Browsed by
Month: October 2018

Semakin Mampu Beragama

Semakin Mampu Beragama

Bacaan I Gal 4: 31b – 5:6

Bacaan Injil Lukas 11: 37-41

Semakin Mampu Beragama

Pernah ada tulisan dalam buku refleksi saya, “Jika dengan beragama, engkau justru sering memperbandingkan kebenaran imanmu di atas pemeluk agama lain; jika dengan beragama, engkau cenderung menutup diri dari masyarakat luas; dan, jika dengan beragama, engkau merasa mandul dalam keterlibatan sosial; maka lebih baik bagimu untuk hidup tanpa agama. Sebab, agama tak bertujuan mengkotak-kotakkan pemeluknya; tak bermaksud untuk mengeksklusifkan pemeluknya; dan, tak hendak membuat pemeluknya sebagai pelaku ekstase doa tanpa pernah mau melilhat apa-apa yang ada di sekitar. Agama memang menuntunmu menuju kebenaran sejati; tetapi bahwa kesejatian kebenaran akan menjadi sempurna jika engkau dapat menemukan keindahan dalam hidup bersama orang lain apapun keadaannya. Karena dengan menerima orang lain, itu sama saja engkau mencintai Allah-mu yang mana sering engkau dendangkan dalam doa, semedi dan dzikir”. Kala itu, tulisan tersebut cukup mewakili kegundahan hati saya akibat banyaknya kejadian di Indonesia yang diprovokatori oleh karena persoalan beda agama.

Bacaan-bacaan pada hari ini mengajak kita untuk semakin beriman dalam hidup beragama. Agama yang kita pilih seharusnya menjadi sarana pemenuhan iman dalam rangka mencapai kesatuan dengan Allah. Menjadi pemeluk agama yang baik adalah senantiasa berusaha mengamalkan kebaikan kepada semakin banyak orang. Di dalam Injil, orang-orang Farisi adalah contoh kawanan pemeluk agama yang tak bisa mengimani tuntunan agamanya secara mendalam. Mereka hanya melihat sisi luar dari identitas keagamaan sehingga mudah bagi mereka untuk menggolongkan orang lain dalam kotak-kotak diskriminatif. Padahal, agama tak bermaksud demikian. Justru dengan beragama, diharapkan bahwa kita semakin mampu membuka mata, mampu untuk peka dan akhirnya menemukan Allah di segala macam situasi hidup.

Dari bacaan pertama, kita bisa mengambil kesimpulan rohani bahwa satu-satunya yang menyelamatkan kita adalah iman, yakni beriman kepada Kristus Tuhan. Iman ini bekerja dalam kasih dan iman tertuang dalam ajaran-ajaran agama. Maka, menjadi tugas kita sebagai pemeluk agama untuk mengamalkan kebaikan iman melalui interaksi dengan semakin banyak orang. Pertanyannya, sudahkah kita menyadari diri sebagai pemeluk agama yang baik? Sudahkah pula kita mengamalkan nilai-nilai iman di dalam hidup bersama?

Tough Love

Tough Love

28th Sunday in Ordinary Time

October 14, 2018

Mark 10:17-30

 

Jesus, looking at him, loved him and said to him, “You are lacking in one thing. Go…follow me.” (Mk. 10:21)

 

We discover at least three instances in the Bible in which Jesus explicitly expresses that He loves someone. The first instance is that Jesus loves the young rich man who seeks the eternal life (Mrk 10:21). The second is Jesus loves Martha, Mary, and Lazarus (Jn 11:5). The third is Jesus’ love for His disciples, especially His beloved disciple (Jn 13:34).

In these three accounts, Jesus’ love is not simply an emotional kind of affection. It is not the love that causes an adrenalin rush, heart’s palpitation, and an explosion of imagination. It is not fickle love that comes in the morning but dies in the afternoon. The love of Jesus is a love rooted in free will and firm decision. No wonder the Greek word used to describe this love is “agape.” Neither it is “eros,” an emotional and sexual love, nor “philia,” an affection for friends. St. Thomas Aquinas succinctly yet powerfully describes “love” as willing the good of the others. When Jesus loves them, Jesus freely chooses that the good things may happen in their lives even though this means Jesus has to forgo His own goodness and benefits. It is the tough love that entails giving up oneself, sacrifice and even pain. It is the love that thrives even when life has turned sour, and feelings have become bitter.

Going back to the story of the rich young man who asks Jesus on how to inherit the eternal life, he is basically a good guy. He has done a lot of good deeds and been faithful to God and the Law of Moses. Jesus Himself gives him score nine out of ten. Only one thing is still lacking. When Jesus invites the young man to sell what he has, to give them to the poor, and follow Jesus, the man goes away sad. Why? The Evangelist gives us the answer: he has many “ ktemata ,” landed properties. This guy is not ordinarily rich, but super rich. Perhaps, the young man thinks that eternal life is something that can be added to his properties, something that is acquired by doing good and avoid

ing evil or something that can make him even richer. Yet, this is not eternal life, but a mere shopping in the mall.

Eternal life is a gratuitous gift from God given to those whom He loves. This young man is truly blessed because Jesus loves him. The eternal life is just a step away from this good young man. Yet, though the gift is free, it is never cheap. Jesus wants the young man to follow Him because He wishes to teach the young man how to love like Him. Jesus wants him to will the good of the others, and this begins with selling his precious properties and helping the poor. Here comes again the paradox of love: unless we give ourselves for others, we never have ourselves fully. In the words of St. Francis of Assisi, “For it is in giving that we receive, it is in pardoning that we are pardoned, and it’s in dying that we are born to eternal life.”

I have been in the formation for more than 16 years, more than half of my life. I used to get frustrated because I have done well and fulfilled the requirements, and yet the ordination never comes. However, I realize that I was thinking like the rich young man. I forget that the vocation, as well as ordination, are gifts, not reward. This perspective frees me from my pride and makes me humble and grateful. Jesus loves me, and He loves me tough .

Jesus loves us and yet, it is not an easy and pampering love. It is tough love. It is love that challenges us to grow beyond; it is love that dares us to remain in truth, it is love that propels us to love like Jesus.

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

.

Menemukan Tanda Penyertaan Allah

Menemukan Tanda Penyertaan Allah

PW Santa Teresa dari Yesus

Bacaan I Gal 4: 22-24. 26-27. 31

Bacaan Injil Lukas 11: 29-32

Menemukan Tanda Penyertaan Allah

“Angkatan ini adalah angkatan yang menuntut suatu tanda”, demikianlah perkataan Yesus terhadap orang banyak, khususnya orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Dengan adanya tanda, mereka akan percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Ibarat kata, iman kepercayaan mereka tergantung dari hal-hal fisik yang bisa dirasakan secara kasat mata; padahal, kehadiran Yesus sudah menjadi tanda terbesar adanya keselamatan dari Allah. Yesus berkarya melalui banyak cara yang semuanya menguntungkan banyak orang: membangkitkan orang mati, menyembuhkan penyakit, mengusir setan atau memberi penghiburan. Yesus bukan lagi tanda, tetapi justru sebagai pemenuhan keselamatan hadirnya Allah. Namun, sayangnya bahwa orang Farisi dan ahli Taurat tidak mampu melihat Yesus secara cermat.

Apa yang dialami oleh orang Farisi dan ahli Taurat barangkali pernah kita alami. Misalnya, ketika kita menemukan masalah kehidupan, lalu berdoa dan menuntut tanda penyertaan Tuhan; dan kita terus memohon adanya tanda itu; padahal, mungkin saja Tuhan sudah menjawab doa kita melalui peristiwa-peristiwa tak terduga yang kita alami. Maka, yang paling pokok ketika kita menuntut dan menantikan suatu tanda adalah adanya kepekaan yang tinggi. Rasa peka seharusnya menjadi kebutuhan kita sebab kepekaan akan mengasah batin, jiwa dan hati kita dalam memahami prakarsa Allah. Kualitas kepekaan sangat bergantung dari kemampuan kita mengalami keheningan.

Ketika saya masih di Seminari Menengah dulu, saya diajari cara berdoa yang mana latihan dasarnya adalah mencoba hening. Latihan keheningan ini berjalan sampai beberapa hari. Setelah itu, saya diminta untuk merasakan, mendengarkan dan mengingat apa-apa saja yang terjadi selama berdoa hening tersebut. Waktu itu saya heran karena banyak suara-suara berfrekuensi rendah yang tidak pernah saya dengar, misalnya suara jangkrik, burung sampai kendaraan di jalan nun jauh di sana. Saya baru paham bahwa semua itu terjadi karena saya memiliki kepekaan dengan keadaan sekitar sebagai akibat dari keheningan batin yang saya wujudkan.

Dalam hidup ini, ada banyak tanda yang Allah berikan sebagai wujud nyata penyertaan-Nya. Pertanyannya, mampukah kita menemukan tanda-tanda itu? Mampukah pula kita menyalakan kepekaan dalam diri masing-masing agar setiap hari kita semakin banyak menemukan tanda penyertaan Allah?

Keluarga Yesus

Keluarga Yesus

Sabtu pada Pekan Biasa ke-27

13 Oktober 2018

Lukas 11:27-28

Dalam kebudayaan Israel kuno dan juga banyak budaya di Asia dan Afrika, keluarga adalah inti dari identitas seseorang. Seseorang dilahirkan, tumbuh, menjadi tua dan wafat dalam keluarga. Sewaktu uskup agung Pontianak, Agustinus Agus memberi ceramah di University of Santo Tomas, Manila, dia bangga sebagai bagian suku Dayak yang berasal rumah betang. Dalam budaya tradisional suku Dayak, sebuah keluarga besar atau klan tinggal, hidup dan melakukan rutinitas bersama di rumah besar dan panjang. Inilah rumah betang. Pada tahun 1977, Presiden Tanzania Julius Nyerere, salah satu tokoh Afrika paling terkenal waktu itu, mengunjungi Amerika Serikat dan berbicara di depan para mahasiswa Afrika yang belajar di sana. Di depan mereka, dia mengkritik orang-orang Afrika yang menerima banyak dukungan dari keluarga dan suku mereka, namun menolak untuk kembali ke tanah Afrika setelah belajar. Itu adalah tindakan pengecut dan pengkhianatan ke Afrika.

Namun, membaca Injil hari ini dengan seksama, umat Katolik yang baik akan terkejut. Kita tentunya mengharapkan Yesus mengamini para wanita yang memuji Maria, ibu-Nya. Anehnya, Yesus tidak melakukan apa yang diharapkan, tetapi sebaliknya Dia mengambil kesempatan itu untuk menunjukkan siapa keluarga baru-Nya. Kata-kata Yesus terkesan keras karena Yesus tampaknya tidak memasukkan Maria dari komposisi keluarga baru-Nya. Apakah ini berarti Yesus tidak menghormati Maria, yang adalah bunda-Nya? Apakah ini berarti bahwa keluarga biologis dan tradisional tidak memiliki nilai?

Jawabannya jelas tidak. Tentu saja, Yesus menghormati dan mengasihi ibu-Nya. Yesus juga mengajarkan kekudusan sebuah pernikahan dan kehidupan keluarga (lihat Mat 5:31-32; Mat 19:19). Jemaat Gereja perdana juga mengikuti ajaran Yesus tentang integritas sebuah pernikahan dan kehidupan keluarga, sebagaimana tercermin dalam surat-surat St. Paulus (lihat 1 Kor 7: 1-17; Ef 6: 1-5). Kita yakin bahwa bagi Yesus, pernikahan dan keluarga itu baik. Namun, inti dari Injil kita hari ini adalah Yesus memanggil kita semua untuk melampaui hubungan alami ini. Keluarga baru Yesus tidak didasarkan pada darah tetapi berakar pada iman dan kemauan kita menjalankan kehendak Allah. Ini juga panggilan yang Yesus alamatkan kepada Maria. Tentunya, Maria menjadi model iman ketika dia mematuhi kehendak Allah saat ia menerima Kabar Sukacita (Luk 2: 26-38), ketika ia mengikuti Yesus bahkan sampai ke salib (Yoh 19: 25-26) dan setia berdoa bersama dengan Gereja perdana (Kis 1:14). Santo Agustinus pun mengatakan dalam kotbahnya, “Suatu berkat yang lebih besar bagi Maria karena ia telah menjadi murid Kristus daripada menjadi ibu Kristus.”

Keluarga sebagai institusi itu baik, tetapi Yesus mengajarkan bahwa kita perlu menjadi murid-Nya Yesus terlebih dahulu sebelum kita menjadi anggota keluarga yang baik. Kalau tidak, keluarga akan terbuka terhadap godaan sang jahat. Adalah kehendak Tuhan bahwa kita setia, bahwa kita melakukan keadilan, bahwa kita berbelas kasih terutama bagi yang lemah dan miskin. Tanpa nilai-nilai Kristiani, keluarga tidak akan menjadi sumber kebaikan. Menggemakan kata-kata St. Agustinus, menjadi bagian dari keluarga adalah sebuah berkat, tetapi menjadi murid Kristus adalah berkat yang jauh lebih besar.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Eksorsisme sebagai Sarana Membangun Kerajaan Allah

Eksorsisme sebagai Sarana Membangun Kerajaan Allah

Jumat pada Pekan Biasa ke-27

12 Oktober 2018

Lukas 11:15-26

Ada tiga hal dasar yang Yesus lakukan dalam menjalan misi-Nya: pengajaran, eksorsisme (mengusir roh jahat) dan penyembuhan. Pada hari Sabat, Dia mengajar dengan penuh otoritas di rumah ibadat. Dia menghadapi roh-roh jahat yang merasuki orang-orang dan mengusir mereka. Dan tentunya, banyak kisah penyembuhan dan mujizat yang terjadi karena Yesus bersabda atau mengulurkan tangan-Nya kepada orang sakit.

Mengapa tiga tugas ini mendasar bagi Yesus? Jawabannya adalah karena ketiga aspek ini menjadikan pelayanan Yesus sebagai pelayanan yang holistik atau menyeluruh. Pengajaran adalah untuk membentuk pikiran yang sehat, mengusir roh jahat adalah untuk membangun kehidupan rohani yang kudus, dan penyembuhan adalah untuk memberdayakan tubuh kita. Ini adalah Kabar Baik karena keselamatan yang Yesus bawa mencakup semua aspek kemanusiaan kita. Ini adalah membangun Kerajaan Allah di dunia. Sebagai murid-murid-Nya, kita semua dipanggil untuk mengajar, mengusir roh jahat, dan menyembuhkan.

Secara khusus, Injil hari ini berbicara tentang beberapa orang yang tidak percaya akan kuasa Yesus, terutama kuasa-Nya untuk mengusir roh-roh jahat. Bahkan mereka menuduh Yesus menggunakan kuasa Beelzebul, sang pengulu setan. Orang-orang ini gagal melihat bahwa eksorsisme yang dilakukan Yesus tidaklah terpisah dari misi utama-Nya mewartakan dan membangun Kerajaan Allah dan membentuk manusia yang holistik. Eksorsisme yang terpisah dari pengajaran dan penyembuhan tidaklah lengkap, hanya akan mendatangkan roh-roh jahat yang lebih banyak, dan menghancurkan sang manusia. Yesus mengajak mereka yang tidak percaya untuk melihat apakah pengusiran setan yang Ia lakukan adalah bagian dari Kerajaan Beelzebul, atau dari Kerajaan Allah.

Pada masa ini, eksorsisme benar-benar merupakan pelayanan khusus di Gereja, dan hanya didelegasikan kepada beberapa orang di bawah wewenang para uskup, namun kita semua dipanggil untuk mengusir roh jahat dalam kehidupan dan hati kita. Ini adalah tugas kita untuk menjalani kehidupan yang kudus dengan menerima sakramen-sakramen secara rutin, dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Inilah beberapa cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dan dengan demikian, memungkinkan kita memiliki kehidupan rohani yang sehat. Mengusir roh jahat juga berarti membebaskan diri kita dari belenggu dosa dan kebiasaan jahat. Ini adalah semacam penyembuhan spiritual. Iblis terkadang merasuki tubuh manusia, namun seringkali, dia merasuki hati kita. Keterikatan kita yang berlebihan terhadap berbagai hal, seperti uang, kesenangan seksual, kehormatan, adalah manifestasi dari roh-roh jahat yang bekerja di dalam hati kita.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Translate »