Iman dan kerja
Iman dan kerja
Kis 2:14.22-33/John 6:22-29
Sewaktu masih sebagai student tentu banyak di antara kita sering ditantang oleh para guru untuk belajar secara serius. Belajar, belajar dan belajar. Tentu salah satu gunanya untuk sukses dalam ujian. Memperoleh ijazah dan yang paling penting bisa mendapat pekerjaan dan berpenghasilan. Selanjutnya kalau sudah bekerja dan mendapat penghasilan, target selanjutnya adalah supaya hidup sekurang-kurangnya berkecukupan dan tentunya supaya bahagia.
Hari ini Yesus menarik perhatian kita lebih dalam. Kepada orang-orang yang mencari dan mengikuti Dia, Yesus berkata: Kamu mengikuti Aku bukan karena tanda-tanda yang kamu saksikan, melainkan karena makanan yang telah kamu makan dan membuat kamu kenyang.
Di sini Yesus membedakan dua macam makanan: makanan duniawi dan makanan Ilahi. Yesus menekankan yang terakhir sebagai target utama hidup manusia. Makanan Ilahi membawa kepuasan sejati dan hidup kekal.
Manusia harus bekerja dan butuh makan. Tapi makanan kita yang seharusnya bukanlah yang mengenyangkan perut dan berhenti di situ saja melainkan lebih dari itu agar jiwa kita tenang dan damai.
Yesus secara terus terang mengarahkan kita kepada arti dan hakikat yang sesungguhnya dari setiap pekerjaan yang kita lakukan dan hasilnya, yakni harus didasarkan pada iman akan Dia yang diutus oleh Bapa, yakni Kristus sendiri. “Untuk apa memiliki seluruh dunia” tanpa Kristus, tanpa hidup kekal. Kristus dan sabda-Nya adalah makanan kita yang sesungguhnya. Melalui Ekaristi kita berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah. Melalui sabda dan sakramen kita diangkat ke tingkat pengertian yang benar akan makna dan tujuan hidup yang benar, yakni hidup dalam Roh Kudus.
Banyak dari kita menghayati spiritualitas marxian: kerja, kerja dan kerja! Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan badan, perut kenyang. Setiap orang butuh makan. Sama sekali tidak salah memang. Tapi tidak sampai di situ saja. Kita lebih membutuhkan Spirit, Roh Yesus sendiri untuk menjiwai kita setiap hari.
Spiritualitas Kristiani mengingatkan kita bahwa kerja itu penting, tapi apakah di dalam kerja itu ada iman? Apakah Allah disertakan dalam pekerjaan? Apakah Yesus adalah sahabat, contoh dan model dalam bekerja? Ataukah kita cuma kerja seorang diri, makan seorang diri dan nanti semua juga berakhir seorang diri? Banyak orang selama bertahun-tahun hidup, bekerja tapi tanpa iman, tanpa Tuhan. Terus apa arti dan nilai hidup itu sendiri?
Kalau demikian, marilah kita merendahkan diri di depan Tuhan. Membuka hati dan memohon sekali lagi kepada Tuhan agar memberi, membaharui, menganimasi kita agar kita bekerja dan percaya, bekerja tapi juga beriman. Dalam iman kita memuji dan memuliakan Bapa dalam setiap pekerjaan dan pelayanan kita. Secara khusus agar kita selalu dekat dan bersahabat dengan orang-orang yang kurang beruntung karena tidak ada kerja, kehilangan pekerjaan, tidak bisa kerja karena cacat, menderita sakit dsb., sehingga mereka juga dapat hidup layak dan pantas sebagai anak-anak dari Bapa, Tuhan kita Yesus Kristus, Sang Empunya setiap kerja yang dipercayakan kepada setiap kita. Amen.
Alex Sila SVD