Browsed by
Month: May 2019

Cinta itu Buta

Cinta itu Buta

Kamis pada Pekan Paskah kelima

23 Mei 2019

Yohanes 15:9-11

“Cinta itu buta”. Apakah pepatah ini benar adanya?

Melihat realitas sosial kita saat ini, cinta benar-benar bisa menutup “mata” kita dan membuat kita gila. Bukan rahasia lagi jika di kota-kota besar seperti Manila dan Jakarta, banyak anak-anak muda yang sudah aktif berhubungan seks pra-nikah. Menjadi muda dan petualang, hubungan kasih yang murni dapat dengan mudah meledak menjadi hawa nafsu. Namun, kaum muda ini belum siap untuk menghadapi konsekuensi yang lebih besar dari kehidupan. Beberapa gadis hamil di usia dini. Beberapa remaja laki-laki memiliki keberanian untuk bertanggung jawab, namun karena masih labil, mereka akhirnya sangat kesulitan membangun keluarga. Beberapa pria yang lain meninggalkan kekasih mudanya yang hamil. Gadis-gadis miskin ini akhirnya menjadi korban utama dan dipaksa untuk menghidupi bayinya secara mandiri. Dia beruntung jika dia memiliki keluarga untuk mendukung, tapi jika tidak, dia akan memilih pilihan yang tak terbayangkan sebelumnya seperti pembuangan bayi di panti asuhan atau bahkan membunuh bayi melalui aborsi. Impian muda dan masa depan mereka hancur dalam sekejap. Ini adalah cinta yang membutakan kita.

Namun, apakah itu cinta sejati? Kita setuju bahwa ini bukanlah cinta sejati. Perasaan yang intens di antara pasangan muda mungkin menjadi bagian dari asmara, tapi itu bukanlah yang utama. Ini mungkin hanya nafsu yang menyembunyikan dirinya atas nama cinta. Namun, apakah ini berarti pepatah tua “cinta itu buta” benar-benar konyol? Mari kita lihat realitas lain di kehidupan. Ketika kita melihat pasangan suami-istri yang telah lanjut usia dan tetap setia satu sama lain hari demi hari, kita pun bertanya kenapa. Sang istri tidak lagi cantik dan pasti penuh dengan kerutan, dan pria itu tidak lagi sehat dan besar perutnya. Mereka tentunya menhadapi banyak krisis dalam kehidupan pernikahan mereka. Mungkin mereka memiliki anak-anak yang sangat keras kepala dan suka memberontak. Semua yang mereka investasikan sepertinya tidak akan kembali kepada mereka. Jadi, mengapa mereka tetap setia? Jawabannya mudah, karena cinta itu buta.

Cinta membutakan mereka untuk melihat ketidaksempurnaan dan kekurangan. Cinta menutup mata mereka terhadap penampilan fisik yang terus menurun dan masalah keuangan yang tak kunjung berakhir. Cinta menutup pandangan mereka untuk sekedar melihat pernihakan sebagai untung-rugi. Tapi, mengapa cinta harus membutakan kita? Karena Cinta memampukan kita untuk melihat lebih jelas. Untuk melihat apa? Untuk melihat realitas yang lebih dalam dari cinta itu sendiri.

Membaca Injil hari ini, kita menemukan bahwa cinta sebenarnya adalah kemampuan untuk melihat. Untuk mengasihi Yesus dan menjalankan perintah-Nya membawa kita untuk melihat-Nya dalam diri kita karena kita selalu di dalam Dia. Ya, Yesus telah naik kepada Bapa, namun saat kita mencintai secara radikal, kita mulai melihat Dia dalam orang yang sangat kita cintai. Yesus sekali lagi hadir di tengah-tengah kita. Ingatlah bahwa Allah adalah kasih, dan ketika ada cinta, Tuhan ada di sana.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rating yang Baik

Rating yang Baik

Rabu pada Pekan Paskah Kelima

22 Mei 2019

Yohanes 15:1-8

Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yoh 15:5).”

Yesus adalah pokok anggur yang benar dan kita adalah ranting-ranting-Nya. Seperti halnya Gembala yang baik, pokok anggur yang benar juga berbicara tentang hubungan Tuhan dengan kita. Bahkan, hubungan ini adalah sangat pribadi dan intim. Dia adalah sumber kehidupan kita, Dia menopang pertumbuhan kita dan Dia menjamin kebahagian kita. Saat kita memutuskan diri kita dari-Nya, kita perlahan-lahan layu, menjadi ranting yang mati, dan kitapun siap dibakar.

Kebenaran yang Yesus ajarkan hari ini memang sangat mendasar dalam hidup kita. Mengapa calon suami-istri harus pergi ke Gereja dan diberkati untuk pernikahan mereka? Jawabannya kembali kepada Yesus sang pokok anggur yang benar. Ketika kita masuk ke dalam sebuah pernikahan dan kehidupan berkeluarga, kita tidak hanya mendirikan sebuah institusi manusia, tapi kita sebenarnya berpartisipasi pada rencana ilahi-Nya. Uskup Fulton Sheen pernah mengatakan bahwa, Pernikahan tidaklah sulit, ini hanyalah  tidak mungkin secara manusiawi!” Begitu banyak permasalahan, dari keuangan sampai masalah kesehatan, akan menghantam pernikahan dan keluarga kita. Hampir tidak mungkin bagi kita untuk setia sampai kematian memisahkan kita. Juga luar biasa sulit untuk membesarkan anak-anak kita sampai mereka berdiri di atas kaki mereka sendiri. Melihat semua realitas manusiawi ini, hanya pokok anggur yang benar yang dapat membuat pernikahan dan keluarga kita menjadi suatu kenyataan dan bahkan berbuah. Uskup Sheen pun berkata, “Dalam semua pernikahan, kita harus menyadari bahwa setiap pria menjanjikan seorang wanita, dan setiap wanita menjanjikan sang pria sesuatu yang tidak dapat mereka berikan, karena hanya Tuhan saja yang bisa memberikan, yaitu, kebahagiaan yang sempurna.”

Ketika Yesus mengatakan kepada kita bahwa Dia adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-Nya, ini berarti terpisah dari-Nya, kita tidak akan bertahan lama. Dia memberikan apa yang secara fundamental kurang dalam diri kita: kekuatan, makna hidup dan kebahagiaan. Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa pergi ke Gereja setiap hari Minggu bukan hanya sebuah kewajiban, tetapi merupakan upaya kita untuk berhubungan kembali dengan sumber kehidupan. Berdoa rosario setiap hari bukan tentang tradisi keluarga yang kuno, tapi upaya untuk menemukan makna dalam Misteri Kristus. Kemudian, pertanyaan bagi kita: Mengapa kita harus membawa keluarga kita untuk Gereja secara rutin? Apakah kita meluangkan waktu bersama-Nya hari ini? Apakah kita memandang disalibkan Tuhan dan berseru, “Tuhan, aku membutuhkan-Mu.”?

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Damai Sejahtera

Damai Sejahtera


Selasa dalam Pekan Paskah kelima

21 Mei 2019

Yohanes 14:27-31

Di dalam Kitab Suci, kata Shalom berarti damai. Tetapi Yesus menekankan bahwa shalomnya berbeda dengan damai yang diberikan dunia. Shalom tidaknya hanya ketenangan yang terlahir dari hilangnya permasalahan, konflik atau permusuhan. Shalom adalah semua hal yang membuat hidup kita lebih baik. Jadi sering kali kata Shalom diterjemahkan dengan kata “damai sejahtera”.

Damai yang tawarkan dunia adalah damai yang semua karena ini adalah damai pelarian. Saat terjadi masalah, kita sekedar tutup mata seolah-olah tidak pernah ada, atau kita lari dari tanggung jawab. Kadang-kadang kita sebagai orang tua mengajarkan anak-anak kita untuk lari dari tantangan hidup. Saat ada pekejaan rumah dari sekolah yang sulit, kita yang mengerjakan dan menyelesaikan tugas tersebut. Sang anak merasa “damai”, tetapi ia tidak belajar dan berkembang. Saat ada masalah, kita bisa saja mencari “damai” yang ditawarkan dunia seperti dugem, narkotika, dan bergaulan bebas. Ada juga yang membuat Gereja dan pelayanan sebagai tempat mencari “damai”. Saat ada masalah di rumah, kita lebih menghabiskan waktu di Gereja.

Kedamaian yang ditawarkan dunia ini semu dan tidak menyelesaikan masalah, bahkan menambah masalah. Shalom yang diberikan Yesus adalah sesuatu yang berbeda: bukan damai pelarian, tetapi damai keberanian. Yesus sendiri menjadi bukti hidup tentangan shalom ini. Setelah perjamuan terakhir, Dia akan menghadapi dikhianati, disiksa dan disalib, tetapi Dia tidak lari. Dia menyerahkan semuanya kepada Bapa dan menghadapi semua dengan keberanian. Karena Dia setia sampai akhir, keselamatan kita menjadi sebuah kenyataan. Ini adalah damai yang terlahir bukan karena Yesus menyangkal tetapi menerima realitas kehidupan.

Ada perbedaan antara orang baik dan orang benar. Orang baik ingin “damai” dalam hidupnya dan menghindari konflik sehingga terkadang menutup mata atas permasalahan dan kejahatan yang terjadi di sekitarnya. Semantara orang benar adalah orang yang berani menyatakan benar pada hal yang benar, dan salah pada hal yang salah walaupun pernyataannya bisa menimbulkan konflik. Orang benar membawa damai sejati. Yesus adalah orang yang benar karena Dia adalah kebenaran itu sendiri.

Deakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Kasih Allah

Menjadi Kasih Allah

Senin pada Pekan Paskah Kelima

20 Mei 2019

Yohanes 14: 21-26

Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia (Yoh 14:23).”

Kadang-kadang, kita bertanya kepada Tuhan, mengapa hidup penuh dengan penderitaan dan masalah meskipun  kita setia kepada-Nya. Kita menghadiri misa setiap hari Minggu, kita berdoa rosario setiap hari, dan kita tidak pernah gagal menjadi seorang Katolik yang baik, namun hidup kita tampaknya tidak pernah menjadi lebih baik. Kita terus menghadapi banyak masalah, dari keuangan, kesehatan dan juga relasi. Kita kemudian bertanya kepada-Nya, ‘Tuhan, apakah engkau mengasihi aku?

Injil terus mengatakan kepada kita bahwa Allah mengasihi kita. Tapi, seringkali kita tidak melihat bagaimana Allah mengasihi kita. Mengapa? Karena kita mengharapkan kasih yang berbeda. Kita berharap bahwa jika kita baik, kita menaati aturan-Nya, maka semuanya akan baik-baik saja. Tapi, Tuhan tidak seperti ATM spiritual yang memberikan langsung keinginan kita asalkan kita memasukkan kartu doa yang benar dan kode hidup yang baik. Melainkan, kasih Allah bekerja jauh di dalam kita dan mengubah kita menjadi kasih-Nya sendiri. Allah tidak diciptakan dalam gambar kita, maka kita harus berhenti memaksa-Nya untuk menjadi seperti kita. Doa kita, perbuatan baik kita, dan kesetiaan kita kepada Tuhan bukan berarti memberi kita solusi instan untuk masalah kita, tapi ini adalah cara Allah untuk secara bertahap membentuk kita menjadi seperti Dia.

Kasih Yesus tidak membebaskan Israel dari penindasan Kekaisaran Romawi, atau Dia tidak memberi mereka kemakmuran yang orang-orang Yahudi merindukan. Namun, kasih-Nya merubah orang-orang di sekeliling-Nya untuk mengasihi seperti Allah. Para murid, meskipun kelemahan dan penderitaan mereka, secara bertahap menjadi penuh kasih, dan akhirnya membuat pengorbanan akhir bagi Yesus dan sesama. Petrus, sang pemimpin tapi juga rasul yang paling bermasalah, menyangkal dan lari dari Yesus. Namun dia perlahan-lahan belajar untuk mengasihi seperti Yesus. Ketika saat-saat terakhir datang, ia memberi hidupnya Kristus dan orang-orang Kristen di Roma.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

New Commandment: Agape

New Commandment: Agape

5th Sunday of Easter

May 19, 2019

John 13:31-33a, 34-35

At the Last Supper, after Jesus washed the feet of the disciples, He gives them a new commandment: “love one another as I have loved you”. If there is one single, most beautiful line in the Gospel of John or even in the entire Bible, this would be one of the strongest candidates. However, why does Jesus give us a new commandment?

To understand what Jesus does in the Last Supper, we need to go back to the Old Testament, particularly when the Lord God gave His commandments. After the Lord God delivered Israel from the slavery of Egypt, He made a covenant with them through the mediation of Moses. They shall be God’s people and the Lord shall be their God. This was the fundamental step in the life of Israel because God formed them as the People of God. This was an unprecedented privilege and grace, but with great privilege comes the great responsibility. God wanted them to live as the People of God and not as the other nations that surrounded them. Thus, the Lord gave them the Law that would separate them from other peoples who worshiped false gods, and the most fundamental among these laws are the Ten Commandments. If they stubbornly failed to observe the Law and lived as if like the Gentiles, they would be cut off from the People of God.

At the Last Supper, Jesus does the same as His Father in the desert. He forms His disciples, His family, His Church by giving them a New Law, the Law of Love. Only when the disciples keep the New Law, they will be different from the rest of nations, and they may call themselves as the followers of Jesus. At first, we may perceive that Jesus’ new law is easier done than the Ten Commandment. Yet, when we go deeper to the meaning of love understood by Jesus, it is actually the opposite. Jesus’ Law is much more difficult and tougher to do. Why?

In Greek of the New Testament, there are several words for love. “Eros” is the love between husband and wife. “Philia” is love among friends. None of these two Jesus used to describe His love. It is “agape”. While eros and philia are love based on emotion, agape is love rooted in free will. It is the love of action. That is why Jesus is able to teach us to love our enemies. Jesus does not say we should like our enemies because it is naturally impossible, but we can still do good to our enemies despite the hatred and anger.

But, this agape is not just any agape, it is agape of Jesus. For Him, there is no greater love than one who lays down his life for his friends. Agape of Jesus is sacrificial. It is Jesus’ cross as well as His glory. Only when we love to the point of sacrifice, we may say that we have kept Jesus’ commandment.

Muelmar “Toto” Magallanes was a young Filipino who worked as a construction worker. In 2009, monstrous tropical storm Ondoy battered Metro Manila and caused an instant flood in many areas. When his area was flooded, Toto first brought to safety his family. Yet, he did not stop there. He decided to rescue others who were still trapped by the mighty water. Braving the strong current, he saved more than 30 people. He was already exhausted when he realized a mother and her baby were still in danger. He made his last rescue attempt and brought the mother and her baby to the higher ground. Yet, losing his strength, he was swept by the current. He was lifeless the following day. “He gave his life for my baby,” Menchie Penalosa, the child’s mother, told Agence France-Presse. “I will never forget his sacrifice.”

This is the new commandment of Jesus and only by keeping His Commandment, we can become His authentic disciples.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »