Browsed by
Month: December 2017

KONDISI TERBAIK UNTUK MENYAMBUT TUHAN

KONDISI TERBAIK UNTUK MENYAMBUT TUHAN

Minggu, 3 Desember 2017

HARI MINGGU ADVEN I

[Yes. 63:16b-17; 64:1,3b-8; Mzm. 80:2ac,3b,15-16,18-19; 1Kor. 1:3-9; Mrk. 13:33-37]

KONDISI TERBAIK UNTUK MENYAMBUT TUHAN

Dalam waktu hanya dua bulan, saya mengalami dua kali peristiwa mengenakkan berkaitan dalam perjalanan. Pertama, sepulang dari Kerep, dua bulan lalu. Dikira ada masalah dengan habisnya air radiator mobil, tapi ternyata yang bermasalah adalah kipas mesin yang tidak berputar sehingga mesin mobil menjadi cepat panas. Kedua, baru terjadi minggu lalu, dan masalah yang didapatkan adalah sama, yaitu habisnya air radiator. Namun, karena perjalanan yang akan ditempuh cukup jauh, maka kami tidak ambil resiko dan meminta teman kami untuk menjemput dan berganti mobil. Dalam kedua peristiwa itu, sebenarnya masalah utamanya adalah sepele, yaitu kesediaan untuk mengecek dan memeriksa kendaraan sebelum berangkat, dan tentu saja membawa peralatan yang lengkap dan cukup membantu manakala terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dalam setiap perjalanan, kami selalu berdoa: “Lindungilah kami Tuhan, dan kami percaya pada penyertaanMu.” Namun, percaya sepenuhnya, tapi tidak mempersiapkan diri tentu tidak ada gunanya.

Di Minggu adven yang pertama ini, nasehat Injil yang disampaikan oleh Yesus adalah soal ‘berjaga-jaga’, karena waktu yang ditentukan Tuhan akan datang, namun tak seorang pun akan tahu waktunya. Yang bisa dilakukan sekarang adalah ‘berjaga-jaga’, Apa yang dimaksud dengan ‘berjaga-jaga’? Ya, berjaga-jaga adalah kita mempersiapkan segala sesuatu yang ada dalam diri kita, sampai kita benar-benar siap. Kalau sesuatu membutuhkan perbaikan, kita sudah siap-siap dengan ‘alat-alat’ yang dibutuhkan. Kelengkapan dan peralatan rohani yang bisa kita bawa dan gunakan adalah kasih dan rahmat Tuhan, yang harus senantiasa kita mohonkan untuk mengatasi kerapuhan, kebobrokan, kelemahan, kesalahan dan segala dosa kita. Ketika kita bisa merasakan dan mengenakan kasih Tuhan itu, sukacita kekal lah yang akan menjadi bagian dari hidup kita, karena dengan demikian, sudah siaplah kita menyambut Tuhan. Sikap ‘berjaga-jaga’ terus kita pertahankan, karena Tuhan selalu ingin supaya kita selalu dalam kondisi yang terbaik untuk menyambut kehadiranNya.

Selamat pagi, selamat berhari Minggu, selamat menyongsong kehadiran Tuhan. GBU.

Be watchful! Be alert! You do not know when the time will come. (Mrk 13:33)

Be watchful! Be alert! You do not know when the time will come. (Mrk 13:33)

Advent and Liturgical Year

First Sunday of Advent

December 3, 2017

Mark 13:33-37

“Be watchful! Be alert! You do not know when the time will come. (Mrk 13:33)”

The Season of Advent has begun. This season marks the beginning of the new Church’s liturgical year as well as of the four Sundays preparation for Christmas. A curious mind may ask: why the liturgical year has to be opened by the season Advent? Why not Christmas, Lenten or Easter seasons?

It has something to do with the liturgical year itself. Yet, what is the liturgical year? Simply put, liturgy is the official and public worship of the Church. Thus, it is through the liturgical year or calendar, the Church wishes to worship God every single day all around the year, and thus fulfilling St. Paul’s instruction to pray without ceasing (1 The 5:17). There is no single moment in the life of the Church and Christians that is not ordained for worshiping the Lord.

Yet, to worship God every moment of our lives is rather a tall order, if not impossible. For some of us, we just go to the Church on Sundays and perhaps pray privately once in a while. Some of us have freer time and commitment to the Church, so we attend Mass daily and join parish organizations. For Dominican religious brothers like myself, daily Eucharist and the Liturgy of the Hours have been integrated into our life structure in the convent, and thus easier to pray every day. But, for many of us who are working for a living, and studying for the future, more time in the Church is simply not possible. Even for me, without the structure of convent, I am often lost and have a hard time to pray.

From this perspective, the Advent season becomes even more crucial for us in shaping our right attitude and predisposition in entering this liturgical new year. The Catechism of the Catholic Church reminds us, “When the Church celebrates the liturgy of Advent each year, she makes present this ancient expectancy of the Messiah, for by sharing in the long preparation for the Savior’s first coming, the faithful renew their ardent desire for his second coming (CCC 524).” The first Christians possessed this “eschatological fervor” because they believed that Jesus was going to come very soon. They were so eager to welcome Christ as much as they would live as if they were not of this world. As Paul would say, “our citizenship is in heaven (Phil 3:20)”. Many of them sold their belongings so that they may focus on those truly important: the teaching of the apostles, communal life, breaking of the bread, and prayers (Act 2:42). Even the pagans would be so amazed and say, “See how they love one another!” It may be true that Jesus did not come in their lifetime, but their lifestyles have transformed their communities and societies to better places to live. Jesus did not come, but they brought Jesus in the midst of the world.

It is the call of Advent season to rekindle this “eschatological fervor” in us. To see that we are all pilgrims and sojourners on this earth and we walk towards our true home in Christ. Our happiness is not rooted in the things of this earth, money, gadgets, popularity, and success. It is true that we need to work for a living, and often our works leave a little time to worship God, but it is always possible to live as the sign of the Kingdom of God, to make our very lives a worship to God. To be honest in our workplaces or schools, to spend more quality time with our families, and to love the poor are some ways we live this fervor. Advent is not about waiting, but it is about engagingly bringing Jesus in our midst.

karepe dewek

karepe dewek

Sabtu 2 Desember 2017 

Bacaan I : Daniel 7: 15-27 

Injil: Lukas 21: 34-36 

 

Dalam masyarakat secular, nilai-nilai iman, agama dan moralitas tidak diberi tempat sama sekali. Bagi mereka nilai-nilai itu hanyalah pikiran-pikiran yang membelenggu kebebasan. Dalam masyarakat demikian yang muncul hanyalah keinginan untuk memuaskan diri. Pusat dari segala sesuatu adalah “aku”. Tidaklah mengherankan jika dalam masyarakat yang demikian kejahatan bukannya hilang justru muncul dalam bentuk-bentuk yang halus namun sangat mematikan. Namun banyak orang tidak sadar akan hal ini karena persis seperti yang dikatakan oleh Tuhan pada hari ini “Jagalah dirimu, jangan sampai hatimu sarat dengan pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi…”. 

Masyarakat secular selalu mendengungkan jargon ini “Carpe Diem” nikmatilah hari ini. Namun bagi kita jargon ini bias kita plesetkan menjadi “karepe dewek”Demikianlah adanya, bagi orang-orang yang memuja kenikmatan karepe dewek adalah jargon yang selalu mereka anut. Namun ada satu hal yang merekla lalaikan dan senantiasa hal ini selalu mereka sesali saat kehidupan mereka hampir berakhir, mereka selalu menyesali mengapa saat muda hanya melulu mengejar kenikmatan lahiriah. Hidup bukan hanya melulu lahiriah, namun ada sisi batiniah yang jauh lebih penting dan lebih kuat. 

Perkataan Tuhan ini sungguh tepat untuk menggambarkan keadaan masyarakat kita saat ini entah di dunia Barat maupun di Timur. Tuhan hanya meminta kita untuk selalu ingat bahwa kehidupan kita tidak hanya berhenti saat ini. Masih ada kehidupan lain yang menantikan kehadiran kita, yaitu kehidupan kekal. Artinya aka nada kebahagiaan kekal maupun penderitaan kekal. Kedua-duanya adalah pilihan kita, dan pilihan itu dimulai saat ini. Tomorrow is today, hari esok adalah hari ini. Kehidupan kita di masa mendatang dimulai pada hari ini. Siapkanlah diri kita untuk menyambut kehidupan yang akan datang bersama dengan Tuhan. Amin. Tuhan memberkati. 

 

Doa: 

Ya Allah pangkal kebijaksanaan, ajarilah kami menghitung hari-hari hidup kami, dan bantulah kami untuk mengisinya dengan perbuatan-perbuatan baik dan benar seturut kehendakMu. Amin.  

 

Translate »