Browsed by
Month: February 2019

RAGI ORANG FARISI: KEDEGILAN DAN KETIDAKPERCAYAAN!

RAGI ORANG FARISI: KEDEGILAN DAN KETIDAKPERCAYAAN!

Selasa, 19 Februari 2019
Kej. 6:5-8,7:1-5,10; Mzm. 29:1a,2,3ac-4,3b,9b-10; Mrk. 8:14-21
RAGI ORANG FARISI: KEDEGILAN DAN KETIDAKPERCAYAAN!
Tiga hari ini, kami mendapatkan kesempatan untuk wawancara dengan Bapa Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, dan sebelum bertemu beliau, kami membuat semacam refleksi yang akan diserahkan sebelum wawancara. Jadwal saya adalah kemarin siang, dan karena semenjak pagi agak gugup, maka refleksi yang rencana akan saya bawa, ternyata ketinggalan di kamar, dan ya sudah, saya wawancara mengandalkan sebuah catatan dan alat tulis. Rasa gugup yang berlebihan kadang membuat sesuatu yang sudah disiapkan secara baik dan matang, menjadi ‘blank’, lupa, dan tertinggal. Namun, yang menjadi poin penting adalah: terlalu memikirkan hal-hal yang fisik, jasmani terkadang beresiko mengorbankan sesuatu yang bermakna: persiapan batin, keheningan jiwa, dan penataan hati. Baik kalau persiapan fisik dan batin itu diperlakukan dengan sama baiknya.
Yesus hari ini, mengingatkan para murid, dalam sebuah perjalanan, agar waspada terhadap pengaruh ‘ragi’ orang Farisi. Namun tampaknya para murid lamban hatinya, dalam menangkap maksud perkataan Yesus. Para murid tidak mudah mengerti dengan yang dimaksud Yesus. Mereka itu masih terlalu memikirkan hal-hal yang fisik, jasmani, yang dalam bacaan diungkapkan dengan perbekalan roti yang tidak mereka bawa. Dalam hidup sehari-hari, kita kadang menjadi orang yang terlalu sibuk dengan urusan yang fisik, jasmani, namun lupa pada hal yang penting yaitu kesediaan diri untuk menata hati dan jiwa demi mendengar suara-suara kehendak Allah.  Orang yang terbuka pada suara kehendak Allah adalah orang yang selalu siap dan waspada untuk melawan godaan ‘ragi’ orang Farisi, yaitu kedegilan dan ketidakpercayaan. Semoga hari-hari kita diisi dengan pemenuhan makna sekaligus bagi fisik dan jiwa.
Selamat pagi, selamat mempersiapkan berbagai perbekalan-perbekalan rohani.
BERIMAN BUKAN HANYA DARI SEBUAH TANDA

BERIMAN BUKAN HANYA DARI SEBUAH TANDA

[KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN]
Senin, 18 Februari 2019
Hari Biasa, Pekan Biasa VI
Kej. 4:1-15,25; Mzm. 50:1,8,16bc-17,20-21; Mrk. 8:11-13
BERIMAN BUKAN HANYA DARI SEBUAH TANDA
Hari-hari, akibat masa menjelang pergantian musim, kadang-kadang yang membuat ‘mangkel’ adalah cuaca yang tidak menentu: kelihatannya mendung gelap dan angin mulai dingin, tapi hujan tidak turun-turun, atau panas terik yang tiba-tiba menurunkan hujan. Ya, kenampakan-kenampakan alam menjadi tidak pasti. Sesuatu yang biasanya menjadi tanda akan terjadinya sesuatu, tidak lagi bisa menjadi pegangan dan patokan. Memang sih, hidup kita juga dipenuhi dengan tanda-tanda yang menunjukkan makna atas situasi tertentu: tanda orang yang baru sakit, tanda orang yang baru bangun tidur, tanda orang yang terburu-buru pergi dan sekian tanda lainnya. Sebuah tanda, bisa sangat jelas dan pasti, namun ada juga tanda-tanda yang tidak mudah ditangkap, dan kadang butuh waktu untuk mengungkapnya.
Apa yang terjadi dalam Injil hari ini, juga berkaitan dengan tanda, ketika Yesus menolak memberi tanda bagi orang-orang Farisi. Mengapa demikian? Orang-orang Farisi tidak pernah tulus untuk mengenal Yesus, sehingga diberi ribuan tanda sekalipun, mereka takkan mudah menerima Yesus sebagai tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan. Dengan menolak memberi tanda, Yesus mengajak mereka untuk lebih dewasa dalam beriman. Hidup kita, kadang juga demikian, bahwa suka meminta dan menagih tanda dari Allah berupa karya besar nan ajaib. Padahal, kehidupan kita ini adalah tanda kehadiran yang paling nyata. Dan tidak jarang, Allah hadir dalam tindakan-tindakan yang sederhana bahkan tak kasat mata. Berbahagialah yang tak melihat namun percaya, bukan sekedar karena sebuah tanda.
Selamat pagi, selamat menemukan tanda-tanda kehadiran Allah dalam peristiwa-peristiwa kehidupan.
Blessedness and Woes

Blessedness and Woes

Sixth Sunday in Ordinary Time

February 17, 2019

Luke 6:17.20-26

 

But woe to you who are rich, for you have received your consolation. (Lk. 6:24 NAB)

We listen today the Beatitude, but unlike the famous Beatitude from the Gospel of Matthew, we have today from the Gospel of Luke. Unlike from Matthew who has eight sayings of blessedness, Luke has four blessedness and for four “woes”. The most striking difference is while Matthew seems to emphasize “the poor in spirit”, Luke wants us to understand poverty in a more literal sense.

We want to have a happy life, and we do not like to have a difficult and poor life. It is just basic in our human nature. If we study diligently, we expect that we have a good result in our education. If we work hard and labor honestly every day, we wish that we will be rewarded with success. If we live our lives with passion and dedication, we look forward to acquire a fulfilling life.

However, in today’s Gospel, we listen that Jesus is telling us that the blessed one are the poor, the hungry, the weeping, and the persecuted, and for those who are rich, filled, and laughing, “woe” is their lot. Is Jesus pro-poor and anti-rich? Does Jesus want us to suffer, famish, and become malnourished? Does Jesus like that we are justly rewarded for our hard work and labor? Is Jesus hyper melancholic man, who sulk in sadness, and does not know how to enjoy life?

These are tough yet valid questions, and to answer these, we need to go back to the time of Jesus and discover the context behind the saying of Jesus. In the first century A.D. Palestine, the majority of the people, including Jesus Himself, were poor, hungry and oppressed. They were poor not because they were lazy but because they were living under a terrible time to live. Palestine was colonized by the Romans, and it was a common practice to levy a heavy tax on ordinary Israelites. Only some nobilities, few landowners, a handful of rich businessmen and Israelites who were working for the Romans, like the tax collectors, were enjoying a better life. Ordinary Israelites did not only have to face the Romans, but they had to suffer from the abuses from their fellow yet greedy and opportunistic Israelites who wished nothing but enrich themselves. It was a terrible time to live.

The message of Beatitude was more making sense now. Jesus promises hope and consolation for those who are poor and suffering due to injustice, and He woes those who are rich through dishonest and oppressive means. Thus, we know now that by His Beatitudes and Woes, Jesus does not hate all the rich guys, but greed and injustice that poison people’s hearts both the rich and the poor. When we have a good life because of our hard work and honest effort, then we praise the Lord. It is a blessing! Yet, Jesus is also reminding us that in good time, we must not be greedy, but remain humble and even to have concern for our brothers and sisters who are poor, hungry, and weeping because of injustice.

 

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jumat, 15 Februari 2019

Jumat, 15 Februari 2019

Jumat, 15 Februari 2019

Kejadian 3:1-8

Markus 7: 31-37

Hari ini Yesus menyembuhkan seorang yang tuli dan bisu di daerah Dekapolis. Yesus yang menyembuhkan seorang yang tuli dan bisu ini ingin mengajak kita untuk merenungkan bahwa diri kita yang normal sebenarnya kerap kali juga bisu dan tuli dalam beriman. Kita tuli pada panggilan Allah untuk menjadi muridnya yang baik dan justru lebih senang hidup dengan cara lama yang tidak dikehendaki oleh Tuhan. Selain tuli pada pangggilan Allah yang mengajak kita untuk menjadi pribadi yang baik, kita juga kerap kali bisu untuk mewartakan apa yang menjadi keyakinan iman kita. Kita punya banyak alasan untuk tidak mewartakan iman; kita takut dicerca, kita takut dengan ancaman, takut kehilangan banyak hal, dll. Kita cenderung mencari aman daripada berani untuk mengatakan kebenaran pada khalayak. Yesus yang menyembuhkan orang bisu dan tuli di daerah Dekapolis semoga juga memampukan kita untuk terus mendengar panggilan dan sabdanya hingga akhirnya juga memampukan kita untuk mewartakan kebenaran pada semakin banyak orang.

Kamis, 14 Februari 2019

Kamis, 14 Februari 2019

Kamis, 14 Februari 2019

Kej 2:18-25

Markus 7:24-30

Hari ini kita diajak untuk merenungkan tentang kasih Yesus yang menyentuh semua orang dari semua latar belakang. Seorang anak dari Ibu yang berasal dari kelompok Yunani pun ia beri kebebasan dari Roh Jahat yang merasukinya. Kuasa Yesus yang menyentuh semua latar belakang inilah yang mengajak kita untuk tidak menjadi pribadi-pribadi yang mengotak-kotakan sesama manusia. Kerap kali jika kita berhadapan dengan perbedaan, kita mudah untuk menilai dan mengatakan bahwa pribadi itu tidak layak untuk mendapatkan kasih yang sama seperti kita. pandangan inilah yang hari ini dihancurkan oleh Yesus. Ia mengajak kita untuk menyadari bahwa kasihNya senantiasa menyentuh semua orang apap-pun latar belakang dan asal-usulnya. Kita tidak boleh mengotak-kotakan sesama manusia, karena pada nyatanya kasih dan rahmat Allah itu senantiasa tercurah pada semua pribadi yang percaya dan menyerahkan dirinya pada Kasih karunia Allah yang tidak pernah berbatas.

Translate »