Mengapa Yesus Memanggil Para Murid-Nya
Mengapa Yesus Memanggil Para Murid-Nya
Selasa pada Pekan Biasa ke-23
12 September 2017
Lukas 6:12-19
“Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul (Luk 6:13)”
Yesus memanggil dan memilih para murid-Nya. Mereka juga yang akan menjadi para rasul Yesus. Namun, apakah kita pernah bertanya mengapa Yesus perlu ‘merekrut’ murid-murid ini? Dia bisa menyembuhkan orang sakit, menggandakan roti bagi yang lapar, mengusir setan, menenangkan badai,dan bahkan membangkitkan orang mati, tetapi mengapa Dia tetap memilih beberapa orang untuk menjadi rekan kerja-Nya? Singkatnya, jika Dia adalah Tuhan yang mahakuasa, mengapa Dia masih meminta bantuan manusia dalam menjalankan misi-Nya?
St. Agustinus menjelaskan misteri iman kita ketika ia berkata, “Tuhan menciptakan kita tanpa kita: tetapi ia tidak berkehendak untuk menyelamatkan kita tanpa kita.” Dengan kata lain, Yesus ingin kita juga berpartisipasi dalam misi menyelamatkan-Nya. Mengapa? Kita bisa melacak jawaban dariidentitas Allah kita. St. Yohanes mengatakan bahwa Allah adalah kasih. Hanya kasih sejati yang memberi kita kebebasan yang otentik. Jadi, jika anda sangat posesif dan suka mengatur pasangan anda, maka anda dapat mulai meragukan dan bertanya cinta macam apa yang anda miliki untuk dia. Kasih sejatimemberdayakan dan memampukan kita untuk tumbuh dan akhirnya berdiri pada kaki kita sendiri. John Maxwell, seorang guru kepemimpinan, berkata bahwa seorang pemimpin sejati akan ‘menambah nilai’ bagi rekan kerja sehingga mereka dapat mencapai potensi maksimal mereka.
Seandainya Yesus melakukan segala sesuatu sendiri, manusia akan tetap dalam keadaan kekanak-kanakan yang permanen. Kita tidak pernah tahu arti kasih, pengorbanan dan komitmen yang sesungguhnya. Ini bukan kasih sejati. Yesus memanggil murid-murid bukan untuk menjadi murid selamanya,tetapi mereka akan menjadi rasul, seseorang yang diutus dengan misi.
Yesus mengundang para murid-Nya untuk menjalani masa ‘formasi’, dan sering menjadi bagian dari pelatihan ini adalah pengalaman rasa sakit, kehilangan dan kegagalan. Puncak dari pengalaman ini adalah penderitaan dan kematian Yesus di Kalvari. Murid-murid percaya bahwa Yesus akan menjadiraja politik baru dari orang-orang Yahudi, dan harapan mereka semakin memuncak ketika Yesus memasuki Yerusalem dengan penuh kemenangan. Tapi, semua impian mereka tiba-tiba hancur ketika Yesus ditangkap, disiksa dan disalibkan seperti penjahat hina lainnya. Namun, ini juga bagian daripembentukan mereka. Sang Guru yang baik mengizinkan itu terjadi sehingga Dia sekali lagi akan bisa ditemukan, sepenuhnya hidup dan segar. Dalam kebangkitan-Nya, Dia menyembuhkan dan membuat kembali utuh hati murid-murid-Nya. Petrus dan sepuluh lainnya telah dibebaskan ketidakdewasaan mereka dan siap untuk mengemban misi Guru mereka dan menjadikan sebagai milik mereka.
Yesus mengasihi kita. Itulah sebabnya Dia memanggil kita, menjadikan kita murid-Nya melalui proses yang tidak mudah dan mengubah kita menjadi serupa dengan-Nya. Sekarang, giliran kita untuk mengasihi dan memberdayakan sesama kita seperti halnya yang Yesus telah lakukan.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Sabat
Sabat
Senin pada Pekan Biasa ke-23
11 September 2017
Lukas 6:6-10
Sabat adalah hari istirahat dan hari yang kuduskan untuk beribadah. Bangsa Israel pernah menjadi budak yang terus bekerja tanpa henti di Mesir, dan sekarang mereka telah bebas karena karya penyelamatan Tuhan. Untuk mengingatkan mereka agar tidak lagi menjadi budak dari pekerjaan, hari Sabat menjadi sarana untuk mengingatkan kebebasan mereka. Jadi, hari Sabat sesungguhnya adalah hari kebebasan dan kemerdekaan.
Pada zaman Yesus, para rabi telah menentukan setidaknya ada 39 kegiatan yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat, seperti memasak, membangun rumah, dan berpindah lokasi. Tentunya, ada beberapa pengecualian seperti dalam hal-hal darurat seperti membawa ibu yang mau melahirkan ke bidan. Banyak hal tidak diperbolehkan, tetapi ada juga hal-hal yang mendapat prioritas pada hari Sabat, seperti mengunjungi rumah ibadat, berdoa, membaca Hukum Taurat, dan juga berkhotbah.
Yesus sedang beribadah dan mengajar di sebuah rumah ibadah, dan dia menyadari bahwa beberapa Farisi terus mengawasi Dia. Menyadari bahwa ada seorang yang mati tangan kanannya, Yesus mengambil kesempatan ini untuk mengajar di hari Sabat. Yesus mengerti bahwa kasus orang yang mati tangan kanannya bukanlah sesuatu yang mendesak dan Yesus bisa menunggu keesokan harinya, tetapi Yesus melakukan hal yang sebaliknya. Dia menempatkan sang pria ditengah-tengah rumah ibadah dan bertanya apakah perbuatan baik diperbolehkan pada hari Sabat. Ia pun menyembuhkannya. Tentu hal ini membuat para Farisi marah, tetapi Yesus telah mengajarkan kita tentang makna sejati dari Sabat.
Sabat adalah hari pembebasan dan menjadi sebuah ironi jika hari Sabat malah memperpanjang penderitaan seseorang yang telah “diperbudak” oleh sakitnya dalam kurun waktu yang cukup lama. Ini adalah makna sesungguhnya dari Sabat: sebuah kebebasan sejati dari penderitaan.
Tentunya, sebagai seorang Kristiani, kita tidak merayakan hari Sabat, tetapi kita menghidupi semangat Sabat yang diajarkan Yesus sendiri. Pertanyaan sekarang: apakah kita masih diperbudak oleh beban dosa walaupun sudah ditebus oleh Kristus? Apakah kita masih ‘memperbudak’ orang lain dengan tindakan dan kebijakan kita yang arogan? Apakah kita sekedar merayakan ibadah tanpa melalukan apa-apa bagi saudara-saudari kita yang masih hidup tertindas dalam kemiskinan?
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
23rd Sunday in Ordinary Time
Fraternal Correction
23rd Sunday in Ordinary Time
September 10, 2017
Matthew 18:15-20
“If your brother sins (against you), go and tell him his fault between you and him alone. If he listens to you, you have won over your brother. (Mat 18:15)”
Jesus understands that in any human community, including His own community of disciples, or the Church, there are always members affected by human weakness and sinfulness. Even in the Christ-oriented communities like the religious convents, the parishes, and various ministries and groups in the Church, inevitably we are hurting each other. Thus, Jesus, the Just God and merciful man, outlines a procedure or ‘fraternal correction’ to deal with misunderstanding, quarrels, and conflicts. It begins with the individual and personal encounter, then when it does not work, we ask the help of a witness or mediator, and lastly it goes up to the community level.
Every stage is important, but the first step is always decisive. The first level is challenging because it requires both humility to accept one’s weakness as well as prudence to express the message of reconciliation in a charitable manner. Yet, the temptation is that either we skip this preliminary level or we execute it without charity. Without mercy, things will just get worse, and the individual encounter will collapse or even turn violent. Often also, to avoid direct confrontation, we jump to the next level. Instead talking personally and privately to the person, we expose them to the public. Either we talk behind them, even creating gossips, or we shame and humiliate them in public. I myself are struggling with this process of fraternal correction. I am basically introvert, and I have tendency to keep things to myself and avoid direct confrontation. Things may seem peaceful, but I know I do not resolve the problems.
The first step is fundamental because after all, we all are members the same community, the same Church. We are all children of God, and thus, brothers and sisters to one another. As our Father in heaven deals mercifully with us, we are also learning to deal with others in mercy. Being merciful means willing to talk and try to understand the other side of the corner. Often, after being offended, we just do nothing but harbor prejudices, then fueling more anger and grudges, but perhaps, they have their own stories that need to be heard. Once in my Postulancy, I got annoyed with an outspoken brother who often criticized me. Later, I discovered also many brothers had the same sentiment. Sometimes, things got escalated, and some brothers refused to talk to him anymore. Till one day, we had a faith sharing, and we learned that he came from a dysfunctional family. His father left the family, and as the oldest son, he had to work and assume the responsibilities for his younger siblings. He had a hard life and he had to be tough also to discipline his younger siblings. Then, we understood why he was also tough with us, his younger brothers.
Often we understand the stages of fraternal correction ends with things settled by the community or Church, but actually Jesus offers one final step. We need to pray. Before we begin the entire process, we should pray. When we bring things to God in prayer, we are no longer controlled by emotions, we start to suspect the good in others, and we have more serenity to forgive. At the end of the process, we pray together asking for forgiveness and healing. My friend and brother in the Order, John Paul, does not agree that time heals. For him, time does not heal, but only God heals. We remember that when two or three people, especially those are in conflict, gather together in prayer, Jesus is there.
Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria
MI 5:1-4A
Mat 1:1-16,18-23
Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria
Santa Perawan Maria dipilih untuk melahirkan Yesus Kristus Sang Mesias. Karena itu Maria telah disiapkan sejak semula oleh Allah sendiri. Maria terkandung tanpa noda asal dan dipilih untuk tugas mulia menjadi Ibu Sang Mesias. Oleh karena itu pesta kelahiran Maria adalah kegembiraan semua orang beriman karena karena ketaatannya kepada Allah dan kerendahan hatinya Yesus Kristus dilahirkan dan akhirnya seluruh umat manusia terselamatkan karena penebusan dari Tuhan Yesus Kristus.
Karena perannya yang sangat penting ini maka Maria mendapat tempat yang istimewa dalam Gereja. Dia adalah Bunda Gereja dan bagi semua orang beriman. Kesaksian hidup Bunda Maria telah mengispirasi kita untuk selalu berjuang untuk setia kepada Yesus Kristus. Sudah sepantasnya kita menghormati Bunda Maria dan memohon doa-doa dari Bunda Maria agar kita selalu bersikap rendah hati dan penuh dengan iman.
Bunda Maria selalu mendoakan anak-anaknya karena siapa saja yang percaya kepada Kristus berarti menerima Bunda Maria menjadi Bunda/Ibu. Sebagai Ibu, Maria sangat dekat dengan anak-anaknya. Maka jika orang percaya dan memohon pertolongan dari Bunda Maria maka ia segera menyampaikan kepada putra nya; Yesus Kristus. Kita bersyukur memiliki Bunda Maria yang senantiasa ada dan mau menemani dan siap memberikan pertolongan kepada semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus..
Marilah berdoa,
Allah yang maha kasih, kami bersyukur atas anugerah iman yang kami terima. Dengan iman itulah kami bisa menerima sebagai Bunda Maria Santa Perawan Maria dan sebagai Bunda Gereja. Doronglah kami selalu setia kepada Yesus Kritus seperti sudah diteladankan oleh Bunda Maria. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami, Amin.
