Browsed by
Month: April 2018

Jesus’ Shalom

Jesus’ Shalom

Second Sunday of Easter (Divine Mercy Sunday)

April 8, 2018

John 20:19-31

 

“Jesus came and stood in their midst and said to them, “Peace be with you.”  (Jn. 20:19)

 

Fear is a natural and basic human emotion. Fear plays an important role in human survival because it alerts us of impending dangers or evil, and moves us to avoidance. The science of anatomy would locate the source of this emotion inside our amygdala, a primitive part of our brain that we share with other animals. Yet, unlike animals that simply flee in the presence of a predator, with our complex brain, we also face a complex kind of fear as we perceive a complex meaning of danger. We do not only fear predators, but we fear also losing our jobs, sickness, and our terror teachers or bosses. We are afraid of height (acrophobia), of small spaces (claustrophobia), and even of banana (Bananaphobia)! Because of our superior mind, our fear is even enlarged as we can anticipate far away dangers or even that does not exist yet. This creates anxiety and worriedness.

 

In the Gospel, we discover that Jesus’ disciples are afraid. They fear the “Jews.” They may be accused of stealing the body of Jesus by the Roman soldiers and Jewish authorities who discover the empty tomb. Or, simply the disciples are anxious about their future, of what will be of them after the death and the news of Jesus’ resurrection. Shall they disband themselves, go back to their former way lives, or shall they remain together? Will Jesus come and get even with them? Overcome by fear and uncertainty, they lock themselves. They are paralyzed, their hearts shrink, and they glue themselves to safe yet fragile things. Like the disciples, fear freezes us and lock us in our comfort zone. Fear of getting hurt, we stop loving. Fear of failures, we no longer pursue our dreams. Fear of being manipulated, we refuse to help others. Fear of betrayal, we shun commitments.

 

However, fear does not have the last say. Despite the locked room, the Lord enters in their midst. The first word He says is Peace, in Hebrew, “Shalom.” Then, Jesus shows his wounds to them, a proof that He is truly Jesus, their teacher, who was crucified and risen. Seeing the Lord, joy explodes in their hearts, and they fear no more. Jesus’ Shalom is powerful and empowering. Jesus’ Shalom gives inner strength in the face of uncertain future. Jesus’ Shalom gives the courage to embrace sufferings and trials.

 

Jesus is truly risen and appears to the disciples, but this does not change the disciples’ situations. Their future remains uncertain. The hostile Jewish authorities still attempt to shut them down. The Roman soldiers may arrest them. They do not know yet how to sustain their small community. Their situations remain bleak, but one thing has changed. They are no longer afraid. With His Shalom in their hearts, Jesus breathes His Holy Spirit on them and sends them on a mission to forgive. As they have been forgiven and received mercy, they become the missionaries of peace, as they bring forgiveness to others. As the stone door of the tomb cannot stop the risen Lord, now the locked doors cannot hinder the empowered disciples.

 

Jesus’ Shalom is the grace of resurrection for all of us. True that our situations and problems do not change much, but fear can no longer freeze us. We are called to go out from our locked rooms and become the missionaries of peace and mercy. Despite the pain, failure, and frustration, we continue to love, serve and commit because this is who we are, the people who have received Jesus’ Shalom, God’s mercy and the Holy Spirit. We are not afraid because we are Easter People!

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Photo by Harry Setianto, SJ

Sabtu Oktaf Paskah

Sabtu Oktaf Paskah

Renunga oleh Fr. Diakon Yusuf Widiarko

Kis 4:13-21; Mat 16:9-15

 

MANUSIA PASKAH: PERGI DAN MEMBERITAKAN INJIL

Dalam masyarakat hukum, semakin dibutuhkan peran saksi untuk menyatakan dan menegakkan kebenaran. Dalam sidang-sidang di pengadilan itu, keberadaan saksi dibutuhkan untuk meneguhkan kebenaran yang tengah diperjuangkan. Sebagai warga Gereja, kita tentu juga tahu bahwa selalu ada saksi dalam setiap pernikahan katolik yang hendak dilaksanakan. Keberadaan saksi menjadi syarat penting dalam perkawinan katolik. Dalam khasanah Bahasa Indonesia, juga dikenal istilah saksi bisu. Saksi bisu ditujukan untuk menyebut saksi yang mengalami suatu peristiwa, namun tak bisa mewartakan peristiwa itu. Ini berbeda dengan saksi hidup. Saksi hidup mengalami suatu peristiwa dan bisa mewartakan peristiwa itu.

Bacaan I hari ini mengisahkan bagaimana Petrus menyatakan dirinya sebagai saksi atas kebangkitan Yesus. Petrus mengalami hidup Yesus dari dekat selama menjadi murid, termasuk di hari-hari akhir hidup Yesus. Petrus juga menjadi salah satu orang awal yang mengalami kebangkitan dan penampakan Yesus. Hal itulah yang membuatnya mantap mewartakan kebangkitan dan ajaran Yesus. Petrus tentu sadar bahwa dengan menjadi saksi kebangkitan Yesus ia akan menghadapi tantangan dan penderitaan. Ia tahu, mewartakan Yesus yang bangkit akan mengantarkannya pada banyak kesulitan. Petrus sebenarnya punya dua pilihan: menjadi saksi hidup yang mendatangkan penderitaan atau saksi bisu yang akan membuatnya aman. Petrus memilih yang pertama. Ia tak gentar mewartakan Yesus dan ajaran-Nya sampai kelak mati dengan cara disalib terbalik. Karena mengalami sendiri kebangkitan Yesus, Petrus menjadi pribadi baru yang pemberani. Kalau sebelum Yesus bangkit ia takut-takut dan bahkan menyangkal Yesus, kini Petrus berani mewartakan Yesus yang bangkit.

Kita adalah murid Yesus yang baru saja merayakan pesta Paskah. Kita juga diutus menjadi saksi-Nya. Pada akhir Injil hari ini, Yesus bersabda: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk!” Yesus tak ingin kita hanya menjadi saksi bisu; mengalami, tapi tak mewartakan. Yesus mengutus kita menjadi saksi hidup atas kebangkitan-Nya. Menjadi saksi hidup atas kebangkitan Tuhan berarti kita dituntut untuk hidup semakin selaras dengan ajaran dan kehendak Yesus. Kalau kita masih hidup dalam dosa dan menikmatinya, berarti kita hanyalah saksi bisu. Saksi hidup kebangkitan Yesus haruslah menjadi pribadi baru yang meninggalkan dosa dan yang jahat. Kebangkitan Yesus selayaknya mengubah hidup para saksi hidup-Nya.

Mari menjadi Manusia Paskah dengan pergi dan memberitakan Injil Tuhan!

Jumat Oktaf Paskah

Jumat Oktaf Paskah

Image result for spirit of easter

 

Renungan oleh Fr. Diakon Yusuf Widiarko

Jumat Oktaf Paskah

Kis 4:1-12; Yoh 21:1-14

 

MANUSIA PASKAH: BERJUMPA DENGAN ALLAH DALAM RUTINITAS HIDUP HARIAN

Kisah Injil hari ini mencatat bahwa penampakan di Danau Tiberias adalah kali ketiga Yesus menampakkan diri kepada para murid. Kisahnya amat menarik. Secara alur hampir sama dengan kisah panggilan murid di Injil Lukas. Para murid yang semalam-malaman menebarkan jala tidak mendapatkan apa-apa. Kemudian Yesus datang kepada mereka dan menunjukkan di sebelah mana ikan-ikan bisa didapatkan. Para murid melakukan arahan Yesus. Dan benar saja, mereka lalu memperoleh ikan yang melimpah. Kisah yang hampir sama ini menjadi jembatan bagi Yesus untuk mengenalkan diri-Nya kembali kepada para murid.

Setelah Yesus wafat, rasa sedih dan kecewa yang hebat memang menyelimuti para murid. Mereka juga terkejut dan bertanya-tanya bagaimana bisa Guru dan Tuhan mereka wafat di kayu salib. Mereka juga mulai kebingungan dengan berita, yang entah benar entah salah, bahwa Yesus kini sudah bangkit dari kematian. Di tengah rasa yang campur aduk ini, sebagaian dari mereka memutuskan untuk kembali hidup seperti sediakala sebelum menjadi murid Yesus. Mereka yang nelayan, termasuk Petrus, akhirnya kembali mencari ikan sebagai nelayan. Para murid kembali hidup dalam rutinitas hidup harian mereka masing-masing. Dan di sana Yesus menampakkan diri-Nya.

Yesus rupanya juga memilih rutinitas hidup harian para murid untuk menyatakan kebangkitan-Nya. Yesus menampakkan diri-Nya kepada para murid di tengah kesibukan pekerjaan mereka. Ia bahkan kembali datang pada saat para murid sedang mengalami kesulitan dalam pekerjaan. Ia tidak hanya menyapa mereka untuk menunjukkan kehadiran-Nya, melainkan juga memberi solusi agar pekerjaan para murid bisa berbuah.

Kita pun harus sadar bahwa pada akhirnya kita akan selalu kembali pada rutinitas hidup harian kita. Setiap Minggu kita pergi ke gereja untuk memuncaki hidup kita dengan ekaristi. Tapi, kita pun selalu sadar bahwa kita akan pulang dan kembali menjalani rutinitas hidup harian dari hari Senin hingga Sabtu. Seperti yang dialami para murid, Allah pun juga hadir dan menyapa kita dalam rutinitas dan pekerjaan kita sehari-hari. Dan bukan hanya menyapa, Ia juga siap menemani, membantu, dan memberi solusi bagi kita dalam menjalani rutinitas hidup harian yang kadang terasa berat, sulit, dan membosankan.

Mari menjadi Manusia Paskah dengan berjumpa dengan Allah dalam rutinitas hidup harian!

Kamis Oktaf Paskah

Kamis Oktaf Paskah

 

Related image

 

 

Renungan oleh Fr. Diakon Yusuf Widiarko

Kamis Oktaf Paskah

Kis 3:11-26; Luk 24:35-48

 

MANUSIA PASKAH: RAGU MENJADI PERCAYA

Pada dasarnya, ragu adalah sikap yang lumrah manusiawi dalam hidup manusia. Orang melihat adanya kekurangan, lalu ragu untuk melangkah maju, itu biasa. Orang melihat ada hal yang janggal dalam suatu peristiwa, kemudian ragu dengan ‘kebenaran’ yang dinyatakan, itu juga umum terjadi. Apalagi untuk masyarakat zaman ini, keragu-raguan mengiringi sikap kritis banyak orang terhadap suatu hal. Kadang memang orang perlu ragu agar ia memberoleh kemantapan; agar ia beroleh kebenaran yang sejati. Dalam arti tertentu, sikap ragu dan kritis dibutuhkan dalam hidup masyarakat zaman ini. Keraguan lalu tampak positif dan konstruktif.

Kalau Injil hari ini masih menampakkan keraguan para murid dengan Yesus yang bangkit, dalam batas-batas tertentu bolehlah dimaklumi. Bukan perkara mudah bagi para murid untuk menangkap kenyataan kebangkitan Yesus yang sama sekali di luar bayangan mereka sebelumnya. Iman para murid akan kebangkitan Yesus rupanya bukan iman yang sekali jadi. Para murid rupanya berproses sungguh; dan Yesus berkali-kali menampakkan diri agar para murid paham betul akan kebangkitan yang Ia maksudkan.

Injil hari ini memang mengisahkan para murid yang masih ragu sehingga Yesus bertanya: “Mengapa kamu terkejut, dan apa sebabnya timbul keragu-raguanan dalam hatimu?” Karena masih menangkap keragu-raguan dalam diri para murid, Yesus sampai mempersilakan mereka menyentuh-meraba diri-Nya, dan bahkan makan ikan goreng. Ada gerak membuka diri dalam diri Yesus untuk menuntun para murid berproses dari ragu menjadi percaya.

Iman kita pun diharapkan bukan iman yang naif; yang asal percaya tanpa punya kedalaman pengetahuan dan pengalaman akan Allah. Beriman rupanya adalah sebuah proses terus menerus seumur hidup. Mungkin pernah ada keragu-raguan dalam proses beriman kita. Namun, kita juga harus sadar bahwa Allah selalu membuka diri-Nya dan menuntun kita pada iman yang sejati.

Mari menjadi Manusia Paskah dengan bergerak dari sikap RAGU menjadi PERCAYA!

 

Rabu Oktaf Paskah

Rabu Oktaf Paskah

Image result for emmaus journey

Renungan oleh Fr. Diakon Yusuf Widiarko

Rabu Oktaf Paskah

Kis 3:1-10; Luk 24:13-35

 

MANUSIA PASKAH: MENGENALI WAJAH TUHAN DALAM MAKAN BERSAMA

Salah satu acara yang saya tunggu-tunggu sewaktu dulu tinggal di seminari atau sekarang saat di paroki adalah makan bersama. Bukan pertama-tama karena saya suka makan atau makanan di seminari dan paroki enak dan nikmat. Saya senang dengan acara makan bersama lebih karena saya bisa mengalami perjumpaan yang berkualitas dengan teman-teman frater dan romo. Dalam makan bersama, kami bisa saling berbagi cerita apa saja, mulai dari hal-hal yang sederhana sepele hingga hal-hal yang rumit serius. Di satu waktu kami bisa larut dalam kegembiraan dalam canda dan tawa. Di waktu lain kami bisa ikut merasakan kesulitan yang sedang dialami teman. Meja makan menjadi tempat perjumpaan yang penuh kasih. Dan makan bersama menjadi acara yang sungguh meneguhkan.

Injil hari ini mengisahkan perjumpaan dua orang murid dengan Yesus dalam perjalanan menuju Emaus. Dari kisah panjang penuh makna itu, salah satu hal yang menarik adalah adegan makan bersama. Dikisahkan bagaimana dua murid mengundang Yesus untuk tinggal dan makan bersama mereka. Saat makan bersama itulah dua murid baru sadar bahwa orang yang bersama mereka itu adalah Yesus. Sepanjang perjalanan mereka bercerita panjang lebar dengan Yesus, namun tak kunjung mengenali-Nya. Baru dalam makan bersama mata para murid terbuka sehingga mereka bisa mengenali Yesus. Hal ini ditegaskan oleh kalimat penutup Injil bahwa kedua murid itu lalu menceritakan pengalaman itu kepada murid-murid lain tentang bagaimana mereka mengenali Yesus waktu Ia memecah-mecahkan roti.

Makan bersama sebenarnya adalah aktivitas yang sederhana. Makan bersama menjadi aktivitas yang berkualitas saat satu sama lain saling membuka dan memberi dirinya untuk yang lain. Sayangnya, pengalaman makan bersama yang berkualitas itu jarang dialami oleh kita pada zaman ini. Barangkali kita jarang menyediakan waktu khusus untuk makan bersama dengan keluarga atau sahabat-sahabat baik kita. Kalaupun ada acara makan bersama, barangkali juga kita tidak sungguh hadir dalam acara makan bersama itu. Bisa jadi kita lebih sibuk memfoto makanan yang akan kita makan untuk kemudian dibagikan kepada orang-orang yang sedang tidak bersama di hadapan kita. Kisah perjalanan Emaus mengajari kita bagaimana makan bersama bisa menjadi sarana untuk mengenali wajah Tuhan.

Mari menjadi Manusia Paskah dengan mengenali wajah Tuhan dalam makan bersama yang berkualitas!

Translate »