Browsed by
Month: November 2016

The Temple

The Temple

 
 
33rd Sunday in Ordinary Time
November 13, 2016
Luke 21:5-19
 
“All that you see here– the days will come when there will not be left a stone upon another stone that will not be thrown down. (Luk 21:6)”
 
In many other ancient religions, temple was a sacred place. It is holy because their gods or goddesses chose to make their dwelling place and they may serve and worship their gods there. Thus, many cultic rituals in honor of their gods like animal sacrifices and prayers took place in the temples. The temple became the visible signs of the divine presence among the people. Zeus was felt alive in his temple in Mount Olympus, or the gods of Rome were present in the Pantheon.
The Israelites incorporated the mindset and they built their own temples for the God of Israel. Initially, they had several major temples like in Bethel (see Gen 35:1), Shiloh (see Jos 18:1), and Shechem (see Gen 12:6). Yet, when David and Solomon tried to consolidate tribes of Israel into one unified nation, the worship of Yahweh then was centralized at the temple of Jerusalem. Eventually, the Temple of Jerusalem became the only temple in land of Israel.
In the center of this temple, there was the most sacred ground called the Holy of Holiest. One day a year, only a high priest may enter this space and offer the sacrifice. Jesus himself called the Temple as His Father’s place. It is the house of the Lord and there, the tribes have come, the tribes of the LORD (Psa 122:4). In the time of Jesus, the Temple had been structurally enhanced and richly adorned by King Herod the Great. Not only the holiest site for the Jewish, but perhaps it was the most beautiful edifice in Jerusalem. Because of its beauty, importance and sacredness, people of Israel thought it was indestructible.  
However, Jesus prophesied that this magnificent Temple would be destroyed. Jews who honored the Temple would be shocked and scandalized. To say bad against the Temple meant to say bad against the Lord who dwelt in it. No wonder Jesus was accused of blasphemy and indeed this was one of the accusations against Jesus during His persecution. Jesus was then crucified, and in 70 AD, forty years after Christ died, the Temple would follow the same fate. The Roman soldiers under Titus captured Jerusalem and destroyed the Temple. Jesus’ prophesy turned to be a reality. What remains to the present day is the West Wall of the Temple, known also as the Wailing Wall.
Then we may ask ourselves: What is our Temple? What becomes the symbol of the presence and blessing of God in our lives? What part of our lives that we think so important and indestructible? Are these our achievements, success, wealth or status and title in life? Are these our families, friendships and even our religious practices?  Yet, all these things are not indestructible.
Indeed, the Temple of Jerusalem was destroyed, but it did not mean God was lost also. True that sacred Temple was associated with the Most High, but temple was not God. When Jesus was murdered, the disciples thought it was the end, but they were wrong. It was rather the end of their false expectations and ideas of Jesus. Even God would allow the greatest symbol of our God in our lives to be destroyed, it does not mean our God is lost. It means that He calls us to reorient our lives not to ourselves but to Him, to come into a truer and deeper relationship with Him.
 
Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Sabtu, 12 November 2016

Sabtu, 12 November 2016

Sabtu, 12 November 2016

3 Yoh 1:5-8

Luk 18:1-8

Doa adalah kekuatan bagi semua orang beriman. Doa tidak berhenti pada kata-kata yang panjang namun Doa adalah ketekunan dan kerbukaan hati untuk mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah. Doa bukan sesuatu yang instan, tetapi suatu proses panjang penuh kesetiaan untuk bersatu dengan Yesus Kristus dan berani mengikuti Nya. Kekuatan Allah akan hadir didalam diri orang yang setia kepada Allah.

Allah mengulurkan tangan kasih Nya kepada kita, dan ulurkan tangan Tuhan tersebut disambut dan ditanggapi dengan doa dan karya yang nyata untuk membangun Kerajaan Allah di dunia. Doa tidak terpisah dari tindakan. Tindakan yang dilakukan menjadi buah-buah dari doa. Oleh karena itu doa tidak berfokus pada diri sendiri namun menghantar seseorang untuk semakin dewasa yang mampu berfokus pada cita-cita Allah sendiri.

