Browsed by
Month: December 2017

Edisi Khusus Natal : GEMBALA-GEMBALA

Edisi Khusus Natal : GEMBALA-GEMBALA

RENUNGAN NATAL 2017

GEMBALA-GEMBALA

Luk 2:8-20

Kelahiran Sang Juruselamat Yesus Kristus adalah kabar gembira bagi semua mahluk karena Dia hadir untuk menyelamatkan seluruh umat manusia. Siapakah orang yang pertama menerima kabar gembira tersbut? Dalam Injil Luk 2:8 dan seterusnya diceritakan bahwa Malaikat Tuhan pada malam yang sunyi menyampaikan kabar gembira tersebut kepada para gembala. Setelah menerima kabar gembira itu hati mereka bersuka-cita. Malam yang sunyi dan dingin berubah menjadi malam yang penuh dengan kegembiraan. Para gembala kemudian segera bergegas menuju palungan dimana bayi Yesus dibaringkan.

Bukan hal yang kebetulan para gembala menjadi yang menerima pewartaan khusus dari Malaikat Tuhan. Hal ini tanda bahwa didalam diri mereka terdapat sesuatu yang sangat istimewa. Allah selalu mencari dan memilih orang-orang yang “kecil dan sederhana” untuk mewartakan kemuliaan dan cinta Nya kepada manusia. Para gembala dipilih bukan karena mereka memiliki segala-galanya akan tetapi sebaliknya karena mereka tidak mempunyai apa-apa kecuali iman dan kerendah hati mereka.

Para gembala dengan imannya cepat menanggapi berita dari malaikat Tuhan menuju ke Betleham. Kesaksian para gembala adalah sesuatu yang yang penting bagi kita. Sering kali manusia mengukur sesamanya dari hal-hal yang jasmani dan duniawi, namun Allah memilih justru orang-orang yang sederhana dan rendah hati. Orang yang sudah merasa cukup karena segala yang dimilikinya, tidak bisa menjadi bagian dari karya keselamatan Allah.

Kriteria orang yang siap bekerja sama dengan rahmat Allah adalah ia sebagai pribadi yang rendah hati . Dengan keutamaan itu, orang akan bisa mengenal dan menyadari siapa dirinya dihadapan Allah dan pada akhirnya mampu menempatkan Allah sebagai pusat hidupnya. Dengan semangat yang sama kita merayakan Natal. Damai Natal hanya bisa tinggal dihati jika kita menyambut Sang Juruselamat dengan kerendahan hati.

Martyr

Martyr

Martir

Pesta St. Stefanus Martir

26 Desember 2017

Matius 10: 17-22

 

Hari ini, kita merayakan pesta St. Stefanus, martir pertama Gereja. Kisah tentang kemartirannya dicatat dalam Kisah Para Rasul (Kis 7). Kata Martir berasal dari kata Yunani, “marturia,” yang berarti kesaksian. Dalam budaya Yunani-Romawi kuno, kata “marturia” sebenarnya adalah istilah teknis di pengadilan. Ini menunjuk pada seseorang yang berdiri sebagai saksi, dan memberikan kesaksiannya dalam sebuah persidangan. Seringkali keputusan pengadilan sangat dipengaruhi oleh apa yang para saksi katakan. Jika kesaksiannya terbukti dapat benar, hakim dapat dengan yakin menilai apakah terdakwa bersalah atau tidak.

Membaca kisah Stefanus, terutama keseluruhan pasal 7 Kisah Para Rasul, kita mengetahui bahwa Stefanus diadili oleh Sanhedrin, atau dewan penatua Yahudi. Ini memang sebuah pengadilan, dan ternyata, Stefanus adalah terdakwa, dan banyak saksi palsu menuduhnya sebagai penghujat. Untuk menyelamatkan nyawanya, dia harus menyangkal Kristus. Oleh karena itu, bukan hanya Stefanus yang diadili, namun imannya, dan akhirnya Yesus Kristus sendiri. Sekarang, terserah kepada Stefanus apakah dia akan menjadi saksi untuk atau melawan Yesus. Syukurlah, Stefanus memilih untuk menjadi saksi bagi Yesus. Kesungguhan kesaksiannya dibuktikan dengan darahnya sendiri, karena kecuali Stefanus benar-benar percaya kepada Yesus, tidak ada gunanya memberikan nyawanya.

Setelah Stefanus, banyak pria dan wanita kudus mengikuti jejaknya, dan mati sebagai martir, para saksi Kristus. Mereka membayar pengorbanan tertinggi untuk kebenaran, dan bahkan penderitaan dan kematian pun tidak bisa membuat mereka menolak kebenaran yang mereka terima dari Tuhan. Memang benar bahwa tidak semua dari kita dipanggil untuk menjadi martir, tetapi kita semua dipanggil untuk menjadi saksi bagi Kristus. Kita tidak mati sebagai martir, tapi ini adalah panggilan kita untuk hidup sebagai saksi dalam setiap pengadilan hidup. Apakah hidup kita mencerminkan iman kita? Apakah kata-kata dan perbuatan kita mewujudkan Kristus? Apakah hidup kita menjadi tanda Kristus yang nyata bagi dunia?

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


(English Edition)

Martyr

Feast of St. Stephen Martyr

December 26, 2017

Matthew 10:17-22

Today, we is celebrating St. Stephen, the first martyr of the Church. The story of his martyrdom is recorded in the Acts of Apostles (Act 7). The word Martyr comes from the Greek word, “marturia,” meaning a witness and a testimony. In ancient Greco-Roman culture, the word “marturia” is actually a technical term in the court. It refers to a person who stands as a witness, and gives his testimony in a trial. Often the court’s decision is greatly affected by what the witnesses say.  If his testimony is proven to be reliable, the judges may confidently judge whether the accused is guilty or acquitted.

Reading the story of Stephen, especially the entire chapter 7 of the Acts of the Apostles, we discover that Stephen is tried by the Sanhedrin, or the council of elders. It is indeed a trial scene, and apparently, Stephen is the accused, and many false witnesses accused him with blasphemy. In order to save his life, he has to denounce Christ. Therefore, it is not only Stephen who is under trial, but his faith, and ultimately Jesus Christ himself. Now, it is up to Stephen whether he is going to be a witness for or against Jesus. Truthfully, Stephen chooses to be a witness for Jesus. The veracity of his testimony is proven by his own blood, because unless Stephen truly believes in Jesus, there is not point of giving his life.

After Stephen, countless holy men and women follow his footstep, and die as martyrs, the witnesses for Christ. They pay the ultimate sacrifice to the truth, and not even suffering and death can make them deny the truth they have received from God. It is true that not all of us are called to lie our lives to become martyrs, but it is also true that we all are called to become the witness for Christ. We are not to die as martyrs, but it is our call to live as witnesses in every day trials. Do our lives reflect our faith? Do our words and deeds manifest Christ? Do our lives become visible sign of Christ to the world?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Edisi khusus Natal: Santo Yusuf

Edisi khusus Natal: Santo Yusuf

Santo Yusuf

Matius 1 : 18-25

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, sebuah pepatah kuno mengatakan demikian : « Jika Anda ragu-ragu, jangan pernah Anda membuat keputusan ». sebenarnya di balik kata-kata bijak ini tersimpan suatu kebenaran yang sangat mendasar yaitu bahwa banyak kegagalan, kecelakaan, dan kelalaian terjadi karena seseorang membuat keputusan saat ia ragu-ragu. Baik bila saat kita mengalami keraguan, duduk hening, merenungkan langkah terbaik yang harus kita lakukan. Apabila hati kita sudah mantap, lakukanlah keputusan itu tanpa harus ragu-ragu, pasti keputusan yang kita ambil adalah benar.

Kebenaran dalam pemikiran ini dapat kita lihat dalam kisah hidup Santo Yusuf, suami santa Perawan Maria, Bapa pelindung Tuhan kita Yesus Kristus. Saat ia bertunangan dengan Maria, ternyata ia mendapati bahwa Maria telah mengandung tanpa campur tangannya. Maka sebagai seorang yang tulus, dan tentu saja gentle man, ia merenung mengapa hal itu bisa terjadi. Saat ia merenung, dalam situasi ragu antara menceraikan dan tidak menceraikan ia mendapat kabar dari Tuhan bahwa anak yang dikandung oleh tunangannya, Maria adalah dari Roh Kudus. Setelah mendapat kabar ini maka iapun mantap mengambil Maria sebagai istrinya, dan tentu saja Yesus sebagai anaknya.

Keputusan Yususf untuk mengambil Maria sebagai istrinya dan Yesus sebagai anaknya adalah keputusan yang besar dan berat. Namun ia melakukannya karena ia telah merenungkan dengan sungguh-sungguh. Keputusannya ini didorong oleh ketulusannya untuk mendengarkan suara Tuhan. Sikapnya yang terbuka pada suara Allah membuat ia damai, lapang dada, dan tulus iklas. Sikap Santo Yususf inilah yang sebenarnya harus selalu kita buat, yaitu mau terbuka pada suara Allah yang selalu menyapa kita. Jika kita selalu terbuka pada suara Allah maka kedamaian menguasai diri kita, dan bila kedamaian menguasai diri kita maka suka cita, ketulusan dan rasa berserah mengendalikan hidup kita. Kita sungguh percaya bila suka cita, ketulusan dan berserah ada dalam diri kita maka sikap inipun akan menular pada sesama kita. Kita bias bayangkan jika semua orang memiliki sikap demikian, tentunya keluarga kita, masyarakat bahkan dunia kita menjadi tempat yang baik dan benar untuk didiami. Jika sikap ini ada dalam setiap orang maka tak akan lagi yang namanya kejahatan, kelaparan, kebencian dan lain sebagainya. Namun keadaan ini hanya dapat tercipta dengan satu syarat, kita mau mendengarkan suara Tuhan, sebagaimana yang dilakukan oleh santo Yusuf.

Saaudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, kiranya damai sejahtera senantiasa menguasai diri kita. Kiranya pula Sang Raja Damai Yesus Kristus juga senantiasa memerintah hidup kita, keluarga dan bahkan dunia kita dengan damai sejahtera. Selamat Natal dan tahun baru. Tuhan memberkati selalu.

Selamat Natal dan Tahun Baru

Selamat Natal dan Tahun Baru

Untuk Para Romo, Frater dan Suster yang kami cintai,

Pertama2 saya mengucapkan “Selamat Hari Natal” , semoga karya yang sudah diberikan bagi umat lewat pengorbanan Para Romo, Frater dan Suster membuahkan berkat bagi seluruh umat.

Kami berterima kasih telah didampingi lewat renungan2 dan pengorbanan waktu yang sangat besar.

Doa kami agar kelahiranNya menyemangati kita semua untuk perjalanan kita tahun depan.

 

Untuk Para pembaca/pemirsa Lubukhati semua,

Salamat Hari Natal dan Tahun Baru. Terima kasih sudah memakai renungan ini sebagai teman / acuan dalam perjalanan hidup , semoga renungan2 ini berguna dan selalu bisa mendampingi anda semua.

 

Mari kita saling mendoakan agar karya ini dapat semakin berkembang dan berguna bagi semua umat, mendoakan para Romo, Suster, Frater untuk diberikan kekuatan dan waktu dalam mengisi renungan2 ini dimasa mendatang 

 

Selamat Natal dan Tahun Baru…,

Translate »