Browsed by
Month: June 2018

KARENA TAK ADA SATU PUN YANG LEBIH BESAR DARIPADA TUHAN

KARENA TAK ADA SATU PUN YANG LEBIH BESAR DARIPADA TUHAN

Rabu, 6 Juni 2018

[2Tim. 1:1-3.6-12; Mzm. 123:1-2a.2bcd; Mrk. 12:18-27]

 

KARENA TAK ADA SATU PUN YANG LEBIH BESAR DARIPADA TUHAN

Di dekat parkiran Gereja Kristus Raja Pejompongan, terdapat patung Maria, yang warna dan bentuknya termasuk unik. Selain warnanya gelap dan barangkali tidak tersirat keelokan dan keanggunan sosok Bunda Maria. Namun, hampir setiap hari, banyak orang yang berdoa di sana. Mayoritas orang-orang yang menyempatkan diri berdoa di sana adalah orang-orang yang hendak berangkat ke kantor atau ke sekolah. Maklum, letak Gereja Kristus Raja Pejompongan berada di lintas yang strategis, berdekatan dengan kawasan Sudirman dan Gatot Subroto, maka wajar banyak orang yang hendak memulai aktivitas dengan berdoa di tempat itu. Orang-orang yang bekerja, memiliki sekian banyak problem dan permasalahan, yang barangkali pelik dan tak tertanggungkan, namun dengan kesediaan diri untuk berdoa, barangkali orang-orang ini menyadari sepenuhnya, bahwa dalam segala hal, Tuhan lebih besar dari segala bentuk permasalahan hidup.

Bacaan Injil hari ini, Yesus ‘dicobai’ dengan pertanyaan dari orang Saduki, yang tidak percaya kebangkitan badan, tentang wanita yang menikah tujuh kali dan tak ada satu pun keturunan. Pertanyaannya, pada hari kebangkitan, siapakah dari ketujuh bersaudara itu yang beristrikan wanita tersebut? Yesus menegaskan bahwa dalam dunia kebangkitan, tidak ada orang yang kawin dan dikawinkan, artinya kita semua adalah milik Tuhan sepenuhnya, bukan lagi milik suami, istri, orang tua atau anggota keluarga lain. Kadang, hidup kita lebih banyak dikuasai problem dan permasalahan, dan karena dikuasainya, maka kita menjadi terlalu fokus pada problem dan permasalahan tersebut, dibandingkan kesadaran bahwa hidup kita adalah milik Tuhan sepenuhnya. Mari kita serahkan segala hal yang tampaknya memberi kita kegelisahan, tekanan, kekecewaan, kemarahan dan kebencian, karena tidak ada satu hal pun di dunia ini yang lebih besar daripadaNya.

Selamat pagi, selamat menyerahkan segala kesusahan hanya kepada Tuhan. GBU.

MELAKSANAKAN KEWAJIBAN DULU, MENERIMA HAK KEMUDIAN

MELAKSANAKAN KEWAJIBAN DULU, MENERIMA HAK KEMUDIAN

Selasa, 5 Juni 2018

[2Ptr. 3:12-15a.17-18; Mzm. 90: 2.3-4.10.14.16; Mrk. 12:13-17]

PW. St. Bonifasius, Uskup dan Martir.

MELAKSANAKAN KEWAJIBAN DULU, MENERIMA HAK KEMUDIAN

Setahun yang lalu saya menjalani perutusan di Depok dan Jakarta. Gereja tempat saya tinggal, berdampingan dengan Mako Brimob, yang waktu itu menjadi sering diberitakan karena menjadi tempat penahanan salah satu gubernur yang terlibat kasus penodaan agama. Dampak yang paling terasa adalah umat menjadi tidak mudah keluar masuk gereja, karena umat yang biasanya parkir di komplek Mako Brimob, sekarang tidak diperkenankan. Dampak berikutnya, umat menjadi sedikit ‘enggan’ misa di sini, dan memilih ke paroki ‘tetangga’ dan yang paling kelihatan tentu saja, jumlah kolekte yang menurun. Memang sih, kolekte adalah bentuk partisipasi nyata dari umat kepada gereja, namun kehadiran umat di gereja tetaplah hal yang paling utama. Banyak umat sekarang, entah karena tidak punya waktu atau terlalu sibuk, lebih senang menyatakan kehadirannya di gereja dalam bentuk materi atau sumbangan,daripada kehadiran mereka sendiri ke gereja, dalam kegiatan peribadatan atau kegiatan pelayanan yang lain. Mungkin, pikirnya, dengan ‘menyumbang’ berupa uang, itu sudah cukup sebagai bentuk partisipasi dalam hidup menggereja.

Injil hari ini, Yesus menyatakan seperti ini: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” Hal yang dikatakan Yesus ini pertama-tama hendak mengingatkan soal kewajiban kita, entah kepada masyarakat atau kepada gereja, di tengah segala usaha untuk mendapatkan hak-hak hidup kita. Barangkali, menurut kita, memberi banyak hal kepada masyarakat dan gereja berupa materi itu sudah cukup, namun masyarakat dan gereja tetap membutuhkan kehadiran dan partisipasi aktif dan konkret dari diri kita. Kewajiban kita sebagai umat Allah, tentu saja melaksanakan kehendakNya, entah dalam masyarakat atau gereja itu sendiri, bukan malah terlalu sering menuntut hak kita. Ketika kita sudah melaksanakan segala kewajiban, kita pun akan menerima hak kita, sebagai warga negara dan warga gereja.

Selamat pagi, selamat melaksanakan kewajiban sebagai warga negara dan warga gereja. GBU.

Body

Body

 

Solemnity of the Body and Blood of Jesus Christ
June 3, 2018
Mk 14:12-16, 22-26

“Take it; this is my body” (Mk 14:22)

We often take for granted that we are created as a bodily creature. Our body is integral to our humanity and created by God as something good; we receive our body as a gift. We freely receive our body from our parents, and our parents from their parents and this goes on till we discover God as the source of this gift. Because our body is a gift from God, we are called to honor our body as we honor the Giver of the gift Himself.

Since the earliest time, the Church has fought against various false teachings that undermine the integrity and sanctity of the body. Early Christians stoutly defended the goodness of the body against the Gnostic sects that condemned the body as evil, a prison to our soul, and a curse to our existence. The Order of Preachers where I belong was founded for the salvation of souls. Some of my friends complain why we only save the soul and disregard other aspects of our humanity. I remind them that the Order was originally established to counter the Albigensian sect, and one of its basic teachings is that the body is evil, that suicide is a great means to achieve final liberation. To preach and fight for the goodness and integrity of our body is essential to the Dominican preaching, as it is to the Church’s preaching.

Unfortunately, the gnostic teaching grows and takes modern forms. Sanctity of our body is ever compromised as our body is trivialized and even commoditized. Human trafficking is one of the greatest abuses of our body. Young women, mostly from a poor background, are lured into prostitution and turned to be sex objects. Young children are forced to work in inhuman conditions in many countries. Organ harvesting has become most luxurious business involving the countless amount of money. There is a price for every organ we have. In fact, there is a nasty story in the social media of a teenager who sells his kidney to buy the latest model of iPhone. For some people, another additional ‘bodies’ in the wombs are just liabilities and hindrance to self-progress and career development, and thus, it is better to abort these ‘bodies’ before they grow and become bigger problems.

In celebrating the solemnity of the body and blood of Jesus Christ, we are invited through our Gospel reading, to go back to Jesus’ Last Supper. There, Jesus freely offers His body as a gift to His disciples, “Take it, this My body.” He then asks these disciples to share His body they have received to the future generations of disciples. Jesus receives His body as a gift, and now, in His Supper, He passes this gift so that we may have a life. This is the foundation of the Eucharist, as well as the core of the Christian sexuality.

Husband and wife join together in marriage, and they are no longer “two but one body.” As both spouses face the altar of God, they recognize that their bodies are gifts from God, and by lovingly offering to their spouse, they honor God who created them. We oppose any pre-marital and extra-marital sex because unless our body is given freely and totally in lifetime marriage commitment, we are always exposed to objectify our body. A husband’s or wife’s body is not simply the “property” or object to satisfy sexual, psychological needs, but it is a gift from God that even leads us to a deeper appreciation of our own body. In marriage, husband and wife give their body as a gift to each other in love and honor, so that they may have life more abundantly and in fact, they may welcome a new body, a new life, a new gift, into their marriage.

Married life is one among several ways we may accept and offer our body as a gift. Even a celibate life dedicated to service of others is another way to offer our body as a gift. Like Jesus in the Last Supper, it is only by receiving our body as a gift and freely sharing it as a gift that we may have meaningful lives.

  • Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Otoritas dan Jari Telunjuk

Otoritas dan Jari Telunjuk

Lubuk Hati 2 Juni 2018

Mrk. 11:27-33.

Otoritas dan Jari Telunjuk

Saya masih mengingat pengalaman bertahun-tahun yang lalu ketika saya masih menjadi seorang Frater. Paling tidak ada dua orang mengalami “mujizat” kecil dari jari telunjuk kanan saya. Yang pertama, ketika saya memberkati seorang pemudi yang mencari pekerjaan dengan telunjuk kanan saya, dan esoknya dia mendapatkan panggilan kerja. Yang kedua, ketika saya menjumpai pasangan yang sudah menikah 3 tahun, namun belum dikarunia anak. Saya memberkati mereka dengan jari telunjuk kanan saya, dan satu bulan kemudian, saya mendapatkan kabar bahwa Sang Istri sudah mengandung. Ketika saya ceritakan ini kepada orang-orang, mereka meminta saya memberkati mereka dengan jari telunjuk saya, namun saya menjadi ragu karena bisa jadi dua hal itu kebetulan. Saya tak tahu apakah karisma jari telunjuk saya masih disediakan oleh Tuhan atau tidak. Tapi satu hal yang ada dalam pikiran dan hati saya, “Saya hanya tak mau ada upaya saya menggunakan “jari telunjuk” untuk memamerkan kehebatan saya, walau saya juga tak mau menyimpan “jari telunjuk” saya agar bisa dipakai untuk membantu orang lain.” Dengan kata lain, saya berusaha agar orang melihat Tuhan sebagai yang memiliki otoritas dan kuasa untuk membuat segala sesuatunya terjadi.

Hari ini kita mendengarkan para pemuka agama mempertanyakan kuasa Yesus. Dalam bahasa Inggris, kata “kuasa” diterjemahkan dari bahasa aslinya dengan kata “authority” atau otoritas. Kata “otoritas” berasal dari bahasa Latin, “auctoritas” yang berasal dari kata “auctor,” yang artinya pemrakarsa. Pemrakarsa adalah orang atau sumber di mana sesuatu berasal. Para pemuka agama merasa tidak terima karena Yesus mengobrak-abrik Bait Allah sebelumnya (baca Injil kemarin). Yesus-pun menanggapi tantangan para pemuka agama dengan mempertanyakan perihal otoritas yang dimiliki oleh Yohanes Pembaptis. Para pemuka agama tidak menjawab bukan karena tidak tahu tetapi mereka tidak mau. Mereka tidak mau mengakui otoritas Yohanes Pembaptis yang datang dari Tuhan karena merasa cemburu, dan juga takut kepada orang banyak bila tak mau mengakui otoritas Yohanes Pembaptis.

Bukankah kita ini sering berusaha menunjukkan otoritas kita kepada yang lain baik di rumah, di lingkungan dan di komunitas? Apalagi bila kita merasa kekuasaan kita terganggu oleh yang lain. Suami tak senang dibantah istrinya, ibu tak senang bila anaknya berbeda pendapat dengannya, atau pemimpin tak mau mendengarkan pendapat bawahannya. Semua yang datang dengan perasaan bahwa sayalah empunya otoritas, dan sikap melupakan, bahwa Tuhanlah Sang Empu otoritas sebenarnya, membuat kita menjadi sombong dan kasar terhadap yang lain. Itu yang terjadi ketika para pemuka agama berhadapan dengan Yesus. Apakah hidup anda menunjukkan dan membawa otoritas Allah atau otoritas diri sendiri? Kekalutan dan kesombongan adalah tanda-tanda orang yang merasa bahwa otoritasnya datang dari dirinya semata.

Kembali ke soal “jari telunjuk.” Jari telunjuk dalam cerita saya adalah sarana yang dipakai Tuhan untuk menunjukkan kuasaNya. Sebuah alat tidak boleh merasa sebagai sumber kuasa melainkan sarana di mana kuasa Tuhan menemukan medium atau tempat untuk mengalir dan memberkati yang membutuhkan. Kita hanya “alat” Tuhan menunjukkan kuasanya, janganlah berusaha menjadi Tuhan. Janganlah menjadi pemuka agama, tetapi jadilah Yohanes Pembaptis yang berani berkata, “Dia harus semakin besar dan aku harus semakin kecil” (Yoh. 3:30). Jadilah “alat” untuk menyalurkan kuasa Tuhan.

Translate »