Browsed by
Month: April 2018

Perkataan Sebagai Pelimpahan Berkat

Perkataan Sebagai Pelimpahan Berkat

Bacaan I Kis 9: 31-42
Bacaan Injil Yoh 6: 60-69

Renungan oleh Diakon IA

Kata-kata adalah pedang bermata dua; kata-kata bisa lebih tajam dari pisau, begitulah wejangan yang sudah kita ketahui sejak dulu. Hari ini, Injil mengawali sabda-Nya dengan tanggapan murid-murid kepada Yesus, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?”. Rupa-rupanya, ajaran Yesus tentang roti hidup telah menyinggung derajat para murid-Nya. Memang, tidak mudah untuk menerima perkataan dari seseorang, apalagi orang itu adalah pribadi yang kurang dekat dengan kita. Yesus melihat kekurangan itu pada diri para murid. Maka, Yesus memaklumi adanya tanggapan semacam itu, dikarenakan mereka kurang percaya kepada Yesus.

Hal ini berbeda ketika kita melihat reaksi kedua belas murid-Nya yang justru mengakui bahwa perkataan Yesus adalah perkataan yang hidup dan kekal. Mereka telah meninggalkan keraguan dan berani membuka diri untuk mendengarkan dengan hati kata-kata Yesus. Hasil yang bisa dipetik dari kemantapan iman dua belas murid bisa kita lihat dalam bacaan pertama bahwa mereka mampu menyembuhkan dan membangkitkan orang. Perkataan yang keluar dari mulut mereka menjadi berkat bagi orang lain karena mereka mengatakannya dengan penuh kemantapan. Begitulah seharusnya hakekat Sabda, yakni memberi buah yang bisa dirasakan bukan hanya oleh diri sendiri, tetapi juga oleh orang lain. Hal itu bisa terwujud jika telinga dan hati memiliki kesamaan dan keselarasan.

Dalam realitas hidup kita, pilihan untuk mengucapkan perkataan tergantung dari diri kita masing-masing. Apakah kita hendak berkata demi menyalurkan berkat kepada orang lain, atau justru kita hendak membunuh orang lain secara keji? Semua tergantung dari diri masing-masing. Dilihat dari kata-kata yang diucapkan, telah muncul berbagai karakter orang: ada yang sifatnya provokatif, penjilat, mencla-mencle, tetapi ada juga yang penuh karisma, motivator, pendamai dan perhatian. Biasanya, karakter itu terbentuk dengan didorong oleh bagaimana cara seseorang menggunakan mulutnya untuk berkata-kata.

Sebenarnya, kita patut bersyukur bahwa hanya kita manusia sajalah yang dianugerahi kemampuan untuk menggunakan mulut sebagai alat komunikasi yang mampu menyuarakan banyak hal, termasuk di dalamnya adalah berkaitan dengan pengungkapan iman secara mendalam. Maka, marilah kita menggemakan niat dari hati untuk mengucapkan perkataan yang bernuansa melimpahkan berkat kepada siapapun yang mendengarkan. Semoga kita bisa meneladan para rasul yang dengan mantap menyuarakan iman akan Yesus kepada setiap orang sebagai bentuk partipasi atas karya keselamatan Allah. Semoga, Tuhan memberkati kita.

Apa Rencana Allah untuk Hidupku?

Apa Rencana Allah untuk Hidupku?

Renungan JumatImage result for the plan of god

Bacaan I Kis 9: 1-20
Bacaan Injil Yoh 6: 52-59

Oleh Fr. Diakon IA

Kisah pertobatan Paulus bisa dikatakan sebagai peristiwa menakjubkan, bahwa Paulus pada akhirnya mengalami perubahan total dalam hidupnya. Atas kisah refleksi Paulus itulah, kita bisa menegaskan tentang kemahakuasaan Allah. Allah selalu punya rencana untuk segenap hidup manusia. Allah yang mahakuasa bukanlah sebagaimana raja yang hanya duduk di singgasana, atau pemimpin organisasi yang menunggu mendapat laporan dari bawahan; tetapi Allah senantiasa sudi bergumul dengan manusia, merelakan diri untuk ikut solider atas perjalanan hidup manusia demi terciptanya suatu rencana bagi setiap manusia.

Maka, kita patut bertanya, “Tuhan, apa rencanamu untuk hidupku? Untuk hidup hari ini, bulan depan, tahun mendatang? Rencana Allah pasti sangat menumbuhkan kita menuju kematangan, baik itu secara moral, iman atau spiritual. Bukan berarti bahwa rencana Allah itu mudah diterima begitu saja. Tengok saja Paulus yang mati-matian harus mengalami penderitaan selama tiga hari dalam kebutaannya. Justru dengan penderitaan itulah, sesungguhnya karakter dan originalitas diri kita sedang direbus untuk akhirnya menjadi matang. Kematangan itu berguna sebagai persembahan diri untuk rela menjadi alat-Nya. Setiap diri kita mempunyai peran masing-masing, sejalan dengan rencana Allah itu. Pertanyaannya adalah bagaimana kita tetap mampu bertahan dalam proses pematangan diri yang terkadang terasa kurang nikmat itu?

Jawabannya adalah dengan iman. Artinya, percaya kepada Allah adalah bahan baku utama untuk menyelaraskan diri ke dalam rencana Allah. Keutuhan iman kita mewujud dengan hadirnya Tuhan dalam diri kita melalui santapan rohani Tubuh-Nya sendiri. Hal ini memberi jaminan bahwa kita memperoleh hidup yang sesungguhnya. Dari Yesus sendirilah jaminan itu berasal, “Sesungguhnya, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu”. Hidup di dalam diri artinya ada kesadaran untuk menjalankan hidup yang sesuai dengan rencana Allah. Maka, ketika dengan mantap hati seseorang menyambut Tubuh-Nya, seharusnya orang itu mengalami kedamaian batin dan mampu menikmati hidup, apapun situasinya.
Dengan menyantap Tubuh-Nya, kita juga diajak untuk turut serta berpartisipasi dalam rencana keselamatan Allah. Allah akan memercayakan suatu tugas kepada setiap orang sesuai dengan porsi dan kemampuan masing-masing. Maka, mari kita semakin merasakan betapa baiknya Allah karena telah melibatkan kita ke dalam rencana-Nya. Kita bersyukur sebab dengan menyantap Tubuh-Nya, kita senantiasa dikuatkan untuk menjalankan peran masing-masing dalam peziarahan hidup ini sehingga kita menjadi pribadi yang berguna untuk sesama, dan terlebih bagi kemuliaan Allah sebagaimana Paulus dijadikan alat pilihan Allah.

MENGARAHKAN SETIAP DOA HANYA KEPADA TUHAN

MENGARAHKAN SETIAP DOA HANYA KEPADA TUHAN

Renungan Kamis Yoh 6: 44-51

Oleh Fr. Didik Mardiyanto

Di bulan Mei, yang adalah bulan Maria, banyak orang yang berbondong-bondong mengunjungi tempat-tempat ziarah, di dalam negeri atau luar negeri. Bagi beberapa orang, tempat ziarah tertentu, menghadirkan kesan tertentu, atau menghadirkan aura rohani yang membuat mereka selalu ingin kembali. Mungkin karena suasananya yang damai dan tenteram, nyaman untuk berdoa, atau di tempat itu, pernah mendapat pencerahan dan ‘sentuhan’ dari Tuhan, sehingga selalu berkesan dan ingin mengulangi lagi untuk mengunjungi. Bahkan ada yang merasa bahwa memiliki ikatan batin yang mendalam dengan tempat ziarah tertentu, sehingga bersedia datang kapanpun ke tempat tersebut, untuk berdoa. Itu tidak salah, tapi menjadi masalah ketika kita lalu tidak bisa merasakan kehadiran Tuhan, hanya karena tidak berada di tempat yang di sana kita memiliki kedekatan atau ikatan batin, seperti yang disebutkan tadi. Kehadiran Tuhan menjadi terbatasi oleh sebuah ruang, padahal Dia senantiasa di dalam hati.

Maka, dari itu, Yesus pada hari ini menegaskan bahwa diriNya adalah Roti Hidup yang turun dari surga, dan jika makan Roti tersebut, orang akan hidup selama-lamanya. Maka, kalau dikaitkan dengan orang berziarah tadi, yang menjadi daya tarik, bukanlah sekedar tempat yang nyaman, damai dan tenteram; atau ikatan batin yang mendalam dengan tempat ziarah tertentu, namun daya tariknya ada pada Tuhan sendiri. Sehingga, tanpa harus memiliki keadaan tertentu, kita bisa tetap berdoa dan membangun relasi yang mendalam dengan Tuhan. Bahkan Yesus menjanjikan bahwa ketika kita bisa membangun relasi yang dalam dengan Tuhan, kita akan hidup selamanya. Pun, dalam kehidupan di dunia, Roti Hidup ini akan meneguhkan dan memberi kekuatan dalam perjalanan hidup kita. Maka, semoga, setiap doa kita menjadi berkualitas, bukan karena berada di tempat atau waktu tertentu, tapi sungguh karena Tuhan sendiri-lah yang menjadi arah dan tujuan dari setiap doa kita.

 

 

You are What You Eat

You are What You Eat

Image result for you are what you eat

Kamis, 19 April 2018

Kis 8:26-40; Yoh 6:44-51

 Renungan oleh Fr. Diakon Widiarko

 

You are what you eat! Kita adalah apa yang kita makan. Kata-kata ini ada benarnya. Kalau yang kita makan adalah makanan sehat bergizi, tubuh kita pun akan sehat dan kuat. Kalau yang kita makan adalah makanan yang tidak sehat, tubuh kita akan rapuh dan mudah sakit. Saya punya umat yang sudah berumur 79 tahun. Ia rajin misa pagi dan berangkat ke gereja dengan jalan kaki. Saat saya tanya apa resepnya bisa tetap bugar di usia lanjut, ia menjawab bahwa ia banyak makan sayur dan buah. Sayur dan buah rupanya membuat tubuh tetap sehat dan segar. Hal ini jelas berbeda dengan kisah di Bandung beberapa waktu yang lalu. Puluhan orang meninggal karena mengkonsumsi miras (minuman keras) oplosan. Karena bahan-bahan campuran dalam miras oplosan berbahaya, maka hidup mereka yang mengkonsumsinya juga terancam. Apa yang kita makan menentukan hidup kita; juga siapa kita. You are what you eat!

Tubuh kita membutuhkan makanan jasmani. Demikian juga jiwa kita membutuhkan makanan rohani. Apakah makanan rohani bagi jiwa kita? Injil hari menyatakan bahwa makanan rohani atau santapan jiwa utama kita tak lain dan tak bukan adalah Yesus sendiri. Yesus berkata: “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Yesus adalah roti hidup. Roti hidup itu turun dari sorga yang berarti dari Allah sendiri. Roti hidup itu akan memberikan kehidupan kekal bagi siapa saja yang menyantap-Nya. Siapa yang menyantap roti hidup itu ia akan hidup dalam Kristus dan Kristus hidup dalam diri-Nya.

Ekaristi adalah anugerah istimewa yang diberikan Allah pada Gereja. Ekaristi menjadi sumber dan puncak hidup kita. Mengapa menjadi sumber dan puncak hidup, karena dalam ekaristi kita menyantap Tubuh dan Darah Kristus. Dengan menyantap Tubuh dan Darah-Nya, kita mengalami persatuan dengan Kristus. Perjumpaan dan persatuan dengan Kristus mengalirkan kekuatan iman bagi hidup kita sekaligus menjadi puncak syukur atas hidup yang penuh berkat dari Allah. You are what you eat! Dengan semakin sering menerima santapan rohani, pada gilirannya kita pun akan semakin serupa dengan Kristus.

Sadar akan betapa berharga dan berdayanya Tubuh Kristus, santapan jiwa kita, apakah kita akan mudah melewatkan ekaristi? Atau kalaupun ikut ekaristi, apakah kita hanya akan menganggapnya sebagai rutinitas sambil lalu semata? Semoga saja tidak! Kita harus menjadi Kristus-Kristus yang lain bagi sesama dan dunia kita dengan hidup yang ekaristis; hidup yang bersatu dengan Kristus karena santapan rohani. Sebab, you are what you eat!

 

Renungan Rabu

Renungan Rabu

Rabu, 18 April 2018Image result for bread of life

Oleh Fr. Didik Mardiyanto

[Kis. 8:1b-8; Mzm. 66:1-3a.4-5.6-7; Yoh. 6:35-40]

 

TELADAN KASIH KRISTUS UNTUK MEMBERI

 

Dalam beberapa peristiwa, pemberian secara cuma-cuma, selalu menarik perhatian banyak orang. Pembagian sembako gratis, promo barang beli satu dapat satu, acara dengan doorprize menarik, dan seterusnya; tentu membawa daya tarik tersendiri, karena di sana ada pemberian secara cuma-cuma, artinya kita tidak perlu mengeluarkan biaya, cukup hadir dan mendapatkan yang diinginkan. Saya ingat pula dengan tempat dimana saya menjalani perutusan di lembaga atau gerakan belarasa Berkhat Santo Yusup (BKSY) KAJ, bahwa banyak umat yang memang ‘memanfaatkan’ kepesertaanya untuk mendapatkan sesuatu secara lebih, daripada tujuan sebenarnya dari gerakan ini, yaitu berbagi kepada mereka yang KLMTD. Artinya, hanya dengan membayar iuran Rp. 80.000, lalu bisa mendapatkan bantuan Rp. 10.000.000. Tapi, untungnya, masih lebih banyak orang yang baik, sehingga gerakan ini sungguh menjadi sarana untuk meneguhkan iman, lewat upaya untuk mengasihi sesama, terlebih mereka yang membutuhkan bantuan, daripada keinginan untuk memperoleh sesuatu secara cuma-cuma, tanpa usaha dan upaya.

Dalam Injil hari-hari ini, dikisahkan orang-orang yang ingin datang kembali kepada Yesus setelah tempo hari dikenyangkan dengan makanan yang didapat secara cuma-cuma alias gratis. Mereka mencari Yesus, karena berharap mendapatkan hal yang sama, lagi dan lagi. Namun, Yesus menegaskan bahwa yang terpenting bukan roti jasmani, tapi roti kehidupan, itulah mengapa Yesus mengatakan: “Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.” Roti Hidup ini selalu kita rayakan dalam Ekaristi. Ekaristi adalah tanda pemberian diri Kristus yang total kepada manusia. Maka, perayaan Ekaristi sekaligus mengenang kebaikan Kristus, dan ajakan untuk berbagi kepada sesama, sehingga kita bisa meneladan Yesus sebagai seorang yang suka ‘memberi’ daripada ‘menerima’. Semoga ajakan Kristus ini menjadikan kasihNya, terus mengalir kepada semua orang.

 

Selamat pagi, selamat meneladan kasih Kristus untuk ‘memberi’. GBU.

 

-Yoseph Didik Mardiyanto-

Seminari Tinggi St. Paulus

Jl. Kaliurang km. 7, Kentungan

Yogyakarta 55011

Translate »