Browsed by
Month: March 2019

Kekuatan Salib Kristus (Luk 9:22-25)

Kekuatan Salib Kristus (Luk 9:22-25)

Kekuatan Salib Kristus (Luk 9:22-25)

Saudara-saudari yang terkasih, Rabu Abu menjadi tanda dimulainya masa prapaskah, masa pertobatan dan pembaruan diri. Oleh karena itu Gereja menyerukan tiga jenis langkah laku tobat dengan berdoa, berpuasa dan beramal. Hal itu menjadi suatu latihan disiplin rohani untuk mengalami pembaruan diri. Suatu pertumbuhan mensyaratkan suatu pengorbanan dan suatu usaha yang tekun. Seperti halnya seorang petani yang memulai musim tanam, harus menyiapkan lahan dan benih. Usaha dan jerih payahnya akan terbayar ketika menuai panenan. Seperti yang diwartakan dalam Injil hari ini bahwa « Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. » Yesus mengundang kita untuk memikul salib setiap hari. Undangan ini bukan pertama-tama mengajak kita mengalami penderitaan seperti Yesus melainkan suatu undangan untuk berani memikul tanggung jawab, menjalan tugas panggilan dan perutusan kita dengan baik. Penyangkalan diri (tidak mencari kesenangan untuk diri sendiri), penderitaan dan bahkan kematian, mencapai puncaknya dalam Kebangkitan, kemenangan Salib atas dosa. KematianNya pada kayu Salib menganugerahkan kepada kita keselamatan, pengampunan dosa, penyembuhan dan kehidupan baru sebagai anak-anak Allah. Penyerahan diri kepada Allah dan ketaatan pada kehendak Allah menjadi jalan yang dilakukan Yesus untuk menyelamatkan manusia.

Masa prapaskah adalah saat untuk memulihan dan menyembuhkan kesehatan rohani kita. Seperti halnya ketika badan kita lemah dan kurang sehat, kita berusaha memulihkannya dan menyehatkannya. Masa prapaskah ini adalah saat kita memperhatikan secara lebih intensif kesehatan hati, pikiran dan kehendak kita. Kita diundang untuk mengikuti dan memanggul salib setiap hari. Sebagai murid Kristus, kita siap menyerahkan hidup kita demi kebahagiaan sejati, kedamaian sejati dan kedamaian bersama Allah. Salib Kristus membawa kemenangan atas dosa dan keselamatan. Cinta Allah sungguh nyata ketika menyerahkan PuteraNya untuk disalibkan dan pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati demi keselamatan umat manusia. Pengarapan kita tidak sia-sia sebagai umat yang diselamatkan. Seperti yang diingatkan oleh Santo Paulus: “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5).

“Tuhan Yesus, kami menyerahkan kepadaMu tangan kami untuk melayani, kaki kami untuk berjalan di jalanMu, mata kami untuk melihat karyaMu yang agung, lidah kami untuk mewartakan kebaikanMu. Tuhan Yesus, ubahlah hati kami agar mampu mencintai seperti Engkau mencintai kami”

RABU ABU, 6 Maret 2019

RABU ABU, 6 Maret 2019

RABU ABU, 6 Maret 2019

Bertobat : “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianMu” – (Yoel 2:12)

Selama masa prapaskah, kita diundang untuk melakukan retret agung, saat kita meneliti kembali cara hidup kita agar sesuai dengan kehendak Allah, suatu ajakan untuk melakukan pertobatan. Seperti tanah kering merindukan air dan seperti seekor rusa yang merindukan hamparan rumput yang hijau, demikianlah hati kita merindukan Kasih Allah yang senantiasa

melegakan dahaga kita. Bacaan Injil hari ini mengajak kita untuk melakukan laku tobat dengan mempraktekkan tiga hal : berdoa, berpuasa dan beramal. Bagi orang Yahudi, tiga hal tersebut sebagai suatu kewajiban dalam hidup beragama. Praktek puasa, berdoa dan beramal adalah tanda seorang yang saleh. Yesus dalam Injil hari ini, ingin menunjukkan inti atau makna terdalam dari praktek berdoa, berpuasa dan beramal, yang tidak lain demi kemuliaan Allah. Kesalehan yang sesungguhnya bukan hanya sekedar supaya kelihatan baik atau terkesan seperti orang suci, melainkan suatu tindakan berbakti dan silih atas segala dosa kita. “Roh Tuhan akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan” (Yes 11:2). Allah menghendaki untuk memperbaharui hidup kita hari demi hari dan memberikan kepada kita suatu hati yang baru, penuh cinta dan belas kasih. Oleh karena itu laku tobat yang kita lakukan akhirnya berbuah dalam tindakan kasih dan pengampunan serta berbelas kasih kepada sesama. Di awal masa prapaskah ini, kita memohon Rahmat Allah dan terang Roh Kudus agar kita bertumbuh dalam iman, harapan dan cinta serta melakukan kehendakNya.

“Tuhan Yesus Kristus, berilah kepada kami iman yang hidup, harapan yang kuat dan cinta yang mendalam akan Dikau. Ambillah dalam diri kami segala kebekuan hati dan segala dosa yang menghalangi untuk lebih mencintaiMu. Berilah kepada kami keteguhan hati untuk mencintaiMu dan penuhilah kami dengan belas kasihMu agar kami mampu mencintai sesama kami yang menderita”

Kompensasi sebagai Murid Kristus (Mrk 10:28-31)

Kompensasi sebagai Murid Kristus (Mrk 10:28-31)

Selasa, 5 Maret 2019

Kompensasi sebagai Murid Kristus (Mrk 10:28-31)

Kata kompensasi mempunyai arti bayaran, ganti rugi, upah, suatu keuntungan. Istilah kompensasi dalam kehidupan sehari-hari diartikan sebagai suatu hak yang pantas kita terima dan tuntut karena kita telah melakukan suatu jasa. Kompensasi menjadi suatu logika keadilan, kita memperoleh hak atas kewajiban yang sudah kita lakukan. Saudara-saudari yang terkasih, Injil hari ini menghadirkan kepada kita suatu nilai yang seolah sulit dimengerti dengan penalaran manusia. Bagaimana memahami “dengan meninggakan segala sesuatu dan pada akhirnya kita menerima kembali”? Seperti Yesus katakan : “barangsiapa meninggalkan rumah, saudara-saudari, ibu atau bapa,…ia akan menerima kembali seratus kali lipat” Hal itu hendak mengatakan bahwa kita akan kehilangan sesuatu yang kita cintai, kita akan mendapatkan apa yang kita telah berikan. Artinya ketika kita menyerahkan hidup kita kepada Kristus, kita mendapatkan harta yang tak ternilai harganya dan warisan hidup kekal untuk selama-lamanya. Apapun yang kita serahkan dan persembahkan kepada Allah, senantiasa berkenan di hadapan Allah. Kemurahan hati mengalir dari kerelaan hati dan hati penuh syukur atas anugerah Allah. Kalau demikian bagi Allah, pemberian diri bukan pertama-tama dituntut mengenai jumlah: banyak atau sedikit (kuantitas) melainkan dituntut suatu sikap totalitas dalam pemberian diri, memberi diri dengan keseluruhan diri kita (kualitas). Oleh karena itu tidak ada alasan untuk tidak mempersembahkan diri karena alasan ketidakpantasan dan kekurangan yang kita miliki. Allah menghendaki kita mempunyai hati yang berserah dan murah hati kepada Allah dan sesama. Kemurahan hati mengalir dari hati yang memberi bukan karena suatu kewajiban melainkan karena rasa syukur. Dalam pemberian diri yang tulus, Yesus mengundang kita untuk menemukan kegembiraan dan sukacita. Ia menghendaki untuk memberikan kedamaian dan sukacita dalam terang Roh Kudus. “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm 14:17).

“Tuhan Yesus, kami hendak mengikuti Engkau sebagai muridMu dan mencintaiMu dengan sepenuh hati dan segala yang kami miliki. Penuhilah hati kami dengan iman, harapan, dan cinta kasih”

Lepas Bebas (Mrk 10:17-23)

Lepas Bebas (Mrk 10:17-23)

 

Senin, 4 Maret 2019

Lepas Bebas (Mrk 10:17-23)

Saudara-saudari ytk, tak jarang kita bertanya “apakah yang aku cari di dunia ini?” Pertanyaan ini seolah mengajak kita untuk kembali fokus mengenai arti hidup dan apa yang Allah kehendaki dalam hidup kita saat ini : sebagai suami, isteri, anak-anak, sebagai seorang imam, biarawan-biarawati. Pertanyaan selanjutnya apakah yang memberikan harapan dan kepuasaan serta kelegaan bagi kita untuk menggapai suatu kebahagiaan ?

Kisah seorang yang kaya, yang dikisahkan dalam Injil hari ini kiranya mengundang kita untuk meneliti batin dan mengevaluasi hidup kita. Orang muda ini bukan hanya seorang yang kaya raya tetapi juga mempunyai hidup keAGAMAan yang taat dan baik, namun hidup keIMANan yang masih mendangkal. Mengapa demikian ? Orang muda ini cukup antusias untuk datang (sambil berlari-lari) dan bertanya kepada Yesus mengenai apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup kekal. Ia datang kepada Yesus karena ia merasa ada yang kurang dalam hidupnya, kekurangan sesuatu yang tidak dapat dibelinya dengan uang. Kemudian Yesus menjawab secara umum mengenai pentingnya mentaati perintah Allah. Lebih lanjut Yesus memberikan jawaban yang membaut hatinya sedih, kecewa dan berontak. Yesus meminta seorang kaya itu untuk menjual harta miliknya dan hasil penjualan itu diberikan kepada orang miskin. Jawaban Yesus ini mengguncangkan hatinya karena ia sangat mencintai apa yang ia miliki. Yesus memberikan tantangan kepadanya untuk menjadikan Allah sebagai harta miliknya. Seorang yang kaya ini menjadi sedih karena selama ini, ia menempatkan harapan dan rasa amannya dalam hartanya, segala sesuatu yang ia miliki. Ia menjadi kecewa dan pergi meninggalkan Yesus dengan sedih. Ia takut kehilangan apa yang ia miliki. Ia mencari kebahagiaan dan kedamaian dalam segala sesuatu yang ia miliki, bukan dalam tindakan mencintai dan memberikan diri kepada Allah dan orang lain. Yesus mengatakan “juallah apa yang kaumiliki,…maka engkau akan memperoleh harta di surga”. Bagi kita orang kristiani, harta itu adalah iman, kasih Allah yang dicurahkan kepada diri kita. Cinta itulah yang seharusnya memenuhi hati kita. Yesus Kristus adalah anugerah terbesar dalam diri kita. Seperti yang dikatakan oleh Santo Vincentius, “Yesus adalah anugerah Kasih Allah yang terbesar dalam hidup manusia, tidak ada alasan untuk tidak mensyukurinya”. Oleh karena itu pemberian diri, pembaktian diri kepada Allah dan sesama adalah suatu sukacita buka suatu kesedihan. Kita diingatkan mengenai kisah seseorang yang mencari harta yang terpendam di ladangnya dan ia mengalami kegembiraan dan sukacita ketika ia menemukan harta itu (Mat 13:44). “juallah apa yang kaumiliki” berarti pertama-tama kita diundang untuk bersikap lepas bebas, tidak terikat dengan kenyamanan, bebas dari ikatan emosi yang tidak teratur, relasi yang kadang membuat kita posesif, cemburu dan tak jarang membuat diri kita menutup diri. Allah memberikan kepada

kita suatu kebahagiaan dan kedamaian yang tidak dapat dibeli dengan uang. Allah saja yang mampu melegakan dahaga dan kehausan hati kita, bukan yang lain. Yesus mengundang kita untuk memberikan diri kepada Allah dan sesama dengan murah hati karena Allah lebih dahulu memberikan segala sesuatu kepada kita bahkan memberikan DiriNya demi keselamatan kita.

“Tuhan Yesus, penuhi dan kuasailah hati kami dengan keinginan untuk memperoleh harta surgawi yaitu cinta yang mendalam kepadaMu dan kasih kepada sesama. Semoga Engkau selalu dan selamanya menjadi harta bagi kami”

Heart

Heart

8th Sunday in Ordinary Time

March 3, 2019

Luke 6:39-45

 

These past three Sundays, we have been listening on the series of Jesus’ teachings given at the Plain [Luk 6:20-49]. Two Sundays ago, we read about the Beatitudes. This is the set of conditions that leads us to true happiness and blessedness. Last Sunday we discover some practical steps to achieve this Beatitude, like we shall love our enemies. And this Sunday, we find the heart of Jesus’ teachings: it is the formation of the heart.

In our contemporary world, the heart generally symbolizes the source of affection, passion and love. Filipinos love basketball, and they give their best support every time their national team compete in international tournaments. Their battle cry is “Laban! Puso!” literally translated as “Fight! Heart!” Surely, the heart here refers to the burning passion to overcome enormous challenges during the ball game.

When a lady is not sure whether to accept or not a man to be her boyfriend, we often advise her to follow her “heart”. When she has a new boyfriend and is in love, she calls him as her “sweetheart”. But, when she suddenly loses her boyfriend because of unexpected betrayal, she suffers an immense “broken heart”. Because of this traumatic experience, she refuses to love anymore, and she now possesses “the heart of stone.” Surely, a lot of hearts!

However, the word “Heart” in Bible has a slightly different meaning from our common understandings. Heart in the Bible is not just the source of our emotional life, but the center of the human life, vitality and personality. It is also the seat of human intellect, judgment and conscience. Thus, when Jesus says “A good person out of the store of goodness in his heart produces good…” it does not simply mean that person has the emotions that support him in doing good. It means a person has a fundamental judgement, stable attitude and permanent character to choose and do good, despite the contrary feelings he has. Good-hearted person can do good even person he hates. For Jesus, heart is not only affection, but it is also action.

In the context, the formation of the heart means the formation of the entire human person. Jesus understands that unless we possess the characters of a good man or woman, we are just staging a play, and become hypocrites [meaning actors] before other people.

How are we going to form our hearts? Jesus gives us a hint as He says, “from the fullness of the heart the mouth speaks.” The question then is: what fills our hearts? It is evil and wicked things, or good and holy things?

I am currently assigned in General Santos City, Mindanao, Philippines, and one of the highlights of my stay is when I visit and celebrate mass with the female inmates in the city jail. At first, I was hesitant and afraid to interact with them as I perceived them as being “criminals”. These are women with “wicked hearts”. But, I was totally wrong. When I prayed with them, I witnessed women prayed earnestly and deeply in faith. I met this woman, just call her Mary, and I listened to her story. She has been in the prison for five years, and due to ineffective justice system, her trial is still on going. She is a single mother with five children. She was caught using drugs, and she admitted it to escape from the reality of harsh life. She was crying as she narrated her story. And, I asked her what made endure her terrible situation. She simply answered, “I have God in my heart.”

We are living in much better condition than Mary, but do we have God in our heart? What fills our heart? Do we fill our hearts with Godly things? Do we allow God to reign in our hearts?

 

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »