Browsed by
Month: May 2017

Radikalisme iman – menjadi roti hidup

Radikalisme iman – menjadi roti hidup

Radikalisme iman – menjadi roti hidup

Kis 7:51-8:1a/John 6:30-35

Yesus konsisten berhadapan dengan tuntutan orang-orang Yahudi yang meminta tanda agar mereka percaya kepada-Nya. Jawaban Yesus pada akhir percakapan berbunyi: “Akulah roti dari surga; barangsiapa datang kepadaku tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaku tidak akan pernah haus lagi.”

Inilah tanda yang diberikan Yesus, yakni memanifestasikan diri-Nya sendiri sebagai Mesias, sumber yang membawa hidup dan keselamatan bagi orang yang taat kepada-Nya. Kemesiasan Yesus terletak pada nilai keselamatan kekal. Nilai keselamatan ini secara penuh termanifestasi dalam dalam peristiwa salib. Di atas salib penderitaan dan kesetiaan Yesus pada kehendak Bapa merangkul setiap orang untuk mengalami kasih-Nya. Di sini setiap tindakan Allah adalah tindakan kasih, tindakan keselamatan. Maka dituntut pula kesetiaan yang radikal tanpa tedeng aling-aling dari pihak manusia. Setiap perjumpaan dengan kasih Allah ini selalu membawa transformasi dalam hati manusia untuk berbalik total dari hati yang membatu menjadi hati yang lembut, hati yang dingin menjadi hangat serta penuh kasih. Inilah hati baru yang ditransformasi oleh Roh Allah sendiri agar tahu bersyukur dan selalu ingin berbagi bagaikan “roti” Ilahi yang selalu siap untuk dibagi-bagikan dan dimakan.

Seperti apakah hati yang kita bawa dan ingin bagi-bagikan? Hati yang penuh kebencian atau hati yang penuh cinta kasih? Apakah kita ingin menjadi radikal seperti Yesus yang berkorban dengan dengan menjadi roti hidup, roti cinta kasih bagi hidup dan keselamatan orang lain, atau roti kebencian dan dengki yang membawa kematian? Apakah kita berani menjadi radikal untuk berbuat baik, menjaga hidup bersama atau kita justru menjadi semakin radikal dan barbarik untuk merusak tatanan hidup bersama?

Mari berdoa bagi bangsa Indonesia, kepala negara dan penegak hukum agar berani bertindak tegas, tidak takut melawan segala bentuk teror, brutalisme dan radikalisme palsu atas nama Tuhan, agama dan etnik – terutama di ibukota Jakarta agar orang tidak bertindak seenaknya dan tanpa menghormati hukum. #Saveuslord

Iman dan kerja

Iman dan kerja

Iman dan kerja

Kis 2:14.22-33/John 6:22-29

Sewaktu masih sebagai student tentu banyak di antara kita sering ditantang oleh para guru untuk belajar secara serius. Belajar, belajar dan belajar. Tentu salah satu gunanya untuk sukses dalam ujian. Memperoleh ijazah dan yang paling penting bisa mendapat pekerjaan dan berpenghasilan. Selanjutnya kalau sudah bekerja dan mendapat penghasilan, target selanjutnya adalah supaya hidup sekurang-kurangnya  berkecukupan dan tentunya supaya bahagia.

Hari ini Yesus menarik perhatian kita lebih dalam. Kepada orang-orang yang mencari dan mengikuti Dia, Yesus berkata: Kamu mengikuti Aku bukan karena tanda-tanda yang kamu saksikan, melainkan karena makanan yang telah kamu makan dan membuat kamu kenyang.

Di sini Yesus membedakan dua macam makanan: makanan duniawi dan makanan Ilahi. Yesus menekankan yang terakhir sebagai target utama hidup manusia. Makanan Ilahi membawa kepuasan sejati dan hidup kekal.

Manusia harus bekerja dan butuh makan. Tapi makanan kita yang seharusnya bukanlah yang mengenyangkan perut dan berhenti di situ saja melainkan lebih dari itu agar jiwa kita tenang dan damai.

Yesus secara terus terang mengarahkan kita kepada arti dan hakikat yang  sesungguhnya dari setiap pekerjaan yang kita lakukan dan hasilnya, yakni harus didasarkan pada iman akan Dia yang diutus oleh Bapa, yakni Kristus sendiri. “Untuk apa memiliki seluruh dunia” tanpa Kristus, tanpa hidup kekal. Kristus dan sabda-Nya adalah makanan kita yang sesungguhnya. Melalui Ekaristi kita berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah. Melalui sabda dan sakramen kita diangkat ke tingkat pengertian yang benar akan makna dan tujuan hidup yang benar, yakni hidup dalam Roh Kudus.

Banyak dari kita menghayati spiritualitas marxian: kerja, kerja dan kerja! Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan badan, perut kenyang. Setiap orang butuh makan. Sama sekali tidak salah memang. Tapi tidak sampai di situ saja. Kita lebih membutuhkan Spirit, Roh Yesus sendiri untuk menjiwai kita setiap hari.

Spiritualitas Kristiani mengingatkan kita bahwa kerja itu penting, tapi apakah di dalam kerja itu ada iman? Apakah Allah disertakan dalam pekerjaan? Apakah Yesus adalah sahabat, contoh dan model dalam bekerja? Ataukah kita cuma kerja seorang diri, makan seorang diri dan nanti semua juga berakhir seorang diri? Banyak orang selama bertahun-tahun hidup, bekerja tapi tanpa iman, tanpa Tuhan. Terus apa arti dan nilai hidup itu sendiri?

Kalau demikian, marilah kita merendahkan diri di depan Tuhan. Membuka hati dan memohon sekali lagi kepada Tuhan agar memberi, membaharui, menganimasi kita agar kita bekerja dan percaya, bekerja tapi juga beriman. Dalam iman kita memuji dan memuliakan Bapa dalam setiap pekerjaan dan pelayanan kita. Secara khusus agar kita selalu dekat dan bersahabat dengan orang-orang yang kurang beruntung karena tidak ada kerja, kehilangan pekerjaan, tidak bisa kerja karena cacat, menderita sakit dsb., sehingga mereka juga dapat hidup layak dan pantas sebagai anak-anak dari Bapa, Tuhan kita Yesus Kristus, Sang Empunya setiap kerja yang dipercayakan kepada setiap kita. Amen.

Alex Sila SVD

 

Translate »