Browsed by
Month: May 2019

YESUS ROTI HIDUP

YESUS ROTI HIDUP

RENUNGAN LUBUK HATI

RABU, 8 MEI 2019

Yoh 6:35-40

Bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus, Kristus adalah roti hidup. Artinya hanya dengan percaya atau beriman kepada Nya, orang akan sampai pada Dia. Jika orang tidak percaya, bagaimana mungkin orang bisa merasakan kasih Nya? Maka iman adalah pintu masuk untuk mengalami seluruh rahmat dan menerima kebenaran dari Tuhan Yesus.

Yesus menjadi roti hidup. Setiap pribadi manusia membutuhkan makanan “rohani” untuk kehidupan jiwa nya. Karena manusia adalah mahluk yang memiliki jiwa dan badan, maka yang dibutuhkan manusia bukan saja makanan jasmani. Jika kekurangan jiwa manusia kekurangan “nutrisi” dari makanan rohani maka orang akan tinggal jauh dari sumber keselamatan yaitu Allah sendiri, akibatnya adalah orang akan mudah jatuh dalam kelemahan dan dosa, serta kehilangan semangat hidup, melayani dan kasih. Sebaliknya jika seseorang percaya dan menerima Yesus sebagai roti hidup, ia akan menerima kekuatan dari Kristus yang akan membawa nya pada kebenaran, damai dan keselamatan.

Percaya kepada Yesus Kristus adalah anugerah yang paling agung karena ia menerima keselamatan langsung dari sumberNya, yaitu Allah Bapa. Oleh karena itu bagi orang yang percaya, ia sudah menerima jaminan keselamatan dan kepenuhannya. Iman menjadi pelita yang menuntunnya kemana harus melangkah. Maka ia tidak akan tersesat, namun akan menemukan kedamaian, kebahagiaan dan keselamatan. Kepercayaan tersebut perlu dijaga dan dirawat setiap hari, seperti halnya kita setiap hari membutuhkan makanan jasmani, maka iman juga dijaga setiap hari dengan komunikasi dengan Yesus Kristus.

PERCAYA KEPADA TUHAN YESUS

PERCAYA KEPADA TUHAN YESUS

RENUNGAN

SELASA, 7 MEI 2019

Yoh 6:30-35

Yesus berusaha meyakinkan kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesus adalah Mesias dan datang untuk memenuhi Janji Allah. Yesus bersada: “Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.” Namun sekalipun Yesus sudah banyak mengajar dan mengadakan mujizat dan melakukan banyak hal baik didepan mata mereka, mereka tetap tidak percaya.

“Percaya” bukan sesuatu yang mudah bagi mereka yang keras hati. Oleh karena itu untuk bisa percaya kepada Yesus Kristus, maka diperlukan sikap rendah hati. Kesombongan adalah faktor utama mengapa orang sulit untuk percaya dan menerima kehadiran Tuhan. Karena ketika orang sombong, ia berfokus pada diri-sendiri, sementara untuk bisa percaya kepada Kristus, orang harus keluar dari diri sendiri dan mengarahkan hidup yang pusatnya pada Yesus Kristus.

Jika orang memiliki kerendah-hati, ia menempatkan dirinya bukan sebagai pusat atau tuan, tetapi sebagai hamba, yang siap untuk menerima dan melayani Tuhan. Kepercayaan dilandasi oleh pengalaman kasih yang diterima dari Allah. Oleh karena itu iman/percaya tidak bisa dilepaskan dari pengalaman kasih dengan Allah. Jika orang percaya karena kasih, maka iman akan tumbuh berkembang dalam diri orang tersebut, dan akan berbuah dalam banyak perbuatan kasih.

Percaya kepada Tuhan, tidak bisa disamakan dengan meraih suatu prestasi, karena saat orang percaya, orang tidak lagi perpikir tentang ambisi tetapi lebih keberanian untuk berserah dan melakukan kehendak Allah. Dengan demikian orang iman berjalan dalam hidup dengan kesadaran bahwa Yesus Kristus menjadi pusat dan penuntun hidupnya.

Fish and Bread

Fish and Bread


Third Sunday of Easter [May 5, 2019] John 21:1-19

If we observe the Gospel readings of the past days and Sundays, we will notice that most of them are speaking about the risen Christ’s appearances to His disciples. One unnoticeable yet interesting feature in these stories is that of the presence of food.

The two disciples who walk to Emmaus, invite Jesus to have a dinner. Jesus takes the bread, says the blessing, breaks it, and gives it, and He disappears. The two disciples come to their senses, and realize He is Jesus [Luk 24:30]. When Jesus appears to the Eleven and other disciples, they are terrified. To dispel their doubt on His resurrection, Jesus presents His body and eats the fish given to Him [Luk 24:42]. And in today’s Gospel, Jesus invites His seven disciples to a breakfast at the shore of the Lake of Tiberias. After another miraculous catch, Jesus prepares bread and fish for the disciples who are no longer baffled by the appearance of their Master [John 21:13].

We may ask, “Why bread and fish?” These are simple food that are often available at Jewish household. Yet, looking deeper, bread and fish possess a profound meaning. Bread and fish are earliest symbol of Christ and Christians. Bread, especially the breaking of the bread, is the technical biblical name for the Eucharist. In the Acts of Apostles, the first Christians gather around the apostles for the teaching and breaking of the bread [Acts 2:42]. On a Sunday, Paul leads the community of Troas in worship as he preaches and breaks bread [Acts 20:7]. Fish, in Greek, is “Ichthus” and it stands for “Iesous Christos Theos Hyios Soter”, meaning Jesus Christ God Son [and] Savior. The symbol of fish was scattered inside catacombs of Rome as a sign of Christian gathering in time of persecution.

The question lingers: why does the risen Lord ask for food and invites the disciples to eat? Firstly, eating food is one of the most basic activities of human being. It points to our biological functions that sustains our bodily life and growth. The spiritless body neither consumes food, nor the bodiless spirit enjoys meals. Jesus shows His disciples that his resurrection is not a matter of spiritual enlightenment, but truly a bodily reality. His disciples neither see a spirit floating in the air, nor simply believe that their Teacher is alive in their hearts. The tomb is empty because Jesus, including His body, has risen.

Secondly, eating together does not only satisfy our tummy, but it also brings people closer together. While we are enjoying food, we cannot but share our thoughts and hearts to each other. Eating together builds not only the body, but also the dialogue and community. One of my favorite activities in the convent is the meal time, not because I am fond of eating, but we share a lot of stories and opinions. We practically speak about anything under the sun, from the latest movie, Avenger Endgame, the current political issues, to theological discussion on St. Thomas Aquinas. We also tell our joys, concerns and worries in our ministry and our future as a community. Simple food, yet great bonding.

Upon the simple reality of eating together, Jesus builds His community. In a shared meal, He retells His stories of painful passion and shameful death, and unearths its profound meanings especially as the fulfillment of the Scriptures. The events of his death used to be absurdity and loss of hope, but in the dining table, the risen Lord restores the faith, hope and love that go dim.

Jesus leaves us the Eucharist, the breaking of the bread, the sacred meal. Like the first disciples, it is here that we discover the risen Lord who shares His body as a spiritual food, and His Word as the meaning of our life. In the Eucharist, we are assured that the worst of this world does not have the last say, and the battle against absurdity has already been won.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sabtu Pekan Paskah II 2019

Sabtu Pekan Paskah II 2019

Kisah Para Rasul 6:1-7; Yohanes 6:16-21

Suasana gelap, suasana sepi dan malam hari, bagi beberapa orang menjadi pengalaman yang menakutkan. Demikian juga yang terjadi pada para murid Yesus. Mereka merasa takut ketika mendayung perahu di danau dalam kegelapan malam hari, dalam angin yang kencang dan dalam perahu yang terombang-ambing serta melihat seseorang berjalan di atas air. Ketakutan itu membuat mereka tidak dapat melihat dengan jelas sehingga menyangka telah melihat hantu. Padahal seseorang yang berjalan di atas air itu adalah Yesus sendiri, guru mereka. Setelah Yesus bersabda “Akulah ini, jangan takut!!” barulah mereka tahu bahwa itu adalah Yesus. Sabda Yesus ini adalah sebuah pewahyuan diri Yesus bahwa Beliau adalah tokoh Ilahi yang berkuasa atas alam semesta.

Peristiwa Yesus berjalan di atas air dan sabda Ilahi-Nya ini sangat diingat oleh para murid sampai pada masa-masa berikutnya. Oleh karena itu, saat Gereja harus menderita dan menghadapi banyak tantangan dalam perjuangan mewartakan Injil, para murid percaya bahwa Yesus ada bersama mereka. Mereka percaya bahwa Yesus yang mereka wartakan adalah Yesus yang bangkit mulia, penguasa alam semesta dan manusia. Maka sabda Yesus, “Akulah ini, jangan takut!!” menjadi kekuatan dan penghiburan para murid yang sedang berjuang mewartakan Injil.

Kiranya situasi kita saat ini juga tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh para murid. Di tengah lautan kehidupan ini, kerap kali gelora permasalahan dan angin ribut kesulitan menerpa hidup kita. Adalah hal yang wajar jika itu semua membuat kita takut. Namun demikian, percayalah sebab Yesus yang kita imani senantiasa hadir dan menyertai kita, seperti halnya saat Ia hadir kepada para rasul yang sedang ketakutan diombang-ambingkan badai. Percayalah, Yesus tidak akan meninggalkan kita, dalam menghadapi situasi sulit hidup ini. Maka marilah kita menaruh iman dan pengharapan kita hanya pada Yesus saja, sehingga dengan

kekuatan dan penghiburan Yesus, kita tidak perlu takut dan cemas lagi menghadapi situasi gelap hidup kita. Tuhan memberkati

PESTA S. FILIPUS & S. YAKOBUS

PESTA S. FILIPUS & S. YAKOBUS

1 Korintus 15:1-8; Yohanes 14:6-14

Hari ini kita memperingati pesta St. Filipus dan Yakobus Rasul. Kedua rasul ini memang tidak setenar St. Petrus dan St. Yohanes. Meski pun demikian, kedua rasul Filipus dan Yakobus berperan besar dalam pewartaan Injil kepada segala bangsa. Pada Injil hari ini, Filipus mengungkapkan kerinduan semua orang: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepada kami, dan itu sudah cukup bagi kami”. Dari pertanyaan itu, Tuhan Yesus mewahyukan diri-Nya, betapa dengan melihat Yesus orang sebenarnya telah melihat Bapa. Dengan kata lain, apabila kita ingin mengenal Bapa, melihat Bapa, mengalami Bapa, caranya mudah dan jelas: marilah kita mengenal Yesus, melihat Yesus dan mengalami Yesus.

Gereja Katolik yang berdiri atas dasar para rasul ini telah mewariskan kepada kita macam-macam hal untuk dapat mengalami, melihat, dan mengenal Yesus: melalui Kitab Suci, melalui berbagai gambar dan patung, perayaan sakramen-sakramen dan devosi, dan terutama dengan ekaristi. Melalui ekaristi, kita tidak hanya mengalami Yesus, tetapi juga dapat melihat dan memegang dan bahkan bersatu erat dengan Tuhan Yesus. Dan saat kita bersatu dengan Tuhan Yesus, terjaminlah pasti bahwa kita juga sedang bersatu dan berjumpa dengan Allah Bapa kita, yaitu Tuhan Allah yang disembah dan dicari oleh semua bangsa manusia sepanjang masa.

Translate »