaimana ia mencoba menangani rasa bersalahnya dengan tindakan nyata.
Kapankah kita mengalami seperti yang dialami oleh Zakeus? Bukankah dalam Ekaristi kita mengalami betapa dalamnya, tingginya, dan lebarnya cinta Tuhan Yesus kepada kita yang berdosa ini? Kita memang datang mengunjungi gereja untuk merayakan Ekaristi, namun kenyaataannya Tuhan Yesuslah yang pertama-tama berinisiatif untuk mendatangi hati kita sedemikian rupa sehingga kita menjadi sadar akan dosa-dosa kita dan bersedia bertobat dengan sungguh-sungguh: dengan kata dan perbuatan.
Zakeus telah mengalami penghinaan dari masyarakat karena dianggap pengkhianat bangsa dan bekerjasama dengan penjajah. Orang semacam itu tidak pantas hidup menurut pendapat banyak orang. Seorang pemungut cukai adalah penipu yang dilindungi oleh undang-undang penguasa asing. Hal ini tidak bisa dipahami dan diterima masyarakat kebanyakan. Dan apa yang terjadi ketika Tuhan Yesus melihat Zakeus?
Kita pun perlu belajar dari pribadi Tuhan Yesus yang mendahulukan pengampunan dan belas kasih daripada pembalasan dan hukuman; yang melihat jauh ke depan dalam kacamata penyelamatan semakin banyak orang; yang tidak menjadi egois, mementingkan diri sendiri atau golongan sendiri; yang mementingkan persatuan, perdamaian antara langit dan bumi, antara surga dan dunia.
Perpecahan yang terjadi dalam masyarakat karena perbedaan politik, agama, tingkat sosial-ekonomi. Juga ketegangan yang ada di dalam tubuh gereja sebagai umat Allah, hanya mungkin dihapuskan melalui saling mengampuni. Pengampunan adalah anugerah dari Surga untuk kebaikan bersama: untuk kebaikan yang memberi pengampunan sehingga tidak terus menerus diganggu oleh perasaan ingin balas dendam. Kebaikan baginyang diampuni untuk membuka masa depan baru menuju kesejahteraan rohani dan jasmani. Termasuk di dalamnya pengampunan atas hutang negara-negara miskin.