Browsed by
Month: January 2017

Menjadi benih-benih Kerajaan Allah

Menjadi benih-benih Kerajaan Allah

Menjadi benih-benih Kerajaan Allah

Mrk 4:26-34/Heb 10:32-39

 

Dalam Injil hari ini Yesus sekali lagi mengajar dalam bentuk perumpamaan. Kali ini Dia memakai ungkapan yang akrab dengan para petani seperti penabur, benih, bumi, tanah, pohon, tangkai, buah, bulir, buah masak, musim panen dst. Yesus hendak melukiskan: Seperti apa Kerajaan Allah itu?

Benih adalah Sabda Allah yaitu seluruh hidup dan karya Yesus, kata-kata, ajaran, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Benih itu ditanamkan di dalam lahan hati manusia. Si petani adalah pewarta Sabda Allah. Ia mewartakannya, menaburnya. Benih Sabda Allah itu tinggal di sana bertumbuh menjadi besar dan berbuah, si penabur tidak tahu bagaimana itu terjadi dan akhirnya datang musim untuk menuai. Ia keluar dan menuai hasil dari pekerjaannya itu.

Kerajaan Allah adalah sebuah misteri yang hanya diketahui secara sempurna oleh Allah sendiri akan tetapi kehadiran dan tanda-tanda yang menyertainya bisa ditangkap dan dialami oleh manusia. Melalui Tuhan, rahasia Kerajaan itu dibuka dan dibagikan kepada mereka yang mendengarkan dan mengikuti-Nya. Para pengikut Yesus mendengar dan mengenal, percaya dan berpartisipasi dalam karya maha agung ini. Secara khusus “kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.”

Bagaimanakah kerajaan Allah itu? Apakah benih-benih Sabda Allah seperti kasih, keadilan, suka cita, damai sejahtera bertumbuh menjadi besar dan kuat di dalam hidup kita?

Kita percaya bahwa Yesus seperti benih yang kecil rela untuk datang dan tinggal bersama kita manusia. Yesus masuk dan mengalami kondisi-kondisi hidup kita seperti orang-orang sakit, Ia sembuhkan; orang berdosa, Ia ampuni dll. Yesus merubah situasi-situasi tidak manusiawi, tidak adil, penuh manipulasi dan korupsi menjadi lebih baik. Ia bahkan masuk dalam kondisi manusia yang paling buruk, yakni kematian sebagai nasib yang hanya harus diterima. Tapi Yesus mengubah kondisi itu menjadi kehidupan seperti kisah tentang Lazarus. Dan lebih dari itu, Yesus bahkan rela untuk masuk dalam situasi paling gelap tak terpahami ini untuk keselamatan manusia. Yesus mati di salib dan bangkit agar kemanusiaan kita dipulihkan dan menjadi lebih baik. Semua ini Yesus terima demi ketaatan dan cinta-Nya kepada Bapa dan demi keselamatan dan kebaikan semua orang yang dicintai-Nya.

Yesus masuk dalam kehidupan kita untuk mengajar dan membentuk kita agar bisa berkorban dan mencintai seperti Dia; menjadi benih-benih yang baik, bertumbuh dan berkembang menjadi tuaian yang berkenan bagi Si Empunya Kuasa dan Kerajaaan itu.

 

Menjadi pelita Tuhan

Menjadi pelita Tuhan

Menjadi pelita Tuhanthumbnail_image1

2Tim 1:1-8/Mark 4:21-25

 

“Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian.”

Membayangkan pelita dan gantang. Di kampung saya setiap rumah sangat familiar dengan pelita-pelita sederhana bersumbukan benang yang dibasahi minyak tanah namanya “paku” dalam bahasa Meto/Dawan (Timor). Membayangkan gantang orang-orang yang sama sebut “a’pone”.

Yesus mengajar dengan memakai alat-alat di atas yang dipakai di dalam rumah. Fungsi lampu untuk menerangi kegelapan.

Kata Yesus, orang tidak menyalakan pelita lalu ditaruh di bawah gantang atau di bawah tempat tidur. Tapi di atas kaki dian untuk menerangi seluruh ruangan. Yesus membuat kita berimajinasi. Bayangkan bila lampu yang menyala ditaruh di bawah gantang atau ditutup dengan bakul, di bawah tempat tidur, bukan di atas kaki dian! Untuk apa menyalakan pelita?

Ada banyak tempat gelap: hati yang terluka, terbeban oleh banyak kecemasan, hilang atau tak punya pekerjaan, rumah tangga yang tak rukun dsb.

Yesus bertanya: Di mana pelitamu diletakkan? Kadang-kadang kita seperti pelita di bawah gantang. Menutup cahaya itu untuk diri kita sendiri. Menjadi egois, tidak mau berkomunikasi dengan sesama di sekitar kita. Curiga, takut satu sama lain karena tidak mau saling mengenal. Rasa dendam, benci dan iri hati. Contoh-contoh ini adalah gantang-gantang yang masih digenggam sehingga menutupi cahaya yang bersinar. Mungkin juga seperti lampu di bawah tempat tidur – simbol kenikmatan. Lelap dalam tidur karena ingin senang sendiri, tidak ingin diganggu, demi privasi.

Yesus mengingatkan kita hari ini agar mata kita terbuka dan fokus pada Dia yang bersinar. Yesus membangunkan kita untuk keluar dari kenyamanan-kenyamanan semu yang membuat kita tinggal dalam gelap. Tidak bersinar bahkan mungkin tak ada sinar yang bisa menjangkau kita. Yesus ingin agar kita menjadi pelita-pelita meskipun sederhana tapi bernyala dan nyalanya terus dijaga karena rahmat Tuhan tidak pernah sia-sia, bahkan berlipat ganda bagi mereka yang setia dan taat dalam menjalankan Sabda dan ajaran-Nya. Semoga!

 

 

 

Never give up!

Never give up!

Never give up!

 

Kis 22:3-16/Mrk 16:15-18

 

St. Paulus memberi kita sebuah pengakuan yang sangat personal tentang pertobatan. Ia menulis tentang proses pertobatannya sebagai sesuatu yang misterius melalui suatu perjumpaan dengan suara yang ia tak kenal. “Saul, Saul, kenapa engkau menganiaya Aku?”

Saul sama sekali tidak mengenal suara ini. Suara yang asing. Suara ini datang padanya dan tak seorangpun mengenal suara ini selain dirinya sendiri.

Meski suara ini asing baginya namun satu hal yang pasti bahwa Saul dengan tahu dan mau ingin menghancurkan orang-orang yang mengikuti Yesus.

“Akulah Yesus, orang Nazaret yang kau aniaya itu,” jelas suara itu.

Merenung tentang pertobatan St. Paulus membawa kita masuk ke dalam situasi yang absurd. Dalam situasi yang kelam, manusia tidak tahu apa yang ia perbuat. Amarah, benci, iri hati adalah kondisi-kondisi di mana manusia berada dalam kegelapan – simbol kematian. Di sini manusia berada dalam kondisi eksistensial yang persis berlawanan dengan terang – hidup itu sendiri – Allah.

Dalam banyak hal para mistik mengingatkan kita bahwa suara hati adalah satu-satunya instrumen yang dapat menuntun kita keluar dari situasi-situasi kontradiktif dan absurd. Hal ini persis di alami oleh Paulus sebelum pertobatannya.

Namun kegelapan tidak mengalahkan Saulus. Sebuah cahaya yang lain, suara yang suci turun dan membuka jalan baginya untuk melihat secara baru. “Aku tidak dapat melihat oleh karena cahaya yang menyilaukan mata itu.” Inilah titik temu antara hati nurani yang keliru yang menuntun kepada kebinasaan tetapi masih bisa diselamatkan oleh “cahaya” yang datang menjumpai dan menuntun ke jalan yang benar. Cahaya itu adalah “Terang yang sesungguhnya telah datang ke dalam dunia” menurut penginjil Yohanes (Yoh 1). Saksi-saksi “Terang yang sesungguhnya” adalah murid-murid Tuhan sendiri seperti Ananias dimana Saulus dituntun untuk bertemu dengannya, dibaptis dan dikuatkan untuk tugas yang baru di jalan yang benar: “Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya.” (22:14).

Akhir dari kisah pertobatan Paulus adalah bahwa ia menjadi manusia baru dengan hati nurani dan jiwa yang baru. Ia diselamatkan bukan oleh karena apa-apanya darinya sendiri tetapi karena kasih dan kerahiman, kuasa rahmat Allah itu sendiri. Allah selalu menginginkan yang terbaik yakni keselamatan manusia meski diliputi oleh salah dan dosa.

 

Syair-syair lagu Don Moen berikut mungkin bisa memberi inspirasi lebih dalam tentang kasih Tuhan yang selalu bekerja menuntun kita di jalan yang benar:

 

God will make a way

Where there seems to be no way

He works in ways we cannot see

He will make a way for me

 

He will be my guide

Hold me closely to His side

With love and strength for each new day

He will make a way, He will make a way …

 

Selamat merayakan pesta pertobatan St. Paulus – Rasul bangsa-bangsa.

 

 

Yesus dan keluarganya

Yesus dan keluarganya

Yesus dan keluarganya

 

Mrk 3:31-35:

 

Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia.

 

Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.”

 

Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”

 

Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!

 

Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

 

 

Ada kesan bahwa jawaban Yesus di atas  menunjukkan ketidakpedulian terhadap ibu dan saudara-saudari-Nya yang datang dari jauh untuk membawa-Nya pulang ke Nazaret. Hal ini mungkin dikarenakan oleh ketakutan mereka kalau Yesus ditangkap dan dihukum mati karena ajaran-Nya berseberangan dengan otoritas bangsa Yahudi.

Akan tetapi pesan yang terungkap di sini jelas dalam ayat terakhir teks di atas: “Barangsiapa melakukan kehendak Allah,” mereka itu saudara, saudari dan ibu Yesus.

Di sini Yesus secara eksplisit merevelasikan maksud dan tujuan utama dari kedatangan-Nya yakni melakukan kehendak Dia yang mengutus-Nya, yakni kehendak Bapa-Nya sendiri.

Kita bertanya: Kehendak siapakah yang kita lakukan dalam hidup kita sehari-hari?

Setiap orang memiliki kebebasan dan kehendak pribadi. Kehendak adalah kekuatan yang datang dari dalam hati manusia mendorongnya untuk melakukan sesuatu.

Yesus memanifestasikan apa yang sesungguhnya harus menjadi prinsip dasar setiap pengikut-Nya, yakni mengenal dan melakukan kehendak Bapa. Dengan mengenal kehendak Bapa kita didorong untuk melakukan perbuatan baik seperti Yesus yang menyembuhkan orang sakit dan membantu orang miskin, terutama orang-orang kecil dan sederhana.

Kehendak Allah terutama menerangi hati kita untuk bisa membedakan apa yang disebut godaan-godaan duniawi yang bisa menjerat dan menghancurkan hidup kita. Kehendak Allah membantu kita untuk memahami apa artinya kebebasan dan pilihan-pilihan yang kita jatuhkan dalam hidup. Berkat permandian ikatan-ikatan kekeluargaan dibarui dan diperluas dan dimasukkan ke dalam ikatan cinta dan kesatuan Ilahi kita dengan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Inilah realitas panggilan kita sebagai satu keluarga Allah. Keluarga yang tidak dibatasi hanya oleh ikatan darah dan ras, status dan golongan, nasionalitas dan kebudayaan tertentu melainkan oleh cinta dan pengorbanan tanpa pamrih sebagaimana dipersaksikan oleh hidup dan karya  Yesus sendiri. Yesus sebagai manifestasi kehadiran Allah adalah suara batin yang memanggil dan mengutus kita dalam merealisasikan kerajaan yang dibawa oleh-Nya, Kerajaan Allah Bapa di Surga. Semoga!

Yesus vs Beelzebul

Yesus vs Beelzebul

Yesus vs Beelzebul

Ibr 9:15, 24-28/Mrk 3:22-30

 

Dalam Injil hari ini Yesus dihadapkan dengan hujatan keras dari para ahli Taurat bahwa ia dikuasai oleh Beelzebul, dan dengan kuasa setan ia mengusir setan.

