Browsed by
Month: January 2018

Rahmat keselamatan terbuka bagi setiap orang

Rahmat keselamatan terbuka bagi setiap orang

Rahmat keselamatan terbuka bagi setiap orang

Mrk 3:7-12

Tugas pewartaan Yesus sebagai Mesias menarik orang dari pelbagai latar belakang, pelbagai kota, termasuk Jerusalem, Idumea, Jordan, Tirus dan Sidon.

Yang menarik di sini, orang-orang yang datang kepada Yesus, tidak saja kaum Yahudi melainkan juga bukan-Yahudi, yakni orang-orang yang dianggap kafir, gentiles. Jelas terlihat di sini karakter universal dari kemesiasan Yesus. Kaum yang dianggap tidak mengenal Allah dan kaum yang mengenal Allah – orang-orang Yahudi – bersama-sama mengelilingi Yesus, bahkan dikatakan berdesak-desakan untuk mendapatkan kesembuhan dengan menyentuh-Nya.

Yesus semakin dikenal banyak orang. Akan tetapi Ia juga tahu dengan sungguh kalau “saatnya belum tiba” di mana diri-Nya akan dimuliakan sebagai penyelamat (Yoh 2:4; 12:23). Yesus tahu bahwa sangatlah berbahaya jika diri-Nya telanjur dipublikasi sementara karya misi-Nya di depan umum baru saja dimulai.

Yakin bahwa Yesus adalah sungguh Allah sungguh manusia, dan karya penyelamatan-Nya tidak dibatasi waktu dan tempat tertentu, kemesiaan-Nya tidak untuk sekelompok kecil orang, melainkan setiap individu yang mencari dan percaya kepada-Nya, kita mohon rahmat kesembuhan dari segala penyakit yang kita idap – kesembuhan jiwa dan badan – juga bagi orang-orang yang kita janjikan doa agar mereka juga diberkati dan diampuni dengan rahmat dan kuasa penyembuhan dan pengampunan yang ada pada-Nya, bahkan juga bagi mereka yang barangkali belum percaya kepada-Nya, sebagai Mesias, Tuhan dan Penyelamat dunia. Semoga!

Ulurkanlah tanganmu …

Ulurkanlah tanganmu …

Ulurkanlah tanganmu …

Mark 3:1-6

“Ulurkanlah tanganmu” adalah kata-kata penyembuhan dari Yesus. Tapi orang-orang farisi tidak ingin melihat Yesus melakukan penyembuhan orang yang sakit karena hukum sabat melarangnya.

“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Demikian Yesus bertanya kepada orang-orang farisi itu.

Ketika kita berbuat baik dan ada orang yang tidak setuju dan bahkan berusaha untuk menyingkirkan niat baik kita, apa yang kita buat?

Satu hal yang ditawarkan Yesus melalui Injil hari ini adalah keyakinan bahwa kebaikan dan kebenaran harus selalu menjadi prinsip hidup kita. Berbuat baik dan adil terhadap sesama adalah melaksanakan hukum Tuhan, yakni saling mengasihi satu sama lain. Tidak gampang untuk melakukannya terutama dalam situasi sulit dan penuh tantangan. Kadang menakutkan karena itu orang tidak ingin mengambil risiko.

Misalnya, ada saja oknum tertentu yang suka membelokkan aturan dengan melarang orang berbuat baik. Orang baik, benar dan tegas seperti #Ahok dipenjarakan. Orang sakit tidak boleh sembuh. Tidak sedikit orang mati bukan karena penyakit yang diderita melainkan karena tidak bisa bayar biaya rumah sakit yang terlalu mahal. Kalau tidak ada uang tidak boleh ke dokter. Kalau mau sembuh harus ada uang. Belum lagi ada pungutan-pungutan di pelbagai tempat ibadah. Tanpa uang, matilah. Uang, uang, uang. Lucu tapi sadis!!

Ulurkanlah tangan-Mu ya Tuhan dan bebaskanlah kami jerat-jerat hukum yang ditulis oleh tangan manusia; dan jauhkanlah kami dari cobaan dan dosa-dosa kami agar bisa hidup dan beroleh rahmat keselamatan-Mu! Amen!

The Lord looks into the heart …

The Lord looks into the heart …

The Lord looks into the heart …

1 Sam 16:1-13/Mrk 2:23-28

Bacaan pertama hari ini menarik karena berkisah tentang peristiwa panggilan dan pengurapan Daud menjadi raja. Dalam peristiwa ini Samuel bertindak sebagai wakil Allah yang memberi urapan suci atas Daud untuk menjadi raja bangsa Israel.

Satu hal menarik yang bagi saya cukup mencolok dalam peristiwa pengurapan Daud adalah pesan Allah kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

Hati manusia amat penting karena dari situ kehidupan terpancar (Amsal 4:23). Kata-kata yang keluar dari mulut berasal dari hati (Mat 12:33). Perintah atau firman Allah hendaklah tersimpan di hati (Amsal 4:20-21; Luk 11). “Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu” (Luk 16:15).

Allah mengenal hati lebih dari kita mengenal diri sendiri. Seperti Daud, kita pun dipilih dan dikasihi oleh Allah. Allah tidak membeda-bedakan dalam mengasihi. Allah juga tidak membedakan dalam mengampuni. Akan tetapi Ia bisa membedakan mana hati yang baik dari yang tidak baik dan tidak berkenan dan karena itu ditolak-Nya. Allah bebas memilih dan menjatuhkan pilihan tanpa intervensi sedikit pun dari manusia. Allah bebas dan kebebasan-Nya selalu menyembuhkan dan menguduskan, membebaskan manusia.

Kebebasan ilahi seperti inilah yang dibawa dan ditawarkan Yesus kepada murid-murid pilihan-Nya sendiri. Namun kebebasan ini sering kali ditantang, diganggu bahkan dilawan seperti nampak dalam diri para farisi. Namun percaya bahwa Putra Manusia adalah Tuan atas hari sabat, kita mohon semoga hati kita dibebaskan-Nya dari segala cela, dosa, berhala dan tipu daya dunia yang fana agar kita boleh mendapatkan kerahiman dan penebusan-Nya

Ayo berubah …

Ayo berubah …

Ayo berubah …

Mark 2:18-22

Hari ini Injil menampilkan kepada kita suatu pemandangan yang boleh dikatakan sebagai kejutan kejutan dari Yesus. Kejutan-kejutan ini dibuat oleh Yesus sendiri dengan menggunakan ungkapan-ungkapan baru dan sarat makna dan di saat yang sama membuka pikiran orang untuk bertindak dengan mempertanyakan kebiasaan-kebiasaan usang, tapi sayangnya, dianggap normal, terus melakukan perubahan real ke arah yang lebih baik.

Mempelai laki-laki. Yesus menyebut diri-Nya sebagai mempelai laki-laki dan menetapkan suatu kebiasaan baru tentang puasa. “Dapatkah para tamu berpuasa sementara mempelai lelaki sedang ada bersama-sama mereka.” Yesus membuat kejutan dengan menggeser makna tradisional dari puasa Yahudi menjadi puasa Kristiani dengan Kristus sebagai fokus puasa itu sendiri, sumber di mana murid-murid dan para pengikut-Nya senantiasa “haus dan lapar akan kebenaran.”

Kain yang belum susut. Yesus mengumpamakan kehadirannya seperti kain yang baru yang tidak mungkin ditambalkan pada baju yang tua karena akan semakin koyak. Yesus mengundang orang untuk berpikiran terbuka dan memiliki hati seperti Allah. Hati dan pikiran terbuka yang diinspirasi oleh Roh membawa orang keluar dari tafsiran-tafsiran sempit-repetitif, dangkal bahkan nirmakna dan tanpa sadar membuat orang gampang meledak alias bersumbu pendek.

Anggur baru. Anggur baru, kata Yesus, harus ditaruh dalam kantong kulit yang baru. Orang yang tampil fresh, cool dengan wajah ceria, mudah bergaul dan penuh perhatian, adalah orang-orang sukses dan mudah berteman. Anggur adalah symbol dari roh, spirit, energy. Orang diam kasih anggur akan buka mulut, ngomong. Urat-urat yang tegang bisa dilemaskan. Lambang spirit.

Roh yang baru, bagi Yesus, harus ditaruh bukan dalam kantong tua, tapi dalam tubuh yang baru yang bersemangat. Transformasi datang karena keberanian untuk memecah-mecahkan keseluruhan yang tua menjadi bagian-bagian lalu mengintegrasikan bagian-bagian itu menjadi satu-kesatuan yang utuh lagi baru dengan anggur dan semangat Injil.

Paus Fransiskus pernah berkata: Dare to dream big! Beranilah bermimpi dan bermimpilah sekarang! Bersama beliau, marilah kita dengan berani membuat kejutan-kejutan injili yang bermakna. Berubah itu normal. Membarui diri dengan “membuka hati lebar-lebar bagi Kristus” (JP-2) agar melalui kasih dan pengorbanan-Nya, datang kebaruan, bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat dan umat manusia.

Translate »