Browsed by
Month: November 2017

TUBUH ADALAH BAIT ALLAH

TUBUH ADALAH BAIT ALLAH

 

Yohanes 2:13-22

Pesta Dedikasi Gereja Basilika Lateran

 

 

Passover atau paskah adalah hari raya besar bagi orang-orang Israel. Paskah adalah saat dimana orang-orang Yahudi merayakan pembebasan mereka dari perbudakaan di Mesir. Orang-orang Yahudi dari segala penjuru akan datang ke Bait Allah di Yerusalem untuk mempersembahkan korban berupa domba, sapi dan burung merpati. Hewan-hewan itu akan dikorbankan di Bait Allah: lemak itu akan dibakar, dan darah itu akan dipersembahkan di  altar. Dagingnya akan dibawa pulang, dipanggang dan dimakan oleh seluruh anggota keluarga.

Tentunya, tidaklah nyaman bagi banyak orang untuk membawa lembu dan domba bersama mereka dalam perjalanan ke Yerusalem. Maka, karena alasan praktis ini, mereka membeli hewan untuk kurban di Yerusalem.

Pada saat Yesus, para imam di Bait Allah bekerja sama dengan para pedagang tidak menerima binatang kurban kecuali jika dibeli di Bait Allah. Prakteknya begitu terang-terangan dan berorientasi pada keuntungan sehingga kita dapat menduga bahwa para pedagang membayar para imam untuk bisa menjual binatang kurban di halaman Bait Allah. Apa yang dimulai sebagai kemudahan bagi para pengunjung telah berubah menjadi bisnis menguntungkan dengan mengekpsloitasi para pengunjung yang datang untuk merayakan Paskah di Bait Allah.

Orang-orang Yahudi juga harus menukar uang yang mereka bawa untuk membayar pajak Bait Allah. Orang-orang tidak bisa menggunakan koin yang mereka bawa karena mereka datang dari seluruh penjuru dunia dan beberapa koin memiliki gambar dewa-dewi serta kaisar yang haram bagi Bait Allah. Maka, para penukar uang akan menukarkan uang koin pengunjung dengan koin perak khusus, dan menghasilkan keuntungan yang besar.

Di sini, kita bisa melihat bahwa Bait Allah telah menjadi tempat bisnis, tempat untuk mendapatkan keuntungan dari orang-orang yang ingin melakukan ibadah. Jadi, Paskah yang seharusnya menjadi ungkapan syukur atas tindakan penyelamatan Tuhan berubah menjadi sebuah pesta, dengan aktivitas utamanya adalah para imam, para pedagang dan penukar uang untuk mendapatkan keuntungan.

Yesus marah saat  melihat apa yang sedang terjadi. Tetapi, orang-orang Yahudi tidak bisa terima dengan kemarahan Yesus. Mereka mempertanyakan otoritas apa yang bisa membuktikan bahwa Yesus berhak marah. Pertanyaan itu mendapatkan jawaban dari Yesus dengan mengatakan, “Hancurkan Bait Allah ini dan dalam waktu tiga hari aku akan mendirikannya kembali.”

Tentu Bait Allah sudah runtuh ketika Injil Yohanes ditulis, tetapi intinya adalah bahwa mereka menajiskan Bait Suci Allah. Melalui injil hari ini, Yesus mengingatkan kita bahwa diri kita adalah Bait Allah. Dalam hidup kita Tuhan menunjukkan kepada kita betapa tinggi nilai badan kita. Betapa Dia menciptakan kita sangat baik adanya, bahkan secitra dengan-Nya. Patutlah bagi kita untuk senantiasa menjaga martabat kita yang suci dan luhur, serta menghindari hal-hal yang merendahkan martabat dan badan kita.

Semoga kita tidak menyalahgunakan badan kita dengan mencari hiburan ataupun kenikmataan sesaat. Terlebih semoga kita senantiasa menaruh hormat dan menjaga martabat Tuhan sendiri yang Ia pertaruhkan dalam diri sesama kita.

Semoga kita sungguh-sungguh menata hati kita agar menjadi tempat yang pantas bagi Tuhan. Kita adalah Bait-Nya. Semoga di hari Pesta Dedikasi Gereja Basilika Lateran ini, kita membiarkan Tuhan sungguh-sungguh bertahta dalam kehidupan kita yang nyata.

 

PIKULLAH SALIBMU

PIKULLAH SALIBMU

 

Lukas 14:25-33

 

“Bencilah ayahmu; bencilah ibumu; bencilah istrimu; bencilah anak-anakmu; bencilah saudara-saudarimu; bencilah hidupmu!” Kalau kita melakukan itu semua maka kita akan siap untuk memikul salib dan mengikuti Yesus. Demikian kata-kata Yesus dalam injil hari ini.

Sulit untuk mengenali Yesus dalam konteks ini. Ini bukan Yesus yang lembut yang diajarkan kepada kita sejak masa kecil. Ini bukan Yesus yang bahagia yang tersenyum seperti gambar-gambar ilustrasi yang ada di dalam Alkitab. Ini bukan Yesus yang lembut yang kita harapkan. Yesus ini terdengar kasar. Yesus kali ini kedengarannya ingin mengubah hidup kita menjadi orang-orang religius yang fanatik, yang membenci semua orang dan melepaskan segalanya, bahkan hidup itu sendiri.

Apa yang sedang Yesus bicarakan? Apakah Yesus telah melupakan perintah Allah yang keempat? Apakah kita sudah lupa menghormati orang tua kita? Bukankah Yesus mengatakan bahwa kita harus mengasihi diri sendiri? Bukankah Yesus mencoba untuk berbicara kepada orang-orang agar mencintai musuh-musuh mereka? Apakah Yesus lupa bahwa Tuhan itu cinta dan perintah pertama dan utama adalah mencintai Tuhan dan sesama?

Menurut injil Lukas yang kita baca pada hari ini, Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem ketika mengatakan hal ini. Penulis injil mengatakan kepada kita bahwa banyak orang mengikuti Yesus: mereka berteriak minta perhatian; memohon kesembuhan; dengan cemas menunggu mukjizat berikutnya; dan berjanji untuk mengikuti Yesus kemanapun dia pergi; berharap menyelamatkan mereka dari segala masalah mereka.

Saat itu, hanya Yesus yang tahu kemana mereka pergi. Hanya Yesus yang tahu bahwa dia sedang dalam perjalanan ke Yerusalem, perjalanan menuju salib. Hanya Yesus yang tahu kengerian apa yang akan terjadi dan harus dihadapi.

Yesus mengetahui resiko yang akan dihadapi bagi mereka yang hendak mengikutiNya. Oleh sebab itu Ia mengingatkan kembali mereka untuk berpikir ulang dalam mengikutiNya ke Yerusalem. Yesus tahu bahwa sebagian besar dari mereka tidak akan mampu mengikutiNya memanggul salib. Yesus tahu bahwa para pencari ‘Mesias’ dan pemburu keselamatan tidak benar-benar menginginkan tipe pemimpin yang menuju salib.

Kata-kata Yesus dalam injil hari ini dirancang untuk mengejutkan orang banyak dan membuka tabir penyembahan ‘berhala’ mereka. Sekarang, kata-kata provokatif itu memancing kita. Kata-kata mengejutkan itu sekarang mengejutkan dan menggunjang kita. Kata-kata sulit ini menantang kita untuk melihat motivasi dalam mengikuti Yesus. Mengikuti Yesus berarti mati bagi diri sendiri dan berharap segala sesuatu yang kita miliki, tetapi juga dilahirkan kembali dalam roh.

Penting bagi banyak orang yang mengikuti Yesus untuk mendengar ini. Mengikuti Yesus tidak seperti penggemar sepak bola yang menguntit pemain favorit mereka dari satu kota ke kota lainnya. Ada harga yang harus dibayar. Harga itu adalah salib, tingkat pengorbanan dan penderitaan, bahkan mungkin dari kehidupan kita sendiri, bahwa setiap orang harus siap untuk menjalaninya demi injil dan pembangunan Kerajaan Allah.

Tidak ada yang bisa menjadi murid Yesus jika belum siap melepaskan semua yang dimilikinya. Mengikuti Yesus harus absolut dan tanpa syarat. Berapa banyak orang yang mendengarkan Yesus dan siap untuk itu? Berapa banyak dari kita yang siap untuk itu? Apakah aku sudah siap? Dan apa hal-hal yang saya pegang dan tidak bisa saya lepaskan? Apakah saya ingin menjadi murid Yesus? Sejauh mana? Apakah saya siap membayar harga yang Dia minta?

MENJAUH DARI KERAJAAN SURGA

MENJAUH DARI KERAJAAN SURGA

 

Lukas  14:15-24

 

Pengajaran Yesus di rumah orang Farisi menimbulkan respon dari salah satu tamu yang hadir. Orang itu berkata, “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam kerajaan Allah.”

Dari situlah perumpamaan “Orang-orang yang berdalih” berawal. Yesus menjelaskan tentang seseorang yang mengundang berbagai macam orang ke pesta perjamuannya. Akan tetapi orang-orang yang diundang itu mengelak dengan berbagai alasan. Ada tiga alasan yang bisa kita cermati, membeli ladang dan harus melihatnya; membeli lembu dan harus mencobanya dan yang terakhir karena baru menikah. “Aku minta dimaafkan”, demikian permohonan maaf karena tidak bisa datang dalam perjamuan.

Kedengerannya sangat sopan. Namun, apapun alasannya – entah dengan cara sopan atau kasar – yang jelas itu adalah suatu penolakan.  Intinya orang tersebut tidak akan ada dalam perjamuan itu.

Melalui perumpamaan ini, Yesus bermaksud menjelaskan bahwa meskipun kita memiliki komitmen yang terbaik kepada Allah, ketika perhatian dan kepentingan terhadap kehidupan duniawi ini menuntut perhatian kita, kita akan menempatkan tuntutan-tuntutan tersebut dalam urutan pertama. Kemudian kita akan menyampaikan permintaan maaf kepada Allah. Kita telah berjanji kepada Allah untuk mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa dan akal budi kita. Tetapi janji itu tinggal janji ketika daya tarik kehidupan menuntut perhatian lebih.

Orang-orang dalam perumpamaan itu memakai ketiga alasan ini untuk menolak keselamatan yang ditawarkan, dan setiap alasan terlihat cukup kuat. Mereka telah diperbudak oleh hal-hal tersebut. Harta benda, pekerjaan dan perkawinan telah menyita perhatian mereka. Ini adalah gambaran dari orang-orang yang belum mau berpaling dari dunia.

Tidak ada salahnya menjalani kehidupan yang mapan. Menjalankan usaha dan memiliki harta benda juga bukan merupakan suatu kejahatan. Yang salah adalah jika hal-hal tersebut menjadi sangat penting bagi kita sehingga kita mengabaikan Pesta Perjamuan Keselamatan Allah. Inilah poinnya. Bukan perkawinan itu yang dikecam. Memakai perkawinan sebagai alasan untuk menolak keselamatan Allah, itulah yang dikecam. Harta benda bukanlah suatu kutukan, namun ketika harta benda itu dijadikan sebagai alasan untuk menolak keselamatan dari Allah, maka posisi Allah dalam kehidupan kita tergusur.

Para pendengar Yesus yang berada di rumah orang Farisi itu menyadari bahwa perumpamaan itu ditunjukkan untuk semua yang mendengar. Orang-orang pada zaman Yesus tidak siap menerima kedatangan kerajaan Allah, meskipun tanda-tanda dan keajaiban yang dilakukan Yesus telah dilihat oleh semua orang. Mereka menjauh dari Kerajaan Surga. Inilah yang hendak ditunjukkan dalam perumpamaan ini.

Dengan menggunakan perumpamaan ini, Yesus juga mengisyaratkan bahwa Kerajaan Allah tidak akan kekurangan penduduk. Jika para pemimpin agama dan penatua di Israel menolak undangan Allah untuk masuk dalam kerajaanNya, Dia akan memberikan undangan kepada orang-orang lain yang bukan orang Yahudi. Lalu kata tuan itu kepada hambanya, “Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.”

BERGERAK MELAMPAUI SEKEDAR BARTER

BERGERAK MELAMPAUI SEKEDAR BARTER

 

 

Lukas 14:12-14

 

Injil hari ini mengisahkan bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi. Dia kemudian berkata kepada orang yang mengundangnya, “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasan.”

Yesus tidak mengajarkan bahwa salah mengundang teman dan keluarga ke pesta perjamuan. Sebaliknya, Dia membuat kritik bahwa kita tidak murah hati dan penuh kasih jika kita hanya mengundang orang-orang yang dapat membalas undangan kita, dan terutama jika kita mengundang orang kaya dengan motivasi karena status atau keuntungan yang mungkin dapat mereka berikan kepada kita di masa mendatang.

Dalam pandangan Yesus itu hanya egois lama. Di dunia sekarang ini, orang mengundang sanak saudara, teman dan orang-orang kaya dan terkenal. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Begitu banyak kehidupan diikat dalam barter, “Saya akan melakukan ini untuk anda dan anda akan melakukan ini untuk saya!” Yesus mengajarkan bahwa praktik ini seharusnya tidak hanya direvisi, tetapi dirubah. Sebagai pengikut Kristus, kita harus melayani orang lain karena cinta kepada Tuhan dan sesama, bukan karena mereka bisa membalas kebaikan kita.

Yesus menasehati kita untuk memeriksa niat kita dalam melakukan sesuatu untuk orang lain, dan menyempurnakannya. Kemurahan hati sangat diperlukan dalam pemuridan Yesus. Pengikut Kristus tidak melakukan amal kasih agar diperhatikan atau menjadi terkenal. Justru, sebaliknya, “Bila kamu memberi sedekah, jangan biarkan tangan kirimu tahu apa yang dilakukan tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya.” (Mat 6: 3-4)

Untuk melaksanakan apa yang Yesus ajarkan, kita harus memiliki fokus pada hidup kekal dan tidak hanya pada hidup di dunia ini. Kita harus percaya bahwa Tuhan memberi ‘upah’ bagi orang-orang yang mencari Dia. Seringkali ada banyak berkah yang kembali kepada kita dalam kehidupan ini saat kita melayani Tuhan. Tapi, seringkali juga tidak ada ‘hadiah’ nyata di sini dan saat ini. Kita melayani dan tidak ada publikasi. Kita memberi untuk membantu orang yang membutuhkan dan orang tersebut bahkan tidak pernah mengatakan ‘terima kasih’.

Satu tes apakah motivasi kita untuk melayani Kristus sudah benar adalah, “Apakah kita terluka ketika kita tidak mendapatkan pengakuan yang menurut kita pantas kita dapatkan? Bagaimana sikap kita terhadap orang miskin dan orang yang terluka?”

Jika kita hanya bersedia melayani orang-orang yang dapat membalas kebaikan yang kita berikan atau yang nantinya bisa memberi manfaat kepada kita, maka kita hanya menggunakan orang lain, dan tidak mencintai mereka! Yesus mengajak kita untuk kembali mengoreksi motivasi kita dalam melayani. Motivasi yang didasarkan kepada egoisme dalam melayani Kristus adalah dosa.

Semoga Allah Bapa membuka mata kita terhadap kesempatan yang Tuhan berikan untuk memberkati orang lain demi kemuliaan Tuhan. Semoga Allah yang Maharahim mengampuni kita ketika kita menginvestasikan seluruh waktu, usaha, dan minat hanya kepada orang-orang yang sudah kita kenal. Dan semoga Allah menggunakan kita untuk menjadi berkat bagi orang-orang yang tersingkirkan dan tidak memiliki kemampuan untuk membalas kebaikan yang telah mereka terima.

JANGAN BERIMAN SEKEDAR SEBAGAI ‘DISPLAY’ SAJA!

JANGAN BERIMAN SEKEDAR SEBAGAI ‘DISPLAY’ SAJA!

Minggu, 5 November 2017

[Mal. 1:14b-2:2b,8-10; Mzm. 131:1,2,3; 1Tes. 2:7b-9,13; Mat. 23:1-12]

JANGAN BERIMAN SEKEDAR SEBAGAI ‘DISPLAY’ SAJA!

Di sebelah selatan asrama kami, ada toko buah yang buka hampir setiap hari. Setiap kali lewat di depannya, selalu ada hal yang selalu menjadi pertanyaan, namun belum terjawab sampai kini. Sebenarnya pertanyaan itu adalah mengenai hal yang sederhana: “Buah-buah itu kadang tidak memiliki ‘umur’ yang panjang, namun kalau tidak sempat terjual, mau dibawa kemana buah-buah tersebut? Apakah dibuang atau dibeli murah? Dan, hampir setiap hari, buah-buah yang ‘ditampilkan’ adalah buah-buah yang baru dan segar, supaya menarik setiap pembeli yang datang hendak membeli buah-buah.” Namun, ada pengalaman juga bahwa, buah-buah yang ‘ditampilkan’ ini, atau yang diletakkan di kotak ‘display’, tidak sesuai dengan buah-buah yang nanti akan dibawa pulang. Mungkin, berbeda antara buah yang ‘dipajang’ dan buah yang ‘dibawa pulang pembeli’. Kalau seperti ini, pembeli bisa tertipu, karena beda kualitas antara kenampakan luar yang ditampilkan, dan wujud asli dari yang dinikmati di rumah.

Nah, Yesus hari ini juga mengutarakan hal yang sama, berkaitan tentang: kenampakan luar dan kenyataan di dalam. Yesus mengecam orang-orang Farisi yang ‘melakukan segala hal hanya dimaksud supaya dilihat oleh orang, dan untuk mendapatkan penghormatan di pasar dan di rumah ibadat’. Yesus mau mengatakan bahwa perbuatan orang-orang Farisi ini adalah perbuatan yang tidak benar, karenan membawa orang-orang pada kesesatan. Di satu sisi mereka menjadi teladan, namun pada kenyataan, mereka tidak melaksanakan perintah-perintah agama, dan bahkan justru merugikan orang-orang lain, dengan ‘mengikat beban-beban berat dan meletakkannya di atas bahu orang’. Kita diajak untuk menghidupi iman yang bukan sekedar sebagai ‘kenampakan luar’ atau sekedar ‘display’ saja, supaya terlihat menarik dan disukai orang, padahal dalam kedalaman diri, yang terjadi adalah kemunafikan yang menjadi-jadi. Maka, semoga hidup kita adalah hidup senantiasa mengusahakan kekudusan sejati dan iman yang murni, yang terwujud juga dalam kasih kepada sesama.

Selamat pagi, selamat berhari Minggu. Selamat mengusahakan iman yang mantap di luar dan di dalam. GBU.

Translate »