Dua tuduhan ini langsung diserang balik oleh Yesus:  suatu kerajaan yang melawan dirinya sendiri tak mungkin bertahan; dosa menghujat Roh Kudus tidak terampuni.

Pikiran para ahli Taurat terlihat jelas bertolak belakang dengan pikiran dan perbuatan Yesus yang menyembuhkan orang-orang sakit, termasuk yang sakit pikiran-jiwa karena dirasuki oleh roh-roh jahat.

Banyak kali kita lihat bahwa orang yang berbuat kebaikan justru ditantang, ditolak, dimusuhi. Banyak orang Kristen dibenci, dilarang beribadah, bahkan dianiaya karena iman yang mereka hayati dianggap mengganggu kenyamanan atau privasi orang dan golongan tertentu. Orang Kristen di Indonesia, dan di banyak tempat lain, dianggap kafir! Ada yang dikejar-kejar, diteror dan diusir keluar dari tempat tinggal mereka. Injil memperlihatkan bahwa Yesus bahkan lebih dari itu dianggap sebagai penghulu setan. Yesus selalu dimata-matai, dicari-cari kesalahannya, hingga akhirnya dijebak, mati disalib karena kegelapan hati dan kejahatan manusia.

Sayangnya, hingga kini bahkan sesama orang Kristen saling menghujat, bully, gosip dan memusuhi. Kita harus memohon ampun, serius dalam bertobat dan terutama berdoa dengan tekun dan terus-menerus bagi kesatuan umat Kristen.

Yesus karena itu memberi peringatan keras bahwa melawan Roh Kudus adalah dosa yang tak ada obatnya. Roh Kudus adalah pemersatu. Kita harus bersatu karena hidup dan perjalanan kita dibimbing oleh satu Roh, Roh Kudus sendiri. Kuasa Roh hidup dan bekerja dalam hati kita masing-masing. Ketika kita dibaptis saat itu kita masuk dalam bilangan para kudus keluarga Allah, Gereja.

Kita tidak tunggu sampai mati dulu baru dikuduskan dan masuk surga. Saat kita dibaptis kita sudah “mati bersama Kristus.” Mati dari ingat diri, mati dari ketakutan dan isolasi diri, mati dari dosa dan perhambaan dunia. Ego atau ingat diri menyempitkan pergaulan dan jangkauan pelayanan kita. Karena itu ego harus diperiksa terus-menerus dengan selalu dekat pada Yesus melalui  sabda dan sakramen. Ahli Taurat taat pada egonya sendiri, bukan pada Allah. Yesus yang berbuat baik malah didemonize,  dipersetankan. “Setan selalu membenci salib,” demikian kata seorang misionaris tua.

Yesus menerima salib dan memikulnya sampai mati. Roh Kristus adalah kekuatan kita. Salib adalah “makanan” kita sehari-hari. Salib itu menantang, menyakitkan, melukai. Akan tetapi cinta itu lebih kuat. Cinta itu menyembuhkan. Cinta itu menyatukan. Cintailah, layanilah meski harus terluka tanpa takut bersaksi tentang kebenaran. Di situlah kekuatan kita bersama Yesus yang terluka, tersalib, namun tetap berdiri tegak sebagai kebenaran itu sendiri, terus mencintai dan melayani. Karena itu hidup selalu ada makna dan tujuannya, yakni sebagai “anak-anak terang” kita mengambil bagian dalam tritugas pelayanan Yesus: imamat melalui persembahan diri yang utuh kepada Allah; kenabian dengan mengajar dan mewartakan kebenaran Injil; pelayanan kasih tanpa pamrih sebagai tugas rajawi.

 

Ya Bapa yang kudus, utuslah Roh Kudus dan sucikanlah kami sekali lagi dari dosa-dosa yang memisahkan kami satu dari yang lain. Terutama dosa kekerasan hati, ketidakpercayaan dan ketidaktaatan akan rencana-Mu yang mulia untuk menyelamatkan dan menyatukan kami dalam cinta Yesus, Putra-Mu. Amen!

Translate »