Semakin Mampu Beragama
Bacaan I Gal 4: 31b – 5:6
Bacaan Injil Lukas 11: 37-41
Semakin Mampu Beragama
Pernah ada tulisan dalam buku refleksi saya, “Jika dengan beragama, engkau justru sering memperbandingkan kebenaran imanmu di atas pemeluk agama lain; jika dengan beragama, engkau cenderung menutup diri dari masyarakat luas; dan, jika dengan beragama, engkau merasa mandul dalam keterlibatan sosial; maka lebih baik bagimu untuk hidup tanpa agama. Sebab, agama tak bertujuan mengkotak-kotakkan pemeluknya; tak bermaksud untuk mengeksklusifkan pemeluknya; dan, tak hendak membuat pemeluknya sebagai pelaku ekstase doa tanpa pernah mau melilhat apa-apa yang ada di sekitar. Agama memang menuntunmu menuju kebenaran sejati; tetapi bahwa kesejatian kebenaran akan menjadi sempurna jika engkau dapat menemukan keindahan dalam hidup bersama orang lain apapun keadaannya. Karena dengan menerima orang lain, itu sama saja engkau mencintai Allah-mu yang mana sering engkau dendangkan dalam doa, semedi dan dzikir”. Kala itu, tulisan tersebut cukup mewakili kegundahan hati saya akibat banyaknya kejadian di Indonesia yang diprovokatori oleh karena persoalan beda agama.
Bacaan-bacaan pada hari ini mengajak kita untuk semakin beriman dalam hidup beragama. Agama yang kita pilih seharusnya menjadi sarana pemenuhan iman dalam rangka mencapai kesatuan dengan Allah. Menjadi pemeluk agama yang baik adalah senantiasa berusaha mengamalkan kebaikan kepada semakin banyak orang. Di dalam Injil, orang-orang Farisi adalah contoh kawanan pemeluk agama yang tak bisa mengimani tuntunan agamanya secara mendalam. Mereka hanya melihat sisi luar dari identitas keagamaan sehingga mudah bagi mereka untuk menggolongkan orang lain dalam kotak-kotak diskriminatif. Padahal, agama tak bermaksud demikian. Justru dengan beragama, diharapkan bahwa kita semakin mampu membuka mata, mampu untuk peka dan akhirnya menemukan Allah di segala macam situasi hidup.
Dari bacaan pertama, kita bisa mengambil kesimpulan rohani bahwa satu-satunya yang menyelamatkan kita adalah iman, yakni beriman kepada Kristus Tuhan. Iman ini bekerja dalam kasih dan iman tertuang dalam ajaran-ajaran agama. Maka, menjadi tugas kita sebagai pemeluk agama untuk mengamalkan kebaikan iman melalui interaksi dengan semakin banyak orang. Pertanyannya, sudahkah kita menyadari diri sebagai pemeluk agama yang baik? Sudahkah pula kita mengamalkan nilai-nilai iman di dalam hidup bersama?