Browsed by
Month: June 2019

PW. St. Aloisius Gonzaga.

PW. St. Aloisius Gonzaga.

Matius 6: 19-23

Jumat, 21 Juni 2019


Oleh Rm. Djoko S. Prakosa Pr, Rektor Seminari Tinggi

1. Investasi Harta Surgawi. Harta karun seringkali membuat hati manusia terpikat karena janji dan bayangan kebahagiaan dan keamanan saat memilikinya. Persoalannya adalah harta karun macam apakah yang semestinya digenggam dalam kehidupan ini? Yesus membandingkan dua jenis harta yang sangat berbeda – harta duniawi dan harta surgawi. Ia mendesak murid-murid-Nya untuk berinvestasi pada harta surgawi yang abadi. Harta surgawi itu bebas dari masalah turun naiknya nilai tukar mata uang, bebas dari kekhawatiran hilang dan pencurian. Harta itu bebas dari korupsi. Yesus mengingatkan kita bahwa kedua harta karun itu ada di hadapan kita dan kita diajak untuk menentukan pilihan. Ia memberikan nasihat yang baik dan menarik: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Ia mendesak para pengikut-Nya untuk membuat pilihan hidup. Ia menyarakan agar para murid memilih harta surgawi-harta yang kekal, dan bukan harta duniawi-harta yang bersifat sementara.

Kita diajak untuk mengisi dan menghargai hidup kita berdasarkan kasih dan perhatian-Nya, bukan berdasarkan apa yang kita makan, kita pakai, dan kita miliki Harta dunia harus ditempatkan sebagai sarana dan alat. Jika tidak, ia akan “melonjak” menjadi tuan, dan kedudukan kita sebagai anak Allah akan di-“kudeta”nya menjadi budak harta kekayaan. Makanan, pakaian, tempat tinggal, dan harta adalah penunjang kehidupan. Ada pepatah Spanyol: “Tidak ada kantong di kain kafan.” Tidak ada yang kita bawa pada saat kematian.

2. Mungkinkah Harta Surgawi tanpa Kristus? Harta surgawi yang ditawarkan Yesus tidak akan pernah mengkhianati kita. Harta itu setia menemani kita melalui kubur dan melintasi ambang menuju kehidupan kekal. Harta apa itu? Itu adalah Pribadi Kristus sendiri dan semua tindakan baik yang kita lakukan untuk kepentingan-Nya. Ia adalah sumber dan pemberi setiap karunia dan berkat yang baik dalam kehidupan ini. Oleh karenanya, hidup mesti terarah untuk Kristus, mencintai Dia di atas segalanya. Ia menawarkan harta sukacita dan persahabatan yang tak berkesudahan dengan diri-Nya sendiri dan dengan semua orang yang bersatu dengan-Nya di kerajaan surgawi-Nya. Harta ini akan membenamkan kita dalam sukacita yang selalu baru. “Karena di mana hartamu berada, di situ pula hatimu berada.” Yesus Kristus adalah harta terbesar dan terbaik bagi para murid. Charles Spurgeon pernah menulis: “Oh, bagaimana mungkin memikirkan surga tanpa Kristus! Itu sama dengan memikirkan neraka. Surga tanpa Kristus! Ini adalah hari tanpa matahari, ada tanpa kehidupan, berpesta tanpa makanan, melihat tanpa cahaya.”

3. “Mata adalah pelita tubuh”. Kristus mengajarkan tentang mata sebagai pelita tubuh: “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu. Jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.” Apa kaitannya dengan nasihat-Nya untuk memilih harta surgawi? Mata menjadi gambaran niat yang ada di balik tindakan kita. Kristus menasihati kita untuk membangun sikap hidup seperti anak kecil, bahkan dalam cara kita melihat peristiwa dan orang lain. Jika kita melihat Kristus dalam diri orang lain, maka teranglah seluruh tubuh kita. Jika kita dapat merasakan tangan Tuhan yang penuh kasih di balik segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, maka teranglah seluruh tubuh kita. Jika semua yang kita lakukan dilakukan karena

kasih kepada Kristus, Sang Harta Surgawi, maka seluruh tubuh kita akan dibanjiri oleh terang-Nya.

Ibu Teresa pernah menulis: “Saya melihat Yesus di dalam setiap manusia. Saya berkata pada diri saya sendiri, ini adalah Yesus yang lapar, saya harus memberinya makan. Ini adalah Yesus yang sakit. Yang ini kusta atau gangren (cat: luka infeksi kronis); Saya harus mencuci dia dan merawatnya. Saya melayani karena saya mencintai Yesus.” Yesus adalah terang dunia yang memampukan kita beraksi dan melihat melihat wajah-Nya dalam diri orang lain. Dia adalah satu-satunya sumber terang yang dapat mengatasi kegelapan dosa dan tipu daya Setan.

Prasangka, kesombongan, dan dosa kecemburuan dapat membutakan kita terhadap jalan kebenaran dan cinta. Prasangka dan kesombongan diri menghancurkan dan membutakan kita terhadap sesuatu yang baik yang ada dalam diri orang lain. Kecemburuan membuat kita tidak percaya pada orang lain dan menjadikan mereka sebagai musuh daripada teman. Apakah Anda menjalani hidup Anda dalam terang kebenaran Allah?

Berdoa Sederhana

Berdoa Sederhana

Matius 6: 7-15

Kamis, 20 Juni 2019

Hari Biasa Pekan XI

Oleh Rm. Djoko S. Prakosa Pr, Rektor Seminari Tinggi

Kentungan, Yogyakarta

1. Doa adalah ibadah jiwa, bukan ibadah mulut. Dalam kotbah di bukit Yesus mengajar tentang doa dan bagaimana berdoa : “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Ia menegaskan bahwa kekuatan doa tidak terletak pada banyaknya kata-kata. Lantunan doa yang panjang dan yang bertele-tele bisa menjadi doa yang membosankan dan kering dan akibatnya kehilangan maknanya. Yesus mengkritik praktek doa yang mejadi ajang pamer aneka perasaan dan permintaan. Yesus mengkritik praktek doa ini karena mereka menyangka bahwa Allah sama dengan diri mereka, sehingga membutuhkan banyak kata agar bisa memahami apa yang disampaikan kepada-Nya atau supaya dapat membuat-Nya menuruti permintaan mereka. Ia tidak melarang doa yang panjang. Ia mengkritik praktek doa yang menjadi ibadah mulut ketimbang ibadah jiwa. Doa bukan kerja mulut.

Di sisi lain Yesus memberi peneguhan dan mendorong kita, para murid-Nya, untuk terus-menerus mengarahkan diri kepada Bapa. Bapa adalah sosok Pribadi yang mengetahui persoalan dan keperluan kita, lebih baik daripada diri kita sendiri. Dia mengetahui apa yang kita perlukan.Tetapi mengapa jika Bapa kita sudah mengetahui kebutuhan kita, kita harus menyampaikannya dalam doa? Karena ketika kita berdoa, Bapa sedang membentuk hati dan jiwa kita sehingga kita akan siap untuk menerima hal-hal baik yang Dia berikan dan kita perlukan.

2. “Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan” atau “janganlah membiarkan kami jatuh ke dalam pencobaan”. Belum lama ini bahwa Paus Fransiskus telah menyetujui perubahan pada beberapa kata dalam Doa Bapa Kami. Menurut beliau ada “terjemahan yang cacat”, yang tidak sesuai dengan teks aslinya yang berbahasa Yunani. Dua tahun yang lalu beliau menyatakan sikap tidak setuju terhadap frasa ‘Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan’. Rumusan ini menyiratkan bahwa Allah, dan bukan Setan, yang menuntun orang ke dalam pencobaan. Perubahan pun terjadi dan frasa itu sekarang ini berubah menjadi “janganlah membiarkan kami jatuh ke dalam pencobaan”. Sampai saat ini doa yang sudah diperbaharui ini berlaku di Italia. Kita belum tahu kapan doa ini akan diberlakukan secara universal.

Paus Fransiskus mengajak kita untuk menyadari bahwa Allah tidak pernah menuntun kita ke dalam pencobaan. Allah tidak menggoda dan menjerumuskan kita. Gagasan ini sesuai dengan Surat Yakobus yang secara jelas menegaskan bahwa, “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak akan mencobai siapa pun.” (Yak 1: 13). Yang dilakukan dan diinginkan Allah adalah menguatkan kita ketika kita dicobai oleh kejahatan. Pemahaman tentang Allah ini terungkap dalam doa Yesus bagi para murid-Nya: “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat” (Yoh 17: 15).

Kita sangat membutuhkan Tuhan untuk melindungi kita dari si jahat, dan untuk menguatkan kita ketika kesetiaan kita pada jalan-Nya diuji. Bagaimana sikap kita terhadap perubahan frasa atau rumusan itu?

“Ungkapan “Bapa Kami”

tidak memiliki jejak rutinitas atau pengulangan belaka.

Sebaliknya, ungkapan ini mengandung perasaan yang hidup, pengalaman, dan keaslian. Dengan dua kata, “Bapa Kami”, Ia tahu bagaimana caranya menghidupi doa dan bagaimana berdoa yang hidup. Yesus mengundang kita untuk melakukan hal yang sama. “

– Paus Fransiskus-

Memberi dengan Sembunyi

Memberi dengan Sembunyi

Matius 6: 1-6.16-18

Rabu, 19 Juni 2019

Hari Biasa Pekan XI

Oleh: Rm. Djoko S Prakosa, Pr, Rektor Seminari Tinggi

      Kentungan, Yogyakarta

1. Bersandiwara demi suatu tontonan dan pujian. Dalam bacaan Injil hari ini, Kristus menghadirkan tantangan yang sulit dan sekaligus penghiburan besar: “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orangsupaya dilihat mereka,karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Ajaran-Nya dapat disimpulkan dengan ungkapan sederhana: “Lakukanlah segala sesuatu bukan untuk ditonton dan dipuji orang.” Kebutuhan diri untuk dilihat dan dipuji orang lain adalah godaan yang merongrong tindakan kasih dan merusak ketulusan hati serta menghancurkan relasi kita dengan Allah.

Tantangannya jelas: “kita diajak untuk bertindak di hadapan Allah dengan niat yang murni.” Penghiburannya juga jelas, “Bapa surgawi kita “melihat secara tersembunyi.” 

Suatu saat ada penyiar teve yang tampil meyakinkan. Ia ber-stelan dasi dan jas, ia menyampaikan berita dengan mantap. Siapa sangka bahwa sebenarnya ia memakai baju, dasi, dan jas pinjaman dan hanya bercelana pendek. Ia ternyata salah seorang teknisi teve yang terpaksa menggantikan penyiar yang jatuh sakit.

Tuhan Yesus memberi peringatan keras terhadap “tampilan kesalehan” yang seakan-akan kelihatan “baik” mirip seperti kisah tadi. Ia tidak ingin tindakan dan perilaku para murid-Nya hanya untuk menimbulkan kesan positif orang banyak,  padahal keadaan hidup sebenarnya lain (baca: munafik) dan tidak sungguh terarah ke Tuhan.

2. Antara Anda dan Tuhan. Bunda Teresa menggemakan ajaran Injil dalam sebuah puisi singkat berjudul

“Antara Anda dan Tuhan.”

Jika Anda berjumpa orang yang pikirannya tidak masuk akal, tidak logis, dan egois.

Maafkan mereka.

Jika Anda baik, orang mungkin menuduh Anda mementingkan diri sendiri, dan mempunyai motif tersembunyi,

Tetaplah bersikap baik.

Jika Anda berhasil,

Anda akan memenangkan beberapa teman palsu

dan beberapa musuh sejati

Tetaplah berhasil.

Jika Anda jujur dan terus terang, orang mungkin menipu Anda.

Tetaplah Jujur dan berterus terang.

Apa yang Anda habiskan bertahun-tahun untuk membangun, seseorang mungkin menghancurkannya dalam semalam.

Tetaplah membangun.

Jika Anda menemukan ketenangan dan kebahagiaan,

mungkin orang lain akan iri.

Tetaplah bahagia.

Kebaikan yang Anda lakukan hari ini, orang akan sering lupa pada besok harinya.

Tetaplah berbuat baik.

Berikan dunia yang terbaik yang Anda miliki, dan itu mungkin tidak pernah cukup.

Berikanlah yang terbaik yang Anda miliki.

Karena dalam analisia terakhir,

semua ini adalah antara Anda dan Tuhan.

Ini sama sekali tak ada kaitannya antara kamu dan mereka.

Bunda Teresa mengajak kita untuk terus berjuang mengibarkan bendera kebaikan kepada orang lain, apa pun tanggapan mereka. Yang penting adalah bahwa segala sesuatu dilakukan atas dasar Allah yang mencintai kita dan kita ingin memuliakan nama-Nya serta berbagi cinta-Nya tanpa pamrih. Hari ini Tuhan mengingatkan kita akan arti pentingnya “ketulusan dan kemurnian hati” dalam bertindak dan berperilaku. Ketulusan dan kemurnian hati akan menjauhkan kita dari pencarian kemuliaan yang mementingkan diri sendiri - keasyikan dengan berpenampilan baik dan mencari pujian dari orang lain. 
Kesalehan sejati adalah sesuatu yang lebih dari sekadar merasa baik atau terlihat suci. Kesalehan sejati adalah pengabdian yang penuh dengan ketulusan kepada Tuhan. Kesalehan sejati adalah sikap kagum, hormat, dan menyembah hanya untuk Allah. Kesalehan sejati adalah karunia dan karya Roh Kudus yang memungkinkan kita untuk mengabdikan hidup kita kepada Allah dengan keinginan suci untuk menyenangkan Dia dalam segala hal (Yesaya 11: 1-2). Ini semua adalah masalah relasi kita dengan Allah yang kita muliakan dan memuliakan kita.
Cintailah Musuhmu!

Cintailah Musuhmu!

Matius 5: 43-48

Selasa, 18 Juni 2019

Hari Biasa Pekan X

Renungan oleh: Rm. Djoko S. Prakosa, PR, Rektor Seminari Tinggi, Kentungan – Yogyakarta

1. Kasihilah musuhmu. Hari ini Tuhan Yesus berkotbah di bukit dan berkata: “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia  dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.“ “Kasihilah musuhmu” adalah kata-kata singkat yang sarat dengan hikmat. Cinta dalam bahasa Yunani mempunyai empat (4) jenis. Pertama, Storge berarti kasih mesra dari orang tua kepada anaknya dan sebaliknya. Kedua, Eros artinya kasih asmara antara pria dan wanita yang mengandung nafsu birahi.  Ketiga, Philia berarti kasih sayang yang sejati antar sahabat dekat. Biasanya kasih ini tidak mempunyai hubungan darah. Kasih ini lebih kepada persahabatan. Keempat,  Agape adalah kasih yang menginginkan kebaikan untuk orang yang dicintainya. Kasih Agape adalah kasih yang tanpa perhitungan dan tanpa peduli orang macam apa yang dikasihinya. Kasih Agape adalah kasih yang diminta Kristus: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.“  Apabila Tuhan memberikan perintah itu berarti Tuhan tahu pasti dan percaya bahwa kita sebagai manusia sanggup memberikan kasih agape kepada sesama kita, dan bahkan kepada musuh kita. Apakah kita percaya dengan anugerah kasih Allah ini atau kita justru meragukannya? “Kasih adalah satu-satunya kekuatan yang mampu mengubah seorang musuh menjadi seorang sahabat.”

2. Dasar tindakan kasih agape. Mengapa Tuhan Yesus meminta kita, bahkan menuntut kepada kita suatu bentuk kasih yang radikal? Karena itulah cara Allah mencintai setiap putra dan putri-Nya, tanpa mempertimbangkan apakah mereka baik atau jahat. “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak  Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”Kasih-Nya tidak berdasarkan minat pribadi. Dia terus mengasihi dan mencurahkan kasih-Nya bahkan ketika manusia tidak menanggapi kasih-Nya dengan kasih kembali. Mengapa Tuhan Yesus bersikeras untuk mencintai manusia?“ Karena itulah cara Bapa mencintai manusia secara sempurna, sehingga Ia berkata: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Tuhan Yesus memanggil kita untuk ikut serta mewujudkan cita-cita luhur dan menantang, serta mampu mengubah hidup ini. Sukacita apa yang bisa lebih besar selain daripada menjadi putra dan putri sejati Bapa surgawi kita? Masih ingat kata-kata santo Agustinus yang kemarin kita renungkan?

“Cintailah semua orang, bahkan musuhmu; 
cintailah mereka, bukan karena mereka adalah saudaramu, 
tetapi agar mereka dapat menjadi saudaramu. 
Dengan demikian Anda akan dibakar dengan cinta persaudaraan, 
baik bagi dia yang sudah menjadi saudara Anda dan musuh Anda, 
sehingga ia dapat dengan penuh kasih menjadi saudara Anda. 
Bahkan dia yang belum percaya kepada Kristus.
Cintailah dia dengan cinta persaudaraan. 
Mata Ganti Mata

Mata Ganti Mata

Matius 5: 38-42

Senin, 17 Juni 2019

Hari Biasa Pekan X

Renungan oleh: Rm. Djoko Setya Prakosa Pr

Rektor Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta

1. Pilihan sikap hidup: Reformasi atau rasionalisasi. Hari ini Yesus bersabda: “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahatkepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.” Yesus menyadari bahwa dunia penuh dengan kekerasan. Melalui pengajaran-Nya Yesus ingin menghancurkan prinsip “kekerasan dibalas dengan kekerasan”, “kejahatan dibalas dengan kejahatan”. Prinsip itu perlu dihancurkan karena memutarbalikkan dan merusak hubungan antara manusia dengan Allah, dan hubungan manusia dengan sesamanya. Ia menginginkan para pengikut-Nya untuk tidak membiarkan diri dipimpin oleh kekerasan dan kejahatan agar kemungkinan pemulihan hubungan satu sama lain dapat terwujud. Ia menawarkan empat (4) contoh untuk mengatasi kekerasan: (a) jika ada orang yang menampar pipi kanan, tawarkan pipi kirimu; (b) jika ada orang yang mengadukan untuk mendapatkan baju, biarkan dia memiliki jubahmu juga.(c) Jika ada yang memaksa berjalan satu mil, pergilah dua mil dengannya.(d) Jika ada yang meminta dan mau meminjam, berikan dan jangan menolak.”
Aduh! Ini adalah pengajaran yang sulit untuk diterima. Seringkali, ketika diletakkan dalam situasi di mana seseorang menyakiti atau merampas hidup kita, kita cenderung untuk segera merasionalisasi perikop Injil ini dan menganggapnya tidak berlaku bagi kita. Ya, itu adalah pengajaran yang sulit untuk dipercaya dan sulit untuk dijalani. Itukah tanggapan kita saat kita mendengar sabda ini dan bersamaan dengan itu kita atau orang terdekat kita sedang mengalami “tekanan” entah kekerasan dan pemaksaan atau perampasan dari orang lain? Mengapa kita tidak mudah untuk menerima pengajaran ini?
2. Tidak menggunakan hak untuk melawan. Perkataan dan ajakan Yesus itu bertentangan dengan sebagian besar pemikiran dan kenyataan yang ada dalam budaya kita selama berabad-abad. Setiap hari kita mendengar berita tentang perang antar geng, orang-orang yang tidak bersalah ditembak dan dibunuh, tindakan kekerasan yang tidak masuk akal, penganiayaan anak-anak dan pasangan. Tindak kekerasan tidak menciptakan perdamaian atau keamanan sama sekali. Sebaliknya, mereka menciptakan banyak ketakutan dan kecemasan di dunia kita, di mana pun kita tinggal. Di tengah situasi ini Yesus terus menggemakan ajarannya ini: “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahatkepadamu”  Pengajaran Yesus adalah kontra budaya pada zaman-Nya dan tetap kontra-budaya hingga saat ini. Ia selalu menggaungkan kenyataan yang memprihatinkan bahwa “kekerasan tidak akan pernah menghentikan kekerasan.” 
Jika Ia mengatakan hal ini karena Ia tahu bahwa kejahatan, kekerasan dan ketidakadilan hanya akan “lumpuh” jika kita tidak terseret dan tertarik oleh arus lumpur “balas dendam”. Kita diajak untuk tidak menghadapi kejahatan dan kekerasan dengan perlawanan yang sama. Mengapa? Kejahatan menghancurkan dirinya sendiri. Sikap “menghadapi tanpa perlawanan” tidak sama artinya dengan mengatakan tidak menawarkan apa-apa; atau membiarkan kejahatan melangkahi hidup kita. Artinya kita diajak untuk tidak melawan kejahatan dengan kejahatan. Sebaliknya, “lawanlah kejahatan dengan kebaikan” (Rm 12:21). Kebaikan dan cinta akan merangsang kehidupan. Kejahatan merangsang kepunahan. 
Belajar dari Pengajaran Injil hari ini, kita diajak untuk tidak membuat pembenaran: “karena dia yang memulai kejahatan, maka saya akan melawannya”. Kita mempunyai hak untuk melawan, tetapi kita tidak menggunakan hak itu. Akhirnya kita diajak untuk melakukan sesuatu kepada orang lain secara maksimal dan optimal, dan bukan menjadi sosok minimalis. Prinsipnya adalah tidak melawan orang yang jahat dengan sikap yang sama. Kita dipanggil untuk berbuat baik di hadapan kejahatan. Tuhan mengajarkan hal ini kepada kita. Ia akan membantu kita mewujudkan sikap ini kalau kita menyertakan Dia dalam sikap dan keputusan kita.
 
“Cintailah semua orang, bahkan musuhmu; 
cintailah mereka, bukan karena mereka adalah saudaramu, 
tetapi agar mereka dapat menjadi saudaramu. 
Dengan demikian Anda akan dibakar dengan cinta persaudaraan, 
baik bagi dia yang sudah menjadi saudara Anda dan musuh Anda, sehingga ia dapat dengan penuh kasih menjadi saudara Anda. 
Bahkan dia yang belum percaya kepada Kristus.
Cintailah dia dengan cinta persaudaraan. 
Dia belum menjadi saudaramu, tetapi justru mencintainya agar dia menjadi saudaramu. ”
-St. Agustinus-
"Cinta Tuhan memanggil kita untuk bergerak melampaui rasa takut. 
Kita meminta keberanian kepada Tuhan 
untuk meninggalkan diri kita tanpa pamrih, 
sehingga kita dapat dibentuk oleh kasih karunia Allah, 
bahkan ketika kita tidak dapat melihat 
ke mana jalan itu dapat menuntun kita." 
- St. Ignatius Loyola -
Translate »