Browsed by
Month: January 2018

Beriman kepada Yesus

Beriman kepada Yesus

Beriman kepada Yesus

Yoh 1, 43-51

Masing-masing dari kita pastilah mempunyai pengalaman pribadi mengenai bagaimana kita mengimani Yesus. Dalam perjalanan waktu kita dihadapkan pada suatu pengalaman iman. Injil hari ini mengundang kita untuk melihat kembali pengalaman mengenal Pribadi Yesus. Pengalaman itulah yang sering kali memberi kekuatan dan harapan ketika kita mengalami keraguan dan ketidakpastian. Pengalaman akan perjumpaan dengan orang lain kadang juga menjadi saat yang menuntun kita untuk mengenalNya secara lebih dekat. Seperti halnya pengalaman yang dialami Filipus dan Nathanael atau Bartelomeus. Pada awalnya Filipus mengenalkan dan menyakinkan Nathanael akan Yesus, adalah seorang Mesias. Namun Nathanael tidak percaya begitu saja, justru dia cenderung meremehkan kota Nazareth yang kecil dan tidak terkenal, menjadi tempat lahirNya Sang Mesias. “Mana mungkin ada sesuatu yang baik berasal dari kota kecil yang bernama Nazaret”, kira-kira demikian ungkapan keraguan Nathanael. Dalam keragu-raguannya, seketika itu juga Filipus mengundang Nathanael untuk datang dan melihatnya sendiri siapakah Yesus itu. Kata ‘datang’ dan ‘melihat’ seolah hendak menekankan pentingnya pengalaman personal, pengalaman pribadi untuk mengenal identitas Yesus Kristus.

Akhirnya perjumpaan secara pribadi dengan Yesus, mampu membuka hati Nathanael. Yesus sendirilah, melalui kekuatan Roh Kudus, telah menyentuh hati mereka dan membuka pikiran mereka untuk mengenal identitas Yesus, sebagai Mesias. Kita bisa melihat bagaimana kehausan Nathanael untuk mengenal Pribadi Yesus, mampu mengantarnya untuk percaya kepada Yesus sebagai Mesias. Seperti kita ketahui Nathanael adalah seseorang yang mengetahui ilmu Kitab Suci, hukum taurat dan kitab para Nabi, namaun Nathanael adalah seseorang yang dengan tulus mencari Allah. Dia tidak hanya mencari untuk memuaskan pengetahuannya belaka, tetapi dia terus mencari jalan untuk membangun relasi yang intim dengan Allah. Untuk itulah ia mempunyai keinginan yang besar untuk berjumpa dengan Yesus. Di awal tahun yang baru ini, kita mengawalinya dengan penuh harapan karena Allah tinggal bersama kita, Emanuel. Dalam misteri Inkarnasi, Allah mengambil rupa sebagai manusia dan membawa dan menyertai kita dalam perjalanan hidup kita. Wafat dan Kebangkitan Yesus Kristus telah mengalahkan dosa dan memberikan hidup baru kepada kita.

“Bapa yang ada di Surga, melalui PuteraMu, Yesus Kristus, Engkau telah membuka bagi kami jalan menuju Kerajaan Surga. Semoga kami mampu mengenali kehadiranMu dalam diri kami dan sesama kami. Semoga kami selalu menemukan kegembiraan dan kedamaian dalam hidup kami sehari-hari”

Bersama Yesus, kita menemukan arti hidup

Bersama Yesus, kita menemukan arti hidup

Bersama Yesus, kita menemukan arti hidup

Yoh 1,35-42

Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia, bahkan Yesus memanggil dua belas rasul untuk menyertaiNya dalam berkarya di dunia. Yesus sebagai Putera Allah telah menyelamatkan manusia dari dosa. Ia membinasakan dosa dan menyelamatkan pendosa. Itulah yang dikatakan dalam bacaan pertama hari ini. Allah memanggil orang berdosa untuk menjadi utusanNya. Hal itu dapat kita lihat dalam kisah panggilan Simon Petrus dan Andreas dalam bacaan Injil hari ini. Yohanes Pembaptis tanpa ragu memperkenalkan Yesus sebagai Mesias, Kritus, yang diurapi Allah kepada Petrus dan Andreas. Dalam kisah yang kita baca dalam bacaan Injil hari ini, Yesuslah yang mengambil inisiatif untuk mengundang kedua murid tersebut untuk datang dan melihat bersamaNya. Pertanyaan yang diajukan Yesus kepada mereka seolah membangkitkan kesadaran mereka berdua : ”Apa yang kamu cari ?” Pertanyaan yang sama juga Yesus tujukan kepada diri kita masing-masing, “Apa yang sedang kita cari dalam hidup kita ?” Apakah kita memahami arti dan tujuan hidup kita ? Hanya Allah, Bapa kita yang mampu membantu kita menemukan arti dan tujuan hidup itu. Untuk itulah mengapa Yesus Tuhan kita mengundang kita secara pribadi untuk mendekat kepadaNya. ‘Datang dan lihatlah’ menjadi undangan untuk mengenalNya secara lebih intim dan mendalam. Ia menghendaki kita supaya memahami kedatanganNya ke dunia dan keagungan cintaNya kepada kita.

Undangan Tuhan Yesus ‘datang dan lihatlah’ mengajak kita untuk berani berjalan bersamaNya dan menemukan kegembiraan dan harapan di tengah-tengah penderitaan dan kesulitan yang kita hadapi. Beriman kepada Yesus Kristus, menjadikan kita kuat dan tahan uji seperti halnya sebuah batu karang. Roh Kudus memberikan kepada kita anugerah iman untuk mengenal Yesus secara pribadi dan kesetiaan serta keberanian untuk mewartakan Kabar Gembira dan pengharapan kepada semua orang.

“Tuhan Yesus Kristus, penuhilah kami dengan kekuatan Roh KudusMu yang memampukan kami bertumbuh dalam pengetahuan dan cinta. Biarkanlah Roh KudusMu bernyala dalam hati kami sehingga kami mampu mencari dan melakukan kehendakMu dalam hidup kami.”

Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa

Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa

Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa

Yoh 1,29-34

Yesus hadir ke dunia bukan pertama-tama untuk orang menganggap dirinya benar dan baik tetapi Ia datang untuk orang yang berdosa supaya bertobat. Dalam bacaan Injil hari ini, Yohanes Pembaptis memanggil Yesus dengan sebutan Anak Domba Allah. Artinya, salah satu misiNya adalah menyelamatkan manusia dari dosa. Darah perjanjian anak domba paskah menjadi lambang pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Demikian juga Yesus Kristus adalah Anak Domba Allah yang menyerahkan hidupNya bagi manusia melalui penderitaan Salib dan kebangkitanNya untuk membebaskan manusia dari perbudakan dosa. Itulah yang ditegaskan dalam bacaan pertama bahwaYesus datang ke dunia untuk menghapus dosa-dosa kita dan Ia rela menjadi sama dengan manusia kecuali dalam hal dosa. Oleh karena itu siapa yang tinggal di dalamNya, dan tidak berdosa lagi. Dalam bacaan Injil, Yohanes Pembaptis memberi kesaksian bahwa Roh Kudus turun atas diri Yesus, dan menyatakan bahwa Dialah Anak Allah. Allah menganugerahkan Roh Kudus kepada kita untuk menjadi penolong dan pembimbing kita sehingga hati dan pikiran kita terbuka. Dan pada akhirnya kita mampu memahami serta percaya akan misteri dan rencana Allah. Untuk itulah untuk berkembang dalam iman dan cinta kepada Allah, kita memohon rahmat Roh Kudus supaya kita semakin mapu memperdalam iman, harapan dan cinta kasih.

« Tuhan Yesus Kristus, penuhilah kami dengan Roh KudusMu dan biarkanlah kami bertumbuh kembang dalam cinta dan kebenaran. Biarkanlah Roh KudusMu bernyala dalam hati kami dan semoga kami mampu mencintaMu lebih mendalam dan mengikutiMu lebih dekat »

Pertobatan terus menerus, mengidentifikasi diri sendiri

Pertobatan terus menerus, mengidentifikasi diri sendiri

Pertobatan terus menerus, mengidentifikasi diri sendiri

Yoh 1, 19-28

Dalam lima perintah Gereja, dikatakan setidaknya dua kali menerima sakramen tobat dalam setahun sebagai masa persiapan menyambut perayaan Natal dan Paska. Namun bukan berarti pertobatan itu dilakukan dua kali dalam setahun, melainkan pertobatan itu perlu dilakukan terus menerus. Demikianlah seruan bacaan Injil yang mengkisahkan pribadi Yohanes Pembaptis yang menyerukan pertobatan. Seruan pertobatan itu selalu aktual bukan hanya sebelum perayaan Natal dan Paska, tetapi dalam keseharian hidup kita. Bacaan Injil hari ini mengundang kita untuk merenungkan pribadi Yohanes Pempabtis. Ia mengungkapkan identitas dirinya secara jelas ‘siapakah dirinya yang sebenarnya’. Dia mempunyai misi untuk mempersiapkan kedatangan

Mesias, yaitu Yesus Kristus. “Akulah suara yang berseru-seru di padang gurun : persiapkanlah jalan bagi Tuhan” (Yoh 1,23). Ia pun menemukan dirinya tak pantas di hadapan Sang Mesias. Yohanes Pembaptis dengan rendah hati mengenal identitas dirinya : “Aku pun tidak pantas membuka sandalnya” (Yoh 1,27). Pertobatan senantiasa berawal dari mengenali identitas dirinya di hadapan Allah. Setelah mengenali identitas diri, dan selanjutnya mengikuti apa yang dikehendaki Allah dalam hidup. Itulah proses dari suatu pertobatan yang sesungguhnya. Itulah yang diwartakan oleh Yohanes Pembaptis, pertobatan terus menerus.

«Yesus Juru Selamat kami, ajarilah kami mengenal diri kami, mengenal kasihMu dalam hidup kami. Jadikanlah kami hamba yang rendah hati dan siap Kau utus menjadi utusanMu utnuk mewartakan Kabar Gembira dan pengharapan »

Why still Going to the Church on January 1?

Why still Going to the Church on January 1?

Solemnity of Mary, Mother of God

January 1, 2018

Luke 2:16-21

 

Some of us may wonder why the Church places the celebration of the solemnity of Mary, the Mother of God on January 1, or on the New Year. One may guess that the Church wants us to attend mass on the first day of the year, so as to start the year right. For those who wish to have long holidays, it might be pretty a kill joy, but for some of us who wish to be blessed for the entire year, it is a nice thought. Yet, surely there is something deeper than that.

Mary as the Mother of God is the most ancient and foundational among the other Marian dogmas (there are four Marian dogmas). As early as second century AD, Christians in Egypt have prayed to Mary, and called her as the holy mother of God. The prayer is known as “Sub Tuum Praesidium” or “We fly to your patronage”, a prayer that is still being prayed daily by us, the Dominicans. At the council of Ephesus in 431, in an effort to defend the humanity of Jesus, the Church proclaimed Mary as the Mother of God as definitive and bonding for all Christians of all time.

For non-Catholics, to call Mary as the mother of God is pretty idolatrous. If God has a mother, Mary must be the highest goddess of all! The Catholics must fall back to polytheism as they worship Mary like the ancient Greeks offered incense to Hera, the supreme goddess of Olympus. But, for the well-informed Catholics, the title ‘Mother of God’ does not point to the divinity of Mary, and in fact, we never consider Mary as another supreme being. She is human just every one of us, but she is so blessed because the Word was made flesh through her (Luk 1:31). Thus, in simple logic, we may say that Mary is the mother of Jesus and Jesus is God, therefore, Mary is the Mother of God.

Now, any true Marian teaching always sheds us more light on Jesus and brings us closer to God. If a woman becomes a mother because the child she bears, then it is fitting to place this solemnity of the Mother of God in close proximity to the Birth of Jesus or Christmas. No wonder, the Church honors her motherhood exactly at the Octave (8th day) of Christmas, which happens to fall on January 1. This connection between Mary the mother and baby Jesus is reflected also on today’s Gospel who speaks of the birth of Jesus.

Perhaps we are just lazy to attend the Mass today, especially we have many other plans. We rather choose to be caught in the festive atmosphere of New Year. Yet, it is also the day that we reconnect with brilliant Church Fathers who defend this teaching, with many Christian martyrs who choose to die for this truth, and with countless devout Christians who honor the Mother of God. If we begin New Year with a lot of resolutions, why don’t we make honoring Mary, as Jesus honors His mother, as our resolution?

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »