Browsed by
Month: September 2017

ORANG YANG PERCAYA YESUS MENERIMA KEKUATAN

ORANG YANG PERCAYA YESUS MENERIMA KEKUATAN

Lubuk Hati, Kamis, 7 September 2017

 

Kol 1:9-14

Luk 5:1-11

 

ORANG YANG PERCAYA YESUS MENERIMA KEKUATAN

 

Yesus datang untuk menyatakan betapa besarnya kasih Allah kepada umatnya. Yesus berkeliling ke rumah-rumah untuk memberikan harapan dan keselamatan kepada umatNya.  Bagi orang yang percaya tidak akan ada mustahil. Oleh karena itu bagi orang beriman hidup adalah perjalanan yang layak disyukuri dan berusaha mempersembahkan diri kapada Allah dalam pelayanan.

 

Iman menjadi sesuatu yang terpenting dalam hidup karena kehidupan datang dari Allah Sang Pencipta. Dengan iman orang bisa mengerti apa tujuan manusia diciptakan dan sadar bahwa kekuatan yang bisa menopang hidup manusia adalah Allah sendiri. Jika orang selalu bersama dengan Tuhan maka orang tidak akan kehabisan kasih, suka cita dan harapan  dalam hidup  sehingga dimanapun mereka berada mereka akan menjadi terang dan garam dunia.

 

Tantangan sebagai orang beriman adalah dirinya sendiri jika ia tidak mau melepaskan ikatan-ikatan duniawi.  Iman membutuhkan penyerahan diri dan fokus untuk setia mendengarkan Tuhan Yesus dan melaksanakan kehendak Nya.  Banyak mujizat dan keajaiban terjadi jika iman yang kokoh selalu dihayati . Berbahagialah orang percaya karena namanya dicatat dalam buku kehidupan dan pada akhirnya masuk dalam kerajaan Surga.

 

Marilah berdoa,

Allah yang Maha Kasih, ajarilah kami untuk selalu setia melakukan kehendakMu. Kuatkanlah iman kami jika kami lemah. Kepada Mu kami bersandar sebab hanya dalam kuasa dan kasihMu kami hidup, Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami, Amin.

KERAJAAN ALLAH

KERAJAAN ALLAH

Kol 1:1-8

Luk 4:38-44

 

Yesus datang untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Tanda hadirnya Kerajaan Allah adalah kasih dan keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus. Dia dengan ketulusan dan cinta melayani manusia; yang sakit disembuhkan, yang putus-asa dikuatkan, yang bimbang dituntun, yang berdosa menerima pengampunan, yang mati dihidupkan, dll. Dengan demikian Kerajaan Allah adalah kehadiran Yesus Kristus yang menyatakan cintaNya kepada manusia. Semua orang yang menerima dan percaya kepada Nya memperoleh pengampunan dan keselamatan dalam surga.

 

Yesus berkeliling menjumpai semua orang untuk membawa mereka pada keselamatan. Apakah mereka semua menanggapi secara positif tawaran kasih Allah tersebut? Semua orang yang datang dan percaya kepada Yesus Kristus adalah orang yang berbahagia karena yang terjadi sebenarnya adalah Allah sendirilah yang menarik orang-orang tersebut kepada Nya. Allah menganugerahkan panggilan sebagai murid Kristus kepada orang-orang pilihan Nya.

 

Oleh karena itu sudah sepantasnya sebagai orang yang percaya kepada Kristus bersyukur atas panggilan tersebut.  Anugerah cuma-cuma yang diterima sudah selayaknya dihayati dan dibagikan kepada sesama dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang mulia dan penuh kasih. Kerajaan Allah benar-benar terwujud jika masing-masing pribadi percaya kepada Yesus Kritus dan hidup saling mengasihi. Dengan kasih maka setiap pribadi akan bisa saling menghargai dan hidup rukun dalam persaudaraan.

 

Marilah berdoa,

Allah yang Maha Kasih, kami bersyukur atas kasih yang Dikau curahkan kepada kami. Dengan kasih tersebut kami menerima kekuatan untuk membangun kehidupan yang bahagia. Dampingilah selalu agar kami setia untuk ambil bagian dalam karya keselamatan yaitu menghadirkan Kerajaan Allah didalam kehidupan kami. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami.

BERJALAN BERSAMA DENGAN YESUS KRISTUS

BERJALAN BERSAMA DENGAN YESUS KRISTUS

Selasa, 5 September 2017

 

1 Tes 5:1-6.9-11

Luk 4:31-37

 

BERJALAN BERSAMA DENGAN YESUS KRISTUS

 

Dalam bacaan Injil Yesus menujukkan kuasa Nya kepada para muridNya bahwa Dia mampu mengalahkan kuasa roh jahat yang mencoba terus untuk mengoda dan merusaha merusakan manusia mulai dari pikirnnya sampai iman yang kokoh. Harapannya para murid semakin percaya kepada Nya dan mereka yang ragu semakin tersadar dan mengikut panggilan Kristus.

 

Menjadi Yesus Kristus dihadapkan pada realita bahwa  semakin hari semakin banyak tantangan dan kesulitannya. Oleh karena itu dibutuhkan iman yang kuat dan kokoh agar bisa menghadapi semua tantangan.  Tantangannya adalah bukan sesuatu dari luar namun dari dalam sendiri. Oleh karena itu untuk bisa setia menjadi murid Kristus adalah sikap berserah kepada Tuhan.

 

Jangan ada keraguan lagi apapun alasannya, Allah itu luar biasa baiknya kepada kita sekalipun manusia yang sering kali kurang bersyukur.  Dalam nama Tuhan Yesus maka segala niat baik dan karya pelayanan bisa jalan dengan lancar dan mengembirakan.  Yang diharapkan dari manusia adalah keberanian untuk percaya dan mengandalkan kekuatanNya.  Tantangan kita adalah sikap “ragu” yang tiba-tiba menghampiri hati dan pikiran kita.

 

Bersama dengan Yesus, orang akan mengalami suatu hidup yang penuh dengan pelayanan yang membahagian.  Segala yang jahat tidak akan masuk dalam hati manusia karena kehadiran Yesus Kristus yang telah mengalahkan kuasa dosa/kejahatan.

 

Marilah berdoa,

Allah yang Maha Kasih,  Dikaulah sandaran hidup kami. Dampingilah kami selalu dalam perjalanan hidup kami.  KahadiranMu memberikan semangat dan kekuatan untuk mengalahkan segala macam bentuk dosa. Kami percaya bahwa karena KasihMu kami selalu dalam jalan yang benar. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

IMAN ADALAH JAWABAN ATAS PANGGILAN TUHAN

IMAN ADALAH JAWABAN ATAS PANGGILAN TUHAN

Senin, 4 September 2017 

 

1Tes 4:13-17a 

Luk 4:16-30 

 

IMAN ADALAH JAWABAN ATAS PANGGILAN TUHAN 

 

Yesus datang untuk memberikan pengharapan dan keselamatan kepada manusia. KehadiranNya adalah bukti bahwa Allah mencintai dan peduli kepada manusia. Kerinduan Allah adalah agar seluruh umat manusia bisa mengalami keselamatan dalam Kerajaan Surga. Akan tetapi tanggapan manusia ternyata tidak semua bisa percaya bahwa Yesus datang dari Allah dan bahwa Dia adalah Tuhan. 

 

Sekalipun dimana-mana Yesus menghadirkan kasih yang tulus namun ternyata Yesus juga ditolak dan justru yang menolak Yesus adalah merekaa yang memiliki pengetahuan yang banyak tentang kitab Taurat dan hukum-hukum Yahudi. Sebaliknya yang menerima dan percaya kepada Yesus adalah mereka kalangan masyarakat yang biasa,jelata dan sederhana. Apa artinya semua ini? Iman ternyata bukan soal pengetahuan tetapi iman adalah jawaban manusia atas panggilan dari Allah sendiri. 

 

Allah merindukan manusia bersatu dengan Nya, namun semua itu tidak terjadi jika manusia keras hatinya dan menolak kehadiran Yesus Kristus. Oleh karena perlunya kerja-sama manusia dengan rahmat Allah sendiri tanpa suatu keterpaksaan namun dengan kerendahan hati  dan tulus. Orang yang rendah hati adalah pribadi yang siap untuk berkerja-sama menumbuhkan iman dalam dirinya dan pada akhirnya mengalirkan buah-buah dalam banyak perbuatan kasih.  

 

Tuhan Yesus tidak akan bisa diterima oleh orang yang sombong yang keras hatinya sebab iman kepada Yesus Kristus merupakan buah dari komitmen personal manusia yang bebas mempersembahkan diri kepada Allah. Mempersembahkan diri kepada Allah tidak terwujud jika manusia masih tetap keras hati. 

 

Marilah Berdoa, 

Allah Yang Maha Kasih, kami bersyukur atas anugerah iman yang kami terima. Jagalah kami selalu agar kami setia mengikutiMu. Dengan iman itulah Engkau memberikan kepercayaan kepada kami untuk menjadi saksi-saksi Kristus dalam hidup kami. Demi Kristus Tuhan dan mengantara kami, Amin. 

 

 

The Enemy

The Enemy

The Enemy

22nd Sunday in Ordinary Time

September 3, 2017

Matthew 16:21-27

“Get behind me, Satan!” (Mat 16:23)

We come to one of the most heated exchange of words in the Gospel, and this occurs no less than between Jesus and Simon Peter. The apostle rebukes Jesus for revealing to the disciples that he has to go Jerusalem, suffer and die, but be raised on third day. In return, Jesus reproofs him and calls him Satan. Why does this harsh quarrel take place between Jesus, the most merciful Lord, and his trusted disciple, Simon whom he has just declared as the Rock?

If we try to enter the shoes of Peter, we will understand that what Peter does is something very human. Peter loves his Master, and he does not want something bad to happen to Jesus. As a friend, he is ready to prevent Jesus do silly things that will harm Him.  Often, we act like Peter.  We disagree with our good friend who wants to help the street children in a notorious depressed area in Manila. Parents often dismiss their young children’s wish to enter the seminary or convent. Despite being in need of financial stability, any family will lodge opposition against its member who wish to go and work abroad. To wish for safety and well-being of our loved ones is just part of our human psychological makeup.

It is just Peter’s human tendency to keep Jesus safe. Yet, why does Jesus need to harshly rebuke Peter and call him ‘Satan’? In the Bible, the word ‘Satan’ has several meanings. The first common understanding is that Satan is the chief evil spirit that wages war against God and humanity. Yet, ‘Satan’ may also mean a man, woman or entity who acts as an adversary or an enemy. In ancient court setting, ‘Satan’ plays the role of the fierce accuser. Literally, Peter may fall under Satan’s temptation in delaying the plan of God, but it may also mean that calling Peter ‘Satan’ Jesus perceives Peter as acting like ‘Satan’, an adversary to Jesus’ mission, and one who accuses Jesus of doing stupid things. By following human tendency, Peter is in opposition to God’s saving plan.

However, how do we know that we begin to act as an enemy to God’s will? Like Simon Peter, we must wrestle to discover God’s will in our lives. Perhaps, encouraging our friend to work with the poor is the right decision. Perhaps, supporting our children to enter seminary is the best option. Perhaps, staying behind with the family rather than going abroad is a better choice. We never know what the future brings. Yet, Jesus gives us a guideline. When we cling too much to our own lives, are obsessed to keep our space small, and gain the world just for ourselves, we must know that we have become ‘Satan’ to God’s ever-expanding love.

Ignatius of Loyola and Francis Xavier were among the first Jesuits. Both were close friends since they met in Paris as they shared the same room, table and books. As the general of the Society of Jesus, Ignatius had the authority to assign his friend close to him, yet this means to curtail Francis’ gift to love enormously. Ignatius eventually sent Francis as a missionary, and allowed him to spread the faith and expand his love for people of the Far East. Francis Xavier would always be remembered as one the greatest missionaries in the Church. It is when we deny ourselves, our selfish desires, and carry the cross of love, that we genuinely follow Jesus as His disciples.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »