Browsed by
Month: September 2018

Rabu Pekan Biasa XXV Tahun II 2018

Rabu Pekan Biasa XXV Tahun II 2018

Rabu Pekan Biasa XXV Tahun II 2018

Amsal 30:5-9; Lukas 9:1-6

Dalam bacaan injil hari ini, Yesus menyadari bahwa waktuNya semakin mendekat. Yesus tahu bahwa Ia tidak akan lama lagi berada di dunia ini. Banyak orang yang tidak menyukaiNya, (terutama mereka yang kemapanannya diusik oleh Yesus) sehingga menghendaki kematianNya segera. Oleh karena itu, sebagai pemimpin yang visioner, Yesus mulai menyiapkan dan membekali para muridNya agar siap ketika harus ditinggalkan sang Guru. HarapanNya, para muridNya dapat melanjutkan misi Yesus yaitu mewartakan karya keselamatan Allah kepada manusia.

Untuk membekali para muridNya tersebut, Yesus menentukan aturan yang cukup ketat. “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju” ay 3. Aturan-aturan atau lebih tepatnya larangan-larangan itu dimaksudkan supaya para muridNya terbantu untuk memusatkan diri mereka pada tugas utamanya dan tidak menjadi terganggu oleh hal-hal lain, khususnya segala sesuatu yang melulu demi keuntungan diri. Para murid diajak meniru sikap Guru mereka untuk tidak membawa apa-apa dalam perjalanan dan lebih memusatkan diri pada tugas perutusan, bukan pada kebutuhan pribadi.

Sebagai murid Yesus, kita masing-masing mempunyai tugas perutusan yang diberikan Tuhan kepada kita. Entah itu sebagai romo, biarawan/wati, orangtua, mahasiswa atau pelajar, guru, karyawan, katekis dll. Melalui tugas perutusan itu, kita diajak untuk ikut ambil bagian dalam tugas perutusan Yesus yaitu mewartakan kabar keselamatan Allah. Betapa luhur nilai tugas dan perutusan kita tersebut. Oleh karena itu, hari ini Yesus mengajak kita untuk meneladan Dia yaitu memusatkan diri pada perutusan kita itu tanpa harus disibukkan dengan keinginan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan diri. Yesus menjamin bahwa dalam menjalankan perutusan kita tersebut, kita tidak akan pernah menjadi menderita dan berkekurangan. Ada banyak orang yang akan mencukupkan kebutuhan kita. Maka janganlah khawatir akan kebutuhan kita sendiri. Semoga rahmat Tuhan membantu kita untuk memberikan pelayanan yang tulus dan penuh kesungguhan.

Selasa Pekan Biasa XXV Th II 2018

Selasa Pekan Biasa XXV Th II 2018

Selasa Pekan Biasa XXV Th II 2018

Amsal 21:1-6. 10-13a; Lukas 8:19-21

Beberapa tahun yang lalu kita mendengar tentang perseteruan di dalam keraton Kasunanan Surakarta antara Hangabehi dan Tejowulan. Mereka saling mengklaim bahwa diri mereka masing-masing yang paling berhak untuk menduduki tahta Kasunanan Surakarta. Akibat perseteruan ini, kedua saudara beda ibu ini saling serang dan mengakibatkan Tejowulan menyingkir dari keraton untuk mendirikan ”Keraton bayangan” yang ia pimpin sendiri. Untuk menunjukkan eksistensinya, mereka masing-masing saling memberikan “kekancingan” atau surat penghargaan kepada orang di luar keraton untuk diangkat menjadi “saudara” keraton. Sudah menjadi rahasia umum apabila banyak orang, (khususnya selebritis) yang dapat “membeli” gelar kebangsawanan tersebut demi suatu prestise. Mereka ingin diangkat menjadi kerabat keraton dengan suatu gelar tertentu agar mendapatkan gengsi dan ketenaran.

Bacaan injil hari ini seolah-olah menunjuk Yesus sebagai Malin Kundang atau anak yang durhaka, karena Yesus tidak mau memprioritaskan Ibu dan saudara-saudariNya. Bahkan kata-kataNya cukup pedas menurut ukuran orang kebanyakan, “Ibuku dan saudara-saudaraKu adalah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan melaksanakannya”. Yesus seolah-olah tidak mempedulikan persaudaraan berdasarkan hubungan darah. Namun tidak serta merta demikian, Yesus menekankan bahwa persaudaraan itu tidak melulu soal hubungan darah, melainkan lebih pada kesediaan untuk mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah. Yesus lebih menghargai orang yang bertekun melaksanakan dan mendengarkan kehendak Allah dari pada hanya soal relasi kekerabatan.

Hari ini Tuhan Yesus hendak mengubah paradigma kita soal persaudaraan. Kalau selama ini kita beranggapan bahwa hubungan kekeluargaan itu sebagai yang sangat penting dan harus dipertahankan mati-matian, betapa malangnya kita karena kita tidak mungkin dapat dekat dengan Yesus yang bukan saudara kita sedarah. Kita diberi kesempatan oleh Yesus untuk dekat dan menjadi “saudaraNya” apabila kita mampu mendengarkan dan melaksanakan kehendak BapaNya. Menjadi saudara Yesus berarti kita sungguh-sungguh dekat dan mengenal kehendakNya. Pengenalan ini mengantar kita untuk hidup seturut kehendak Yesus. Dan inilah satu-satunya

jaminan keselamatan kita. Semoga hari ini dan selanjutnya, kita mampu mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah dalam hidup kita.

Senin Pekan Biasa XXV Tahun II 2018

Senin Pekan Biasa XXV Tahun II 2018

Senin Pekan Biasa XXV Tahun II 2018

Amsal 3:27-34; Lukas 8: 16-18

Rumah-rumah Palestina pada zaman Yesus biasanya terbuat dari tanah liat yang keras, dan mereka memiliki cukup jendela untuk membiarkan udara dan cahaya masuk, tetapi cukup kecil untuk menahan debu gurun dan panas. Saat itu, sangat berharga untuk memiliki lampu minyak yang terbakar di dalam rumah. Kenyataan sehari-hari inilah yang mengilhami Yesus untuk berbicara dengan nada simbolis yang dia miliki dalam Injil hari ini.

“Terang” biasanya adalah tanda kehadiran Tuhan di dalam Alkitab. Di kitab Kejadian, Terang menggambarkan tentang Tuhan yang membuat cahaya keluar dari kegelapan yang kacau. Teofani Allah selalu disertai dengan cahaya seperti kilat dan semak yang menyala. Nabi Yesaya dalam bernubuat tentang kedatangan Mesias mengatakan: “Orang-orang yang berjalan dalam kegelapan telah melihat cahaya yang besar…” Dalam Perjanjian Baru, St. Yohanes mengembangkan Injilnya dengan tema-tema tentang cahaya Allah melawan kegelapan. Paulus, dalam surat-suratnya menulis bahwa kita harus hidup sebagai anak-anak terang. Injil kita hari ini menggarisbawahi bahwa dengan cara yang sama pelita diletakkan di atas kaki dian untuk memberi terang kepada semua orang di rumah. Iman kita kepada Allah dapat kita sebut sebagai pelita kita, harusnya menuntun kita untuk menyaksikan kepercayaan ini sehingga orang lain dapat mendengar, melihat, dan mengalami kehadiran Allah (lih. Yoh 1: 1-7).

Saya mengajak kita semua untuk merefleksikan tentang dua hal yang berkaitan dengan “membiarkan terang kita” bersinar:

Pertama, cahaya atau terang harus terus menerus menegaskan dirinya untuk menaklukkan kegelapan. Jadi, kita harus menyadari bahwa tugas kita sebagai pengikut Kristus bukanlah tugas yang mudah. Kita harus terus menegaskan komitmen kita di tengah tantangan kegelapan dunia yang semakin jauh dari nilai-nilai kristiani, sistem yang bertentangan dengan iman serta ajaran kristiani dst.

Kedua, semakin banyak api menyala, maka akan memiliki kecenderungan alami untuk menjadi lebih besar! Jadi, dengan iman kita yang kita satukan dengan iman jemaat-jemaat lain akan membuat “kobaran” api Kristus menyala dihati banyak orang. Iman yang dibagikan berkali-kali akan membuat iman kita semakin diperkuat. Ini mirip dengan apa yang diungkapkan dalam kitab kebijaksanaan yang mengatakan: “Practice makes perfect.” Semakin kita mengaplikasikan iman kita

dalam hidup kita sehari-hari, semakin sempurna dan berkembanglah iman kita. Semoga kita sebagai pengikut Kristus mampu membawa terang kepada setiap orang yang kita jumpai sehingga nama Tuhan semakin dimuliakan.

True Greatness

True Greatness

25th Sunday in Ordinary Time

September 23, 2018

Mark 9:30-37

 

“Whoever wants to be first must be last of all and servant of all.” (Mk. 9:35)

 

While I was reflecting on this Sunday’s Gospel, I was able to discover some news about our Church. Good News! The Catholic Church in the Philippines is preparing herself for the 500 years of the arrival of Christianity in this archipelago. The first baptism and Eucharist were taking place in 1521 as the Spanish missionaries began their evangelization mission. As part of this grand preparation, the Bishops of the Philippines have decided to celebrate this year as the year of the clergy and the consecrated persons. The major theme of this year is the renewed servant-leaders for the new evangelization. In view of this, many programs and activities are organized to help both the ordained ministers and the religious brothers and sisters to deepen their commitment to God and their service to the people.

Not so good news. It is also true, however, that today the Church is also facing a deep crisis. In many countries and places, the clergy, as well as the religious persons, are caught in scandals and shameful things. One among the worst is the sexual abuses involving the minors done by priests and even bishops, and the massive cover-up staged to tolerate this structural evil. Yet, this is not the only thing that plagues the Church. Some ordained ministers are dishonest and having double-standard lives. Some are secretly enriching themselves. Others may not commit any scandal, but are lacking in compassion and enthusiasm in serving the people of God. Many stories are circulating of priests refusing to hear confession or anointing the dying because they like to prioritize their scheduled hobbies or religious persons who are grumpy and easily irritated with others. These attitudes simply drive people away from the Church. The rest of us perhaps are just nothing but mediocre clergy or religious. This reminds me of Pope Francis who points that holiness as opposed to ‘bland and mediocre existence.’

Our Gospel narrates Jesus who in private teaches the disciples, who will be the first and models of Church’s leaders. The Gospel itself can be divided into two parts. The first part speaks of Jesus foretelling his impending suffering and death in Jerusalem. Here, reacting to Jesus’ words, the disciples drop silence. Perhaps, the memory of Jesus scolding Peter and calling him “Satan” is still fresh in the mind of the disciples and nobody wants to repeat the same embarrassment. The second part of the Gospel tells us of the topic of greatness. This time, the disciples have a different reaction. Not only do they initiate the discussion, but they are also passionately arguing among themselves. We can imagine Peter boasting himself as the leader among the apostles, or John telling everyone that he is the closest to Jesus, or Matthew being proud of his richness. After all, these are our first Pope and first bishops. Yet, when Jesus asks them, they once again fall silent.

The apostles seem to forget that Jesus’ disciples have to carry their cross and follow Jesus to Jerusalem. Jesus, however, understands that human desire for excellence is a gift from God. Jesus does not forbid His apostles to have dreams and strive for greatness, but He makes a radical twist. He directs this powerful energy from achieving one selfish interests into serving others. Thus, Jesus’ unforgettable line: “Whoever wants to be first must be last of all and servant of all.” (Mk. 9:35) Indeed, they need to excel, but not any worldly measures, but in serving and empowering others. In his exhortation, Gaudete et Exsultate, Pope Francis calls this “the Logic of the Cross.” True happiness is a paradox. If the clergy, the religious and all of us want to be genuinely happy, then it is not so much on the wealth and success we have gained, but from our service and sacrifice for others.

We continue to pray for our priests and bishops, as well as our religious brother and sisters. We pray not only that they may avoid scandals, but they may be holy. As Pope Benedict XVI puts it, “holiness is nothing other than charity lived to the full.”

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

KESIAPAN UNTUK MENERIMA SABDA ALLAH

KESIAPAN UNTUK MENERIMA SABDA ALLAH

SABTU, 22 SEPTEMBER 2018

KESIAPAN UNTUK MENERIMA SABDA ALLAH

1 Kor 15:35-37,42-49

Luk 8:4-15

Yesus Kristus hadir untuk menaburkan dan menanamkan nilai-nilai Kerajaan Allah yang membawa kedamaian dan keselamatan. Nilai-nilai Kerajaan Allah tersebut bisa tinggal dan bertumbuh serta berbuah dalam diri manusia apabila masing-masing orang memiliki kesiapan di dalam dirinya. Kesiapan terwujud ketika orang memiliki sikap kerendahan hati.

Oleh karena itu yang menentukan terjadinya pribadi yang damai, sejuk dan murah hati adalah hati yang tidak sombong, bukan hati yang keras, bukan pula yang hanya memikirkan kepentingan diri-sendiri, akan tetapi hati yang humble. Kerendahan hati menjadikan pribadi manusia sadar akan siapa dirinya yang sejati, yaitu sebagai pribadi yang diciptakan oleh Allah, berharga dihadapan Allah dan dicintai Nya. Karena kemurahan hati Allah, maka manusia menerima keselamatan berkat penebusan dosa oleh Yesus Kristus.

Kesadaran tersebut membuat manusia terus merindukan untuk bersandar kepada Allah. Ketika kita sudah merasakan kedekatan dengan Nya, maka segala yang disabdakan Nya akan tinggal di hati dan akan mendorong kita untuk melakukan kehendakNya. Buah dari relasi dengan Allah adalah tindakan-tindakan penuh kasih dan kebenaran.

Marilah berdoa,

Allah yang Maha Kasih, terima kasih atas penyertaanMu dalam kehidupan kami. Dikau selalu menyapa kami setiap hari lewat SabdaMu dan peristiwa-peristiwa yang kami alami setiap hari. Anugerahkanlah kami sikap rendah hati, agar kami siap menerima Sabda Mu dan melaksanakan kehendak Mu. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami, Amin.

Translate »