Browsed by
Month: August 2018

Benih yang Hidup, Harus Mati Terlebih Dahulu!

Benih yang Hidup, Harus Mati Terlebih Dahulu!

Jumat, 10 Agustus 2018, Pesta Santo Laurensius, Diakon dan Martir
Bacaan Injil Yoh 12:20-36

“Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”  Yohanes 12:24

Hampir di semua budaya kematian dimengerti sebagai akhir dari segala sesuatu. Kalau sudah mati ya sudah tamat! Tidak mengherankan jiakalau kematian bagi kebanyakan orang merupakan sesuatu yang menakutkan dan mengerikan. Maka kita bisa mengerti mengapa manusia sama sekali tidak suka berpikir atau berbicara mengenai kematian. Singkatnya, kematian menjadi sesuatu yang tabu untuk dibicarakan. Di sisi lain, ada banyak usaha untuk menghindari kematian dari budaya kita. Hal ini dikarenakan pada umumnya, kita mempunyai konsep tentang kehidupan dan kematian hanya satu arah saja: yakni dari hidup menuju kematian. Kita semua hidup di dunia dan sedang menuju kepada kematian.

Kematian itu adalah bagian dari kehidupan kita di dunia ini. Lalu bagaimana kita seharusnya menyikapi kehidupan dan kematian? Injil hari ini dan juga pesta Santo Laurensius, diakon dan Martir, yang kita rayakan hari ini, mengungkapkan pemahaman tentang kehidupan dan kematian yang diajarkan Yesus kepada para pengikut-Nya. Dengan mengatakan, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah,” Yesus mau menjelaskan bahwa  Kalau konsep dunia: dari hidup menuju mati; tetapi konsep Yesus : dari hidup menuju mati dan hidup lagi. Agar biji gandum itu dapat bertumbuh dan berbuah maka ia harus ditanam dan mati terlebih dahulu.

Saudara-saudariku, sebenarnya melalui injil hari ini, Yesus sedang mengungkapkan rahasia kehidupan yang dijalani-Nya di dunia ini. Seperti biji gandum, hidup Yesus harus mati dulu untuk menghasilkan buah-buah keselamatan yang berlimpah. Tuhan Yesus mau taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib, maka ada buah yang dihasilkan, yaitu orang yang percaya kepada-Nya diselamatkan dan diperdamaikan dengan Allah.  Di sini kita melihat bagaimana Yesus telah memberi contoh dan teladan dalam hal menyangkal diri demi keselamatan umat manusia dan dunia ini. Bagi Yesus, syarat utama menjadi murid Kristus adalah menyangkal diri.

Dengan demikian, injil hari ini dan juga teladan Santo Laurensius, diakon dan martir yang pestanya kira rayakan hari ini, mengundang kita untuk bersedia menyalibkan dan mematikan keakuan dan keinginan untuk mementingkan diri sendiri agar hidup kita menghasilkan buah yang berlipat ganda. Hidup ini begitu singkat, mari kita jalankan dengan sebaik-baiknya dengan jalan memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama kita. “Untuk apa kita memperoleh segala sesuatu di dalam hidup yang sementara ini, tetapi kita kehilangan hidup yang kekal?”

Siapakah Aku ini: Ajakan untuk Membangun Sebuah Relasi yang Intim

Siapakah Aku ini: Ajakan untuk Membangun Sebuah Relasi yang Intim

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”

Injil hari ini memaparkan kepada kita bagaimana dialog yang mendalam terjalin antara Yesus dan para Rasul-Nya sebagai pengikut dan murid Yesus. Inti yang menjadi persoalan dari pertanyaan itu adalah apakah mereka mengenal identitas Yesus dan seberapa dalam mereka memahami guru-Nya? Ternyata jawaban Petrus menggembirakan hati Yesus. Di sini, Petrus bukan hanya memahami Yesus sebagai Mesias, tetapi juga sebagai anak Allah yang hidup. Pernyataan iman Petrus menjadi tonggak berdirinya jemaat Kristus di dunia. Jawaban Petrus mencerminkan adanya sebuah relasi yang sangat dekat, intim, terbuka dan mendalam terjadi di dalam anggota komunitas yang dibangun oleh Yesus.

Tetapi sesudahnya Yesus menyuruh murid-muridnya agar tidak memberitahu orang lain bahwa dia adalah Kristus (atau Mesias). Yesus juga mengoreksi pandangan Petrus mengenai dirinya yang akan menderita dengan menyatakan, “Enyahlah iblis!” Engkau suatu batu sandungan bagiku, sebab Engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia. Alasannya cukup sederhana, karena orang-orang Yahudi, termasuk para murid dalam hal ini diwakili oleh pernyataan Petrus, pada saat itu memegang pemahaman yang salah tentang Kristus (Mesias). Mereka memahami Kristus sebagai pemimpin politik yang akan membebaskan mereka dari kekuasaan Roma dan membangun Israel sebagai satu kekuatan politik di dunia ini. Orang-orang Yahudi pada zaman itu memegang konsep yang salah tentang Kristus.

Saudara-saudariku, inti dari pertanyaan Yesus kepada para murid mengenai identitas-Nya bukan karena Dia ingin diberitahu atau diberi laporan tentang pendapat orang-orang mengenai diri-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh para politikus zaman now dengan melakukan survei-survei, tetapi untuk menggambarkan perbedaan antara jawaban orang-orang dan jawaban para murid. Pengenalan sejati akan Allah tergantung pada seberapa dalam kita memahami Allah dan seberapa dekat hidup kita bersatu dengan-Nya. Injil hari ini memaparkan kepada kita sebuah relasi yang sangat dekat, intim dan terbuka serta mendalam terjadi di dalam anggota komunitas yang dibangun oleh Yesus.

Pertanyaan refleksi untuk kita renungan bersama:
1. Jika Yesus bertanya kepada kita seperti apa yang ditanyakan-Nya kepada para murid, apa respon atau jawaban yang akan kita berikan?
2. Mampukan kita membangun relasi seperti yang Yesus dan para murid bangun di dalam keluarga dan komuitas kita masing-masing yang ditandai dengan keterbukaan dan saling menghargai?

Peringatan Santo Dominikus

Peringatan Santo Dominikus

Pastor Yustinus Nana Sujana, OSC

Rabu, 8 Agustus 2018

Peringatan Santo Dominikus

Belajar dari Perempuan Kanaan

Bacaan Injil Mat. 15:21-28

Tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada tidak dipedulikan oleh seseorang yang sangat kita harapkan mampu menolong kita. Ketika kita sudah berharap sepenuhnya kepada orang tersebut namun orang orang itu sama sekali tidak memberi perhatian, hal itu akan sangat mengecewakan. Hal yang sama dialami oleh perempuan Kanaan dalam injil hari ini. Dia datang kepada Yesus dengan harapan yang besar bahwa Yesus akan menolongnya. Namun apa yang diperoleh tidak sesuai dengan harapannya. Yesus tidak menjawabnya sama sekali. Suatu keadaan yang sangat menyakitkan.

Bahkan, ketika Tuhan tidak memberi jawaban dan murid-murid-Nya berusaha mengusirnya, perempuan ini tetap berharap penuh kepada Yesus dan dia tidak berbalik pulang dengan kekecewaan. Dia terus berada di tempat itu. Akan tetapi ujian iman selanjutnya harus dilalui oleh perempuan ini. Kali ini Yesus membuka suara namun bukan suatu pernyataan yang diharapkan oleh perempuan ini, karena kalimat yang diucapkan Yesus bernada penolakan, dengan berkata, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Yesus mengatakan bahwa Dia diutus tidak untuk orang-orang di luar Israel. Suatu penantian dan pengharapan yang lagi-lagi menyakitkan. Seolah-olah Yesus menolak memberikan pertolongan.

Saudara-saudariku, dari kisah ini kita dapat melihat ada beberapa ujian iman yang dilalui oleh perempuan Kanaan yang sering kali kita mengalaminya juga. Seorang perempuan dari kalangan kafir karena keprihatinannya terhadap anak perempuannya telah membuat dia berani menembus batas-batas budaya, tradisi dan gender dengan ketabahan dan keberanian. Inilah yang kemudian membuat Tuhan Yesus menjadi kagum. “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh. Dalam kejadian ini, terbukti bahwa pelayanan Tuhan Yesus pun menembus batas-batas kebiasaan eksklusifitas Yahudi. Pada akhirnya, perempuan yang bukan dari kalangan Yahudi itupun mendapat belas-kasihan dari Yesus. Perempuan ini telah datang pada alamat yang tepat, dia memiliki sikap yang benar, dan mendapatkan anugerah-Nya yang telah terbukti mendobrak pola pikir rasialis bangsa Yahudi masa itu.

Menjalani hidup sebagai orang percaya bukanlah pekerjaan ringan, butuh ketekunan dan iman yang harus berakar kuat di dalam Tuhan. Jika tidak, kita akan mudah mengalami kekecewaan dan kepahitan saat menghadapi tantangan dan ujian. Ketika Tuhan seolah-olah tidak berbicara apa-apa, seolah-olah tidak mendengar sama sekali seruan kita dalam kesesakan kita, seolah-olah Tuhan tidak mau menolong kita, jangan menyerah, teruslah berseru kepada-Nya. Dalam keterdiaman-Nya, Tuhan sedang memproses ketekunan dan pengharapan kita. Tuhan sedang mengajar kita untuk terus memandang dan berharap kepada-Nya. Melalui proses diam, kualitas iman kita sedang diperbaiki.

Saudara-saudariku, apakah dalam keadaan yang seperti dialami Perempuan Kanaan, dimana Tuhan tidak menolong, kita masih tetap berharap dengan iman atau kita menjadi undur dari Tuhan?

Berjalan di atas Masalah 

Berjalan di atas Masalah 

 

Selasa  7 Agustus 2018 Hari Biasa Pekan XVIII 

 

Berjalan di atas Masalah 

Bacaan Injil Mat. 14:22-36. 

 

 

Selama manusia hidup dalam dunia ini, manusia tidak pernah lepas dari yang namanya masalah. Masalah merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Suka ataupun tidak, setiap manusia harus menghadapi masalah. Demikian halnya dengan para Murid Yesus. Dalam injil hari ini, Yesus memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang. Tetapi di tengah perjalanan perahu mereka diombang-ambingkan gelombang karena angin Sakal. Di tengah-tengah pergumulan itu, para murid melihat Yesus berjalan di atas air dan mengiranya hantu sehingga mereka berteriak-teriak karena takut. 

 

Saudara-saudariku, perahu-perahu dalam kehidupan kita pun sering dibanjiri oleh gelombang. Ini bisa menjadi perselisihan perkawinan, kecanduan, masalah antara anak-anak dan orang tua, perselisihan dengan tetangga atau di tempat kerja dan sejenisnya. Ketika ini terjadi, Tuhan terus mendatangi kita, berjalan di atas air, menundukkan kekacauan dan kebingungan hidup kita dan memberitahu kita bahwa Dia terus menjadi Emmanuel, Allah beserta kita! Jika kita terus berada di perahu, Dia akan memimpin kita dengan aman ke pantai. Jika kita memutuskan untuk meninggalkan perahu dan pergi kepada-Nya, maka kita harus tetap mempertahankannya dan tidak membiarkan ombak menjatuhkan kita. 

 

Setelah badai dan angin reda para murid yang ada di perahu menyembah Tuhan. Penyembahan adalah respon, sikap, kata-kata terhadap keagungan, kebesaran Tuhan. Dengan menyembah Tuhan kita dapat merasakan hadirat Tuhan dalam hidup kita. Penyembahan yang sejati adalah memuji Allah meski menderita, mengucap syukur meski sedang susah, berserah diri meski sedang lemah, dan mengasihi Tuhan ketika Dia terasa jauh. Orang-orang yang setia menyembah Tuhan pasti dapat berjalan diatas masalah. Allah bertahta diatas pujian dan penyembahan kita. Allah sedang mencari orang-orang yang setia menyembah Dia. 

 

“Tuhan, tolonglah aku!’ Inilah doa Petrus. Singkat dan mendesak. Ini merupakan bagian kedua dari perikop ini di mana Petrus meminta Yesus untuk mengizinkan dia datang kepada-Nya. Bgaian ini hanya terdapat di injil Matius. Dalam Injil Matius ini, Petrus menyebut Yesus sebagai orang percaya dengan menggunakan gelar “Tuhan”. Poin yang tampaknya dibuat oleh Matius ini bukan hanya bahwa Petrus melepaskan pandangannya dari Yesus dan mulai tenggelam, tetapi itulah sebabnya dia ingin membuktikan kehadiran Yesus. Uluran tangan Yesus menyelamatkan Petrus.  Teguran lembut mengidentifikasi Petrus sebagai orang yang beriman kecil, yang merupakan campuran keberanian di satu sisi dan kecemasan di sisi lain. Itu adalah iman yang bercampur dengan keraguan. 

 

Saudara dan saudariku goncangan dan gelombang kehidupan adalah latihan iman dan kesempatan untuk berdoa. Tak satu kejadian pun dalam hidup kita luput dari perhatian dan kasih-Nya. Kita perlu berseru, “Tuhan, tolonglah aku…” Maka Ia akan berkata, “Akulah ini…. Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Tidak seharusnya kita merasa sendiri dan takut menghadapi gelombang kehidupan karena Tuhan itu dekat dan memperdulikan kita. 

 

Marilah berdoa, 

Tuhan, tolong kami untuk melihat Kristus dan memperoleh pengharapan hanya di dalam Dia. Kami mohon kekuatan melewati bahaya dari alam, kejahatan, hawa nafsu, dan segala bentuk ancaman di dunia ini. Beri kami kekuatan melalui pengharapan yang sejati, yaitu pengharapan bahwa hanya Tuhan Yesuslah Raja segala raja yang akan memulihkan segala sesuatu. Mampukan kami ini untuk menjadi pengikutMu sama seperti Santo Petrus yang mengakui dan menjadikanMu Tuhan dalam hidup kami. Amin 

 

Pesta Yesus menampakkan Kemuliaan-Nya

Pesta Yesus menampakkan Kemuliaan-Nya

Senin 6 Agustus 2018

Pesta Yesus menampakkan Kemuliaan-Nya

Mari Belajar Mendengarkan

Bacaan Injil Mrk 9:2-9

Dalam bacaan injil yang akan kita renungkan hari ini, mengisahkan tentang peristiwa Yesus di atas Gunung Tabor. Yesus mengajak ketiga murid-Nya, yakni Petrus, Yakobus dan Yohanes ke atas gunung untuk berdoa. Kejadian berikutnya adalah Yesus berubah rupa di depan mata mereka, wajah-Nya bercahaya seperti matahari, pakaian-Nya putih bersinar seperti terang. “Inilah Putra-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia!”. Itulah suara dari Yang Mahatinggi, yang mengiringi peristiwa perubahan rupa Yesus di gunung. Dalam kemuliaan-Nya nampaklah Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kejadian ini tidak berlangsung lama, hanya sekejap saja, Musa dan Elia hilang dalam pandangan mereka.

Apa yang terjadi di Gunung Tabor sebenarnya merupakan suatu peneguhan atas pergumulan dan doa Kristus yang akan menempuh jalan salib. Sebelum Ia memasuki Yerusalem, Kristus mendapat kekuatan dari Bapanya, dari Musa dan Elia. Kehadiran Musa dan Elia memang merupakan penggenapan nubuat dari Firman Tuhan, dan mereka adalah nabi-nabi yang besar yang sangat dihormati umat Israel. Tetapi maksud kehadiran mereka, tentu memiliki tujuan, yakni sebagai nabi yang pernah melewati padang gurun yang kelam, padang gurun ketidakpercayaan dan penolakan. Mereka seolah-olah memberi konfirmasi bahwa jalan salib yang ditempuhNya adalah memang jalan yang kelam dan hina, tetapi itulah jalan yang penuh dengan kemuliaan. Hal itu diteguhkan oleh Allah sendiri yang berfirman dalam awan kemuliaan : “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” (ay 7). Peneguhan ini mau menunjukkan bagaimana Allah Bapa berkenan terhadap AnakNya.

Saudara-saudari terkasih, pentinglah bagi kita untuk menerima Yesus dan mendengarkan ajaran-ajaran-Nya. Mari kita bercermin diri dan mencermati apa saja yang merintangi atau menghambat kita untuk menerima dan mendengarkan Dia. Ada saat-saat dalam kehidupan kita ketika semuanya berjalan sesuai rencana dan pada waktu-waktu itu mudah untuk melihat bahwa Tuhan ada di pihak kita. Namun, ketika kita menghadapi cobaan dan ketika hal-hal tidak berjalan sebagaimana yang kita inginkan, maka transfigurasi adalah pengingat bagi kita bahwa bahkan ketika memikul salib kita, kita masih dicintai oleh Tuhan. Sebab itu, marilah kita belajar mendahulukan Allah dan kehendakNya, supaya hidup kita senantiasa berkenan di hadapanNya.

Mari juga belajar dari Petrus, Yakobus dan Yohanes bahwa hidup terkadang memberikan banyak kejutan. Beruntunglah, Petrus dan kawan-kawan selalu bersama Yesus. Kejutan itu pun kemudian dialami dalam iman. Rasa bahagia akan bermakna ketika direspon dengan iman. Iman kepada Tuhan dibutuhkan untuk dapat mencerna semua pengalaman bahagia maupun sedih sehingga menjadi pengalaman bermakna, bahwa Allah menyertai kita.

Marilah berdoa.

Ya Bapa, ajarilah kami untuk sentiasa menerima Putra-Mu dan mendengarkan ajaran-ajaran-Nya sehingga hidup kami semakin berkenan bagi-Mu dan makin banyak orang mengenal dan memuliakan nama-Mu. Tuhan bantu kami juga agar kami mampu menghayati pengalaman hidup kami di dalam iman kami kepada-Mu seperti para murid yang melihat kemuliaan Yesus di Gunung Tabor. Amin.

Translate »