Browsed by
Month: May 2019

Tetap Tekun

Tetap Tekun

Senin, 27 Mei 2019

Pekan VI Paskah

Bacaan I Kis 16: 11-15

Bacaan Injil Yohanes 15:26 – 16:4a

“Bertekun” adalah judul perikop Injil hari ini. Yang dituntut dari identitas murid Yesus tidak lain adalah ketekunan, sebab murid yang tekun akan mengalami keberhasilan. Lalu, ketekunan macam apa yang harus dimiliki? Tekun menjadi saksi, sebagaimana ditulis dalam Injil, “Kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku”. Kesaksian merupakan tugas pokok murid Yesus. Ada berbagai macam kesaksian dimana selalu butuh ketekunan. Misalnya, tidak mudah bagi kita untuk mewartakan Injil di tengah jemaat yang beraneka ragam. Dalam hal ini, ketekunan seharusnya mewujud dalam strategi, cara dan tindakan yang dipilih untuk pewartaan. Kita memang harus mau repot jika sungguh-sungguh hendak menjadi murid Yesus. Yesus saja repot-repot menjadi manusia demi menebus dosa-dosa manusia. Maka, kalau kita merasa repot karena tugas atas nama Gereja, di situlah kita harus sadar bahwa kita sedang bersungguh-sungguh mengikuti Yesus.

Ketidakmudahan dalam pewartaan dan kesaksian tetap selalu ada, untuk itulah kita butuh keterlibatan gerakan Roh Kudus. Secara rohani, berbagai kesulitan itu merupakan salib bagi kita. Memikul salib adalah suatu cara untuk mengikuti Yesus. Salib sering diidentikkan dengan penderitaan yang tentu membawa gambaran bahwa salib itu sangatlah berat untuk dipikul. Maka, kadang kita menghindari salib. Di situlah kualitas identitas kita sebagai murid Yesus diuji. Kalau kita masih mau memikul salib, kualitas kemuridan kita memanglah dapat diandalkan. Tidaklah sia-sia Yesus melibatkan kita dalam karya pewartaan-Nya.

Oleh sebab itu, baiklah kita renungkan apakah sejauh ini kita sudah mau secara sukarela memikul salib dalam karya pewartaan dan kesaksian kita? Apakah kita sudah mampu bertekun? Apakah cara, strategi dan tindakan kita sudah tepat dan efektif bagi karya pewartaan bersama Gereja?

The Requirement of Love

The Requirement of Love


Sixth Sunday of Easter

May 26, 2019

John 14:23-29

“Whoever loves me will keep my word… (Jn. 14:23)”

The basic form of love is obedience, and the minimum of love is to obey the Law. We can say “I love you”, but do not do what we ought to do as a lover. That’s a plain lie. A man asked a priest whether it is ok to say “I love you” during the Lenten season, especially during the days of fasting and abstinence. The priest immediately replied that it was a violation of God’s Law. The answer shocked the young man, and he asked why. The priest answered, “It is a violation because surely you tell a lie to your girlfriend!”

When we say that we love someone, but we fail to do what is required, we just hurt ourselves and the persons we love. When a child loves his mother, he will follow the instructions coming from his mother even though he does not understand why. Yet, sometimes, a child gets stubborn and refuses his mother’s plea to stop playing outside because it is time for study. This hurts the mother and father who have worked hard to pay the education and long for a better future for their son. In the long run, it also hurts the child and his future.

The same with our love for God, we need to do at least the basic, to observe His Law. From the Old Testament, we have ten commandments. We cannot say that we love the Lord, but we put our faith also in other “gods and idols”. We profess only one and true God, but we also believe in Horoscope, Feng Shui, and superstitions. We go to the Church every Sunday, but in our houses, we collect all kind of statues of animals for charm and luck. We believe in God who is just, but we steal the money or things from the government or the companies.

In the New Testament, we have the New Commandment: love one another as Jesus has loved us. Unfortunately, what we say is different from what we do. We attend the prayer meeting and shout to the top of our voices that we love Jesus, but we still are not able to forgive our enemies and still wish that they be dead. We pray the rosary regularly, but we do not even care for our ageing mothers at home. We say that we condemn the killing of the babies in other countries, but we get easily angry and make our wives as punching bags.

When we say that we love the Lord, but we do not keep His commandment, it hurts God’s heart. Perhaps, it is more hurtful than people who never say love at all to God. We can learn from our brothers and sisters who lived when the Church was still very young. Living in a hostile Roman Empire, they acknowledged that they were Christians means capital punishment. They were a good and a law-abiding citizen of Rome, except for one thing: they refused to worship Caesar. The Roman government believed that the unifying factor of the vast and diverse empire was the cult of the emperor as the embodiment of the Roman spirit. Any Roman citizen was required to offer incense and proclaimed, “Hail, Caesar is Lord.” Then, they may worship their other gods. Christians refused to do this because they loved Jesus dearly as their God, and as proof of their love, they were ready to offer their own lives.

It is the same with us. God loves us immensely that every time we do not observe His Law, we hurt God and make Him jealous. If we cannot do the essential requirement of love, our words are empty and our love cheap.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Be Heroic!

Be Heroic!


Sabtu pada Pekan Paskah kelima

25 Mei 2019

Yohanes 15:18-21

Ketika Santo Ignatius Loyola memulihkan cedera lututnya yang ia dapatkan di pertempuran Pamplona, ​​ia luang waktu untuk membaca kehidupan Yesus, serta orang-orang kudus yang berani, seperti Santo Fransiskus dan Dominikus. Saat ia merenungkan perbuatan dan kata-kata mereka, ia menemukan tahap awal spiritualitasnya. Dari saat itu, kasih karunia Allah mulai merevolusi hidupnya, dan dia secara radikal bergeser dari usahanya untuk mengapai kemuliaannya sendiri, menjadi bagi kemuliaan Allah. Tak lama kemudian, bersama-sama dengan teman-temannya pertama, ia membentuk Serikat Yesus, dikenal sebagai Yesuit.

Kisah St. Ignatius dan banyak orang kudus menjadi inspirasi bagi kita semua. Para pria dan wanita kudus ini menanggapi ajakan Yesus untuk meninggalkan segalanya dan mengikuti-Nya di jalan yang radikal. Banyak yang menjadi martir karena kasih mereka untuk Yesus. Yang lainnya benar-benar meninggalkan semua yang mereka miliki, dan berkomitmen untuk melayani sesama.

Namun, mengapa mereka cukup gila untuk mengindahkan panggilan yang sulit ini? Ini kembali pada paradox pencarian kita untuk kebahagiaan sejati. Untuk mencapai kebahagiaan ini, kita perlu untuk meninggalkan pencarian untuk kemuliaan kita sendiri, dan membuat perubahan hati yang mendalam kepada Allah dan untuk kemuliaan-Nya. Tentunya, hal ini tidak mudah. Dunia memberikan kenyamanan yang akan memenuhi kebutuhan dasar manusia dengan segera: kenikmatan jasmaniah, kepuasan emosional dan kebanggaan diri. Tapi, kebahagiaan sejati tidak tinggal di sini, dan kita dipanggil untuk melampaui hal-hal ini, memilih Yesus dan mengikuti-Nya. Dalam kata-kata Joseph Ratzinger, yang kemudian menjadi Paus Benediktus XVI, dunia memberikan kita banyak kenyamanan, tapi kita tidak diciptakan untuk kenyamanan ini, kita diciptakan untuk sebuah kemuliaan. Kita gagal untuk hidup saat kita hanya memilih hal-hal duniawi ini.

Paradoks terus berlanjut, bahwa kita perlu – dalam kata-kata Meister Eckhart, seorang mistik Dominikan dari Jerman – membiarkan Allah menjadi Allah di dalam kita, dan kita menemukan bahwa kita menjadi benar-benar hidup. Saat kita memilih opsi heroik di dalam hidup, kita pasti bertemu jalan berbatu, dan bahkan menemukan diri kita hilang, gagal dan frustrasi, dan bahkan dibenci dunia. Namun, kita tidak boleh mudah menyerah, karena saat-saat kegelapan ini adalah bagian dari perjalanan pulang kita. Father Timothy Radcliffe, OP berpendapat bahwa kadang-kadang, kita harus tersesat dan hilang, agar kita dapat ditemukan lagi, penuh kesegaran dan hidup. Saat kita berjalan di jalan salib, kita secara bertahap menemukan makna hidup yang baru, menemukan kemungkinan segar untuk mencintai, dan membuka kepenuhan hidup. Ketika kita sepenuhnya menjalani hidup kita, kita benar-benar mampu untuk memuliakan Tuhan. Sebagai St. Irenaeus dari Lyon menulis, “Kemuliaan Allah adalah manusia yang benar-benar hidup!”

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kasih yang Berbuah Kasih

Kasih yang Berbuah Kasih

Jumat pada Paskah Pekan kelima

24 Mei 2019

Yohanes 15:12-17

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. (Jh 15:12)”


Ada saat-saat dalam kehidupan kita, kita merasa berprestasi, berhasil, dan juara. Kita memenangkan penghargaan, kita mendapatkan ketenaran, kita terus naik ke dalam tangga karier. Tapi, kita tidak boleh lupa bahwa sekali waktu kita juga pernah berada dalam ketiadaan. Sebelum kita dilahirkan, kita benar-benar tidak ada, dan bahkan setelah kita dilahirkan, kita membawa bersama kita kehampaan ini. Beberapa dari kita berjuang melawan kemiskinan dan kesulitan finansial, beberapa dari kita berhadapan dengan masalah di keluarga, dan banyak dari kita menghadapi permasalahan dalam relasi kita dengan sesama. Melihat  semua ini, kita menyadari bahwa kita bukanlah apa-apa.

Namun beberapa orang datang ke dalam hidup kita untuk menkasihi kita, membuat perubahan dan menciptakan perbedaan. Mereka adalah orang tua kita yang memutuskan untuk melahirkan kita dan melakukan banyak pengorbanan untuk membawa kita ke tempat yang lebih baik. Mereka adalah keluarga dan kerabat yang berbagi waktu dan hasil kerja keras mereka sehingga kita mungkin dapat mencapai puncak  kehidupan ini. Mereka adalah teman-teman kita yang memperlihatkan kita bahwa persahabatan sejati  bukanlah sesuatu yang mustahil. Mereka adalah orang-orang yang namanya kita bahkan tidak ingat, tetapi mereka telah memberikan kontribusi berharga bagi siapa kita sekarang ini.

Saat kita berjalan dengan piala, piagam dan monumen kita, janganlah kita lupa bahwa kita juga pernah berada di titik rendah kehidupan. Saatnya akan tiba dimana semua medali, kehormatan dan kebanggaan kita akan memudar. Dan dalam menghadapi ini, kita akan jatuh berlutut dan sekali lagi mengakui ketidakberdayaan kita. Namun, hanya ketika kita berlutut dalam doa, kita menjadi rendah hati. Dan, dalam kerendahan hati, kita diingatkan apa yang benar-benar penting dalam hidup kita bahwa ada orang-orang yang sungguh mengasihi kita walaupun kita bukanlah apa-apa, dan bahwa melalui mereka Tuhan sungguh mengasihi kita.

Ini adalah kasih dalam bentuk yang paling sederhana: untuk menkasihi seperti Yesus telah mengasihi kita. Kita dikasihi dan kasih ini membentuk kita menjadi besar dan ketika giliran kita datang, kita dipanggil juga untuk membagikan kemegahan kita dalam kasih. Kita dipanggil untuk mengasihi orang lain sehingga merekapun dapat diberdayakan untuk mengasihi. Ini adalah kasih Yesus: kasih yang melahirkan kasih.

Semua pujian dan kemuliaan adalah milik Tuhan!

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »