Browsed by
Month: July 2017

Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil

Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil

Renungan Harian

Rabu, 12 Juli 2017

Injil: Mat 10:1-7

Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil

Sabda Yesus tentang pertobatan dan iman berhubungan erat dengan sabdaNya, “…enaklah kuk yang Kupasang dan ringanlah beban-Ku.” (Mat 11:30). Bertobatlah merupakan kuk dan percayalah mengarah kepada beban.

Saya masih ingat ketika akan membaptis seorang bapak di pedalaman Papua Nu Gini. Bapak itu bertanya, apakah kalau dia dibaptis, serta-merta penyakit asmanya akan hilang. Pertanyaan itu mengarah kepada pertanyaan, apakah ada hubungan langsung antara pertobatan dan percaya dengan hilangnya beban hidup.

Jawabannya tentu tidaklah mudah. Ada beberapa contoh di dalam Injil tentang penyembuhan bahkan pembangkitan orang mati. Peristiwa-peristiwa itu dilakukan oleh Yesus agar orang-orang yang mengerti konteks kerohanian Israel menjadi percaya kepadaNya sebagai penebus yang turun dari surga untuk menyelamatkan umat manusia.

Kebanyakan orang tidak mengalami mukjijat semacam itu. Namun tidak berarti mereka yang tidak mengalami mukjijat itu tidak diselamatkan. Tidak tentu saja. Undangan keselamatan berlaku untuk siapa saja dari semua jaman. Kuncinya adalah kesediaan untuk terus menerus bertobat dan memperbaharui iman.

Mengapa kita perlu terus menerus bertobat dan memperbaharui iman setiap saat? Kita manusia biasa yang belum menjadi seperti malaikat. (Mat 22:30) Meskipun kita sudah di baptis-dengan demikian dosa asal kita sudah dihapuskan, namun kita masih memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa pribadi.

Pertobatan merupakan proses. Tobat mulai dari refleksi pikiran, saya mengetahui bahwa hal-hal yang biasa saya lakukan itu adalah salah, tidak sesuai dengan ajaran gereja, dan tidak baik. Kemudian tobat berhubungan dengan kehendak hati, apakah saya sungguh-sungguh dengan hati bersedia meninggalkan cara hidup yang lama yang tidak sesuai dengan Injil. Kalau kedua situasi di atas sudah terpenuhi tinggal satu langkah lagi menuju pertobatan sejati yakni apakah saya bisa kuat dalam memelihara status kehidupan yang baru saja saya perbaharui.

Proses pertobatan itu kelihatannya panjang dan rumit, namun kalau kita bersedia menjalaninya, tidaklah sesulit seperti yang kita bayangkan. Mengapa? Karena Tuhan Yesus membantu kita mengangkat kuk pertobatan itu sehingga menjadi ringan. Kita ingat kisah pertobatan Mateus, Zakheus, Paulus dan Agustinus. Yang diharapkan diri kita adalah keyakinan bahwa Yesus membantu kita melalui kekuatan Roh Kudus bahwa kita tahu-mau-mampu untuk bertobat.

Percaya kepada Injil bukan hanya merupakan ungkapan penyerahan diri kepada Kabar Suka Cita bahwa Allah berkenan mengutus AnakNya yang tunggal turun ke dunia utntuk menyelamatkan kita. Kepercayaan hendaknya dimotivasi karena cinta: mencintai dan dicintai.

Sebagai contoh, mengapa kita datang terlibat dalam perayaan Ekaristi setiap hari Minggu atau bahkan setiap hari? Hal itu kita lakukan bukan karena kewajiban sebagai umat, melainkan karena kita mencintai Tuhan Yesus yang telah mencintai kita terlebih dahulu. Orang yang saling jatuh cinta tidak setiap hari mengalami kegembiraan dalam hidup; perasaan-perasaan mereka berubah-ubah namun mereka tetap bertemu untuk menunjukkan rasa cinta.

Perayaan Ekaristi kita hadiri dengan menyatakan pertobatan di awal perayaan dan cinta diungkapkan ketika kita menerima Tubuh dan Darah Kristus.

Aku ini gembala yang baik.

Aku ini gembala yang baik.

Renungan Harian

Selasa, 11 Juli 2017

Injil: Mat 9:32-38

Aku ini gembala yang baik.

Beberapa tahun yang lalu saya pernah diminta mendampingi seorang frater-calom imam dan seorang postulan-calon suster selama dua tahun. Kedua orang muda ini bergulat dalam memahami hidup sebagai religius. Pergulatan mereka tidaklah mudah. Di satu pihak mereka memiliki iman yang sejati. Mereka percaya pada Tuhan sebagai penyelamat umat manusia yang memanggil mereka untuk menjadi seorang imam dan suster walaupun kaul-kaul kemiskinan, ketaatan dan kemurnian tidaklah dihayati dengan sempurna karena temperamen natural mereka.

Keduanya bergulat untuk memahami kehidupan dunia dewasa ini yang ditandai dengan pragmatisme, kerja yang berlebihan (workaholic), sikap individualistic yang berlebihan, dan berbagai macam addictions: drugs, pornography, sex-infidelity. Sangatlah tidak mudah pada jaman ini menjadi seorang religius; bahkan untuk menjadi seorang katolik yang baik dibutuhkan banyak hal untuk bisa memelihara iman akan Yesus Kristus penyelamat dunia.

Akhirnya postulan calon suster itu memilih meninggalkan biara karena ia merasa dirinya terlalu duniawi; ia mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai hidup duniawi dan sangat sensual. “Saya tidak bisa melayani Tuhan dan Gereja karena saya memiliki begitu banyak energy untuk kreatifitas dan sangat erotis. “Sedangkan frater itu memilih terus berjuang, dua tahun kemudian ditahbiskan sebagai seorang diakon kemudian dua tahun berikutnya imam.

Menjadi seorang gembala yang baik memanglah tidak mudah. Kita semua dipanggil untuk menjadi gembala. Kita semua, perempuan, laki-laki, religius, non-religious, imam, awam, orang tua, single, dipanggil untuk menjadi seperti Kristus sendiri. Menjadi gembala yang baik berarti berani meninggalkan yang 99 dan mencari 1 domba yang hilang. Ketika kita terlibat aktif di kegiatan gereja: Ekaristi, bakti sosial, apapun, kita cenderung menjadi senang kalau banyak yang datang dan sedih kalau hanya sedikit yang hadir.

Sedikit atau banyak yang ikut kegiatan menggereja sebenarnya bukanlah yang paling menjadi pusat perhatian. Kita hendaknya lebih memusatkan perhatian kepada mereka yang tidak datang ke Misa dan Bakti sosial. Ada banyak alasan mengapa terjadi demikian. Kita bisa melihat salah satu alasannya adalah kalau tingkat kehidupan ekonomi keluarga dan masyarakat meningkat menjadi membaik kebanyakan orang Katolik dan yang beragama lain tidak lagi melibatkan diri dalam keagamaan. Allah kemudian hanya menjadi sebuah “calling card”-dipanggil kalau sedang dibutuhkan.

Kabanyakan keluarga katolik dan masyarakat kita ini sedang “sakit”. Anda bisa menemukan sendiri macam apa itu penyakit-penyakit yang melanda keluarga-keluarga kita dan masyarakat. Kita dipanggil untuk menjadi gembala-gembala yang baik. Gembala yang baik adalah gembala yang mencintai domba-dombanya tidak dengan sikap kekuatiran yang posesif melainkan percaya bahwa domba-domba Tuhan itu adalah anak-anak kita yang masih remaja yang belum sempurna.

Umat yang tidak lagi kegereja karena hidup mereka yang terlalu mendunia termasuk over stimulasi dalam hal sex, penyalahgunaan obat-obatan, ketidaksetiaan pada pasangan hidupnya yang sah, kerja mencari nafkah yang berlebihan, atau pun terlalu miskin, semuanya itu bisa menghacurkan jiwa. Kita dipanggil untuk menyelamatkan jiwa-jiwa mereka.

Menyelamatkan jiwa-jiwa mereka tidak berarti mencari mereka kemudian mengambil mereka dari dunia mereka dan memisahkan mereka dari dunia ini. Melainkan bagaimana kita mendampingi mereka dalam pergulatan hidup sehari-hari sedemikian rupa sehingga berbekalkan baptisan iman mereka menjadi kuat dalam menghadapi tantangan dan godaan; sedemikian rupa sehingga mereka tetap bekerja di dalam dunia namun tidak berdosa melainkan mampu menjadi terang dan garam dunia.

Prakteknya bagaimana? Mari kita cari bersama.

Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil.

Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil.

RENUNGAN HARIAN

Senin, 10 Juli 2017

Injil: Mat. 9:18-26

Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil.

Kita hidup dalam situasi yang terpecah-pecah. Ketika penyakit datang melanda tubuh kita jiwa kita bisa terpecah membuat kita menjadi tertekan. Kematian memecah belah semua unsur-unsur kimiawi dalam tubuh kita. Ketika jiwa meninggalkan tubuh dalam kematian unsur-unsur kimiawi yang semula bersatu dalam keharmonisan dan memberikan kehidupan-karena peranan jiwa- kini mereka menjadi liar dan bergerak sendiri-sendiri dan akhirnya membusuk dan lenyap.

Kerohanian dan keduniawian pun dipecah. Kerohanian dipandang sebagai anti apa saja yang bersifat duniawi: kenikmatan. Allah dipandang sebagai sumber kerohanian saja dan dipandang sebagai Tuhan yang membiarkan diriNya dianiaya tanpa mengeluh. Keduniawian dipandang sebagai yang anti agama dan anti penderitaan. Kita hidup dalam suasana keterpecahan.

Dalam situasi keterpecahan itu, hari ini kita diajak oleh Injil untuk merenungkan Penebus kita Tuhan Yesus Kristus. Dia rela mati tanpa pamrih demi menyelamatkan umat manusia. Kisah penyembuhan dan pembangkitan yang diwartakan kepada kita hari ini mengajak kita untuk melihat jauh ke depan dan mengalami hal-hal yang jauh lebih besar daripada mukjijat-mukjijat yang diwartakan tadi. Penebusan kita atas dosa-dosa yang menghantar kita ke kehidupan abadi inilah mukjijat yang jauh lebih besar dan berarti dibandingkan penyembuhan dan pembangkitan orang mati tadi.

Kisah penyembuhan dan pembangkitan memang penting untuk diwartakan agar kita memiliki harapan akan situasi yang lebih baik. Namun kita harus juga sadar dan tidak boleh naif. Mereka yang telah disembuhkan dan dibangkitkan oleh Yesus, akan mengalami barangkali tidak sakit kembali tetapi yang jelas akan mengalami kematian kembali. Masalahnya adalah sering orang terpukau dan terpaku pada mukjijat-mukjijat itu dan lupa akan hal-hal yang jauh lebih besar yakni penebusan orang-orang beriman dari dosa-dosa.

Kita sering berdoa mohon mujijat penyembuhan bahkan mukjijat menang lottery. Dan setelah doa kita dikabulkan kita lupa untuk secara rutin mengucapkan syukur dan terima kasih dalam perayaan Ekaristi. Hari ini kita diingatkan untuk bersedia merayakan peristiwa penebusan kita dalam Perayaan Ekaristi setiap Minggu bahkan jika mungkin setiap hari. Perayaan Ekaristi adalah makanan dan minuman surgawi-Tubuh dan darah Kristus yang menopang kesehatan fisik, mental dan kerohanian kita. Perayaan Ekaristi menjadi kita semua di dalam persatuan untuk menghindari perpecahan.

Ketika keluarga menjadi tidak harmonis dalam komunikasi; kesatuan suami-isteri terancam

Yoke

Yoke

Yoke

 

14th Sunday in the Ordinary Week

July 9, 2017

Matthew 11:25-30

 

“Take my yoke upon you and learn from me, for I am meek and humble of heart; and you will find rest for your selves.  (Mat 11:29)”

 

Yoke is a device, usually of wood, placed on the shoulder of animals or persons to carry a burden. In agricultural settings, a yoke is used to pull a plow to make a furrow on the ground so that the soil will be ready for the seed planting. But, a yoke can be used also to drag a cart and transport various goods. Because its primary function is to carry a load or burden, a yoke turns to be a symbol of responsibility, hard work, and obligation. In our seminary in Manila, a leader among the brothers is called a decano. In the beginning of the formation year, we elect our decano, and as he assumes his responsibility, he ceremonially receives a wooden yoke from the outgoing decano. The yoke reminds him of responsibility and great task that he has to endure through the year. 

In the Bible, a yoke often symbolizes a means of oppression and slavery. The yoke reminds the Israelites how they lived as slaves in Egypt. The yokes were placed upon their shoulders and they have to carry heavy materials, and to work for the construction of Egyptian colossal buildings. At the time of Jesus, the yoke has slightly evolved to symbolize tedious religious obligation. When Jesus criticized some of the Pharisees and Jewish religious leaders for putting so much emphasis on the details of the Law and rituals, and forgetting what truly the essentials, Jesus called this practice as the yoke of the Pharisees.  

However, in today’s Gospel we learn that Jesus asks us to carry His yoke. Wait! Does it mean like the Pharisees, Jesus also wants us to carry a yoke of burden? Jesus clarifies further that His yoke is easy and my burden is light. So, Jesus’ yoke is just less burdensome compare to that of the Pharisess, yet it is still a yoke, a load. How then we can be truly restful if it is just a matter of changing of yoke? 

To understand Jesus’ yoke, we need to know that in ancient Israel, like in our time, there are different kinds of yokes. There is a yoke for a single animal, but there is also a yoke that unites two animals together in pulling the burden. When Jesus speaks about His yoke, He is referring to this yoke for two animals or persons. When we carry the yoke of Jesus, it does not mean that Jesus simply gives us the yoke for us alone to shoulder, but we carry it together with Jesus. It is not a transferring of responsibility, but sharing of the burden. And when we feel tired and exhausted because of the heavy burden, we can rest a while since Jesus is the one who now carries the burden for us. In fact, as a carpenter, He knows best how to make a yoke more convenient to carry. That is the yoke of Jesus.

We are carrying the yoke of life with Jesus. And indeed it is a great consolation for us. We are burdened by so many problems in life and often it is too heavy to bear. Yet, we are never alone. Jesus is bearing the yoke for us, the Church is working together with us, our family and friends are one with us. This gives us rest in trial time, yet when others’ life are heavy, like Jesus, we are also helping in carrying others’ yoke, because it is only one yoke, the yoke of Jesus.

 

Br. Valentinus Bayuhadi RUseno, Op

Translate »