Doa yang dilakukan dengan tekun dan setia akan membentuk kepribadian seseorang menyerupai dengan Yesus Kristus dan berani untuk berkurban bagi sesama menderita. Buah yang dihasilnya pasti buah yang baik yaitu kemurahan hati, kerendahan hati, suka cita, damai, penuh kasih, setia dan kesejahteraan. Untuk bisa sampai pada kondisi yang demikian diperlukan komitmen dan ketekunan yang sungguh-sungguh untuk bersandar dan siap melakukan kehendak Allah.

Marilah berdoa,

Allah yang Maha Kasih terima kasih atas panggilan sebagai orang beriman. Iman mengajarkan kepada kami pentingnya hidup doa. Tambahkanlah iman kepada kami agar kami semakin berani untuk berjalan di jalan yang benar dan selalu bersandar kapada Mu. Demi Kristus Tuhan dan penyelamat kami, Amin.

JUMAT, 11 NOVEMBER 2016

JUMAT, 11 NOVEMBER 2016

JUMAT, 11 NOVEMBER 2016

2 Yoh 1:4-9

Luk 17:26-37

Manusia hidup di dunia dengan bermacam-macam kesibukan. Kesempatan yang dialami oleh Tuhan bukan habis dipakai untuk kesibukan namun juga suatu panggilan menjadi saksi Kristus yang setia kepada Nya. Semua orang yang telah percaya diangkat menjadi saksi Kristus. Menjadi Saksi Kristus menuntut syarat yaitu berani menyangkal diri dan berani berkurban demi kebaikan dan cinta Allah.

Saat menyangkal diri orang tidak lagi berfokus pada diri sendiri melainkan Allah sendiri yang merajai hatinya. Ketika Allah merajai hati kita maka Dia secara bertahap mengubah hati penuh dengan belas-kasihan dan mendorong kita untuk bertindak adil, benar, murah hati, jujur dan penuh kasih. Buah-buah yang dihasilkan menjadi berkat bagi banyak orang dan dunia.

Untuk mencapai kualitas hidup yang demikian diperlukan kesadaran dan beranian. Tantangan terbesar adalah diri sendiri sebab kecenderungan diri adalah sering kali ingin mencari yang enak dan tidak mau susah-susah atau kerja keras. Oleh karena itu untuk menjadi kudus dan layak dihadapan Tuhan orang tidak cukup hanya berdoa saja tetapi juga berjuang untuk menghayati imannya.

Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya Yesus Kristus. Oleh karena jika kita mau percaya dan bersandar kepada Nya, maka kita akan diarahkan dan dituntun pada jalan yang benar dan pada akhirnya diterima dalam Kerajaan Nya di surga.

Marilah berdoa,

Allah yang Maha Kasih, terima kasih atas anugerah panggilan menjadi saksi Kristus. Doronglah kami selalu agar berani berkurban demi terlaksana semua yang Engkau kehendaki dalam diri kami.Topanglah kami yang lemah ini agar kami kuat menghadapi tantangan dan kesulitan saat kami mewartakan kebaikan Mu kepada dunia. Demi Kristus Tuhan dan penyelamat kami.

Kamis, 10 November 2016

Kamis, 10 November 2016

Kamis, 10 November 2016

Flm 7-20

Luk 17:20-25

Kehidupan di dunia adalah suatu kehidupan yang bersifat sementara dan manusia akan meninggalkan dunia dan lalu beralih pada kehidupan yang abadi. Kapan tiba waktunya saat peralihan tersebut, tidak ada orang bisa mengetahui. Karena tidak diketahui maka diperlukan sikap siap sedia jika Tuhan Yesus datang untuk memanggil. Yesus Kristus telah menyiapkan tempat yang bahagia di surga bagi semua orang yang percaya dan setia kepadaNya. Persoalaannya adalah apakah orang percaya kepada Yesus Kristus atau tidak.

Hanya dengan iman orang bisa mengerti dan yakini akan kebangkitan badan dan kehidupan kekal. Kasih dan pengurbanan Yesus Kristus diatas kayu salib menjadi sia-sia jika sebagai murid Kritus ia kehilangan atau mengabaikan iman. Oleh karena itu untuk hidup benar dan siap untuk masuk dalam kehidupan kekal, orang tidak bisa mengandalkan akal budinya saja tetapi perlu adanya iman yang teguh.

Jika orang berpegang pada iman dan setia menghayatinya, ia tidak akan bimbang dan takut dalam kehidupan. Apa pun persoalan dan pergulatan yang dihadapi tidak akan bisa merampas harapan dan kasih bagi orang yang berpegang pada iman kepada Yesus Kristus. Iman inilah yang juga akan menghantar kita semua untuk menerima kedatangan Yesus Kristus pada akhir hidup kita di dunia ini. Kristus membawa semua orang yang setia kepada Nya menuju kehidupan abadi di surga.

Marilah berdoa,

Allah yang Maha Kasih, Engkau telah menganugerahkan iman kepada kami. Iman inilah yang mampu membuat kami mengerti akan kasih Mu yang tanpa batas. Engkau memanggil kami untuk hidup dalam kekudusan dan mengarahkan kami untuk pada jalan benar menuju keselamatan kekal. Dampingilah kami selalu agar kami selalu setia dan siap mewartakan kebaikan Mu kepada sesama kami sampai akhir hidup kami di dunia ini. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami, Amin.

RABU, 9 NOVEMBER 2016

RABU, 9 NOVEMBER 2016

 

RABU, 9 NOVEMBER 2016

Yeh 47:1-2,8-9,12

1Kor 3:9b-11,16-17

Yoh 2:1-17

Yesus mengarahkan kepada kita semua bahwa yang terpenting dalam membangun jemaat Gereja, umat Allah, bukan bangunan fisiknya. Bangunan fisik pada suatu saat bisa hancur karena usia, bencana alam, dll. Akan tetapi jika persekutuan orang beriman didasari pada iman kepada Yesus Kristus maka sepanjang masa tidak akan hancur karena iman dan jiwa manusia bersifat abadi. Berapa besar dana yang dikeluarkan untuk bangunan yang megah? Namun setelah sekian puluh tahun berapa banyak orang yang datang kesana untuk berdoa? Pembangunan fisik tidaklah cukup jika tidak disertai pemeliharaan hidup rohani yaitu relasi pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus.

Orang bisa kagum dengan yang ada diduniawi, namun bukan itu tujuannya sebagai orang beriman. Yesus mengarahkan kepada para muridNya untuk berpusat pada Yesus Kristus sendiri sebagai dasar hidup. Karena didalam Yesus Kristus semua orang disatukan dengan Kasih Allah dan menerima keselamatan. Iman kepada Yesus Kristus yang dihayati dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan buah-buah yang baik ; kemurahan, kedamaian, kasih, kesabaran, kebijaksanaan, menguasaan diri , sukacita dan keselamatan abadi.

Dibutuhkan untuk membangun kehidupan yang berlimpah kasih dan berkat yaitu kesadaran dan usaha untuk selalu bersandar pada Allah dan mau mengikuti jalan kebenaran yang telah ditujukan oleh Yesus Kristus. Sudah terlalu banyak orang yang pandai berteori dan berdiskusi tentang bangaimana cara membangun jemaat beriman, hanya satu yang penting adalah keberanian untuk menghayati cara hidup seperti Yesus Kristus yang mendasarkan segalanya dengan Hukum kasih.

Marialah berdoa,

Allah yang Maha Kasih terima kasih atas anugerah Iman yang telah Engkau anugerahkan kepada kami. Doronglah kami selalu untuk selalu setia kepada Mu dan hidup menurut kehendak Mu agar kami siap mewartakan kebaikan dan kebenaran dalam kehidupan. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami, Amin.

Translate »