Browsed by
Month: March 2018

Menolong dalam hal kecil

Menolong dalam hal kecil

Image result for helping others

 

Yohanes 5: 1-16

Sabtu lalu saya naik kereta Gajayana dari Malang ke Yogyakarta. Kereta kami berangkat jam  13.30 siang. Beberapa menit sebelumnya tiba-tiba sepasang suami-istri berlarian memasuki kereta dengan bawaan yang banyak, dua koper, beberapa tas plastic dan tas tangan. Sang suami dibantu potter menaikkan tas mereka ke loker di bagian atas kereta. Tiba-tiba sang istri bertanya, “Dimana 2 tas isi makanan kita?” Sang suami tak menemukannya. Padahal kereta kami mulai berjalan pelan, dan sang istri melihat dua tas isi makanan masih tertinggal di peron tunggu.  Tas plastic yang tertinggal itu berisi makanan untuk buah tangan bagi saudara mereka di Yogya.

Keributan keluarga ini mengundang perhatian petugas kereta api. Sang istri menceritakan persoalannya kalau barang mereka tertinggal di kursi tunggu. Bapak petugas berkata, “Tak usah khawatir bu, saya akan meminta petugas di peron untuk membawa makanan itu pada pos tiket. Nanti keluarga ibu yang di Malang diminta mengambilnya di sana.” Satu jam kemudian kereta kami sampai di kota Blitar. Sang istri mendapat telefon dari anaknya, “Mama, makanannya sudah aku ambil di stasiun Malang!” saya masih mendengar jawaban ibu itu, “Beruntunglah kamu masih bisa mendapatkan karena pertolongan bapak petugas kereta!”

Menyelamatkan plastik oleh-oleh adalah perkara kecil. Namun hal itu membuat saya senang sebagai orang Indonesia bahwa masih banyak orang mau menolong orang lain meski itu soal kecil.

Bacaan hari ini bercerita kalau seorang lumpuh terbaring 38 tahun dekat kolam Bethesda, dan tak ada orang yang membantunya masuk ke air saat air kolam bergelombang. Orang Yahudi percaya kalau seorang sakit masuk pertama kali ke kolam Bethesda saat air sedang bergelombang, dia akan disembuhkan. Pastilah orang-orang sakit akan berlomba untuk menjadi yang pertama menyebur ke kolam. Si lumpuh ini tak pernah punya kesempatan menjadi  juara pertama masuk ke kolam karena dia tak bisa berjalan.

Beruntunglah Yesus bertemu dengan si lumpuh, dan tanpa harus masuk ke kolam Yesus menyembuhkannya dan meminta dia langsung berdiri membawa tikar tempatnya berbaring. Setelah terbaring lama, akhirnya orang lumpuh ini bisa berjalan

Mari kita berlomba untuk menolong orang lain. Meski kecil bantuan kita, bisa jadi hal itu sangat berharga bagi orang yang kita tolong.

 

Masyarakat yang sakit

Masyarakat yang sakit

Related image

Yoh 4: 43-54 “Yesus menyembuhkan anak seorang Perwira di Kapernaum”

Saya terperanjat membaca data yang dikirim dari email teman di Cilacap. Pada tahun 2017, tercatat ada 5.556 kasus perceraian di catatan sipil. 1.686 kasus sang suami ingin menceraikan istri, sedang 3.870  kasus istri ingin minta cerai dengan suami. Hal itu artinya, selama Senin sampai Kamis, setiap hari ada 15 kasus yang disidang selama satu tahun. Luar biasa menyedihkan!

Alasan utama  perceraian adalah tidak adanya keserasian pendapat, ditinggalkan begitu saja oleh pasangan, dan adanya masalah orang ketiga yang masuk dalam relasi. Perkembangan teknologi informasi, seperti pemakaian cellphone juga memperbesar angka cerai karena orang dengan mudahnya mengirim gambar dan suara hinggal memicu persoalan retak relasi suami dan istri.

Kini dari Januari – 8 Maret 2018, sudah ada 1300 kasus percerian di Kabupaten Cilacap (sumber:  Satelitpost.com).

Kita tahu bahwa keluarga yang kuat dan baik menjadi dasar bagi kehidupan masyarakat yang baik. Ketika kehidupan keluarga rapuh, retak, serta hancur, masyarakat juga akan mengalami kerapuhan yang sama. Perceraian akan menimbulkan akibat psikologis yang tidak ringan bagi pasangan serta anak-anak mereka. Jumlah perceraian di Cilacap barulah berasal dari satu kabupaten. Coba bayangkan, kalau kita data seluruhnya, ada berapa banyak kasus perceraian di seluruh Indonesia.

Sekarang ini, persoalan pendampingan keluarga menjadi hal yang amat urgen dan penting dilakukan. Semoga keluarga-keluarga Katolik di lingkungan bisa menjadi teladan dan ispirasi bagi keluaga lainnya untuk belajar mempertahankan perkawinan, mencoba mengatasi persoalan konflik keluaga dan mau belajar untuk terus memahami pasangan sebagai proses mendalamnya cinta suami-istri.

Seperti bacaan misa hari ini, seorang ayah memohonkan pada Yesus untuk menyembuhkan anaknya. Yesus pun mengabulkannya dengan melakukan penyembuhan dari jauh. Kita mohon untuk keluarga kita masing-masing serta keluarga lain yang membutuhkan sentuhan kasih Allah dalam menyelesaikan persoalan hidup  mereka.

 

Beholding the Crucified Christ

Beholding the Crucified Christ

Fourth Sunday of Lent

March 11, 2018

John 3:14-21

 

“Just as Moses lifted up the serpent in the desert, so must the Son of Man be lifted up, (Jn. 3:14)”

 

As early as chapter 3 of the Gospel of John, Jesus is aware that he is going to suffer and die on the cross. The crucifixion is the worst kind of punishment in the ancient time. It is reserved for the rebels and foulest criminals. For the Jews, death on the tree is considered accursed by God Himself (Deu 21:22-23). By dying on the cross, Jesus may be seen by Jewish contemporaries as an evil criminal, a great dishonor to the family and the nation, and an accursed by God.

However, Jesus sees His death on the cross, not in these horrible perspectives, but rather He likens himself to the bronze serpent lifted up by Moses in the desert. In the book of Numbers (21:4-9), the Israelites complain against the Lord and Moses in the desert. They particularly do not like the manna despite being freely and miraculously given by God. So, God sends serpents to punish the Israelites. When the Israelites repent, Moses lifts a bronze serpent on the pole, so those who behold it, will be healed from the snake’ bite and live. We notice that the serpent that becomes the instrument of punishment and death turns to be the instrument of healing and life. Like the serpent, the cross is originally a means of torture and death, but God transforms it into the means of forgiveness and salvation. Therefore, like the Israelites who see the bronze serpent, those who behold the crucified Jesus and believe in Him will have the eternal life.

The faith in the Crucified Man is fundamental in the life of every Christian. Yet, we, Catholics, seem to take this faith and Gospel verses pretty passionately. We do not only have faith in the Jesus Crucified; we literally behold Him on the cross.  In every church, we see the cross both inside and outside the building. In Catholic schools, hospitals, and homes, the crucifix (cross with the body) is hanging on practically every wall. The crucifix is also inseparable from our religious and liturgical activities. The General Instruction of the Roman Missal no. 270 even states, “There is to be a crucifix, clearly visible to the congregation, either on the altar or near it.” Our rosaries always begin with holding the crucifix and ends by kissing it. During the Way of the Cross, we literally genuflect before the cross, and proclaim, “We adore You, O Christ, and we praise you. Because, by Your holy cross, You have redeemed the world.” Even, during the exorcism rite, a priest finds the crucifix, especially St. Benedict’s cross, as a powerful means against the evil spirits. Finally, we make the sign of the cross every time we pray because we acknowledge that our salvation comes the Jesus Crucified.

Like the Israelites in the desert behold the bronze serpent, we too behold Jesus on the cross. As the Israelites are healed and live, we are also saved and have eternal life in the Son of Man that is lifted up on the cross. This Lenten season, we are invited once again to reflect the meaning of the cross in our lives. Is the cross a mere cute accessory or ornament? Is making the sign of the cross a meaningless repeated practice? Are we ashamed of the cross of Christ? What does it mean for us to be the men and women who behold the cross?

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Photo by Harry Setianto SJ

“JANGAN RINDU. BERAT. KAMU ‘GAK AKAN KUAT!”

“JANGAN RINDU. BERAT. KAMU ‘GAK AKAN KUAT!”

Minggu, 11 Maret 2018
HARI MINGGU PRAPASKAH IV
[2Taw. 36:14-16,19-23; Mzm. 137:1-2,3,4-5,6; Ef. 2:4-10; Yoh. 3:14-21]

“JANGAN RINDU. BERAT. KAMU ‘GAK AKAN KUAT!”

Salah satu ‘quote’, yang akhir-akhir ini digandrungi oleh kawula muda, adalah kutipan dari novel: Dilan, karya Pidi Baiq, yang bunyinya begini: ‘Jangan rindu. Berat. Kamu ‘gak akan kuat, biar aku saja!’ Kata-kata itu begitu menyihir, sampai-sampai apa pun suasananya, lalu dengan mudahnya dikait-kaitkan dengan ‘kata-kata sakti’ yang bagi sebagian orang, disebut romantis ini. Namun, sebegitu kuat kah yang namanya ‘rindu’, sehingga membuat orang merasa berat jika mesti melaluinya? Rindu kadang berarti sebuah ‘ruang’ yang tercipta akibat sebuah jarak. Konkretnya, rindu adalah konsekuensi logis dari jarak yang terbentang antara dua orang yang memiliki relasi yang dekat, ah tidak, istimewa, atau sejenisnya. Intinya, rindu akan tercipta, kalau dua orang yang ‘saling merindu’ memiliki jenis relasi yang berkualitas, bukan ‘ecek-ecek’ apalagi ‘receh’. Kalau orang yang pernah jatuh cinta, rindu adalah bahasa yang paling sering terungkap, kalau sehari, sejam bahkan sedetik tidak bertemu dan bertatap muka. Ya, the power of ‘rindu’ ini, tampaknya memang sesuatu yang dahsyat, sehingga kadang orang-orang yang dilanda rindu, selalu berharap untuk ‘memupus’ atau bahkan mengakhiri rindu itu dengan sebuah kata: perjumpaan. Ya dalam perjumpaan, rindu akan berakhir.

Kalau perasaan rindu yang tercapai antara manusia dan manusia saja bisa sedemikian hebat, bisa dibayangkan kalau rindu itu tercipta karena relasi yang dekat antara Allah dan manusia. Benarkah kita ini selalu merindukan Allah? Jangan-jangan rindu itu tak pernah tercipta, karena relasi kita dengan Allah tak pernah sedemikian erat. Jangan-jangan rindu itu tak pernah ada, karena relasi kita dengan Allah yang tak pernah berkualitas. Padahal, kalau anda semua ingin tahu, Allah juga merindukan manusia. Allah ingin selalu dekat-dekat dengan kita, karena Allah memang sayang tanpa memandang siapa diri kita. Itu sangat jelas tergambar, kalau kita membaca ‘quote’ Injil hari ini: “…karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan hidup yang kekal”. Betapa rinduNya Allah pada manusia, sampai-sampai PutraNya yang terkasih, turun ke dunia, bahkan mengalami hidup dan penderitaan, demi supaya semua manusia dapat selamat tanpa kecuali. Maka, kalau sudah begini, apakah kita lalu membiarkan rindu Allah ini ‘bertepuk sebelah tangan’? Tentu saja tidak!

Ya, rindu itu memang berat! Bisa jadi karena dua kemungkinan. Rindu terjadi karena dekatnya pribadi yang kita rindukan, atau karena memang kita tak pernah merasa rindu sama sekali. Anda termasuk yang mana? Hidup kita sehari-hari adalah hidup yang mendapat energi dari kekuatan ‘rindu’. Jadi, makin besar rindu yang ada, maka makin besar energi yang kita terima untuk menjalani hidup. Semoga, kita pun selalu punya cara untuk selalu merasa rindu, kepada Allah tentu saja, sehingga rindu itulah yang menjadi kekuatan, semangat, motivasi dan energi bagi kita dalam menjalani hidup, mewartakan kebaikan dan keselamatan. Tiada rindu yang jauh lebih berat, daripada rindu kita kepada Allah, karena rindu Allah kepada manusia lah, yang menjadi penyebabnya.

RENDAH HATI LAH MAKA ALLAH AKAN BERKENAN KEPADAMU

RENDAH HATI LAH MAKA ALLAH AKAN BERKENAN KEPADAMU

Renungan Lubuk Hati

Sabtu, 10 Maret 2018

Hari Biasa Pekan III Prapaskah

[Hos. 6:1-6; Mzm. 51:3-4,18-19,20-21ab; Luk. 18:9-14]

RENDAH HATI LAH MAKA ALLAH AKAN BERKENAN KEPADAMU

Siapakah diri kita, menentukan cara ada dan berada kita. Kalau anda seorang mahasiswa, maka akan berpikir, bertuturkata dan bertindak layaknya seorang mahasiswa. Kalau anda seorang yang memiliki jabatan yang tinggi, tentu cara berpikir, bertuturkata dan bertindaknya, berbeda dengan anda yang adalah seorang bawahan. Maka, kadang-kadang bentuk-bentuk pemikiran, ungkapan-ungkapan melalui kata-kata, dan tindakan-tindakan yang dilakukan adalah cara ada dan berada yang paling kelihatan, yang bisa dinilai dan dirasakan oleh orang lain.

Hari ini, Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang Farisi dan pemungut cukai yang berdoa ke Bait Allah. Orang Farisi menganggap diri sebagai orang yang benar dan saleh, maka doa-doa yang diungkapkannya adalah doa yang menyombongkan diri, doa yang justru menjelek-jelekkan orang lain. Sedangkan, pemungut cukai, merasa diri sebagai orang yang paling berdosa, maka doa-doanya menunjukkan kerendahan hati dan ketidakpantasan di hadapan Allah.

Yesus mengajak kita untuk menjadi seorang yang rendah hati, seperti pemungut cukai, yang meskipun berdosa, memiliki keterbukaan hati, dan menyadari diri rendah di hadapan Allah, sehingga kebenaran bisa masuk melalui pintu kerendahan hati. Namun, kadang kita juga berlaku seperti orang Farisi, yang merasa diri paling benar dan menyombongkan kesalehan dan kebaikan diri, namun justru kebenaran tidak ada pada dirinya, justru karena tinggi hati.

Semoga, semangat kerendahan hati lah yang hidup dalam diri kita, sehingga dengan demikian, Allah berkenan atas hidu

Translate »