Browsed by
Month: May 2019

Heresy!

Heresy!

Senin, 13 Mei 2019

Kisah Para Rasul 11:1-18

Mazmur 42

Yohanes 10:1-10

Kalau anda sering membaca berita dunia Katolik, anda mungkin melihat belakangan ini ada beberapa uskup, romo, dan teolog Katolik yang mengkritisi kebijakan Paus Fransiskus. Beberapa malah sampai menuduhnya melakukan bidaah (heresy). Mereka mengganggap Paus terlalu lunak dalam menjalankan doktrin Gereja. Mereka tidak suka dengan pendekatannya terhadap orang-orang non-Katolik.

Mungkin memang pantas kalau penerus Rasul Petrus di jaman ini melalui nasib yang sama seperti yang dialami Petrus sendiri. Di bacaan dari Kisah Para Rasul hari ini ia dituduh terlalu dekat dengan orang-orang yang tidak disunat, yang berarti orang-orang yang bukan Yahudi. Mereka dianggap tidak pantas untuk duduk Bersama dengan pengikut Yesus.

Petrus mengingatkan mereka, dan juga kita semua hari ini, bahwa pada akhirnya Tuhan sendirilah yang menyatakan sesuatu halal atau haram, pantas atau tidak pantas. Seringkali kitalah yang memaksakan pengertian kita sendiri dan mengucilkan orang lain yang kita anggap berbeda. Ini terjadi di Gereja kita dan juga dalam masyarakat yang luas. Sepertinya ada saja orang yang terobsesi dengan tindak tanduk orang lain. Ada kelompok Katolik di Amerika Serikat ini yang mengirimkan anggotanya untuk melihat jalannya misa di gereja-gereja untuk memperhatikan apakah liturgi dijalankan benar-benar sesuai aturan. Baru-baru ini ada app dari sebuah kantor kejaksaan di Indonesia di mana orang bisa melaporkan hal-hal yang dianggap mencemarkan ajaran suatu agama.

Sikap-sikap seperti itu menunjukkan bahwa kita tidak benar-benar percaya kepada Allah yang Maha Kuasa. Seakan-akan Tuhan perlu dibela oleh manusia. Jika kita percaya pada kuasa Tuhan akan segala hal, maka hendaklah kita menjauhi usaha-usaha untuk memegang kendali dan mengembalikan semuanya kepada Tuhan. Dan sebelum kita mengkritisi serpihan kayu di mata orang lain, marilah kita pertama-tama mengurus balok di mata kita sendiri.

Hearing His Voice

Hearing His Voice


Fourth Sunday of Easter

May 12, 2019

Jn 10:27-30

“My sheep hear my voice; I know them, and they follow me. (Jn. 10:27)”

Only few of us have a direct encounter with a sheep, let alone shepherding sheep. When Jesus says, “My sheep hear my voice.” I thought it was a kind exaggeration. After all the sheep is not that intelligent compared to the Golden Retriever or Labrador who would listen to their owners. However, one time, I watched a video on YouTube about a group of tourists who visited the vast hill in the countryside of Judea where the flock was grazing. They were asked to call the attention of the sheep. One by one, the tourists shouted to the top of their lungs, but they got not even the slightest response. Yet, when the true shepherd came forward and called them out, all the scattered sheep immediately rushed toward the shepherd! It was an eye-opener. Jesus was right. The sheep literally hear the voice of His shepherd.

The sheep in Judea are raised both for wool and for sacrifice. Especially those intended for wool production, the shepherd shall live together with his flock for years. No wonder if he knows well each sheep, its characters, and even its unique physical features. He will call them by name like ‘small-feet’ or ‘large-ears.’

Modern men and women, especially the Millennials, are heavily visual creatures. Thanks to smartphones, TV, and computers, our span of attention becomes shorter and shorter. One scientist even says that our span of attention is one second shorter than of the goldfish! The teachers or speakers must use all the visual aids to catch the attention of young listeners. PowerPoint presentation is a minimum requirement nowadays, and the teachers need to move all their body’s parts, to crack a joke, to sing, to dance, even to summersault! Simply listening to a plain talk is tedious, and to read a bare and long text like this reflection is boring. This is also one of the reasons why young people are leaving the Church because they experience the Church, especially her preachers, as boring and dry. After five minutes listening to the preacher, we begin to be restless, checking our watch, scratching our heads, and dozing off!

However, hearing remains fundamental because hearing is the key to following Jesus. We call ourselves, Christians, the follower of Christ, and how can we follow Christ if we do not recognize His voice? While the sense of sight attracts us, sense of hearing remains signs of intimacy and love. Like a sheep that identifies the shepherd’s voice because the shepherd takes care of it, so we recognize the voice of someone we love. I have been hearing the voice of my mother since I was inside her womb, and even when I close my eyes, I can still acknowledge her voice. I can even identify whether she is happy, sad, or angry when she calls my name.

One time, a young man asked me, “Brother, how do we know God’s will?” I replied, “Do you hear His voice?” He immediately said, “I pray, but I never heard a voice.” I said in reply, “Ah, how are you going to hear His voice if you talk all the time? And how are you going to know His voice, if you seldom give your time with Him?” To follow Jesus means that we are able to hear Jesus, and to recognize His voice presupposes we have a loving and strong relationship with Him

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

BELAJAR MENGHARGAI ANUGERAH ALLAH

BELAJAR MENGHARGAI ANUGERAH ALLAH

RENUNGAN LUBUK HATI

SABTU, 11 MEI 2019

Yoh 6:60-69

Yesus telah hadir dan memberikan diri Nya untuk menjadi penyelamat manusia. Semua diundang kepada Nya untuk percaya dan menerima belas kasihNya. Semua itu tentu dibutuhkan kemauan untuk percaya. Akan tetapi sepertinya hal tersebut simple, tetapi ternyata sulit dan berat bagi sebagain orang. Tenyata banyak yang menolak dan tidak percaya kepada Nya.

Dibalik semua itu ada sesuatu misteri yaitu banyak yang dipanggil namun sedikit yang terpilih. Kenyatannya sedikit orang yang setia dan terus percaya. Jika ada orang yang percaya, hal itu karena ditarik dan dikehendaki oleh Allah sendiri. Sekalipun jumlah sedikit, namun dimata Allah orang yang telah dipilihNya sangatlah berharga dan mereka dianugerahi kepercayaan yang besar untuk menjadi pewarta kebangkitan Tuhan dimana pun mereka berada.

Orang beriman yang mampu menyadari anugerah tersebut adalah orang yang berbahagia, karena apa yang diterima dari Allah adalah sesuatu yang agung dan tidak bisa diukur dan dibandingkan dengan apapun yang ada didunia. Kesadaran tersebut juga akan mendorongnya untuk sungguh-sungguh menjaga dan menghayati imannya dengan gembira.

Sudah selayaknya, kita yang telah dipilih Allah, belajar terus untuk menghargai anugerah Allah dan bersyukur kepada Nya. Cara menghargai adalah dengan setia mengikuti apa yang dikehendaki oleh Allah.

ALLAH SUNGGUH PEDULI

ALLAH SUNGGUH PEDULI

RENUNGAN LUBUK HATI

JUMAT, 10 MEI 2019

Yoh 6:52-59

Kehadiran Yesus adalah bukti bahwa Allah sungguh peduli kepada manusia. Allah rindu bahwa semua orang bisa mengenal dan percaya kepada Yesus PutraNya. Lewat Yesus Kristus, orang akan sampai kepada BapaNya dan dari sana maka kekuatan dan menyertaanNya selalu tinggal dalam diri orang yang percaya.

Apa yang diberikan Allah adalah roti hidup, artinya makanan rohani yang menjamin mereka menerima keselamatan dan kehidupan kekal. Makanan rohani tersebut akan memberikan asupan energy untuk pertumbuhan iman dan keutamaan-keutamaan ; harapan, kasih, sabar, jujur, rendah hati, peduli, murah hati, berani berkurban, dll. Seluruh karakter Yesus Kristus akan mengalir dalam diri orang yang setia memelihara relasi dengan Yesus Kristus.

Di jaman ini banyak orang pandai dan sukses, namun belum tentu mereka memiliki kepedulian, kepekaan, kerendahan hati, kesabaran dll. Sebabnya adalah, sisi hidup rohaninya yang tidak terolah dengan baik. Yesus sebagai roti hidup adalah jaminan kita untuk menjadi pribadi yang baik, seperti yang ada dalam diri Kristus. Itulah keselamatan; hidup sebagai alter Kristus artinya karakter Yesus ada didalam diri kita orang yang percaya. Jika kita melakukan kehendakNya, itu tandanya Yesus Kristus benar-benar Yesus sudah menjadi roti hidup.

Untuk sama kesana, maka dibutuhkan proses internalisasi Roh Kristus masuk dan meresap dalam hidup kita. Hal ini butuh kesetiaan untuk selalu menjaga hidup rohani, yaitu relasi dengan Yesus yang terus menerus. Dimanapun ingat dan bersama dengan Yesus Kristus

RELASI DENGAN KRISTUS

RELASI DENGAN KRISTUS

RENUNGAN LUBUK HATI

KAMIS, 9 MEI 2019

RELASI DENGAN KRISTUS

Yoh 6:44-51

Menjadi murid Kristus merupakan anugerah dari Allah. Seperti telah disampaikan dalam Injil; “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku…”. Oleh karena itu, begitu berharganya semua orang yang telah dipilih menjadi murid Kristus. Maka sudah layak dan pantas, sebagai murid Kristus kita bersyukur kepada Nya.

Sebagai ungkapan rasa syukur pada Allah, apa yang perlu dilakukan oleh setiap murid Kristus? Pertama-tama, disadari bahwa panggilan menjadi murid adalah hal yang paling berharga. Setelah mampu menyadarinya maka orang akan menjaga dan merawatnya. Menjaga dan merawat iman adalah menjalin komunikasi yang semakin akrab dengan Yesus. Dengan demikian jika relasi dengan Yesus dekat maka dengan sendirinya iman akan terus terjaga dan akan terus berkembang.

Relasi yang terus dipelihara dalam kesetiaan akan mempengaruhi kepribadian setiap murid Kristus. Secara bertahap nilai-nilai dan kebribadian Yesus akan meresap dalam kebribadian murid Kristus. Dari sanalah akan muncul buah-buah iman dalam perbuatan-perbuatan kasih. Sehingga setiap murid Kristus, akhirnya bisa menghadirkan Yesus dalam setiap kata dan perbuatannya. Apa yang dilakukan setiap murid Kristus menjadi kesaksian yang nyata bahwa Allah Maha baik.

Translate »