Damai Sejahtera

Damai Sejahtera


Selasa dalam Pekan Paskah kelima

21 Mei 2019

Yohanes 14:27-31

Di dalam Kitab Suci, kata Shalom berarti damai. Tetapi Yesus menekankan bahwa shalomnya berbeda dengan damai yang diberikan dunia. Shalom tidaknya hanya ketenangan yang terlahir dari hilangnya permasalahan, konflik atau permusuhan. Shalom adalah semua hal yang membuat hidup kita lebih baik. Jadi sering kali kata Shalom diterjemahkan dengan kata “damai sejahtera”.

Damai yang tawarkan dunia adalah damai yang semua karena ini adalah damai pelarian. Saat terjadi masalah, kita sekedar tutup mata seolah-olah tidak pernah ada, atau kita lari dari tanggung jawab. Kadang-kadang kita sebagai orang tua mengajarkan anak-anak kita untuk lari dari tantangan hidup. Saat ada pekejaan rumah dari sekolah yang sulit, kita yang mengerjakan dan menyelesaikan tugas tersebut. Sang anak merasa “damai”, tetapi ia tidak belajar dan berkembang. Saat ada masalah, kita bisa saja mencari “damai” yang ditawarkan dunia seperti dugem, narkotika, dan bergaulan bebas. Ada juga yang membuat Gereja dan pelayanan sebagai tempat mencari “damai”. Saat ada masalah di rumah, kita lebih menghabiskan waktu di Gereja.

Kedamaian yang ditawarkan dunia ini semu dan tidak menyelesaikan masalah, bahkan menambah masalah. Shalom yang diberikan Yesus adalah sesuatu yang berbeda: bukan damai pelarian, tetapi damai keberanian. Yesus sendiri menjadi bukti hidup tentangan shalom ini. Setelah perjamuan terakhir, Dia akan menghadapi dikhianati, disiksa dan disalib, tetapi Dia tidak lari. Dia menyerahkan semuanya kepada Bapa dan menghadapi semua dengan keberanian. Karena Dia setia sampai akhir, keselamatan kita menjadi sebuah kenyataan. Ini adalah damai yang terlahir bukan karena Yesus menyangkal tetapi menerima realitas kehidupan.

Ada perbedaan antara orang baik dan orang benar. Orang baik ingin “damai” dalam hidupnya dan menghindari konflik sehingga terkadang menutup mata atas permasalahan dan kejahatan yang terjadi di sekitarnya. Semantara orang benar adalah orang yang berani menyatakan benar pada hal yang benar, dan salah pada hal yang salah walaupun pernyataannya bisa menimbulkan konflik. Orang benar membawa damai sejati. Yesus adalah orang yang benar karena Dia adalah kebenaran itu sendiri.

Deakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Comments are closed.
Translate »