Browsed by
Month: May 2018

Apakah engkau mengasihi Aku? 

Apakah engkau mengasihi Aku? 

Apakah engkau mengasihi Aku?

Yoh 21:15-19

Pertanyaan terhadap Simon Petrus tentang apakah ia mengasihi Yesus kelihatannya gampang untuk dijawab. Padahal kalau direnungkan secara sungguh-sungguh tidak mudah.

Petrus pernah menyangkal Yesus dan hal itu membuatnya menangis tersedu-sedu karena telah mengkhianati gurunya.

Di sini kita diajarkan satu hal penting bahwa kegagalan dalam hidup tidak boleh membuat kita berkecil hati. Sebaliknya kegagalan harus menjadi momen untuk bangkit dan memperbaiki diri.

Ada orang misalnya gagal dalam belajar. Akan tetapi itu tidak harus membuat hatinya ciut dan berhenti di situ melainkan harus dilihat sebagai kesempatan berahmat untuk belajar lebih tekun lagi agar tidak kembali jatuh dalam kegagalan yang sama.

Petrus dengan yakin menjawab “ya” setiap kali Yesus mengulang pertanyaan yang sama karena ia sudah merasa diterima kembali oleh Yesus. Bagi Petrus kebangkitan Yesus adalah momen kebangkitan dan hidup baru baginya juga. Kebangkitan Yesus menghalau ketakutan dan mengubur kematian. Kasih dan pengampunan yang Allah anugerahkan kepada setiap orang jauh lebih kuat dan hendaknya itu yang menjadi motivasi utama panggilan kita untuk mengikuti Yesus.

Belajar dari pengalaman Petrus marilah kita menjawab pertanyaan-pertanyaan Yesus dalam hidup. Ada pertanyaan-pertanyaan yang barangkali kecil untuk kita tetapi ada maksud yang besar dari Tuhan. Menjawab ya dan percaya bahwa Tuhan sungguh mencintai kita dan berharap bahwa Ia takkan membiarkan kita sendirian adalah langkah pertama tapi menentukan langkah kedua dan langkah-langkah berikut. Kita tidak harus persis seperti Petrus menjadi gembala besar dalam gereja. Gembala-gembala kecil juga baik. Sekurang-sekurang menjadi domba yang baik

Mengenal dan mencintai Allah dan sesama 

Mengenal dan mencintai Allah dan sesama 

Mengenal dan mencintai Allah dan sesama

Yoh 17:20-26

Dalam doa-Nya kepada Bapa kita dapat melihat bahwa Yesus berdoa bukan saja bagi murid-murid-Nya melainkan juga mereka yang akan percaya dan mengikuti Dia karena pewartaan para murid itu: “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka.”

Teks hari ini dapat memicu kita untuk bertanya tentang orang-orang yang berperan dalam hidup kita untuk sampai kepada iman, yakni Kristus sendiri. Pertama-tama pastinya adalah kedua orang tua kita. Saya sendiri bersyukur masih menyimpan sebuah foto kusam saat saya dibaptis. Saat itu saya berumur hampir tiga bulan. Saya lihat dalam foto itu banyak teman-teman saya juga bersama orang tua mereka yang juga mendapat baptisan yang sama. Selain romo yang membaptis saya, nampak mama menggendong saya, dan juga om saya yang bungsu yang adalah bapa serani/permandian juga nampak. Ketika saya memeriksa dalam surat permandian, terlihat jelas romo yang membaptis saya. Saya yakin bahwa saat itu namaku disebut saat imam membaptis saya sambil berkata: “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.” Saat itulah saya juga secara resmi masuk menjadi anggota Gereja.

Mengingat kejadian ini, di mana saya sendiri tidak tahu apa dan bagaimana pembaptisan itu terjadi, saya ingat lagi kata-kata di atas ketika Yesus berdoa. Bahwa Yesus berdoa bukan hanya untuk para rasul-Nya “tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepada-Ku” oleh pemberitaan para rasul. “Orang-orang yang percaya” kepada Yesus adalah Anda dan saya – kita adalah angota-anggota Gereja Kristus. Maka di sini juga kita ingat Allah bersabda dalam kitab Yeremia: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau” (Yer 1:5). Allah telah mengenal kita jauh sebelum kita dibentuk. Karena Allah mengenal kita maka kita juga harus mengenal Allah. Karena Allah lebih dulu mencintai kita maka kita juga harus mencintai Allah; karena “Allah adalah Kasih.”

Merasa bersyukur atas rahmat hidup, iman dan panggilan Tuhan dalam diri kita masing-masing, marilah kita berdoa seperti Yesus berdoa bagi murid-murid-Nya dan juga bagi kita semua, buah-buah pewartaan para rasul Kristus. Agar kita saling menguatkan dalam memberi kesaksian iman demi tumbuhnya kerajaan Allah agar Allah boleh meraja dalam hati setiap orang.

Doa untuk para korban terorisme di Surabaya  

Doa untuk para korban terorisme di Surabaya  

Doa untuk para korban terorisme di Surabaya

dan sekitarnya

dan

untuk bangsa Indonesia …

(Yoh: 11b-19)

Ya Bapa yang kudus, Tuhan dan Keselamatan kami,

Kami mohon kepada-Mu agar kiranya rahmat penebusan, damai dan pengampunan

Turun atas saudara-saudari kami di tanah air Indonesia,

Khususnya di Surabaya yang saat ini sedang dilanda aksi-aksi teror.

Kami mohon agar rahmat Roh Kudus-Mu boleh memenuhi hati mereka yang dilanda duka dan kesedihan akibat kehilangan anggota-anggota keluarga karena ulah para teroris;

Semoga damai-Mu turun atas keluarga-keluarga ini, dan agar mereka selalu dikuatkan dan dihibur di saat-saat sulit seperti ini.

Untuk mereka yang menjadi korban semoga jiwa-jiwa mereka Kau kuduskan dengan rahmat pengampunan, rahmat belas kasih-Mu; agar mereka boleh diterima dan disatukan dengan orang-orang kudus-Mu di surga.

Kami berdoa juga bagi mereka yang luka-luka dan masih dalam perawatan; kiranya ya Tuhan Dikau menyembuhkan mereka dengan uluran tangan-Mu yang kudus; agar lewat tangan para perawat dan dokter, serta keluarga yang menjaga dan melayani mereka, mereka bisa sembuh dan bergabung kembali dengan anggota keluarga mereka di rumah.

Kami berdoa untuk Presiden Jokowi agar selalu dijaga dan diberi kesehatan; agar memiliki jiwa dan hati yang bening dalam memimpin negara dan bangsa kami. Berilah Dia kebijaksanaan agar mampu mengemban tugas sebagai kepala negara bersama para pembantunya.

Semoga para pemimpin di daerah-daerah memimpin dengan bijak dan tidak takut dengan tindak-tindak kejahatan yang dilakukan, khususnya oleh para teroris. Agar mereka juga diberi hati yang tulus, kesabaran dan keberanian untuk dengan tegas dan berani bertindak melawan kekuatan-kekuatan kejahatan, mampu memindai apa yang baik dan benar dan dengan berani menolak apa yang jahat, tidak benar dan

tidak baik, yakni segala tipu muslihat setan, yang bisa mendatangkan kebinasaan bagi bangsa dan negara kami.

Kami mohon pula agar kepercayaan yang diberikan oleh rakyat Indonesia untuk memimpin bangsa kami digunakan secara baik dan bertanggung jawab agar cita-cita bangsa kami menjadi nyata melalui pembangunan fisik dan sosial terasa bagi semua.

Jauhkan para pemimpin kami baik di pemerintahan, politik dan ekonomi dari praktik-praktik korupsi dan penyalahgunaan kepercayaan rakyat. Agar pancasila dan konstitusi negara dijalankan dengan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan demi mencapai cita-cita bersama.

Semoga pula anak-anak Indonesia diajar dengan prinsip-prinsip kebaikan, kebenaran dan keindahan agar masa depan mereka menjadi cerah dan berguna bagi bangsa dan tanah air.

Jauhkanlah anak-anak dan orang tua mereka dari daya tarik dan tipuan ideologi-ideologi yang tidak benar dan menghancurkan, seperti terorisme dan sejenisnya, yang cenderung merusak ikatan-ikatan sosial dan keagamaan.

Semoga bangsa kami yang terdiri dari ribuan pulau dengan berbagai suku, agama, bahasa serta budaya bertumbuh secara sehat bersama bangsa-bangsa lain

dalam semangat persaudaraan, cinta kasih dan perdamaian.

Kami Bersatu & Tidak Takut Melawan Teror.

Doa ini kami panjatkan kepada-Mu

DALAM

Nama Yesus, Putra-Mu

yang hidup dan meraja sepanjang segala masa.

Amin.

 

 

Kemuliaan melalui jalan salib

Kemuliaan melalui jalan salib

Kemuliaan melalui jalan salib

Yoh 17:1-11a

Injil hari ini membawa kita untuk masuk dalam pergumulan diri Yesus dengan misteri salib. Makna di balik salib dan penderitaan Yesus ini tidak terlalu nampak bagi dunia, bahkan bagi orang-orang terdekat-Nya terasa jauh. Hanya sedikit sekali orang yang mampu menyelidiki misteri ini kalau hatinya penuh iman. Sebab salib dan penderitaan Tuhan hanya bisa diimani secara benar jika dikehendaki oleh Allah sendiri tanpa mengabaikan sama sekali usaha manusia untuk mencari dan mengenal serta mengasihi-Nya secara pribadi.

Yesus mewahyukan kesatuan Ilahi-Nya dengan Bapa dalam doa-Nya itu. Bahwa hanya melalui pengenalan dan kasih yang benar akan kehendak Bapa-Nya manusia bisa sampai pada pemuliaan dirinya.

Iman di sini berarti bahwa Allah mengasihi kita dalam diri Putra-Nya yang dalam ketaatan penuh melaksanakan kehendak Bapa. Seperti hidup para martir, iman dan kasih memberanikan mereka memberi segalanya, termasuk nyawa mereka sendiri. Ini adalah pengalaman yang sulit dan tidak masuk akal bagi manusia.

Masuk dalam pengenalan dan ikatan kasih dengan Allah ini menuntut pengosongan diri seutuhnya; suatu penyangkalan diri yang radikal agar Allah sendiri dalam Roh-Nya menyatu dan tinggal dengan manusia. Kesatuan personal dengan Allah ini terpusat pada Kristus. Di dalam Dia kasih Allah sampai kepada kita. Jika hati kita terbuka kepada kasih Allah yang datang maka pertobatan adalah jalan yang harus dilalui. Pertobatan ini membantu kita memahami arti dan rahasia terdalam dari penyangkalan dan pengorbanan diri Yesus dan pada sat yang sama membuka jalan bagi keselamatan kita sendiri.

Dengan memahami dan menerima misteri salib dan pengorbanan diri Yesus ini rahmat dan belas kasih Allah boleh menyembuhkan luka dan cacat cela akibat dosa-dosa kita. Roh Kudus adalah Roh penyembuh luka-luka kita. Roh Kudus pula yang menyucikan dan menyatukan keterpisahan kita dari cinta kasih Bapa melalui Putra-Nya. Maka pertobatan yang benar adalah karya Roh, suatu gerakan rohani di dalam hati manusia untuk kembali kepada jalan yang benar, jalan Allah. Ini juga adalah jalan penyucian – yang di dalam pembaptisan melalui Air dan Roh Kudus. Karya Ilahi ini semata-mata adalah karena kasih Allah sendiri sehingga memampukan kita berseru: Ya Abba, ya Bapa …

Sambil menyelami doa Yesus sebagai Imam Agung melalui Injil hari ini, marilah dalam iman membuka hati dan seluruh diri kita kepada kehendak Bapa – misteri terdalam tersuci iman kita agar kita dimampukan untuk melakukan kehendak-Nya secara berani, jujur dan terbuka di jalan salib kita masing-masing; demi kemuliaan Tuhan dan demi keselamatan semua orang.

Jangan takut melawan kejahatan bernama terorisme dan pelaku-pelakunya

Jangan takut melawan kejahatan bernama terorisme dan pelaku-pelakunya

Jangan takut melawan kejahatan bernama terorisme dan pelaku-pelakunya

Yoh 15: 9-17

Rasanya sangat sangat menyedihkan ketika melihat saudara-saudari di tanah air menjadi korban ledakan bom yang terjadi sekrang ini. Sulit untuk membayangkan kejadian ini. Mucul dalam diriku rasa marah dan benci yang sangat terhadap para pelaku teror; juga rasa marah dan benci terhadap pemerintah dan aparat keamanan yang lalai menjaga kenyamanan dan aktivitas hidup warga negara yang telah memilih mereka menjadi pemimpin.

Meski demikian perhatianku terarah terutama kepada para korban yang awalnya terjadi di beberapa gereja, termasuk gereja katolik. Gereja adalah tempat yang dikuduskan di mana orang datang untuk berdoa. Umat datang ke sini untuk merasakan kehadiran dan kesatuan mereka dengan Tuhan dan sesama warga gereja. Di sana umat bisa beribadah, memohon rahmat dan berkat dari Tuhan yang mereka imani. Di sana ada pembacaan firman, kotbah dan ekaristi kudus.

Apa yang terjadi? Gereja berubah menjadi sasaran teror. Ibadah dan doa orang beriman bukan mendatangkan berkat dan rahmat melainkan maut. Nyawa saudara-saudari kita melayang begitu saja. Banyak korban. Ada yang meninggal di tempat. Ada yang masih sempat bertahan hingga ke rumah sakit tapi nyawa mereka tak tertolong lagi. Banyak korban luka parah dan masih dalam perawatan di rumah sakit. Darah para korban mengalir di halaman-halaman rumah ibadah. Doa dan ibadah berubah menjadi kehilangan nyawa. Hingga kini serangan teror masih terus datang.

Di mana harus mencari keadilan? Di mana mesti mengadu? Apa yang harus kita buat untuk melawan teror?

Para pelaku teror memakai segala cara untuk merusak dan menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, tatanan sosial dan kekeluargaan, ikatan-ikatan kebudayaan dan nilai-nilai bersama sebagai sesama warga negara Indonesia. Kemanusiaan kita sekali lagi terecoreng dan rusak oleh kematian saudara-saudari kita tak bersalah ini. Mari bersatu melawan terorisme dan para pelakunya. Kita tidak takut!!

Tuhan, tunjukan kami jalan. Berilah kami kesabaran dan kekuatan ilahi-Mu untuk tidak takut terhadap terorisme dan barbarisme. Berilah kami iman, harapan dan kasih agar dalam segala kesukaran, kami tak kehilangan arah tetapi selalu bersama-Mu dalam seluruh perjuangan hidup kami sebagai gereja dan bangsa. Doa kami khususnya agar semoga Terang Ilahi-Mu menghantar saudara-saudari kami yang wafat dalam karena serangan terorisme ini ke dalam kerajaan-Mu. Dan mereka yang menderita luka-luka dan masih dirawat dikuatkan dan disembuhkan. Ini kami panjatkan ke hadirat-Mu dalam Dia yang adalah jalan, kebenaran dan hidup, Yesus Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Translate »