Rating yang Baik
Rabu pada Pekan Paskah Kelima
22 Mei 2019
Yohanes 15:1-8
“Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Yoh 15:5).”
Yesus adalah pokok anggur yang benar dan kita adalah ranting-ranting-Nya. Seperti halnya Gembala yang baik, pokok anggur yang benar juga berbicara tentang hubungan Tuhan dengan kita. Bahkan, hubungan ini adalah sangat pribadi dan intim. Dia adalah sumber kehidupan kita, Dia menopang pertumbuhan kita dan Dia menjamin kebahagian kita. Saat kita memutuskan diri kita dari-Nya, kita perlahan-lahan layu, menjadi ranting yang mati, dan kitapun siap dibakar.
Kebenaran yang Yesus ajarkan hari ini memang sangat mendasar dalam hidup kita. Mengapa calon suami-istri harus pergi ke Gereja dan diberkati untuk pernikahan mereka? Jawabannya kembali kepada Yesus sang pokok anggur yang benar. Ketika kita masuk ke dalam sebuah pernikahan dan kehidupan berkeluarga, kita tidak hanya mendirikan sebuah institusi manusia, tapi kita sebenarnya berpartisipasi pada rencana ilahi-Nya. Uskup Fulton Sheen pernah mengatakan bahwa, “Pernikahan tidaklah sulit, ini hanyalah tidak mungkin secara manusiawi!” Begitu banyak permasalahan, dari keuangan sampai masalah kesehatan, akan menghantam pernikahan dan keluarga kita. Hampir tidak mungkin bagi kita untuk setia sampai kematian memisahkan kita. Juga luar biasa sulit untuk membesarkan anak-anak kita sampai mereka berdiri di atas kaki mereka sendiri. Melihat semua realitas manusiawi ini, hanya pokok anggur yang benar yang dapat membuat pernikahan dan keluarga kita menjadi suatu kenyataan dan bahkan berbuah. Uskup Sheen pun berkata, “Dalam semua pernikahan, kita harus menyadari bahwa setiap pria menjanjikan seorang wanita, dan setiap wanita menjanjikan sang pria sesuatu yang tidak dapat mereka berikan, karena hanya Tuhan saja yang bisa memberikan, yaitu, kebahagiaan yang sempurna.”
Ketika Yesus mengatakan kepada kita bahwa Dia adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-Nya, ini berarti terpisah dari-Nya, kita tidak akan bertahan lama. Dia memberikan apa yang secara fundamental kurang dalam diri kita: kekuatan, makna hidup dan kebahagiaan. Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa pergi ke Gereja setiap hari Minggu bukan hanya sebuah kewajiban, tetapi merupakan upaya kita untuk berhubungan kembali dengan sumber kehidupan. Berdoa rosario setiap hari bukan tentang tradisi keluarga yang kuno, tapi upaya untuk menemukan makna dalam Misteri Kristus. Kemudian, pertanyaan bagi kita: Mengapa kita harus membawa keluarga kita untuk Gereja secara rutin? Apakah kita meluangkan waktu bersama-Nya hari ini? Apakah kita memandang disalibkan Tuhan dan berseru, “Tuhan, aku membutuhkan-Mu.”?
Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP