Browsed by
Month: December 2017

KIDUNG MARIA

KIDUNG MARIA

RENUNGAN LUBUK HATI

JUMAT, 22 DESEMBER 2017

Luk 1:46-56

KIDUNG MARIA

Maria mengungkapkan rasa syukur, pujian dan imannya dalam sebuah Kidung atau pujian kepada Allah. Dalam Kidung pujian ini Maria mengungkapkan bahwa hanya Allah yang layak untuk diagungkan dan dimuliakan sebab kuasa dan kasih-Nya menjangkau semua orang. Bahkan mereka yang rendah diangkatNya dan yang tinggi hati dan sombong direndahkanNya. Allah yang penuh belas kasih turun ke dunia dan menjadi hamba agar bisa dekat dengan manusia dan membawa mereka pada keselamatan kekal.

Dalam Kidung Maria ditunjukkan sikap Maria yang rendah hati dan taat pada kehendak Allah. Dengan kerendahan hati, Maria bisa menempatkan dirinya dihadapan Allah sebagai hamba dan menempatkan Allah sebagai pusat hidupnya. Dengan penghayatan iman yang seperti ini, Maria layak menjadi sarana keselamatan dan bisa bekerja sama dengan Rahmat Allah menjadi Ibu Tuhan. Maria tidak mengandalkan dirinya sendiri tetapi karena kerendahan hatinya ia mampu mengandalkan Allah. Oleh karena itu Maria menjadi pribadi yang setia, taat dan kuat dalam menjalani dan menghayati panggilannya.

Karakter Maria adalah karakter yang perlu dibangun dan dimiliki oleh semua orang beriman. Fondasinya adalah kerendahan hati. Diatas kerendahan hati kita membangun hidup iman. Iman akan tumbuh, berkembang dan pada akhirnya imam berbuah dalam tindakan. Dengan iman kita akan rasakan bahwa Allah dekat dengan kita. Penyertaan Allah tersebut membuat kita kuat dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan hidup. Pada akhirnya dengan iman orang akan bisa memberi kesaksian tentang kebaikan dan kemuliaan Allah.

BELAJAR UNTUK PERCAYA

BELAJAR UNTUK PERCAYA

RENUNGAN LUBUK HATI

 

KAMIS, 21 DESEMBER 2017

 

BELAJAR UNTUK PERCAYA

 

Luk 1:39-45

 

Dalam masa persiapan menantikan perayaan Natal ini, kita diajak untuk melihat bahwa kehadiran Kristus adalah jawaban Allah atas persoalan hidup manusia. Manusia yang telah tajuh dalam dosa dan mengalami banyak peristiwa yang membuat gelisah, takut, cemas, sedih, kecewa, dan putus-asa merindukan adanya pengampunan, kasih dan harapan. Kehadiran Yesus mampu memenuhi impian dan kerinduan manusia dan menjawab persoalan hidup manusia tersebut. Kasih Allah mengalir melalui kehadiran Nya dalam diri Kristus. Oleh karena itu Natal kelahiran selalu membawa suasana hati penuh dengan kegembiraan dan bahagia.

Melalui peristiwa kunjungan Maria kepada Elisabet kita diajak untuk merenungkan bahwa kehadiran Yesus Kristus membawa harapan dan suka-cita bagi semua yang percaya kepada Nya. Sepertinya yang dilakukan Maria berkunjung pada Elisebat sebagai hal yang biasa atau tidak istimewa, namun setelah melihat dampak yang dialami oleh Elisabat dan bayi yang dikandungnya sampai melonjak kegirangan, hal itu membuktikan bahwa ada kekuatan yang luar biasa muncul dari perjumpaan merek. Kekuatan tersebut adalah kehadiran Kristus yang ada bersama dengan Bunda Maria. Karena pada waktu itu Maria sedang mengandung Yesus Kristus dan Elisabet sedang mengandung Yohanes Pembaptis.

Oleh karena itu, untuk merayakan Natal kelahiran Yesus perlu mimiliki kesadaran bahwa Yesus Kristus sumber harapan dan keselamatan. Kesadaran ini bersumber dari iman. Dengan iman, kita akan bisa mengerti dan menerima rahmat Allah ; damai, suka-cita dan keselamatan. Bunda Maria dan Santa Elisabet adalah teladan untuk semua orang beriman. Mereka menghayati iman bukan hanya dalam kata tetapi dalam tindakan. Mereka berani mempertaruhkan hidupnya untuk melaksanakan kehendak Allah. Berbahagialah orang yang percaya. Kita diajak untuk terus belajar percaya seperti halnya Bunda Maria dan Elisabet yang tekun menghayati iman dalam sikap yang rendah hati dan melaksanakan kehendak Allah.

 

TAAT PADA KEHENDAK ALLAH

TAAT PADA KEHENDAK ALLAH

RENUNGAN HARIAN LUBUK HATI

 

RABU, 20 DESEMBER 2017

 

Luk 1:26-38

 

TAAT PADA KEHENDAK ALLAH

 

Dalam masa penantian menyambut perayaan Natal dihadirkan Bunda Maria untuk lebih mengajak kita untuk semakin siap merayaan kelahiran Sang Mesias. Lewat teladan Maria, kita diajak untuk belajar taat dan setia pada kehendak Allah.  Maria karena ketaatannya mampu menjalankan tugas panggilannya menjadi ibu Tuhan dan menjadi teladan kesetiaan bagi kita. Proses untuk menuju penyerahan diri pada kehendak Allah adalah proses yang panjang dan sulit, namun Maria mampu melewatinya dengan berkata: “Aku ini hamba Tuhan terjadilah menurut kehendak-Mu”.

Sebelum mampu menjawab panggilan Tuhan, Maria bergulat dengan dirinya sendiri yaitu mengesampingan segala kecemasan, keraguan, ketakutan dan pada akhirnya menyerahkan semua pada kehendak Allah. Ketika Maria berani menyerahkan semua pada kekendak Allah maka mulailah Allah bekerja dalam diri Maria dan karya keselamatan terlaksana.  Perjuangan Maria menjadi inspirasi bagi semua orang beriman untuk terus berjuang menghayati panggilannya dan  akhirnya sebagai orang beriman bukan lagi mengandalkan diri sendiri dan berjalan sendiri, namun berjalan bersama Allah dan penyerahkan seluruh pergulatan hidup kepada Allah.

Seperti Maria karena ketaatannya pada Allah, ia menjadi sarana keselamatan bagi sesama, demikian juga kehadiran orang beriman menjadi berkat yang menyelamatkan bagi sesamanya jika ia setia dan taat pada kekendak Allah.  Rahmat Allah akan bekerja dalam diri kita jika ada keterbukaan dan menyangkalan diri seperti telah dilakukan oleh Bunda Maria. Tantangan yang terbesar dalam diri orang beriman adalah diri sendiri. Lewat kesaksian hidup Maria, kita diajak untuk terus belajar untuk menyangkal diri agar pada akhirnya kita selalu berkata: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah menurut kehendak Mu’. Melalui ketaatan kita pada kehendak Allah, kita akan dijadikan alat-alatNya untuk menolong mereka yang berputus-asa dan menderita.

 

 

SELASA, 19 DESEMBER 2017

SELASA, 19 DESEMBER 2017

RENUNGAN LUBUK HATI

SELASA, 19 DESEMBER 2017

Luk 1:5-25

Ketika Yesus mau masuk dalam diri manusia, Dia mengetok-ngetok pintu hati manusia. Adakah ada jawaban dari dalam diri manusia? Ataukah pintu tetap tertutup dan terkunci? Saat-saat ini kita mempersiapakan diri untuk menyambut Yesus Kristus. Bagaimana suasana hati kita? Biasa-biasa saja atau takut-cemas, atau hati penuh harapan? Bagaimana cara menyambut tergantung pada kesiapan hati masing-masing orang. Yohanes pembaptis diutus mendahului Mesias untuk mengajak kita mempersiapkan diri. Tanpa persiapan yang baik maka Gema Natal akan lewat begitu saja.

Kondisi hati menentukan penerimaan kita terhadap kehadiran Yesus Kristus. Jika hati sudah menetapkan pada pilihan percaya kepada Allah maka orang tersebut siap menerima kehadiran Kristus dan Natal akan penuh dengan suka-cita. Tidak jarang persoalan atau kesulitan hidup yang belum diterima bisa merusak suasana hati. Kita tidak akan bisa menerima Damai Natal jika hati masih marah, kecewa, dendam, sombong dll. Yang akan disambut dan dirayakan adalah Yang Maha Kudus maka untuk menerima Nya perlu hati yang bersih dan kudus.

Keragu-raguan dalam hal iman menjadi sumber kegelisahan, kekecewaaan dan keputus-asaan. Sebaliknya kemantapan iman menjadi sumber pengharapan, suka-cita dan kasih. Sejauh mana orang memiliki kedalaman relasi dengan Yesus Kristus? Semakin kita memiliki kedekatan dengan Kristus secara personal maka semakin kita mengakar dan berpegang pada iman. Dinamika kehidupan seperti pasang-surut gelombang kehidupan bukan sesuatu yang menakutkan jika kita berjalan bersama dengan Kristus.

Yesus Kristus lahir dan tinggal bersama dengan umatNya agar kita bisa menjadi lebih dekat dengan Nya. Penyertaan Yesus Kristus dalam hidup membuat kita tenang dalam melangkah dan kembali meneruskan perjuangan kita. Iman pada Kristus adalah cahaya yang akan terus menerangi jalan hidup kita. Berjalan dalam terang membuat kita tidak jatuh dalam lubang dosa. Oleh karena ini penting bagaimana agar iman semakin mengakar pada Kristus dan semakin kuat.

Translate »